
Ashana tidak percaya kalau Achazia akan mengajaknya ke tempat ini. Tanpa menyembunyikan senyumnya ia menatap Achazia yang juga menatapnya.
"Tadi malam aku terbangun karena haus. Saat aku akan kembali tidur aku mendengarmu berbicara saat tidur kalau kau rindu keluargamu. Berhubung sekarang hari libur, aku mengajakmu kesini."
"Terimakasih.." Ucap Ashana sambil menahan air mata yang akan keluar.
"Kau tidak mau keluar? Kau tidak rindu keluargamu?" Ucap Achazia yang langsung membuat Ashana buru-buru membuka sabuk pengaman. Ia keluar meninggalkan Achazia di dalam mobil.
Achazia tersenyum melihat kelakuan Ashana. Ia bisa merasakan bagaimana rasanya jauh dari keluarga. Apalagi ibu. Lagipula Ashana adalah wanita yang ia cintai. Ia tidak akan setega itu jika membuat Ashana tidak bertemu dengan keluarganya.
Achazia keluar dari mobilnya. Pria itu berjalan menghampiri Ashana yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Kak, dia siapa?"
Ashana menoleh saat Andri menanyakan seseorang padanya. Ashana tersenyum. Ia berjalan menghampiri Achazia kemudian menarik tangan pria itu untuk di kenalkan dengan keluarganya. "Dia Achazia. Dia direktur di perusahaanku."
Baik bapak, ibu dan adiknya, semuanya dibuat tercengang. Bahkan bapaknya sampai mengucek matanya beberapa kali.
"Dia benar direktur mu?" Tanya Ibu Ashana dan Ashana mengangguk.
"Bukannya kau pernah cerita kalau direktur mu itu kejam, jahat, cuek dan tidak berperasaan?" Ucap Ibu Ashana yang membuat Ashana langsung melebarkan kedua matanya.
"Ibu..." Ashana mengkode ibunya, tapi ibunya itu tidak mengerti.
"Apakah ucapan ibu ada yang salah?" Ucap Ibu polos.
Achazia menatap Ashana tajam. Sedangkan Ashana hanya bisa mengeluarkan cengiran nya.
"Dia bicara apa saja tentangku?" Tanya Achazia pada Ibu Ashana.
"Banyak. Dia juga bilang---"
"Oh iya itu Achazia! Aku bilang pada ibuku kalau kau itu tampan, baik hati, selalu mengerti karyawan ku dan masih banyak. Iya kan bu?"
Ibunya yang tidak mengerti hanya memandang Ashana dengan tatapan, "Perasaan bukan seperti itu," Tapi Ashana mengkode dengan matanya. Dan bagusnya ibunya itu mengerti.
"Ah, iya... Ashana juga mengatakan itu." Ucap Ibu Ashana tapi masih belum bisa menghilangkan tatapan Achazia pada Ashana.
"Padahal baru saja Ibu akan menelepon mu untuk mengajakmu BBQ di rumah."
"Wah, seru sekali! Aku ingin ikut." Ucap Ashana antusias.
"Ya, dan bagus kau sudah ada disini." Ucap bapak.
"Kau akan ikut Achazia?" Tanya Ashana yang di angguki oleh Achazia.
"Dia juga akan ikut." Ucap Ashana senang.
"Tapi kak, kita belum membeli bahan-bahannya." Ucap Andri.
__ADS_1
"Biar aku dan Ashana yang akan membelinya." Ucap Achazia.
"Ah, tidak apa nak?" Tanya Ibu Ashana yang tidak enak karena kedatangan Achazia disini adalah sebagai tamu.
"Tidak apa. Ayo Ashana."
"Eh, tunggu dulu! Ashana ini uangnya." Ibu memberikan yang untuk membeli keperluan.
Achazia mendorong tangan Ibu Ashana yang menyodorkan uang. Pria itu tersenyum. "Tidak perlu. Pakai uangku saja."
"Tidak apa?"
"Tidak apa. Dan tidak perlu merasa tidak enak." Ucap Achazia. "Kalau begitu kami permisi." Achazia kembali menarik tangan Ashana menuju mobil. Saat di dalam mobil, Achazia bisa melihat Ashana yang senyum-senyum sendiri.
"Kau kenapa?" Tanya Achazia.
"Kenapa kau hari ini begitu baik?"
"Maksudmu di hari-hari biasanya aku tidak baik?" Achazia mengeluarkan tatapannya tajamnya seperti biasa.
Ashana gelagapan. "Bu-bukan itu. Aku hanya bertanya. Di hari biasa ju-juga kau baik. Tapi di hari ini kau sangat baik." Ucap Ashana. Ia berdoa semoga tidak salah bicara.
Achazia tersenyum. "Aku hanya ingin membuatmu bahagia. Dan ternyata tidak susah untuk membuatmu bahagia."
Ashana yang tadinya mengalihkan tatapan karena takut kembali menatap Achazia. "Kau ini bicara apa?"
"Aku ingin membahagiakan wanita yang aku cintai. Apa itu salah?"
*****
"Tidak ada yang kurang?"
Setelah melihat-lihat bahan-bahan yang ada di troli, Ashana menggeleng. "Tidak ada." Ucap wanita itu.
"Tapi ada yang kurang satu. Sebentar." Ashana mencari barang yang kurang itu. Dan bagusnya barang itu berada di dekatnya. Ia berjalan untuk mengambil barang itu.
"KAKAK AWAS!!"
BRUK!!
"Aww..." Ashana mengusap punggungnya punggungnya yang sakit. Kakinya juga sakit. Achazia yang melihat Ashana jatuh langsung berlari menghampiri wanita itu lalu membantunya berdiri.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Achazia khawatir.
Ashana menggeleng dengan tangan yang terus mengusap punggungnya yang sakit. Ia menatap kedua remaja yang berada di hadapannya. Terlihat sekali wajah bersalah mereka berdua.
"Kak, maaf. Kami tidak bermaksud untuk menabrak mu. Tapi memang aku yang terlalu kencang mendorong trolinya sampai troli itu lepas kendali." Ucap remaja laki-laki itu. Sedangkan perempuan yang ada di sebelahnya hanya menunduk. Kalau saja perempuan itu tidak menaiki trolinya, pasti tidak akan sesakit ini saat menabrak Ashana.
Ashana tersenyum. "Tidak apa, lagipula---"
__ADS_1
"Harusnya kalian tahu tempat. Disini supermarket. Bukan tempat untuk bermain. Lagipula kalian sudah besar, sudah bukan waktunya untuk bermain seperti itu."
Kedua remaja itu saling pandang kemudian menunduk lagi merasa bersalah.
Ashana tertawa untuk mencairkan suasana. "Ah, tidak apa. Lagipula tidak terlalu sakit. Kalian tidak perlu merasa bersalah." Ashana menyentuh lengan perempuan itu. Membuat perempuan itu mendongak.
"Kakak memaafkan kami?" Tanya perempuan itu takut.
Ashana mengangguk. "Kenapa tidak?"
Perempuan itu tersenyum. Refleks ia langsung memeluk Ashana. "Terimakasih kak."
Ashana mengangguk. Ia membalas pelukannya. "Iya, lain kali hati-hati."
"Ya sudah kalau kami permisi. Maaf sekali lagi." Ucap laki-laki itu kemudian menarik perempuan yang tadi memeluk Ashana dan pergi dari hadapan Ashana dan Achazia.
"Kau seharusnya tidak memaafkan mereka." Ucap Achazia yang terlihat kesal.
Ashana menghembuskan napasnya. "Sudahlah, lagipula mereka masih remaja. Masih menikmati waktu-waktu seperti itu." Ucap wanita itu sambil mengambil barang yang tadi ia butuhkan. "Aku juga ingin seperti itu." Gumam Ashana tanpa sadar yang terdengar oleh Achazia.
"Kau ingin naik troli dan aku yang mendorongnya?"
"Hah? Apa?"
"Kau sendiri yang bilang kalau kau ingin seperti mereka."
"Kapan?" Ashana bingung sendiri. Kapan ia bicara seperti itu?
"Tadi. Sudahlah, aku tahu kau malu untuk mengatakannya." Tanpa pikir panjang Achazia menggendong Ashana lalu mendudukkan wanita itu di troli.
"Achazia?!" Pekik Ashana.
"Apa? Sudah, kau tinggal diam saja. Aku yang dorong."
Ashana berdecak. Wanita itu melipat kedua tangannya. Sudahlah, terserah Achazia. Tidak ada yang bisa menolak keinginan pria itu. Tapi tunggu, kenapa menyenangkan? Seperti sedang naik motor tapi dalam sensasi berbeda.
"Achazia..." Panggil Ashana.
"Ya?"
"Bisakah kau mendorongnya lebih kencang?" Pinta Ashana malu.
Ashana mengangkat sudut bibirnya. "Aku sudah yakin kau akan menyukai ini." Setelahnya pria itu langsung mendorong troli, menciptakan suasana bahagia di antara mereka walaupun banyak yang memperhatikan mereka aneh.
"Lihat? Kakak itu malah melakukan hal yang kita lakukan." Ucap remaja laki-laki yang tadi tidak sengaja menabrak Ashana. Sedangkan perempuan di sebelahnya tersenyum seperti yang bahagia melihat Achazia dengan Ashana.
"Lihatlah, mereka sangat lucu. Tampan dan cantik. Di tambah dengan senyum yang menghiasi wajah keduanya. Mereka sangat menggemaskan!" Ucap perempuan itu.
"Ya mereka sangat menggemaskan." Ucap laki-laki itu yang memang tidak bisa di pungkiri kalau keduanya sangat serasi.
__ADS_1
*****