
Ashana merebahkan dirinya di atas kasur. Ia menatap langit langit kamarnya. Hanya beberapa hari ia meninggalkan rumah tapi ia sudah sangat merindukan rumahnya. Tadi saat ia pulang, Bapak, Ibu dan adiknya langsung mrnyambut kedatangannya dengan sangat antusias. Mereka bahkan menyiapkan makanan kesukaan Ashana. Membuat Ashana tidak mau pergi jauh-jauh dari mereka.
Setelah mengantarkan Ashana pulang, Ashana menyuruh Achazia untuk langsung pulang. Bukan apa-apa, hanya saja Ashana tahu Achazia pasti lelah. Bahkan pria itu lebih lelah darinya. Tapi Achazia malah ingin menemaninya di rumah. Jika bukan karena Ibu yang menyuruh Achazia beristirahat, mungkin pria itu tidak akan pulang. Masih berada disini sekarang.
"Ashana,"
Ashana memiringkan tubuhnya saat melihat kepala ibunya melongok ke dalam kamar. Tubuhnya terhalang pintu. Ashana tersenyum. "Iya Ibu?"
"Ayo makan? Kau sudah makan?"
Ashana menggeleng. Sebenarnya ia sudah makan sebelum pulang. Tapi ia tidak mau membuat Ibunya sedih. "Belum, ayo. Tadi aku beristirahat sebentar. Tubuhku terasa pegal semua." Ashana tersenyum. Ia berjalan menghampiri Ibunya lalu berjalan beriringan menuju ruang makan.
"Semua ini makanan kesukaanmu." Ucap Bapak dengan senyum yang sangat cerah. Wajah lelahnya sehabis bekerja tidak terlihat sama sekali.
Ashana ikut tersenyum. Senyumnya tak kalah senang. "Wow, berarti Andri tidak perlu memakannya kan? Hanya aku saja yang memakannya kan?" Ashana melirik Andri yang tadi memasang senyum langsung mengubah wajahnya menjadi cemberut.
"Ibu, bagaimana bisa begitu?" Adu Andri pada Ibunya.
Ibu tersenyum. "Iya, Andri hanya bagian membereskan meja makan."
"Ibu...." Andri merengek karena Ibunya malah mendukung kakaknya.
Ashana tertawa. "Tidak, tidak. Ayo makan. Terimakasih telah merindukanku adikkuuu.." Ashana merangkul Andri sekilas lalu duduk di kursi. Kemudian mereka pun makan bersama.
Di tempat lain, Achazia baru saja sampai di apartemennya. Ia sudah meminta pada Ailee untuk jangan datang ke apartemennya dulu untuk bekerja. Karena Achazia tahu Ailee juga pasti sangat lelah.
Achazia menghentikan tangannya yang baru saja akan membuka pintu karena dering ponselnya berbunyi. Ia mengangkat telepon itu.
"Ada apa?" Achazia terdiam mendengarkan orang yang bicara di seberang telepon itu.
Achazia menghela napas. "Baiklah, aku akan segera sampai." Setelah mematikan telepon, pria itu berbalik lalu kembali masuk ke dalam mobil dan pergi lagi.
*****
"Ashana kau tahu? Ini benar-benar membuatku penasaran."
Sambil mengeringkan rambutnya yang basah, Ashana mendengarkan Andini dari seberang telepon. Saat Ashana sedang mandi, Andini terus saja menerornya melalui telepon. Setelah selesai mandi, wanita itu langsung mengangkat telepon Andini.
"Apa itu?"
Andini menghela napas. "Kau tahu? Saat aku pulang tadi, kedua orang tuaku menyuruhku untuk pulang ke rumah. Awalnya aku tidak mau, tapi karena Ibuku memaksaku, jadi aku pulang."
"Lalu?" Ashana masih sibuk mengeringkan rambutnya.
"Saat aku sudah sampai di rumah, Ibuku mengatakan bertanya apakah aku berhubungan dengan Abercio? Lalu aku jawab iya. Setelah itu kedua orang tuaku saling pandang. Aku bertanya ada apa. Tapi Ibuku langsung bilang, kalau Ibu menyuruhku pulang karena merindukanku. Itu saja."
__ADS_1
Ashana mengerutkan keningnya. Dari cerita Andini terdengar ada yang janggal. "Hanya itu saja?"
Ashana mengalihkan telepon suara ke telepon video. Kini ia bisa melihat wajah Andini.
Andini mengangguk. "Ya, hanya itu saja."
"Sepertinya ada yang disembunyikan."
"Sepertinya ada yang aneh." Timpal Ashana. Tangannya semakin pelan seiring dengan otaknya yang memikirkan sesuatu.
"Iya, mm... bagaimana kalau kita menyeledikinya?" Ashana langsung menatap Andini. Kedua sudut bibirnya tertarik. Ide bagus.
"Sepertinya tidak terlalu buruk."
Andini menepukkan tangannya beberapa kali. "Bagaimana kalau kita ajak Alice dan Ailee?"
"Memang tidak apa?" Ashana takut kalau mereka berdua tidak mau terlibat dalam hal ini.
"Alice pasti sangat antusias. Sedangkan Ailee, dia pasti akan terima-terima saja."
Ashana terlihat berpikir. "Kita tanyakan dulu."
"Baik, kau tanyakan pada Ailee, nanti akan aku tanyakan pada Alice."
"Baiklah, nanti akan aku ajak Ailee. Sepertinya Ailee akan ikut ikut saja. Dia bukan orang yang tidak mau tahu atau ingin tahu."
Ashana mengangguk lalu setelah itu layar ponselnya tidak menampakkan lagi wajah Andini. Ashana mengambil ponselnya. Sambil merebahkan diri di kasur, ia menelpon Ailee.
"Halo, ada apa Ashana?"
"Halo Ailee, mm.. ada yang ingin ku tanyakan padamu."
"Apa itu?" Entah kenapa Ashana selalu terpesona mendengar suara lembut Ailee. Ia aja yang wanita terpesona apalagi pria? Tidak salah kalau Adrian sampai tergila-gila pada Ailee.
"Begini, jadi Andini mengatakan padaku sepertinya ada yang aneh dari mereka berempat. Maksudku Achazia, Abercio, Adrian dan Abaqari. Andini mengajakku untuk menyelidiki itu. Apakah kau ingin ikut?"
Ailee terdiam. Sebenarnya saat Andini, Ashana dan Alice menanyakan apa jawaban Adrian saat Ailee menanyakan itu, Ailee hanya menjawab kalau Adrian tidak mengatakan apa-apa. Lagipula Ailee tidak mau membuat yang lain kepikiran seperti dirinya saat ini.
"Mau tidak?"
Ailee tersadar saat mendengar suara Ashana. "Bagaimana cara menyelidikinya?"
"Nah, kalau itu nanti kita bicarakan lagi. Sekarang keputusanmu dulu mau ikut atau tidak."
"Sepertinya menyenangkan."
__ADS_1
Ashana tersenyum. "Baiklah kalau begitu. Nanti kita akan bicarakan lebih lanjut. Aku tutup teleponnya kalau begitu."
"Baik, selamat malam,"
"Selamat malam juga." Ashana mematikan sambungan teleponnya. Ia menaruh ponselnya di atas nakas. Baru beberapa detik ponselnya mendarat, suara dering ponsel terdengar lagi.
"Achazia," Ashana membaca nama yang tercantum di layar ponsel. Wanita itu langsung mengambil ponselnya kembali.
"Halo, ada apa?"
"Ada apa?"
Ashana mengerutkan keningnya saat mendengar suara Achazia yang terdengar aneh. "Iya, ada apa? Kau menelpon ku karena ada apa?"
Terdengar Achazia terkekeh di seberang telepon. "Ada apa?"
"Achazia, jangan membuatku bingung, maksudmu ada apa?"
"Hei, aku ini kekasihmu, apakah harus ada apa dulu baru aku boleh menelponmu?"
Ashana menghembuskan napasnya. Hanya karena itu. Baiklah, ia harus mengalah sekarang. "Baiklah, kekasihku yang tampan nan rupawan, kau apa kabar? Sudah makan belum?"
"Kabarku selalu baik jika denganmu, aku sudah makan tadi."
Ashana mengerutkan keningnya. "Selalu baik denganku? Berarti maksudmu sekarang kau dalam keadaan kurang baik."
"Kurang lebih begitu."
"Kau sakit?" Terdengar nada khawatir dari suara Ashana.
"Ah, tidak. Aku hanya ingin mendengar suaramu, itu akan membuatku lebih baik."
"Benar begitu?" Suaranya terdengar curiga.
Achazia terkekeh. "Benar, untuk apa aku berbohong."
"Baiklah, aku tahu kau memang sibuk, tapi---"
"Kak dipanggil ayah!"
Ashana langsung menghentikan ucapannya saat terdengar suara Alice yang berteriak. "Kau ada dirumah?"
"Iya," Suara Achazia berubah menjadi lemas.
"Kau ada acara keluarga? Kenapa menelpon ku astaga. Cepat pergi."
__ADS_1
Achazia tersenyum kecil. Wanitanya tidak tahu kalau sekarang ia sedang berada dalam keadaan yang paling ia benci. "Baiklah, sampai jumpa."
*****