Bosku Ternyata Ayah Kandungku

Bosku Ternyata Ayah Kandungku
Chapter 16


__ADS_3

...Keesokan paginya....


...Ayu dan Siska bersiap-siap menghadiri wawancara....


...Ayu sudah selesai berpakaian, memeriksa kembali berkas-berkas yang perlu mereka bawa. ...


...Untuk wawancara hari ini, Ayu khusus mengenakan kemeja polos dengan rok hitam panjang. Sedangkan Siska yang masih terus berkaca mengenakan blouse krem dan celana formal....


...Siska berhenti berkaca, berbalik untuk bertanya kepada Ayu. "Bagaimana penampilanku sekarang. Sudah rapi belum?"...


...Ayu menoleh, mengamati bagaimana penampilannya Siska. Mengangguk sebagai penegasan. "Bagus. Kau terlihat rapi dan juga energik seperti biasa."...


...Siska cemberut seolah tidak puas. "Seperti biasa! Apa tidak ada perbedaan dengan hari-hari biasa. Aku ingin tampil beda pada wawancara kali ini."...


...Ayu geleng-geleng kepala mendengarnya, hanya bisa tersenyum. "Untuk apa tampil beda. Kau hanya harus jadi dirimu sendiri, tapi tetap sopan dan juga rapi."...


...Siska terdiam sejenak, kemudian mengangguk dengan senyum ceria. ...


..."Kau benar."...


..."Kalau begitu bagaimana dengan sekarang, apa sudah terlihat sopan dan rapi. Cocok tidak untuk pergi wawancara?" Siska kembali bertanya....


..."Cocok. Sudah bagus kok untuk wawancara." ...


..."Terima kasih." Siska tersenyum senang, tidak lupa memuji Ayu. "Kau juga terlihat lebih cantik dengan memakai setelan itu. Pewawancara pasti akan langsung menerimamu bekerja," kata Siska bercanda....


..."Kau ini.." Ayu tersenyum tak berdaya. Lalu berkata kepada Siska, "Sudahlah, jangan membahas masalah penampilan lagi. Ayo kita segera berangkat sekarang, atau nanti kita akan terlambat pergi ke wawancara."...


..."Ah! Kau benar," kata Siska sadar....


...Setelah berkaca untuk terakhir kalinya, Siska turun kebawah bersama Ayu. Mereka memesan taksi online agar bisa tiba tepat waktu....


...***...


..."Wow! Kau lihat, Yu, gedungnya tinggi sekali!" seru Siska, begitu dia turun dari taksi....


...Ayu juga dibuat terpana begitu melihat gedung yang tinggi menjulang. Bergumam dengan kagum, "Jadi bangunan ini kantor milik PT. Furnijaya, tempat mereka nantinya akan pergi bekerja."...


...Ayu sudah pernah melihat gambar bangunan kantor ini melalui internet, tapi kelihatan jauh berbeda ketika dia melihatnya sendiri. ...


...Selesai mengagumi bangunan kantor, Ayu dan Siska memasuki lobi dan mendatangi resepsionis untuk menanyakan tempat diadakannya wawancara....

__ADS_1


..."Oh, jalan lurus saja, sebelah kanan. Setelah itu kalian belok kiri. Tempatnya ada disana," kata Resepsionis....


...Keduanya kemudian berterima kasih. Lalu pergi ke arah yang ditunjukkan resepsionis itu....


...Tepat ketika keduanya pergi, dua orang dengan penampilan elit memasuki lobi tempat Ayu dan Siska baru saja meninggalkan....


...Salah satunya terlihat seperti pria paruh baya dengan pembawaan menonjol dan berwibawa. Sedang yang satunya lagi adalah pemuda yang terlihat serius dan sosok yang tampan dengan pandangan mata sedalam dasar lautan....


...Beberapa karyawan yang lewat segera menyapa dengan hormat begitu melihat keduanya....


...Baru setelah keduanya naik lift, para karyawan berani untuk mengobrol....


..."Pimpinan akhir-akhir ini sering sekali datang ke kantor bersama Pak Aksa," kata salah satu karyawan....


..."Entahlah, mungkin karena Pak Aksa baru diangkat menjadi direktur pemasaran oleh pimpinan."...


..."Iya. Aku dengar para petinggi lain menolak pengangkatan Pak Aksa karena dia terbilang muda dan belum punya banyak pengalaman." ...


..."Bagaimana lagi. Itulah yang dikehendaki oleh pimpinan. Belum lagi semua orang yang ada disini tahu betul betapa pedulinya pimpinan kepada Pak Aksa. Sama seperti bagaimana pimpinan peduli kepada putrinya sendiri."...


...Semuanya terlihat mengangguk, setuju dengan apa yang dikatakan karyawan lain....


...Mendengar apa yang dikatakan staff senior itu, kerumunan yang masih ingin terus mengobrol langsung bubar. Takut ditegur oleh atasan mereka....


...Dua orang yang baru saja dibicarakan oleh karyawannya sekarang berada di lift menuju lantai atas. Tidak ada satupun dari mereka yang bicara. ...


...Pimpinan yang tadi disebutkan oleh para karyawan ialah Arga Wijaya dan berdiri di sampingnya, direktur pemasaran yang baru diangkat yaitu Aksa....


...Arga berdehem memutus keheningan di dalam lift. Memulai pembicaraannya kepada Aksa. "Bagaimana perasaanmu menjabat sebagai direktur pemasaran yang baru?"...


...Mendengar hal itu, Aksa sedikit menoleh. Menjawabnya dengan serius, "Baik. Hanya saja, saya belum benar-benar memulainya."...


..."Santai sedikit. Jangan terlalu menekan dirimu sendiri. Proyek baru kali ini adalah kesempatan bagimu untuk menunjukkan kepada petinggi yang lain bagaimana kemampuanmu yang sebenarnya." Arga menepuk bahu Aksa sebagai penyemangat. "Jangan biarkan aku kecewa."...


..."Baik, Pak." Aksa mengangguk....


..."Bagus." Arga mengangguk dengan puas. Lalu, dia menanyakan hal lainnya. ...


..."Tim pemasaran yang baru ingin kau bentuk, kenapa tidak menempatkan orang-orang yang berpengalaman di dalamnya. Mengapa harus merekrut orang-orang baru? Kau tidak mempercayai tim terdahulu, atau orang yang sudah ku rekomendasikan padamu?"...


...Aksa diam, tidak segera menjawabnya. Arga juga tidak memaksanya untuk langsung menjawab. Keadaannya kembali hening. ...

__ADS_1


...Begitu lift akan mencapai lantai yang dituju, baru Aksa membuka mulutnya dan menjawab, "Tidak ada yang bisa saya percayai di perusahaan ini, Pak."...


...Arga tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu dari mulut Aksa, terdiam untuk sementara waktu....


...Begitu lift berdenting dan pintu lift terbuka. Aksa keluar lebih dulu. Lalu, mengangguk hormat sebelum pintu lift tertutup kembali....


...Tinggal Arga yang berada di dalam lift menuju lantai paling atas. Muka yang awalnya serius berubah menjadi senyum masam. Menggeleng tidak berdaya. Tampaknya tahu seperti apa watak sebenarnya dari bawahannya itu....


...Sementara Aksa duduk di kantornya, seorang staf manajer masuk untuk melaporkan sesuatu....


..."Pagi, Pak."...


..."Pagi." Aksa mengangguk, kemudian dia bertanya, "Bagaimana wawancara dengan karyawan baru, apakah berjalan dengan lancar?"...


..."Semuanya berjalan lancar, Pak. Sesuai dengan instruksi anda. Kami menempatkan mereka yang sudah diterima ke posisi yang cocok yang ada di kantor ini." Staf berkata, sementara memberikan salinan berkas kepada Aksa. "Ini semua berkas resume para karyawan baru, Pak. Silahkan dilihat."...


..."Letakan saja di atas meja," kata Aksa yang masih terlihat sibuk memproses dokumen lain....


..."Baik." ...


...Setelah meletakan berkas di atas meja, staff itu tidak segera pergi. Masih berdiri diam di tempatnya....


...Merasakan ada sesuatu yang salah, Aksa menghentikan pekerjaannya dan mengangkat kepala, melihat staf ternyata masih belum juga pergi. Aksa mengerutkan kening, lalu bertanya, "Apa ada hal lain yang masih ingin kau katakan?"...


...Staf itu kelihatannya masih ragu untuk berbicara, kemudian dia memberanikan diri untuk berkata, "Pak, apakah anda benar-benar yakin ingin memasukkan salah satu dari karyawan baru itu ke tim pemasaran kita. Dilihat dari resumenya, gadis itu masih mahasiswa yang belum lulus. Apalagi tim kita sekarang sedang mempersiapkan proyek baru yang sangat penting, bagaimana jika karyawan baru itu mengacaukan..-"...


..."Manajer Chandra!" tegur Aksa, memutus perkataan sang manajer....


..."Iya, Pak," jawabnya dengan gugup....


...Apakah dia sudah mengatakan sesuatu yang salah....


..."Lakukan saja sesuai dengan apa yang saya perintahkan. Apapun masalah yang akan terjadi nantinya, biarkan saya yang bertanggung jawab untuk itu. Jadi, anda tidak perlu terlalu khawatir. Jika tidak ada hal lain lagi, anda bisa pergi sekarang," kata Aksa mempersilahkan....


...Meskipun tidak ada ekspresi tambahan di wajah Pak Aksa, entah kenapa manajer itu merasa dia sudah membuat marah pihak lain. Jadi, tanpa banyak pertimbangan, dia mohon pamit undur diri....


..."Saya mohon permisi, Pak," kata staf manajer, kemudian dia keluar dari ruangan kantor Aksa....


...Sepeninggal staf manajer itu, ruangan kembali tenang. Aksa tidak kembali meneruskan pekerjaannya....


...Dia beranjak dari kursi. Menghadap dinding kaca dengan pemandangan gedung-gedung tinggi di sisi berlawanan. Bayangannya yang setengah kabur menunjukkan sedikit kesuraman....

__ADS_1


__ADS_2