Bosku Ternyata Ayah Kandungku

Bosku Ternyata Ayah Kandungku
Chapter 19


__ADS_3

...Ayu keluar dari kantin rumah sakit dengan menenteng kresek berisi gelas plastik dengan minuman jus buah....


...Saat Ayu berjalan dari lobi rumah sakit menuju lorong, tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang yang berjalan dari arah berlawanan darinya. Jus buah yang ada di tangannya pun terjatuh dan berhamburan mengotori lantai rumah sakit....


...Sesaat Ayu tertegun. Begitu dia sadar kembali, Ayu langsung meminta maaf kepada orang yang baru saja ia tabrak....


..."Maafkan saya... Pak," kata Ayu memanggil, begitu tahu orang yang ada di hadapannya itu adalah seorang pria paruh baya yang terlihat bermartabat. Mengenakan setelan formal dan sepatu kulit yang sekarang terlihat kotor karena terciprat jus buah yang tadi terjatuh....


..."Pak, anda tidak apa-apa?" tanya Asistennya Arga begitu melihat atasannya itu bentrok dengan seorang gadis muda. Dia menegur gadis itu dengan keras....


..."Nona! Lain kali hati-hati saat berjalan. Apalagi ini rumah sakit. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada bos saya, atau bagaimana jika dia tiba-tiba terjatuh. Akibatnya akan sangat fatal."...


..."Maaf, saya-"...


..."Sudah. Tidak apa-apa," kata Arga yang akhirnya membuka mulutnya. ...


...Dia memperhatikan gadis yang baru saja menabraknya menundukan kepala dengan perasaan bersalah. Entah kenapa membuatnya tidak tega untuk menyalahkan lagi. Apalagi sekretarisnya tadi sempat membentak gadis itu, membuatnya merasakan kemarahan yang tiba-tiba muncul persis seperti saat dia melihat putrinya sendiri dianiaya....


...Arga sendiri merasa sangat aneh. Bagaimana mungkin dia memiliki pikiran seperti itu. Bagaimana dia bisa menyamakan gadis di depannya ini seperti putrinya. Tapi entahlah, mungkin itu terjadi karena efek samping dari perawatan yang baru-baru ini dia jalani....


...Arga berusaha menyingkirkan pikiran absurd itu dari benaknya. Kemudian, dia melihat gadis  itu kembali meminta maaf....


..."Sekali lagi maafkan saya, Pak. Karena sudah menabrak bapak dan menyebabkan sepatu bapak menjadi kotor."...


...Arga terlihat tidak mempermasalahkan hal itu. "Sudahlah. Tidak semuanya salahmu. Salah saya juga karena tidak melihat jalan. Minumanmu juga sampai tumpah karena kejadian tadi."...


...Arga kemudian mengambil uang pecahan seratus ribu dari dompetnya dan menyerahkannya kepada gadis itu, sembari berkata, "Ini, ambilah. Uang ganti rugi untuk minuman yang tadi tumpah."...


...Ayu cepat-cepat melambaikan tangannya menolak. "Tidak perlu, Pak. Bagaimana saya bisa menerima uang dari bapak saat saya sendiri juga salah."...


..."Tidak apa-apa. Terimalah," kata Arga tetap menyerahkan uang itu ke tangan Ayu....


..."Tidak, Pak. Saya-" ...


..."Ayo kita kembali," kata Arga kepada asistennya setelah memotong kata-kata Ayu. Mereka berdua pun berjalan melewati Ayu yang terlihat masih ingin menyerahkan uang itu kembali....


..."Pak, tunggu sebentar! Pak, ini uangmu! Pak!" ...


...Ayu berusaha menyusul mereka berdua dan hanya bisa berteriak begitu melihat keduanya berjalan semakin menjauh. Sadar kalau sekarang ia berada di rumah sakit, Ayu dengan cepat menutup mulutnya. Begitu mendongak, Ayu tidak lagi melihat bayangan kedua orang itu di koridor rumah sakit....


...Ayu hanya bisa tanpa daya melihat uang pecahan seratus ribu yang ada di tangannya....


...Melihat jus buah yang tumpah di lantai, Ayu menghela nafas. Dia kembali ke kantin rumah sakit untuk membeli jus buah lagi....


...Arga kini sudah berada di mobil miliknya bersama asisten yang tengah menyetir di depan....


...Memikirkan gadis yang baru saja dia temui, gadis yang begitu bersikeras tidak mau menerima uang darinya. Membuat Arga tersenyum kecil, tanpa sadar bergumam, "Gadis keras kepala itu."...


..."Hah! kenapa, Pak?" tanya asisten yang mengemudi di depan, seperti mendengar bosnya tadi bicara....


...Arga langsung tersadar begitu mendengar pertanyaan dari asistennya. "Tidak ada. Kau teruskan saja menyetir," kata Arga, kembali memulihkan ekspresinya....


...Dia tidak mengerti apa yang terjadi padanya hari ini. Di rumah sakit itu, dia merasakan perasaan yang sangat aneh. Dia sendiri tidak mengerti apa arti dari perasaan itu. Arga hanya bisa menganggap perasaan itu muncul karena pengaruh dari perawatan yang baru saja ia jalani....

__ADS_1


..."Setelah ini, kita mau ke mana, Pak?" tanya sekretarisnya itu....


..."Kembali saja ke mansion." Arga berkata sembari memijat pelipisnya. Dia merasa perlu untuk beristirahat untuk saat ini....


..."Baik, Pak." Asisten mengangguk. Mengemudikan mobil menuju mansion Wijaya....


...Ayu terlihat sedang menenteng jus buah yang baru dia beli kembali. Menyusuri lorong rumah sakit menuju bangsal ibunya. Begitu dia menggeser pintu, terlihat Siska dan ibunya tengah memperbincangkan sesuatu, tersenyum satu sama lain....


...Ayu meletakan ketiga gelas jus di bedside cabinet. Lalu, bertanya dengan penasaran kepada mereka berdua, "Apa yang sedang kalian bicarakan. Kelihatannya senang sekali."...


...Siska tidak tahu harus bagaimana menjawab Ayu. Haruskah dia mengatakan kalau mereka tadi tengah membicarakan tentang ayahnya Ayu yang kecelakaan. Mau tidak mau, Siska melirik tante Sari, mendelikan mata seolah meminta bantuan....


...Menerima isyarat mata Siska, Hapsari tersenyum menanggapi pertanyaan dari putrinya. "Ibu dan Siska tadi hanya membicarakan tentang tempat kerja kalian yang baru. Ibu senang kalian mendapatkan pekerjaan yang bagus, juga di perusahaan yang besar."...


...Sembari membantu ibunya duduk,Ayu berkata, "Bagus jika ibu senang. Ini, Bu. Diminum dulu jusnya," katanya menyerahkan gelas jus....


...Siska juga mengambil gelas jusnya, dia cukup haus setelah berbicara tadi....


..."Oh, ya. Nak. Apa nama perusahaan tempatmu bekerja itu? Ibu tidak terlalu memperhatikan tadi saat kau mengatakannya di taman," tanya Hapsari kepada putrinya....


..."PT. Furnijaya, Bu. Bergerak di bidang furniture," jawab Ayu....


..."Benar, Tante." Siska ikut menjawab, terlihat cukup bangga. "PT. Furnijaya adalah anak perusahaan dari Wijaya Group yang ternama di seluruh negeri itu."...


...Hapsari tersenyum tipis "Benarkah?" ...


...Keduanya mengangguk secara bersamaan....


...Makanya mereka sangat senang sekali bisa bekerja disana....


..."Tentu saja tante pernah mendengarnya, perusahaan itu sangat terkenal sekali. Sering ada di surat kabar dan juga tv. Tante mungkin tahu dari sana," kata Siska....


..."Mungkin…" Hapsari masih merasa tidak yakin....


..."Sudahlah, Bu. Tidak perlu terus memikirkan masalah itu. Sekarang, lebih baik ibu habiskan jusnya biar nanti Ayu beli makan. Kita bisa makan bersama. Berhubung sudah sore, ibu pasti lapar, kan?" kata Ayu....


...Mendengar apa yang Ayu katakan, Siska cepat mengangkat tangannya. ...


..."Biar aku saja. Bukankah tadi kau sudah membelikan jus. Sekarang biar aku saja yang membeli makanan. Perutku jadi kembung karena seharian ini terus minum air dan tidak makan."...


..."Baiklah." Ayu mengangguk setuju....


...Siska kemudian menghabiskan setengah minuman jusnya dalam sekali hisapan. Lalu berdiri dan bersiap-siap untuk membeli makanan....


..."T..unggu, kau akan membelinya sekarang!" Ayu terkejut melihat Siska yang langsung ingin pergi....


...Siska menoleh dengan ragu. "Tentu saja. Kalau tidak sekarang ya kapan. Kau tidak lapar? Tapi aku lapar, kasian tante sari juga belum makan."...


..."Ya.. Ku pikir, kau akan duduk-duduk santai dulu dan mencerna apa yang baru saja kau minum. Sebenarnya, tidak perlu tergesa-gesa seperti itu. Kami bisa menunggu. Santai saja. Ya, kan, Bu?" tanya Ayu kepada ibunya....


..."Benar kata Ayu, kau tidak perlu terburu-buru. Tante juga tidak terlalu lapar. Kau bisa membelinya nanti," kata Hapsari terlihat tidak enak hati....


..."Tidak apa-apa, Tante. Siska memang ingin membelinya sekarang. Lagipula, pasti banyak yang ingin Ayu bicarakan dengan tante setelah beberapa hari tidak bertemu. Siska tidak mau mengganggu kalian. Sudah ya, Siska pamit membeli makanan dulu."...

__ADS_1


...Siska cepat melangkahkan kaki keluar pintu, takut mereka akan menyuruhnya menunggu lagi....


...Ayu dan ibunya melihat ketidakberdayaan di mata masing-masing menyaksikan kepergian Siska yang terburu-buru....


...Hapsari berkata sambil tersenyum, "Siska adalah gadis yang baik."...


...Ayu mengangguk. Setuju dengan apa yang ibunya katakan. ...


...Siska memang gadis yang baik dan juga teman yang baik....


...Seperti biasa, Ayu bercerita mengenai kesehariannya dan apa saja yang terjadi padanya selama beberapa hari ini....


...Tanpa terasa sudah seperempat jam berlalu. Siska datang membawa makanan....


...Makanan sehat untuk ibu Ayu dan nasi kotak untuk mereka berdua....


..."Ayo, kita makan sekarang," ajak Siska dengan bersemangat....


...Ayu tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Dia merasa siska mungkin gugup karena berpikir mereka akan menunda makan. Sebenarnya dia juga sudah lapar....


...Ayu lalu menyiapkan meja kecil agar ibunya bisa makan di tempat tidur. Sedangkan dia dan Siska makan di meja yang khusus disediakan untuk para tamu pasien....


...Nasi kotak yang dibelikan Siska ternyata sangat enak. Dengan nasi dan ayam goreng serta beberapa tambahan makanan pelengkap lain. Ayu bertanya di sela makannya, "Berapa semuanya, Sis?"...


...Siska mengangkat kepala dari kotak makannya, bertanya dengan kebingungan, "Untuk apa kau menanyakan hal itu? Tenang saja, semua makannya murah kok."...


..."Bukan itu maksudku." Ayu menggelengkan kepala, berniat mengeluarkan uang dari tasnya....


...Siska langsung tahu apa yang ingin dilakukan Ayu begitu melihat gerakannya. Dengan sigap, Siska menghentikan tangan Ayu yang akan terulur. Dia berkata, "Tidak perlu. Aku sukarela. Anggap saja itu bayaran untuk jus yang tadi sudah kau beli."...


..."Bagaimana bisa sama, harga keduanya..-" ...


..."Ayu, tolong! Jangan keras kepala lagi. Kau tidak menganggapku sahabatmu?" Siska berpura-pura terlihat sangat sedih....


...Ayu langsung terlihat gelisah. "Bukan itu maksudku, Sis. Kau tentu saja adalah sahabatku."...


..."Kalau begitu terima saja apa yang sudah aku katakan tadi. Kau bayar jusnya, aku bayar makanannya. Selesai!"...


...Ayu hanya bisa mengangguk pasrah, menyetujui usulan Siska. Tapi tetap bersikeras berkata, "Kalau begitu nanti saat aku gajian, aku akan traktir kamu makan, bagaimana?"...


..."Humft! Ya tuhan!" Siska menghembuskan nafas keras, membalas, "Oke! Baiklah. Akan Aku tunggu."...


...Ayu mengangguk, tersenyum puas....


...Hapsari hanya berpura-pura tidak mendengar. Namun, senyum mengembang di wajahnya melihat bagaimana kedua sahabat itu berinteraksi....


...Setelah ketiga wanita itu selesai makan. Mereka bersantai sambil sesekali bercakap-cakap. ...


...Saat senja dan matahari hampir tenggelam. Ayu dan Siska berpamitan untuk pulang....


..."Tante, sampai jumpa. Nanti Siska berkunjung lagi," kata Siska, memeluk tante Sari. Begitu juga Ayu, berpamitan dengan ibunya....


..."Kami pergi ya, Bu."...

__ADS_1


...Hapsari mengangguk, tersenyum dengan lembut. "Jaga diri kalian baik-baik."...


...Angguk keduanya. Melambai sambil pergi....


__ADS_2