Bodyguard Nency

Bodyguard Nency
Kecurigaan Andi


__ADS_3

Tidak terasa sudah sepekan mereka berada di villa milik Steven dan keadaan Nency sudah pulih seperti sedia kala.


"Sayang....mungkin beberapa hari kedepan kita kembali ke kota,kau sudah pulih sayang.."


"Iya...aku sudah merasa sangat baik." Nency tersenyum.


Tanpa merekansadari sepasang telinga sedang mendengarkan pembicaraan dua sejoli itu.


Aku harus segera menjalankan rencanaku..maafkan aku nona..


Tanpa sadar sepasang mata juga sedang mengawasi dengan tatapan tajam kepada pemilik telinga itu.


Tunggu saat apesmu tiba... apa rencanmu sesungguhnya...gumam pemilik mata yang menatap dengan tajam kepada si penguping.


"Hei kawan....aku benar benar betah ada disini,bagaimana dengan mu??" ucap Jimi kepada Toni.


"Iyaaahhh aku merasakan damai selama disini, lepas semua rasa beban berada disini."


"Sepertinya aku harus membeli tanah kosong disini untuk membangun rumah."


"Kau ingin pensiun disini??".


"He..he...he...sepertinya begitu.,hei kau perhatikan Andi beberapa hari ini??."


"Tidak...kenapa??" Toni sedikit bingung dengan pertanyaan Jimi.


"Biasanya kau berfikir cepat, kenapa kali ini lelet???."


"Mungkin terlalu santai disini kawan."


"Kulihat Andi agak cemas beberapa hari ini dan terlihat tegang."


"Benarkah?? apa yang menganggu pikirannya ya??."


"Itu lah yang sedang kuperhatikan dan dia lebih banyak berdiskusi kepada kedua anggota timnya ketimbang kita."


"Itu benar...oke...akan kutanyakan padanya nanti."


Tak lama kemudian Toni menghampiri Andi yang serius memandang IPAD patroli nya.


"Izin menghadap mayor...". Andi menoleh ke asal suara itu.


"Silahkan...sudah kukatakan bersikap lah seperti biasanya."


"Siap salah....izin bertanya boleh???"

__ADS_1


"Silahkan bung.."


"Kenapa beberapa hari ini kau terlihat cemas dan sedikit tegang bung??."


Andi tidak langsung menjawab, namun ia menyodorkan IPAD nya kepada Toni, toni yang masih belum menangkap maksud Andi terlihat serius menatap LCD IPAD andi.


"Kenapa dengan bibi Zhe???"


"Ntahlah....aku curiga sama wanita ini, sejak awal dia nampak gelisah dan kurang nyaman berada di dekatku."


"Mungkin hanya perasaanmu saja bung.."


"Tidak...kalau masalah lain mungkin aku bisa salah...tapi maaf jika menyangkut pekerjaan fellingku jarang meleset."


"Iya juga ya....berapa kali fellingmu benar,lalu kita harus apa??."


"Makanya terus mengawasinya, ketika kita baru tiba disini waktu aku survey lingkungan dia berada di tepi hutan sedang menelpon seseorang, kemudian dia masuk ke dapur sementara tugasnya bukan di dapur,kemarin dia menguping pembicaraan tuan Steven dan nona Nency.Beberapa kali dia juga terlihat menelpon seseorang."


"Hmmmm.....agak mencurigakan sih."


"Jika saja aku tidak berfikir keadaan nona Nency tentunya sudah kuselesaikan wanita ini,aku takut nona Nency malah bertambah stress nantinya."


"Benar bung....oke akan ku bantu mengawasi dengan ketat setiap gerak geriknya."


"Bung....siapa saja yang tau masalah ini??"


"Aku,kau dan kedua orang tim ku, sementara Jimi jangan dikasih tau, nanti akan tegang suasananya."


"Tuan Steven dan pegawainya yang lain belum kau beritau??."


"Belum....aku tidak ingin merubah suasana saat ini, namun jika hal buruk terjadi mau tidak mau."


"Baiklah....aku faham bung."


"Satu lagi...tetap fokus juga pada lingkungan sekitar, karena terlalu tenang pun juga sangat berbahaya."


"Siap....!!!"


******


Pagi hari berikutnya kembali matahari menyapa dengan sinarnya yang hangat ditengah dinginnya cuaca di tepi hutan itu,pagi hari itu keceriaan terpancar dari wajah Nency dan kembali beraktifitas seperti sedia kala, Nency terlihat berada di taman bunga di sekitaran villa Steven, tentu saja hal ini membuat Steven gembira dan menghampiri Nency.


"Selamat pagi sayang...."


"Kau baru bangun???"

__ADS_1


"Iya....cerah sekali wajahmu hari ini??."


"Aku merasa hidup kembali....semua sudah normal..."


"Aku senang bidadariku sudah kembali bersinar."


"Kau kira aku lampu???"


"Ha...ha....ha.....kau bisa saja." Steven memetik setangkai bunga dan menyelipkan di telinga Nency.


"Sayang...setelah semua ini berlalu....aku ingin segera menikahimu....kau setuju???".


DEG....!!! Seakan akan jantung Nency berhenti bedetak mendengar kata kata Steven.Nency terdiam beberapa saat.


"Kenapa kau diam???"


"Ah... tidak apa apa....aku hanya masih ingin benar benar memastikan semua sudah berakhir." Nency mencoba tersenyum


"Tadi kan aku mengatakan...jika semua sudah benar benar berakhir." Nency kembali terdiam dan pikirannya sedikit menerawang


Aku harus mengatakan apa kepada Steven.....tidak bisa ku pungkiri....aku jatuh cinta kepada Andi...sosoknya yang dingin ketika di dekatku, sikapnya yang sabar terhadapku dan aku sangat merasa aman ketika Andi di dekatku....Steven orang yang baik dan perhatian....ooh Tuhan bantu aku...


"Heiii......kenapa kau melamun???...apa yang kau pikirkan???."


"Ah tidak apa apa.....aku hanya merasa....


Steven memotong ucapan Nency.


"Jika kau belum siap...aku akan menunggu hingga saatnya kau benar benar siap menjadi nyonya Steven." Steven menatap Nency dengan pandangan penuhbkasih sayang sambil memegang kedua tangan Nency.


"Terima kasih jika kau mau mengerti.." Nency langsung memeluk Steven.


"Ayo kita ke dalam untuk sarapan."


"Eeeh kau kan belum mandi...mandi dulu baru sarapan..."


" Siap nona manis...."


Nency hanya tersenyum dan mengikuti Steven dari belakang.


-----------------------


***Terima kasih yang sudah mampir dan memberi support kepada Author....semoga terhibur dan senang dengan Novel ini......


Jangan lupa like dan Vote nya ya***....

__ADS_1


__ADS_2