
Setiap mengingat perbincangannya dengan Ailee beberapa hari lalu, selalu membuat hati Ashana gusar. Ia takut kalau dirinya akan berakhir seperti itu. Ashana tidak mau. Jika ia sudah berjuang tapi tidak membuahkan hasil bagaimana? Ashana masih takut dengan fakta yang akan di dapatkannya nanti.
"Hei,"
Ashana terlonjak saat Ibu menyentuh bahunya. Ia tersenyum. "Kenapa bu?"
"Kenapa melamun? Sarapannya cepat habiskan. Itu dari tadi Achazia terus menelpon mu. Mungkin sebentar lagi dia akan sampai."
Ashana mengalihkan tatapannya pada ponsel miliknya yang layarnya masih menyala. Menampilkan lima panggilan tidak terjawab dari Achazia. Beruntung disini hanya ada dirinya dan Ibu. Kalau ada Bapak dan Andri, sudah sangat malu nanti.
Ashana mengambil ponsel lalu memasukkannya ke dalam tas. "Iya, Bu. Ini sedikit lagi habis." Ucap Ashana. Baru tiga sendok ia menyuapkan nasi ke dalam mulut, suara klakson mobil memberitahukan keberadaan Achazia.
"Itu pasti Achazia. Sudah, kau habiskan dulu sarapannya. Ibu yang ke depan. "
Ashana hanya mengangguk saat Ibu pergi ke depan. Ia cepat-cepat menghabiskan sarapannya agar Achazia tidak menunggu lama.
Tidak lama, Achazia masuk ke dalam bersama Ibu. Ashana yang sedang sarapan refleks langsung buru-buru menghabiskan sarapannya karena memang sarapannya itu masih tersisa banyak.
"Pelan-pelan saja." Ucap Achazia. Ia duduk di kursi sebelah Ashana.
"Memang cara makanku seperti ini."
"Benarkah?"
Ashana mengangguk dengan mulut yang penuh dengan nasi.
"Kalau begitu aku ingin melihatmu makan seperti ini nanti makan siang."
"Uhuk uhuk huk!!"
Achazia terkejut dan langsung menyodorkan segelas air putih ke depan Ashana.
"Kau baik-baik saja?"
Setelah meneguk segelas air putih, Ashana mengangguk. "Apa katamu? Kau menyuruhku makan seperti ini nanti?"
Achazia mengangguk. "Iya. Kenapa? Bukankah itu adalah cara makanmu?"
Ashana hanya bisa menggerutu dalam hati. Achazia selalu bisa membuatnya mati kutu.
"Ayo, kita berangkat." Ucap Ashana.
"Sarapanmu?"
"Aku sudah selesai."
"Tapi ini masih tersisa."
__ADS_1
"Biarkan saja. Aku sudah kenyang."
"Ya sudah, kalau begitu."
Achazia mengikuti Ashana yang bangkit berdiri. Setelah pamit pada Ibu, mereka berdua pergi menuju kantor.
"Ashana,"
"Ya?"
"Liburan kali ini kau akan kemana?" Tanya Achazia.
"Tidak kemana-mana. Aku hanya akan di rumah. Kenapa?"
"Aku ingin mengajakmu liburan di luar kota."
Ashana menatap Achazia. "Liburan di luar kota?"
Achazia mengangguk. "Ya, apa kau mau?"
"Bersamamu?"
Achazia terkekeh. "Tentu saja bersamaku. Kau pikir akan bersama dengan siapa? Adrian? Tidak akan ku biarkan itu terjadi."
Bagaimana ya. Bukannya Ashana tidak mau. Tapi ia merasa merepotkan jika menerima ajakan Achazia. Belum biaya hidup di sana. Ashana tidak punya cukup uang untuk itu.
"Apa tidak merepotkanmu?"
Achazia terkekeh. "Kau tidak pernah merepotkanku."
Ashana menatap Achazia. Terkadang ia bersyukur bisa bertemu dengan pria seperti dia. Pria yang bisa menerima apa adanya dirinya. Pria yang selalu mengerti dirinya. Dan yang pasti pria yang selalu ada untuknya.
"Bagaimana? Kau mau?"
"Lalu kalau keluargamu tahu bagaimana?"
"Ah, iya. Tiga hari lagi ulang tahun nenekku. Aku akan mengajakmu dan memperkenalkan mu pada keluargaku."
Ashana melebarkan kedua matanya. Ini terlalu mendadak untuknya. "Kau yakin?"
"Kenapa juga aku harus tidak yakin? Mommy dan Alice sudah tidak sabar melihat mu di perkenalkan di keluarga kami."
Ashana menggigit bibir bawahnya. Belum terjadi saja sudah membuatnya gugup. Ashana belum siap. Ia belum siap bertemu dengan keluarga Achazia. Ashana takut kalau keluarga Achazia tidak bisa menerimanya.
"Bagaimana kalau keluargamu tidak menerimaku?"
"Aku akan melakukan apapun agar mereka bisa menerimamu. Toh, kau adalah wanita yang ku cintai."
__ADS_1
"Bagaimana kalau mereka tetap tidak menerimaku?"
Achazia tersenyum tipis. Kini mobilnya sudah masuk ke dalam parkiran kantor. Setelah memarkirkan mobil ia menatap Ashana. Ia melepas sabuk pengaman lalu tangannya menyentuh pipi Ashana. "Kenapa kau jadi setidak percaya diri itu? Hei, tenang. Jangan gugup. Kita pasti bisa. Mereka tidak bisa menentangnya jika aku sudah mencintai seseorang. Percaya padaku." Achazia mengusap pipi Ashana lembut.
Achazia keluar dari mobil terlebih dulu. Ashana ikut keluar dari mobil beberapa detik kemudian.
"Mm... Achazia. Aku akan pergi ke toilet dulu. Kau duluan saja."
Achazia mengangguk. Sebelum melanjutkan langkahnya ia mengusap puncak kepala Ashana.
Setelah Achazia pergi, Ashana memang pergi ke toilet. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin buang air kecil.
"Kau tahu Ashana? Menurutmu apakah dia pantas dengan presdir kita yang sempurna?"
Ashana menahan tangannya yang akan membuka pintu. Ia memilih untuk mendengarkan percakapan dia orang tentangnya.
"Ya, aku tahu. Ashana dari tim pemasaran? Ah, dia tidak terlalu cantik. Aku rasa dia menggunakan sesuatu agar Tuan Achazia tertarik padanya. Kan mana mungkin Tuan Achazia mau dengan wanita seperti dia. Kalau dibandingkan pula, masih lebih baik aku daripada wanita itu."
Ashana mencengkeram handle pintu yang ia pegang. Ia sudah tidak tahan. Ia membuka pintu dengan keras sampai menimbulkan suara yang membuat dia orang yang ada di hadapan kaca menoleh. Kedua wanita itu sempat terkejut karena yang keluar dari salah satu bilik wc adalah Ashana. Orang yang sedang mereka bicarakan.
"Kalau kau lebih baik dariku, kau saja sana yang bersanding dengan Achazia! Itu pun kalau Achazia mau denganmu." Ucap Ashana lalu pergi meninggalkan mereka berdua yang masih mematung.
Ashana menghentikan langkahnya sebelum membuka pintu. Ia menatap kedua orang tadi yang masih mematung. "Kalian tahu kalau Achazia seperti apa. Jika Achazia yang mendengarnya mungkin kalian sudah tidak tahu akan bagaimana. Beruntung aku yang mendengarnya. Lain kali hati-hati, jangan sampai ketahuan jika membicarakan hubungan kami." Setelah mengatakan itu Ashana keluar dari toilet.
Ashana menghembuskan napasnya. Ia tidak akan diam saja jika ada seseorang yang menganggapnya tidak pantas bersanding dengan Achazia. Memang mereka kira mereka pantas untuk Achazia sampai mengatakan hal seperti itu? Dasar orang-orang tidak punya kerjaan.
"Ashana!"
Ashana terlonjak saat ada sebuah tangan yang tiba-tiba merangkulnya dari belakang. Tanpa menoleh pun ia sudah tahu siapa orangnya.
"Kau ini. Mengagetkan ku saja."
"Memang itu tujuanku." Kekeh Andini.
"Kau sudah sarapan?" Tanya Ashana. Mengingat kepribadian Andini bagaimana. Terkadang ia khawatir pada sahabatnya yang satu ini. Andini tinggal di apartemen sendirian. Di tambah Andini adalah seorang wanita. Ashana tidak mau Andini kenapa-napa.
"Ada yang kau pikirkan?" Tanya Andini yang melihat raut wajah Ashana.
Ashana tersenyum sambil menggeleng. "Tidak ada."
"Mm.. Ashana."
"Ya?"
Andini seperti menimbang-nimbang akan mengatakan sesuatu. "Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu. Tapi nanti. Saat jam makan siang."
Melihat raut wajah Andini sepertinya itu sangat penting. Ashana mengangguk mengiyakan sambil tersenyum walaupun ia sebenarnya penasaran dengan apa yang akan di katakan Andini.
__ADS_1
*****