
"Oh iya, kau ingin mengatakan apa padaku?" Masih fokus dengan jalanan di depan, Achazia bertanya pada Ashana.
"Hah? Kapan?" Ashana yang tidak ingat malah balik bertanya.
"Saat di telepon. Kau bilang nanti saja saat pulang."
Ashana kembali mengingatnya. "Oh, yang itu." Ia menatap Achazia, ia pikir Achazia wajib mengetahui ini karena pria itu adalah kakak dari Alice.
"Ya, apa itu?"
"Tapi aku mohon kau tahan emosi, jangan sampai hilang kendali dan tetap santai."
"Memang apa yang ingin kau katakan?"
Ashana menghela napas. "Alice.... mendapatkan pesan yang sama sepertiku."
Ckiiiieeettt!!!!
Ashana menahan tubuhnya yang akan terlempar ke depan. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang. "Achazia, hati-hati."
Achazia menatap Ashana. Ia sudah menepikan mobilnya. "Ulangi sekali lagi apa yang kau katakan."
"Alice mendapatkan pesan sepertiku. Hanya saja nomornya berbeda."
Achazia menghela napas. "Dia menceritakan semuanya padamu? Apakah dia ketakutan?"
"Iya, dia menceritakan semuanya. Dia juga ketakutan. Tapi aku berhasil menghilangkan ketakutannya."
"Syukurlah, terimakasih. Aku berjanji akan menemukan siapa pelakunya."
Ashana menyentuh punggung tangan Achazia. "Apakah pesan itu serius? Kalau hanya iseng kau tidak perlu----"
"Tidak, Ashana. Baik dia punya alasan atau hanya iseng saja, aku akan menemukannya dan memberikannya balasan karena telah mengganggu kalian berdua."
Ashana mengangguk. Lagipula ia tidak bisa mencegah Achazia untuk melakukan apa yang pria itu mau. Di sisi lain Ashana juga penasaran siapa pelaku yang telah melakukan ini semua.
Achazia kembali melanjutkan menyetir mobil. Tadi Achazia menawarkan apakah Ashana mau makan. Dan Ashana menjawab kalau ia akan makan di rumah saja. Ashana juga menawarkan Achazia untuk ikut bergabung. Tapi Achazia menolak dengan alasan masih ada pekerjaan yang belum selesai. Ashana yang mengetahui kalau Achazia adalah seorang presdir percaya saja dengan alasan itu.
"Hati-hati." Ucap Ashana saat sudah keluar dari dalam mobil.
Achazia mengangguk. "Kalau kau rindu, telepon saja aku. Jangan memendamnya sampai terbawa mimpi. Sampai mengigau pula."
Ashana melebarkan kedua matanya. Pipinya bersemu merah. Pasti Andri memberitahu Achazia kejadian tadi pagi. Harus di taruh dimana wajahnya kini?
"Ti-tidak. Kau ini jangan sok tahu."
"Ingat, mata-mataku banyak. Jadi tidak ada yang aku tidak tahu." Setelah memberikan senyuman jahil, Achazia menutup jendela mobil lalu pergi melajukan mobilnya.
__ADS_1
Ashana menghentakkan kakinya kesal. Ia berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah yang di hentakkan.
"Hei, ada apa denganmu?" Tanya Andri saat Ashana masuk ke dalam rumah.
Ashana berjalan menghampiri Andri yang sedang santai sambil memainkan ponsel. "Kau! Apa yang kau katakan pada Achazia?!"
"Aku tidak mengatakan apa-apa. Memangnya kenapa?"
"Bohong! Bagaimana Achazia bisa tahu kalau kemarin malam aku tidur mengigau sambil menyebutkan namanya berkali-kali?"
Andri menahan diri untuk tidak tertawa dan akhirnya tawanya terdengar juga.
Ashana melebarkan kedua matanya. "Kau menertawakanku?!"
"Iya, memang benar aku yang memberitahukannya. Memangnya salah aku memberitahu orang yang bersangkutan?"
"Kau----ah sudahlah!" Ashana menyerah. Daripada ia yang marah, lebih baik ia berjalan menuju dapur lalu memeluk sang Ibu.
"Ibu,"
"Hei, kau sudah pulang?" Ibu mengelus sebelah pipi Ashana dengan satu tangannya. Sedangkan satu tangannya lagi di gunakan untuk menggoreng tempe.
Ashana mengangguk. "Ibu masak apa? Wangi sekali!"
Ibu terkekeh. "Kau ini ada-ada saja. Ibu hanya goreng tempe."
"Aku lapar,"
Ashana mengangguk. Ia melepaskan pelukannya lalu berjalan menuju kamar. Sebelum itu ia sempat melayangkan tatapan tajam pada Andri yang sedang sibuk memainkan ponsel. "Awas saja kau," Gumam Ashana lalu masuk ke dalam kamar.
Ashana melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Hanya sebentar, sekitar lima menit lalu ia pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
Setelah selesai, Ashana langsung keluar untuk makan. Di meja makan sudah ada Andri dan Ibu seperti biasa. Bapak akan pulang malam.
"Harimu bagaimana?" Tanya Ibu.
"Baik," Jawab Ashana dengan tangan yang sibuk mengambil nasi.
Ibu menghembuskan napas pelan. "Kau selalu menjawab baik. Baik versimu itu seperti apa? Ibu tidak tahu." Ucap Ibu.
"Baik, Ibu. Tidak ada kendala."
"Ibu ingin mendengar kegiatan mu di kantor."
"Seperti hari-hari biasa, tidak ada yang aneh."
"Bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Achazia?"
__ADS_1
Uhuk uhuk huk!!
Ibu langsung menuangkan segelas air lalu memberikannya pada Ashana yang tersedak. "Hati-hati."
Ashana langsung meminum air yang di berikan Ibu. Ia memegang dadanya sambil mengatur napas. Ashana menatap Ibu. "Maksud Ibu apa?"
"Apa?" Balik tanya Ibu.
"Tadi. Mempertanyakan kelanjutan hubunganku. Memangnya Ibu pikir kita akan melanjutkan kemana?"
"Ke jenjang pernikahan. Kan siapa tahu."
"Ibu terlalu berpikir kejauhan." Ashana kembali melanjutkan makan. Ia mencoba menghiraukan pertanyaan Ibunya tadi.
"Memangnya kalian akan berpacaran terus? Kalian tidak berniat untuk melakukan pernikahan?"
"Ibu.... Aku belum memikirkan itu." Rengek Ashana karena Ibunya malah membuatnya tidak nafsu makan.
"Baiklah, baiklah. Maafkan Ibu."
Ashana mengalihkan tatapannya pada Andri. "Jangan sampai kau mengadukan ini pada Achazia. Nanti dia akan marah."
Andri menghela napas. "Tenang saja Kak. Aku juga kalau mengadu punya batas." Ucap lelaki itu membuat Ashana tersenyum.
"Adik yang baik."
"Memang."
Setelah percakapan itu, mereka memilih untuk mengganti topik pembicaraan. Hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Walaupun piring mereka sudah bersih, mereka enggan untuk beranjak dari sana. Sampai ketukan di pintu pun mengalihkan perhatian.
"Siapa? Bapak?"
Ibu melirik jam dinding. "Tidak biasanya." Ucapnya.
"Aku saja yang buka." Ashana bangkit lalu berjalan menuju pintu. Sebelum membuka pintu wanita itu mengintip dari jendela. Tidak ada tanda-tanda orang. Ashana menatap ke bawah. Ia menemukan sebuah kotak yang tidak tahu isinya apa itu. "Apakah mungkin paket?" Pikir Ashana. Tapi biasanya tukang paket tidak akan langsung pergi seperti itu.
Ashana membuka pintu. Ia mengambil kotak yang tidak terlalu besar itu. Ada nama penerimanya.
"Untuk Ashana Berryl Carissa?" Ashana membaca nama penerima yang tertera. Bahkan jika di ulang-ulang pun ia yakin ini untuknya. Tapi dari siapa?
Ashana masuk ke dalam dengan kotak yang ada di genggamannya.
"Kotak apa itu?" Tanya Ibu yang sedang membereskan meja makan.
Ashana tersenyum. "Ini paket untukku Bu. Aku lupa. Kalau begitu aku ke kamar duluan tidak apa ya Bu?"
"Ya, tidak apa. Malah Ibu lebih senang kau ke kamar lebih dulu daripada membantu Ibu." Ibu tersenyum.
__ADS_1
Ashana berjalan memasuki kamar. Tak lupa ia menutup lalu mengunci pintu. Ia menurut kotak itu di atas meja lalu membukanya. Ashana berdoa semoga tidak ada yang aneh-aneh.
Ashana mengernyit saat mengetahui apa isi kotak itu. "Apa ini?"