
Senja sudah terlihat, sebentar lagi malam akan menyapa dan cuaca dingin mulai menusuk di kulit.Andu,Toni dan Jimi nampak mulai mempersiapkan perapian di bantu oleh paman Chong.
"Tuan...apakah tuan membawa jaket???"
"Oh saya ada bawa paman...tidak tau kalau dia." Andi menunjuk Toni.
"Jelas ada dong....paman sudah lama ikut tuan Steven???"
"Iya...sudah 30 tahun dulu paman di rumah orang tuanya karena tuan muda Steven membeli villa disini paman mengajukan diri untuk mengurusnya bersama pelayan yang lain."
"Kenapa paman ingin ke sini??"
"Tuan bisa liat sendiri kan???...pemandangan dan udaranya sangat segar sepertinya cocok buat saya yang sudah tua ini."
"Aaah paman bisa saja, kalau cuma pemandangan tidak usah yang tua paman, kami pun mengangumi pemandangan disini paman." ucap Toni
"Paman....apakah bibi Zhe sudah lama ikut keluarga ini??." Andi memotong pembicaraan Toni dan paman chong dengan pertanyaan lain
"Sudah lama tuan, semenjak tuan muda Steven umur 11 tahun."
"Tentunya paman sudah lama mengenal bibi Zhe kan.?? Paman Chong mengangguk pelan
"Ada apa tuan menanyakan Zhe??".
"Aaah saya hanya bertanya saja...karena sikapnya agak aneh."
"Aneh bagaimana tuan.?" Toni pun nampak bingung namun ia sembunyikan kebingungannya dan coba menyimpulkan sendiri, karena selama Toni berpasangan dengan Andi jika muncul pertanyaan dari Andi secara tiba tiba tentang seseorang pasti ada hal yang menganggu pikirannya.
"Saya merasa dengan adanya kami wanita itu agak canggung....seperti kurang nyaman paman" Andi memutar pertanyaannya Andi tidak ingin paman Chong curiga dan khawatir.
"Hehehehe.....itu biasa tuan apalagi tuan tuan gagah dan tampan....perempuan pasti akan canggung bila dekat laki laki yang baru dikenalnya."
"Wah...sedang berbincang apa ini???....sepertinya asik sekali??" Tiba tiba Steven dan Nency muncul di hadapan mereka
"Aaah tidak tuan muda...ini tuan Andi sedang bertanya soal wanita.." Andi seketika terkejut
__ADS_1
"Naaah kenapa jadi saya paman??" Andi menjawab dengan salah tingkah, hal itu tidak luput dari tatapan mata Nency.
"Boleh saya duduk disana??" Nency menunjuk tempat yang berada tepat di sebelah Andi. Andi hanya menganggukkan kepalanya.
"Kau ingin disana sayang???....baik aku ambil kursi satu lagi, biar aku di sebelahmu." Segera steven menggeser kursi di ruangan itu.Sementara Andi nampak kurang nyaman Nency berada sangat dekat dengan nya, saking dekatnya aroma farfum maskulin Nency menyeruak ke penciuman Andi.
"Bagaimana keadaan nona??"
"Aku sudah mulai nyaman....disini benar benar nyaman."
"Sayang jika kau suka...setelah menikah kita bisa tinggal disini.." ucap Steven kepads Nency, namun Nency hanya tersenyum mendengarnya, ditengah perbincangan hangat mereka nampak sepasang mata sedang mengawasi dengan tajam.
Seperti ada yang mengawasi.....gumam Andi dalam hati, segera Andi mengirimkan sandi morse kepada 2 bawahannya.
"Kau sedang bikin titik titik apa??" ternyata Nency memperhatikan Andi yang sedang mengirim sandi morse kepada 2 anggota tim nya.
"Hmmm....ini hanya sandi nona...bukan apa apa." Nency pun hanya diam, tidak terasa waktu sudah hampir tengah malam dan cuaca tambah dingin, kopi dan coklat yang disuguhkan paman Chong sudah habis, akhirnya obrolan itu pun selesai masing masing dari mereka kembali ke kamar masing masing.Sementara Andi menemui kedua anggotanya.
"Bagaimana...????" Andi bicara sedikit berbisik
"Apa yang diinginkan wanita itu...baiklah kau tetap awasi, segera kembali ke pos mu aku akan pantau semuanya."
"Siap komandan..." Andi pun berlalu dari hadapan anak buahnya.
Matahari memberikan sinarnya yang hangat pagi itu, angin sepoi sepoi seolah membelai rambut panjang Nency yang terurai dengan lembut, pagi yang benar benar sempurna dengan pemandangan yang sangat memanjakan mata siapa saja.
"Kau sudah merasa baikan sayang??"Steven datang dari belakang dan memeluk mesra Nency.
"Iya....aku sudah merasa nyaman". Nency tidak bergeming dengan pelukan Steven, sementara Steven berusaha memberikan kemesraan di pagi itu kepada wanita yang sangat di cintainya.
"Ada apa sayang??? kau nampak begitu dingin kepadaku??....apakah ada kesalahan yang ku buat kepadamu??".
"Tidak..." Jawab Nency singkat
"Lalu kenapa??? kenapa kau bekangan ini dingin kepadaku??..."
__ADS_1
Sebenarnya Nency pun tidak mengerti dengan peradaannya, belakangan ini pikirannya hanya tertuju kepada Andi.
"Apakah semua ini karena Andi??" tiba tiba Steven mengajukan pertanyaan yang membuat Nency sedikit terkejut.
"Tii....tiidak....itu hanya pradugamu saja."
"Sayang....aku tau dia sudah berkali kali menyelamatkan nyawamu dan melindungimu, namun kau harus sadari, dia itu Bodyguardmu
aku yang mengontraknya." Steven berusaha meneguhkan posisi dan statusnya di hadapan Nency.
"Sudahlah....tidak perlu membahas Andi, itu hanya kecemasanmu saja,sekarang mari kita sarapan." Nency melepaskan pelukan Steven di balkon villa itu, sementara Steven hanya diam memantung.
Di dapur terlihat sedikit sibuk paman Chong di bantu asistennya dengan sigap mengerjakan masakan untuk sarapan pagi ini, mereka tidak menyadari kehadiran bibi Zhe di dapur.
PRANG.....tiba tiba suara piring terjatuh dan otomatis menghentikan kegiatan paman Chong di dapur.
"Sedang apa kau disini Zhe??"
"Eeeh...tttiiiidak....aku hanya....hanya....
"Hanya apa.???" Paman Chong memotong jawaban bibi Zhe.
"Bukan kah kau kuminta menata meja makan dan mempersiapkan kebutuhan nona Nency?? dapur urusanku.."
Dengan sekejap bibi Zhe membalikkan badannya dan meninggalkan dapur menuju ruang makan dan segera menata piring untuk keperluan sarapan.
Aneh....mau apa dia ke dapur sini...apakah dia pikun atau lupa dengan tugasnya.
Andi yang sedari tadi mengawasi melalui IPAD nya dan camera mini yang di pasangnya semalam, semakin curiga dengan bibi Zhe.
*Seandainya kau bukan orang kepercayaan tuan Steven...sudsh ku geret kau ....tunggulah saatmu.
---------------------------
**Terima kasih buat yang sudah mampir....kasih like , vote dan masukannya ya...biar tambah hot nulisnya...ditunggu ya....makasih***
__ADS_1