
"Kapten....bisakah anda lebih rileks??? ucap Steven kepada kapten Zuge.
"Kenapa anda terlihat sangat marah dan gusar??? apakah hal seperti ini sudah menjadi tabiatmu???" kembali Steven mencoba menengahi.
"Satu hal yang perlu tuan Steven ketahui...tuan sudah menyewa jasa Bodyguard yang katanya profesional...namun ada pembunuh di sekitar tuan, dia tidak tau...apa itu profesional namanya, saya meragukan kapasitasnya tuan..."
"Kapten...dia sudah beberapa kali berjibaku meyelamatkan calon istri saya, berduel sniper vs sniper yang beberapa bulan lalu beritanya masuk di TV, peperangan di Mall 3 vs 30 orang, kemudian penembakan di resto VS 8 oran dan masih banyak lagi, itu semua di luar pengetahuan anda bukan??"
Kapten Zuge terdiam, dia masih ingat berita di TV beberapa bulan lalu tentang seorang Bodyguard vs Sniper yang menjadi judul sniper vs sniper, duel 5 jam yang sengit.
Aku rasa kalau dia Bodyguard biasa...tidak mungkin mampu berduel dengan sniper. Kapten Zuge bergumam dalam hati.
Namun Kapten Zuge tidak ingin pamornya turun, dia tetap saja bersikap seperti awal kedatangannya.
"Itu kan memang sudah tugasnya."
"Kapten......" tiba tiba Andi berdiri
"Saya ingin bertanya...langkah apa yang harus di lakukan sekarang???"
"Biatkan forensik bekerja dan menunggu hasik otopsi."
"Terlalu lama....saya sudah mendapatkan hasilnya tanpa otopsi."
"Ha...ha....ha....ha.....tuan Steven Bodyguard anda terlalu sok tau."
"Cukup kapten!!!! Anda kesini ingin menyelidiki kasus ini atau ingin memojokkan Bodyguard saya???!!!!"
"Maaf tuan Steven...jika tuan tidak suka dengan cara ini, silahkan kapten menyewa detektif swasta untuk mencari tau siapa pembunuh pegawai tuan."
"Baik....jangan salah kan saya jika kau akan segera di pindah dari sini."
"Tidak masalah tuan.....ini lah gaya saya dan sudah menjadi resiko saya."
Tidak berapa lama ponsel Kapten Zuge berdering
Ring....ring....ring....
"Siap...komandan...arahannya." Seketika wajah kapten Zuge berubah pucat pasi dan tertunduk sambil mendengarkan suara di Hanphone nya, setelah menutup Hanphone nya kapten Zuge segera menghadap kehadapan Andi.
"Mohon maaf atas kelancangan saya Mayor..saya siap menerima pembinaan." ucap kapten Zuge sambil menahan malu.
Mayor.....Andi seorang perwira menengah????...kenapa waktu dulu komandannya mengatakan dia hanya seorang sersan..!! Steven bergumam dan sangat terkejut ketika mengetahui pangkat Andi yang sebenarnya.
__ADS_1
"Sudah...kau kembali ke kantormu segera bereskan otopsinya, segera laporkan ke saya dan kasus ini dengan sangat terpaksa kuambil alih sendiri..faham...!!!!"
"Siap...laksanakan mayor...!!!"
"Sekarang....!!" Kapten Zuge segera mohon pamit meninggalkan ruang kerja Steven.
" Tuan...saya mohon pamit sebentar mengambil IPAD saya."
"Oh ya....ya....silahkan mayor.."
"Tuan....saya minta tuan tidak usah memanggil saya dengan nama kepangkatan saya tuan...seperti biasanya saja."
"Baiklah kalau begitu...."
*******
Di bawah nampak tim forensik sudah membereskan jenazah Ling dan beberapa polisi masih terlihat meminta keterangan kepada paman Chong dan Bibi Zhe.Andi nampak mengawasi gerak gerik bibi Zhe.
Dari gestur tubuhnya wanita itu sangat gelisah dan tidak nyaman serta sedikit berbelit belit. aku harus segera mengambil IPAD ku.
Andi segera bergegas mengambil IPAD nya..ternyata IPAD nya mati kehabisan daya.
Shit...terpaksa harusnku charge dulu..
"Kenapa kau minta anak buahmu berjaga di depan kamarmu??"
"Satu satunya alat yang bisa menemukan pembunuh Ling ada di kamar itu tuan, karena pembunuh itu ada di sekitat kita, saya khawatir dia tau ada barbuk dalam kamar saya lalu dia bongkar kamar saya."
"Baiklah....menurut fellinng mu, siapa pelakunya??"
Andi langsung menceritakan semua hasil pengamatannya yang dia lihat selama hampir 10 hari di vila, Steven seketika terkejut.
"Kurang ajaaaaarrr...!!!! Stevem mengepalkan tangannya seketika.
"Sabar tuan...serahkan semua kepada saya."
"Jika fellingmu itu benar apa maksud dan tujuannya ingin membunuh Nency?? namun sasarannya salah."
"Dugaan saya yang pertama sama seperti sebelum sebelumnya tuan, masalah rahasia negara, kedua masih belum kita ketahui."
"Segera bereskan...!!"
"Baik tuan.....tuan baiknya tuan segera temui nona Nency...mungkin dia perlu teman."
__ADS_1
"Baiklah....semua ku serahkan kepadamu" Steven menepuk pundak Andi.
Steven segera berlalu meninggalkan Andi dan Toni yang diam saja sedari tadi.
"Hei bung kenapa diam saja??"
"Aku hanya memikirkan wanita tua itu bung...jika benar dan terbukti bersalah, maka sisa umurnya akan di habiskannya di penjara."
"Mau bagaimana lagi...itu sudah resiko yamg harus di terima nya."
"Sudahlah...aku tak sampai hati,.ayo kita ke bawah."
Kemudian mereka berdua turun ke bawah, suasana di bawah sudah mulai sepi karena hanya tersisa beberapa orang polisi yang masih mencari bukti bukti dan keterangan.
Andi menuju kamarnya yang masih di jaga oleh anggotanya.
"Kau boleh pergi.."
"Siap..." Dengan segera anak buah Andi meninggalkannya, Andi kemudian menghidupkan IPAD nya dan segera membuka program khusus miliknya, Andi mengamati satu persatu ruangan di vila itu dengan jeda waktu 10 menit sebelum ditemukannya jenazah Ling.
Aneh.....semua terlihat biasa saja, tidak ada yang mencurigakan....apakah ada yang terlewati????....coba ku ulang lagi semuanya...kemungkinan besar kedua adalah paman Chong...karena dia tukang masak disini..kalau Chun rasanya tidak mungkin..tapi kenapa tiba tiba...........semua kemungkinan bisa terjadi......yaaa aku tau sekarang....ternyata kau pelakunya....baiklah semua akan ku ungkap lepas 7 hari kematian Ling...ternyata kasus ini sederhana namun banyak langkah...rupanya rubah berbulu domba itu adalah kau..apakah kau kaki tangan mafia mafia itu...kenapa kali ini aku bisa lengah dan salah???....semua luput dari prediksiku.......Andi terdiam sekian lama dan bertanya kepada dirinya sendiri, ditengah rasa sesal Andi Toni datang menghampirinya.
"Bung.....apa yang kau pikirkan???"
"Kematian Liang..."
"Bagaimana hasil investigasimu???"
"Aku bersyukur di beri alat alat penunjang kerja yang canggih, hingga dalam hitungan hari aku sudah tau siapa pelakunya."
"Benarkah????......sehebat itu kah alat milikmu???"
"Hanya bermodal camera saja bung...sisanya Tuhan yang membantu."
"Oke...oke.....baiklah....lalu selanjutnya???"
"Beberapa hari lagi akan ku kumpulkan semua dan menyibak tabir misteri ini."
Kemudian Andi berlalu meninggalkan toni yang masih terpaku berdiri di balkon.
------------------
Terima kasih buat yang sudah mampir dan memberikan supportnya untuk Author.....semua dukungan dan masukan sangat berharga.......
__ADS_1