Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
HARI PERTAMA


__ADS_3

Ashana membuka kedua matanya saat merasakan sesuatu menyentuh pipinya. Yang pertama ia temukan adalah Achazia yang sedang tersenyum menatapnya. Ashana balik tersenyum. Wanita itu kemudian duduk.


"Kau bangun cepat sekali." Ucap Ashana dengan suara khas bangun tidur.


Achazia tidak menjawab. Pria itu hanya tersenyum sambil mengelus pipi Ashana.


Ashana memicingkan matanya. "Atau kau tidak tidur sama sekali?"


Achazia menggeleng. "Tidak, aku tidur." Elak pria itu.


"Aku tidak mudah di bohongi ya." Ucap Ashana yang membuat Achazia tertawa.


"Iya iya, aku tidak bisa tidur."


"Kenapa?" Tanya Ashana khawatir. "Mimpi itu lagi?"


Achazia mengangguk. "Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya."


Ashana berdecak. Walaupun ia tidak tahu Achazia sebenarnya mimpi apa, tapi ia yakin mimpi itu pasti datang dari kejadian yang pernah terjadi di kehidupan Achazia. Ashana tidak pernah memaksa Achazia untuk menceritakannya. Ia akan menunggu sampai Achazia siap untuk cerita.


"Aku akan menemanimu tidur." Ucap Ashana yang membuat Achazia menatapnya sambil tersenyum. "Benarkah?"


Ashana mengangguk. "Kalau aku tidur bersamamu mencegah mimpi itu, aku akan melakukannya."


"Bagaimana kalau aku sedang lupa?"


"Hah? Lupa kenapa?"


"Ah, lupakan. Aku akan menahannya. Sebisa mungkin. Tapi kalau aku tidak bisa menahannya, maafkan aku." Achazia mengecup pipi Ashana sekilas. Ia mengedipkan matanya kemudian bangkit berdiri. Sedangkan Ashana masih tidak mengerti dengan apa yang di katakan Achazia.


"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Ayo kita sarapan." Ucap Achazia. Pria itu mengusap puncak kepala Ashana gemas.


Ashana mengangguk. "Baiklah, kau tunggu saja di luar, aku cuci muka sebentar."


Achazia mengangguk kemudian keluar dari kamar Ashana. Sedangkan Ashana masuk ke kamar mandi untuk menyikat gigi juga cuci muka. Setelah selesai, wanita itu langsung menuju meja makan. Makanan sudah tersaji disana. Ia tidak perlu bertanya darimana datangnya makanan itu. Mereka kan kaya. Bisa menyewa orang untuk memasak atau membeli langsung.


"Yang lain belum bangun?" Tanya Ashana sambil menarik bangku untuk duduk. Di meja makan hanya ada Ailee, Achazia, Abqari dan Adrian. Sisanya tidak tahu.


"Andini dan Alice sebentar lagi akan kemari, sedangkan Abercio, aku tidak tahu." Ucap Ailee.


"Abercio sedang menunggu Andini." Ucap Adrian. Pria itu menatap Ailee. "Kalau tidak tahu bertanya saja padaku." Ucapnya yang sama sekali tidak digubris oleh Ailee. Adrian biasa saja, karena sudah biasa.


"Wow!" Alice langsung duduk di sebelah Ashana. Matanya berbinar saat menatap makanan yang tersaji. "Kakak yang memesan?" Alice menatap Achazia.


Achazia mengangguk. "Iya,"


"Kakak memang terbaik. Selalu tahu makanan yang enak."

__ADS_1


"Sebenarnya itu bukan pilihan Achazia saja, tapi ada pilihanku juga Adrian. Ya kan Achazia?" Ucap Abqari dan Achazia mengangguk.


"Aku tidak bertanya padamu." Ucap Alice tidak peduli.


Setelah Abercio dan Andini datang, mereka memulai sarapannya. Seperti biasa, tidak ada yang bersuara. Sarapan menghabiskan waktu 15 menit. Setelah selesai, Ailee baru saja akan membereskannya, tapi tangannya langsung di genggam oleh Adrian.


"Tidak perlu, nanti akan ada orang yang membereskannya." Ucap Adrian.


Ailee menatap Adrian. "Kenapa harus menyuruh orang? Aku juga bisa membereskannya." Ucap wanita itu.


Adrian menggeleng. "Kita kan akan pergi. Waktunya tidak akan cukup."


Ailee melepaskan tangan Adrian yang masih menggenggamnya. Setelah lepas, ia langsung pergi ke dalam kamar. Adrian menghembuskan napasnya. Ia harus lebih semangat jika ingin Ailee kembali menyukainya.


Sedangkan Ashana langsung di ajak keluar oleh Achazia setelah selesai sarapan. Ashana yang belum tahu Achazia mau apa hanya menuruti pria itu. Setelah sampai di luar, Achazia mengajak Ashana untuk duduk di kursi yang ada di depan villa.


"Ada apa?" Tanya Ashana.


"Tidak apa-apa. Kita tunggu saja di luar, kau sudah siap kan?" Tanya Achazia dan Ashana mengangguk. Lagipula ia tidak perlu ribet-ribet dalam hal pakaian. Biasanya pun seperti itu.


"Kita akan kemana?" Tanya Ashana.


"Kata Alice kita akan melihat air terjun Rhine"


Dengan cepat Ashana langsung mencari informasi tentang air terjun itu dari ponselnya. Achazia yang melihat itu terkekeh.


"Mana aku lihat?" Ucap Achazia. Pria itu mendekatkan wajahnya ke ponsel Ashana.


"Iya, indah. Seperti kau."


Ashana menatap Achazia dengan senyum yang di tahan. "Kau ini bicara apa?" Ucap wanita itu yang sebenarnya malu setengah mati. Bahkan wajahnya saja sudah memerah.


"Aku bicara apa? Memang benar kan? Air terjun itu indah, seperti dirimu." Ucap Achazia.


"Ah, sudahlah." Ashana mematikan ponselnya. Ia kemudian menatap ke arah lain. Wanita itu menatap apa saja asalkan tidak menatap Achazia.


"Kau lucu jika seperti itu. Menggemaskan sekali."


"Berhenti bicara." Ucap Ashana tanpa menatap Achazia.


Achazia terkekeh. "Memangnya kenapa?"


"Kau menyebalkan."


Achazia tidak bisa menahannya lagi. Pria itu langsung mencium pipi Ashana. Membuat Ashana langsung menatap pria itu dengan mata yang membulat.


"Apa?" Tantang Achazia. "Seperti baru pertama kali aku cium." Ucap pria itu.

__ADS_1


Ashana berdecak. "Kau ini gemar sekali mencium pipiku."


"Salah sendiri, kau menggemaskan." Ucap Achazia.


Ashana menggeleng. "Aku tidak menggemaskan."


"Coba, gembungkan pipimu." Ucap Achazia.


Ashana menurut. Wanita itu menggembungkan pipinya. Dan lagi, Achazia menciumnya. "Menggemaskan."


"Kau menciumku lagi!" Protes Ashana tidak terima.


"Memang salah?" Ucap Achazia.


"Sudahlah," Ashana duduk berbalik memunggungi Achazia. Membuat Achazia terkekeh.


"Hey, kalian sedang apa?" Tiba-tiba Adrian muncul dari belakang. Di susul dengan yang lainnya.


"Kalian sudah siap?" Tanya Ashana.


Alice mengangguk semangat. "Iya, aku sudah tidak sabar untuk pergi ke sana."


Andini mengangguki ucapan Alice. "Iya, pemandangannya sangat indah."


"Kau pernah kesana?" Tanya Ailee yang berada di sebelah Andini.


Andini mengangguk. "Pernah, aku sangat suka."


Ashana sudah tidak aneh lagi, lagipula Andini ini berasal dari keluarga kaya. Tidak salah kalau wanita itu pernah berlibur ke Swiss.


"Ayo kita berangkat." Ucap Achazia. Ia menggenggam tangan Ashana lalu berjalan menuju mobilnya terparkir. Ashana yang di tuntun Achazia menurut saja. Achazia membukakan pintu mobil untuknya. Lalu Ashana masuk ke dalam.


"Kau ingin aku mengemudikan mobilnya pelan atau cepat?" Tanya Achazia.


Ashana yang bingung mengapa Achazia bertanya seperti itu menatap Achazia. Sedangkan Achazia yang di tatap balas menatap tidak mengerti. "Kenapa?"


"Tumben sekali kau bertanya. Biasanya kau langsung melajukan mobil tidak pernah bertanya."


"Aku hanya ingin membuatmu nyaman." Ucap Achazia sambil memasang sabuk pengaman. Tanpa di pinta Achazia juga memasangkan sabuk pengaman Ashana.


"Aku juga bisa sendiri."


"Aku tahu. Aku hanya ingin memasangkannya saja." Ucap Achazia setelah kembali pada duduknya.


Ashana tersenyum. Ia menyentuh tangan Achazia. "Terserah kau. Cepat atau lambat, jika kau yang mengemudikannya, aku tidak masalah."


Achazia tersenyum. "Baik Tuan Puteri."

__ADS_1


*****


__ADS_2