Bisakah Menjadi Kita?

Bisakah Menjadi Kita?
PARIS


__ADS_3

Sebenarnya Ashana sudah penasaran setengah mati, tapi Achazia menyuruhnya untuk tidak bertanya tentang akan kemana sampai mereka sampai ke tempat tujuan.


"Apakah masih lama?" Tanya Ashana entah sudah yang ke berapa kali.


Achazia mengangkat kedua bahunya. Jawaban yang selalu ia berikan setiap kali di tanya oleh Ashana.


Ashana menghembuskan napasnya. Pasrah karena Achazia tidak menjawab apapun, Ashana menyenderkan tubuhnya dan lebih memilih menikmati pemandangan di balik jendela.


Mata Ashana tiba-tiba berat. Ia merasa mengantuk. Ashana melirik jam tangannya. Pukul 10:25. Sudah dua jam lebih mereka berada di dalam mobil tapi mobil tak kunjung sampai.


"Apakah masih lama?" Tanya Ashana tanpa menoleh. Kini suaranya sangat pelan. Ashana sudah mengantuk.


"Kau mengantuk?" Achazia menyelipkan rambut yang menghalangi wajah Ashana saat wanita itu berbalik.


Ashana mengangguk. "Apakah masih jauh?" Tanyanya lagi.


"Kalau kau mengantuk, tidur saja. Aku akan menbangunkan mu jika sudah sampai." Ucap Achazia.


Ashana mengangguk. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan di luar. Hanya butuh beberapa detik saja untuk Ashana terlelap dalam mimpinya.


Achazia tersenyum. Ia menggenggam tangan Ashana yang ada di sebelahnya. Setelah menciumnya sekilas, Achazia kembali fokus menatap jalanan.


Sebenarnya tidak sejauh itu. Achazia hanya mengajak Ashana berputar-putar karena Ashana belum tidur juga. Saat Ashana mengatakan kalau dirinya mengantuk, Achazia bahagia sekali. Setelah sekian lama ia hanya berputar-putar di sini. Beruntung Ashana tidak menyadari itu.


Setelah Ashana terlelap dalam tidurnya, Achazia membawa mobilnya menjadi sedikit lebih pelan. Setelah lima menit melakukan perjalanan, akhirnya sampai juga mobilnya di tempat tujuan.


Achazia membuka sabuk pengamannya. Ia menatap wajah Ashana yang terlihat tenang saat tidur. Bangun saja wajahnya sudah sangat menenangkan. Apalagi kalau tidur. Bisa membuat Achazia senyum-senyum sendiri.


"Ashana." Achazia menepuk pipi Ashana lembut. Ia mencoba membangunkan Ashana tanpa membuat wanita itu terkejut.


Ashana menggeliat. Karena ia bukan tipe orang yang susah di bangunkan tidur, Ashana sudah membuka matanya perlahan. Ia terkejut saat menemukan Achazia kini sudah berada di sampingnya.


"Kau----sejak kapan kau di sini?" Tanya Ashana yang masih terkejut.


Achazia terkekeh. "Kita kan memang sedang jalan-jalan."


Ashana mencoba mengingat-ingat. Ia meringis saat sudah mendapatkan semua ingatannya. "Apakah sudah sampai?" Ashana menatap ke hadapannya.

__ADS_1


Achazia mengangguk. "Iya, ayo kita turun."


Ashana dan Achazia turun dari mobil. Ashana mengerutkan dahinya saat tahu kalau daerah ini daerah yang tidak terlalu jauh. Lalu kenapa jika bersama Achazia terasa sangat jauh.


"Kita di jalan dua jam lebih kan?" Tanya Ashana dan Achazia mengangguk.


"Bukankah ini terlalu dekat untuk perjalanan dua jam lebih?"


Achazia tersenyum. "Yang lebih penting kita sudah sampai kan?"


"Tapi ini----"


Achazia langsung memeluk pinggang Ashana lalu membawa wanita itu untuk masuk. Semua orang menunduk saat atasan mereka datang. Bahkan orang-orang yang sedang check-in pun kenal siapa Achazia.


"Semuanya sudah siap, Tuan." Arkan yang tiba-tiba sudah ada di depan lift menundukkan kepalanya.


"Semuanya?"


Arkan kembali menunduk. "Ya, Tuan." Arkan kemudian membukakan lift yang khusus di naiki oleh orang penting. Bukan, bukan orang penting. Tapi khusus untuk orang yang penting bagi Achazia.


"Ayo,"


Achazia tersenyum. Ia mengelus kepala Ashana. "Kamu akan tahu nanti."


Ashana menghembuskan napasnya. Selalu itu yang Achazia katakan. Dan bodohnya sudah tahu kalau Achazia tidak akan menjawab pertanyaannya, Ashana tetap saja bertanya.


Saat pintu lift terbuka, banyak orang berjas hitam dan berkaca mata berdiri berjajar di sepanjang lorong. Ashana yang melihat itu meneguk salivanya. Ini seperti drakor yang suka ia tonton.


"Mereka tidak akan melakukan apa-apa kan?" Tanya Ashana.


Achazia terkekeh. Kekasihnya ini memang berpikir apa sih. "Tidak, mereka akan menjaga kita."


"Memang kita mau kemana?" Ashana menatap Achazia.


"Kau akan tahu nanti."


Bodoh. Ingatkan Ashana untuk tidak bertanya pada Achazia karena jawabannya akan tetap sama.

__ADS_1


Ashana berjalan dengan Achazia di sampingnya. Tangan Achazia memeluk pinggang Ashana. Ashana yang merasa malu hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Sebentar lagi kamu akan tahu."


Ashana bisa melihat dari kaki orang-orang yang berjajar itu kalau mereka menundukkan kepala saat Achazia melewati mereka. Seberkuasa itu kah Achazia?


"Kau ingin terus menundukkan kepala begitu?"


Ashana mendongakkan kepalanya. Ia langsung memekik saat melihat apa yang ada di hadapannya. Kedua tangannya menutup mulutnya terkejut. Ia menatap Achazia yang tersenyum di sampingnya.


"Kau-----"


"Aku sayang kamu, Ashana."


Ashana tidak bisa menahan air matanya. Ia langsung memeluk Achazia. Achazia yang belum siap hampir terjatuh saat Ashana memeluknya. Beruntung ia masih bisa menahannya.


"Terima kasih. Terima kasih Achazia."


"Aku yang harusnya berterima kasih. Kamu berhasil merubah hidupku dengan kehadiranmu."


"Achazia...." Ashana tidak bisa menahan isakannya. Ia memeluk Achazia erat. Bahkan jas yang Achazia pakai sudah mulai basah karena air mata Ashana.


"Sudah, kau mau menangis terus hm?"


Ashana melepaskan pelukannya. Ia menatap Achazia sambil mengusap air matanya. Kekehan terdengar dari mulut Ashana saat melihat senyuman Achazia.


"Ayo duduk dulu." Achazia mengajak Ashana untuk duduk. Ia memanggil beberapa pelayan yang sudah ia pekerjakan untuk mengurus tempat ini.


Ya, tempat ini. Rooftop Comman Hotel. Di sulap oleh Achazia menjadi tempat yang paling di idamkan Ashana.


Awal cerita, Achazia tidak tahu mau mengajak Ashana kemana. Tapi ia sudah terlanjur bilang kalau akhir pekan ia akan mengajak Ashana jalan. Setelah lama berpikir, akhirnya ia meminta saran dari Adrian. Adrian bilang kalau Achazia harus mengajak Ashana ke tempat yang paling di inginkan wanita itu. Achazia tidak tahu, dan Adrian menyuruhnya untuk bertanya pada orang terdekat Ashana. Jadi, Achazia bertanya pada Andini. Kata Andini, Ashana itu sangat ingin pergi ke Paris. Dia ingin sekali menatap menara Eiffel di atas gedung. Dia ingin menikmati pemandangan itu. Dan saat itu Achazia memutuskan untuk membawa Ashana pergi ke Paris. Tapi Andini langsung mencegahnya dengan berkata, kalau Achazia membawa Ashana ke Paris, yang ada Ashana malah tidak akan senang. Karena Ashana pernah bilang kalau dia ingin ke Paris menggunakan uangnya sendiri. Jadi Andini memberikan ide ini. Ide bagus walau pun tidak berwujud asli. Achazia menyulap rooftop Comman Hotel menjadi seperti suasana di Paris. Bahkan Achazia meminta orang untuk membangun menara Eiffel mini di tengah rooftop. Tidak mewah, tapi bisa membuat Ashana bahagia.


"Kau senang?"


Ashana mengangguk. "Ya, walaupun tidak asli, tapi aku lebih menyukai ini." Ashana menatap sekitarnya. Bahkan dari makanan sampai pemandangannya pun sama. Di desain sama persis seperti di Paris.


"Terima kasih." Ucap Ashana lagi.

__ADS_1


*****


__ADS_2