
Kini mereka sudah sampai di sebuah villa. Saat di pesawat Ashana sempat menanyakan kemana mereka akan pergi. Tapi Achazia selalu tersenyum saat di tanya seperti itu. Bahkan sebelumnya pun Ashana pernah bertanya tapi pria itu hanya tersenyum. Saat Ashana tanyakan pada Alice dan Ailee pun sama jawabannya. Mereka tidak tahu. Alice sudah memaksa Achazia tapi pria itu tetap bungkam. Kalau Ailee, ia merasa tidak pantas untuk bertanya dan memilih untuk diam.
Ternyata mereka berlibur ke swiss. Ashana baru tahu saat Adrian memberitahunya. Kini mereka semua sedang berada di dalam sebuah villa. Achazia sengaja memesan dengan delapan kamar.
"Ashana," Ashana menoleh saat Achazia muncul di pintu kamar. Ia sedang membereskan baju-baju yang ia bawa. Achazia bilang kalau ia akan disini selama tiga hari.
"Kenapa?"
"Sudah selesai beres-beresnya?"
Ashana menatap barang-barangnya. "Sebentar lagi. Kenapa?"
"Kita makan dulu." Sebenarnya Achazia sudah pernah bilang jangan membawa apa-apa. Disana Ashana hanya tinggal beli saja. Tapi Ashana menolak itu.
"Kau tunggu saja di depan. Apakah yang lain sudah membereskan barang-barang?"
"Hanya wanita yang membawa barang-barang. Merepotkan. Kami pria tidak membawa apa-apa." Tiba-tiba Abercio datang dan berdiri di hadapan Achazia.
"Lagipula kalian punya uang, bisa membeli semuanya. Tidak dengan kami."
"Kan kami bisa membelikannya." Itu suara Achazia.
Ashana menatap Achazia. "Simpan saja uangmu untuk masa depanmu nanti."
"Ashana, jika pun aku pakai uangku untuk keperluanmu, masa depanku masih bisa terjamin. Bahkan untuk cucu-cucuku sekalipun. Walaupun aku tidak bekerja, aku tetap----"
"Ah, sudahlah. Kalian jangan bicara. Lebih baik kalian pergi. Mengganggu saja." Usir Ashana.
Mereka berdua pun pergi keluar. Memilih menunggu di ruang depan. Bersama dengan Abqari dan Adrian.
Setelah selesai, Ashana keluar dari kamar. Ia berbarengan dengan Andini dan Ailee saat keluar kamar karena kamar mereka bersebelahan.
"Alice mana?" Tanya Ashana saat tidak menemukan Alice.
"Belum keluar mungkin. Aku akan memeriksa." Ucap Ailee. Ia masuk ke dalam kamar Ailee lalu Ashana dan Andini memilih duduk di sofa.
"Alice..." Panggil Ailee.
"Ya! Aku disini!" Teriak Alice.
Ailee berjalan menghampiri Alice lalu berjongkok di sebelah Alice. "Kau mencari apa?" Tanya Ailee karena Alice seperti sedang mencari sesuatu di dalam kopernya. Alice membawa banyak sekali barang. Membuat Ailee berpikir, gadis ini membawa apa saja? Padahal kan mereka hanya tiga hari disini.
"Aku mencari jepit rambutku." Ucap Alice dengan tangan yang masih sibuk merogoh sana sini.
Ailee menghela napas. Hanya itu? Ia membuka jepit rambut yang di pakai. "Ini, pakai yang aku saja." Ailee memberikannya pada Alice.
__ADS_1
"Kau tidak memakainya?" Tanya Alice.
"Aku masih ada satu." Ailee menunjukkan jepit rambut yang menempel di rambutnya.
"Aku pinjam dulu ya?" Alice adalah tipe gadis yang tidak bisa jika tanpa jepit rambut. Karena nanti rambutnya akan menghalangi wajahnya. Sedangkan ia adalah gadis yang hiperaktif.
Ailee mengangguk. "Pakai saja. Ayo, yang lain sudah menunggu." Ia mengulurkan tangannya pada Alice. Kemudian mereka berdua keluar.
"Sudah selesai?" Tanya Achazia pada Alice.
Alice mengangguk. "Kita akan makan?"
"Iya, kita akan makan. Ayo." Tadi Achazia sudah menelpon orang suruhannya untuk mengirimkannya empat mobil. Dan sekarang empat mobil itu sudah ada di depan villa.
"Ayo," Abqari mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Alice. Alice melirik tangan yang masih mengambang di udara itu. Ia kemudian melirik Achazia yang berjalan lebih dulu dengan Ashana dan disusul dengan Abercio yang menggenggam tangan Andini.
"Aku dengan Ailee." Alice menggenggam tangan Ailee.
"Ailee tidak bisa menyetir mobil. Jadi dia denganku." Ucap Adrian.
"Aku bisa." Sahut Alice.
"Alice jangan membawa mobil sendiri! Kau tidak kenal daerah ini! Jangan coba-coba!" Teriak Achazia dari luar.
"Kau dengar?" Ucap Abqari dengan senyum yang keluar.
Abqari menarik kembali tangannya. Ia merasakan tepukan di bahunya. "Semangat." Bisik Adrian.
"Kau juga." Sahut Abqari lalu berjalan lebih dulu.
"Mari Tuan Puteri?" Adrian mengulurkan tangannya ala-ala pangeran kerajaan.
Ailee tersenyum kecut. "Tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri." Ucap Ailee lalu berjalan lebih dulu.
Adrian menggenggam tangannya yang di tolak Ailee. "Semangat!" Ia kemudian pergi menyusul Ailee yang berjalan lebih dulu.
Hanya mereka berdua yang belum masuk mobil. Ailee memilih duduk di kursi belakang, tapi dengan cepat Adrian mencegahnya dengan mengunci pintunya. Ailee menatap Adrian. "Kenapa tidak bisa di buka?"
"Mungkin mobilnya mendukungmu untuk duduk di depan. Mari, aku antar." Ucap Adrian sambil menuntun Ailee seperti anak kecil yang tidak tahu pintu masuk.
Ailee memutar kedua bola matanya. Ia sudah tahu kalau itu rencana Adrian. Ia diam saja saat Adrian menuntunnya. Ia tidak mau membuat masalah disini.
Setelah semuanya sudah berada di dalam mobil, Achazia yang berada di mobil paling depan mengendarai mobil, di susul dengan mobil Adrian yang berada di belakang mobil Achazia lalu Abercio dan Abqari.
"Kita akan kemana?" Tanya Ashana.
__ADS_1
"Ke restoran tentu saja." Ucap Achazia sambil fokus mengendarai mobil.
"Maksudku, restoran apa?"
"Nanti juga kau akan tahu."
"Kenapa sekarang kau selalu seperti itu? Nanti juga kau akan tahu, nanti juga kau akan tahu. Misterius sekali."
Achazia terkekeh mendengar jawaban dari mulut Ashana. "Surprise."
"Terserah kau saja." Ashana melipat kedua tangannya. Ia menyandarkan tubuhnya. Lebih baik diam daripada bertanya. Toh, bertanya pun tidak akan di jawab.
Achazia menahan tawanya saat melihat ekspresi kesal di wajah Ashana. Pasti wanita itu kesal kenapa ia tidak menjawab pertanyaannya.
"Sebentar lagi kita sampai." Ucap Achazia.
"Aku tidak peduli." Ashana memalingkan wajahnya ke jendela.
"Kau marah?" Tanya Achazia dengan senyuman yang terukir. Mengenal Ashana membuatnya lebih sering tersenyum.
"Menurutmu? Jangan bilang kau tidak mengerti perasaanku." Ashana menatap Achazia.
Achazia sudah tidak bisa menahan tawanya. Dengan satu tangannya yang bebas, ia mencubit pipi Ashana, membuat sang empu mengaduh kesakitan.
"Kau ini kenapa?" Ashana mengelus pipinya sakit.
"Harusnya aku yang bertanya. Kau kenapa?"
"Aku memangnya kenapa?"
"Sangat menggemaskan." Achazia menahan diri untuk tidak menggigit Ashana.
Ashana menghela napas. "Fokus saja pada jalanan." Ucapnya saat melihat Achazia melirik ke arahnya.
"Fokusku bisa di bagi dua."
"Terserah kau saja. Intinya aku tidak mau mati muda. Aku juga mau punya anak dulu."
"Maksudmu Achazia junior?"
Ashana terkekeh. Wajahnya bersemu merah. Ia mencubit lengan Achazia. "Sudah, fokus saja."
Tidak terasa akhirnya mereka sampai di restoran yang di tuju. Mulai dari perjalanan masuk, banyak orang berbaris menyambut Achazia. Ashana menatap Achazia. Apakah kekasihnya se terkenal itu sampai di manapun di hormati?
Ashana membaca nama restoran. "Restoran Kronenhalle?"
__ADS_1
*****