Bosku Ternyata Ayah Kandungku

Bosku Ternyata Ayah Kandungku
Chapter 5


__ADS_3

...Ayu dan Siska yang menghadiri kuliah pagi, lalu memilih duduk di barisan paling belakang....


...Melihat guru yang tidak terlalu memperhatikan sisi sini, Siska berbicara dengan Ayu yang mencatat di sampingnya. ...


..."Setelah ini kau akan pergi bekerja?"...


...Ayu menghentikan tangannya yang sedang mencatat. Ayu baru ingat kalau hari ini dia libur bekerja....


...Pemilik minimarket mengiriminya pesan tadi pagi, kalau minimarket sedang ada perbaikan dan Ayu diberikan hari libur. Karena itu, Ayu berencana mengunjungi ibunya di rumah sakit hari ini. Ayu belum sempat memberitahukan Siska tentang hal itu....


..."Hari ini aku libur, Sis. Karena minimarket sedang ada renovasi," ungkap Ayu....


...Siska disisi lain terkejut, "Benarkah!" Kemudian bertanya, "Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?"...


..."Hari ini aku berencana mengunjungi ibuku di rumah sakit. Sudah tiga hari sejak terakhir kali aku menemuinya. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Tidak ada yang menjaganya disana, membuatku khawatir."...


..."Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?!" Siska merengut....


...Padahal dia juga ingin mengunjungi tante Sari, namun Siska sudah terlanjur berjanji untuk pergi berkencan dengan kekasihnya hari ini. Mereka jarang bertemu karena kuliah di kampus yang berbeda, Siska tidak sampai hati kalau harus membatalkan janji....


...Mendengar keluhan Siska, Ayu juga tidak berdaya. Dia hanya tiba-tiba berpikir untuk mengunjungi ibunya, karena hari ini Ayu ada waktu luang. Dia sampai lupa memberitahukan Siska....


..."Maaf, Sis. Aku baru saja memikirkannya sekarang. Bagaimana kalau kita pergi bersama mengunjungi ibuku?" ajak Ayu....


..."Aku juga ingin mengunjungi tante Sari bersamamu, tapi hari ini aku ada janji dengan Reza." Siska berkata dengan menyesal....


..."Tidak masalah. Kalau begitu, kita bisa pergi bersama lain kali." Ayu berkata, menghibur Siska....


..."Baiklah! Titip salam untuk ibumu, ya. Semoga dia cepat sembuh," kata Siska....


...Ayu mengangguk, ingin mengucapkan terima kasih, dosen yang menerangkan di depan tidak tahu kapan memperhatikan mereka dan langsung menegur....


..."Kalian berdua! Keluar dari kelas saya jika masih ingin terus mengobrol!"...


...Ayu dan Siska segera berhenti berbicara, kembali fokus mendengar ceramah....


...Setelah kelas usai, Ayu berpamitan kepada Siska dan pergi ke gerbang kampusnya, karena sudah memesan ojek online....


...Sekitar sepuluh menit Ayu menunggu, ojek yang dia pesan akhirnya datang, siap mengantarkannya ke rumah sakit....


...Ayu tidak sabar untuk segera menemui ibunya....


...Setelah sampai di depan pintu gedung rumah sakit, Ayu berjalan masuk, menuju ruang rawat ibunya....


...Tepat saat Ayu membuka pintu, dia melihat ibunya tengah bersandar di ranjang rumah sakit, memandangi liontin cincin yang tergantung di lehernya selama bertahun-tahun....


...Cincin itu adalah cincin pernikahan yang diberikan oleh ayahnya. Ibunya akan selalu memandangi cincin itu setiap kali ibunya merindukan ayahnya....


...Ayu berjalan perlahan mendatangi ibunya. ...


..."Bu!" panggil Ayu....


...Hapsari tersadar dari ingatan ketika mendengar panggilan dari putrinya. Segera dia menyimpan liontin cincinnya kembali dibalik baju rumah sakit yang dia kenakan. Menoleh dan memandang putrinya yang baru datang, Hapsari tersenyum bahagia. ...


..."Nak! Kamu disini!"...


...Ayu mengangguk, membalas senyum ibunya....


...Ayu tidak bertanya apa yang tadi ibunya lakukan, berpura-pura tidak melihat kejadian barusan....


...Ayu hanya fokus melihat bagaimana keadaan ibunya sekarang....

__ADS_1


...Meskipun masih terlihat pucat dan lemah, keadaan ibunya terlihat sedikit lebih baik dari terakhir kali dia datang. Ayu merasa lega sekaligus bersyukur. Dia langsung memeluk ibunya.  ...


..."Aku sangat merindukanmu, Bu! Senang melihatmu baik-baik saja."...


...Hapsari menepuk-nepuk punggung putrinya. Sambil tersenyum dia berkata, "Ibu juga merindukanmu. Bagaimana dengan kabarmu, Nak? Ibu khawatir kalau kau juga akan jatuh sakit karena terlalu lelah bekerja, harus kuliah dan sekarang harus bolak-balik ke rumah sakit untuk mengunjungi ibu juga."...


...Ayu segera melepaskan pelukannya dan duduk di samping, memandang ibunya dengan sungguh-sungguh. ...


..."Ayu baik-baik saja, Bu! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ibu hanya harus fokus pada kesehatan ibu saja. Jangan terlalu banyak pikiran, itu hanya akan memperburuk kondisi ibu."...


...Merasakan perhatian dari putrinya, Hapsari sangat tersentuh....


...Putrinya adalah anak yang penyayang sedari kecil. Tidak pernah ingin membuat khawatir orang lain. Peduli pada orang-orang terdekatnya....


...Putri yang seperti itu, Hapsari sangat bangga memilikinya. ...


...Sayang sekali, suaminya tidak pernah merasakan kasih sayang dari putri mereka....


...Dimana sebenarnya kamu, Mas!...


...Sampai sekarang dia masih belum mau percaya kalau suaminya sudah tiada....


...Saat polisi memberitahunya 20 tahun lalu, mobil yang ditumpangi suaminya jatuh ke jurang. Hapsari tidak mau percaya karena belum melihat sendiri jasad suaminya....


...Sampai polisi menghentikan pencarian. Sari masih menganggap suaminya masih hidup dan terus mencarinya selama dua puluh tahun ini....


...Kadang Hapsari berpikir, apakah dia harus menyerah saja dan fokus untuk merawat putrinya. Tapi hati ini masih tetap tidak berdamai. Melihat putrinya harus tumbuh tanpa sosok seorang ayah, membuat hatinya hancur berkeping-keping setiap saat....


...Setidaknya dia ingin melihatnya sendiri kalau suaminya benar-benar sudah tiada....


..."Ibu!" ...


...Ayu memanggil kembali ibunya yang saat ini tengah diliputi kesedihan. Dia bertanya, "Ada apa? Kenapa wajah ibu terlihat begitu murung? Apakah Ayu mengatakan sesuatu yang membuat ibu sedih?"...


...Ayu seketika terdiam. Dia tidak menyangka ibunya akan mengatakan hal itu....


...Ayu sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap ayah kandungnya yang belum pernah ia lihat. Dari saat Ayu kecil dan tahu kalau setiap anak harus memiliki seorang ayah, dia mulai bertanya pada ibunya dimana ayahnya....


...Ayu masih ingat bagaimana ekspresi ibunya saat itu, penuh kesedihan dan ketidakberdayaan. Ibu hanya berkata kalau ayahnya menghilang....


...Ayu tidak tahu bagaimana ayahnya bisa menghilang, ibu tidak mau mengatakan penyebabnya. Saat Ayu beranjak dewasa, dia akhirnya tahu kalau ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan mobil yang masuk jurang, namun jasadnya masih belum ditemukan. ...


...Saat semua orang berkata kalau ayahnya sudah meninggal. Hanya ibunya yang tidak mau menerima, menganggap ayahnya hanya hilang tapi belum meninggal....


...Ayu tidak tahu apakah ayahnya masih hidup, atau sudah meninggal. Dia hanya tidak ingin ibunya terus menerus mencari ayahnya dan hidup dengan harapan palsu. Sudah dua puluh tahun berlalu, Ayu harap ibunya menyerah. Dia juga sudah dewasa, Ayu tidak lagi membutuhkan sosok seorang ayah atau kasih sayang darinya, yang dulu sangat ia rindukan....


..."Kenapa ibu masih saja memikirkan orang itu! Ibu, Sadarlah! Ayah sudah lama meninggal." ...


...Ayu tidak bisa menahannya lagi, mengatakan apa yang sebenarnya ia pikirkan....


...Hapsari segera membatahnya....


..."Tidak, Nak! Ayahmu belum meninggal. Ibu yakin kalau ayahmu masih hidup! Dia… dia mungkin hidup di suatu tempat…-" ...


...Karena terlalu bersemangat, Hapsari batuk setelah menyelesaikan ucapannya....


...Ayu cepat-cepat berdiri menuangkan air minum, memberikannya pada ibunya. Dia menyesal karena sudah berkata kelewatan pada ibunya, padahal ibunya sekarang sedang sakit, tidak bisa menerima rangsangan yang berlebihan....


..."Maafkan Ayu, Bu! Ayu Salah, tidak seharusnya Ayu mengatakan hal itu. Ibu tidak usah memikirkan apa yang Ayu katakan tadi." ...


...Ayu mengusap-ngusap punggung ibunya agar lebih baik, wajahnya dipenuhi dengan penyesalan....

__ADS_1


..."Ayu panggilkan dokter dulu!" Ayu bersiap keluar namun tangannya ditahan oleh ibunya....


...Hapsari berkata, "Tidak perlu, Nak. Ibu sudah lebih baik."...


..."Benar ibu sudah baik-baik saja?" Ayu masih sedikit gelisah....


...Hapsari mengangguk, menyuruh Ayu duduk kembali. Dia menggenggam tangan putrinya dan berbicara lembut....


... "Ibu tidak menyalahkanmu. Bukan salahmu jika kau berpikir ayahmu sudah meninggal. Kau tidak pernah bertemu dengan ayahmu ataupun mengenalnya. Tapi ibu tahu, orang seperti apa ayahmu itu. Dia pria yang akan selalu menepati janjinya. Sebelum pergi dan kecelakaan itu terjadi, ayahmu berjanji untuk kembali dengan selamat, dia ingin sekali melihat putrinya yang belum lahir."...


...Hapsari memandang putrinya dengan penuh keseriusan....


..."Jadi, Nak! Kau tidak boleh menganggap ayahmu sudah tiada. Dia selalu menanti kehadiranmu untuk datang kedunia ini. Untukmu, ayahmu tidak akan pernah pergi tanpa pamit."...


...Ayu tidak tahu bagaimana menggambarkan suasana hatinya sekarang ini, namun mendengar apa yang dikatakan ibunya, tanpa terasa air matanya sudah tergenang....


...Selama ini Ayu menganggap ayahnya lah penyebab ibunya tidak bisa hidup dengan tenang, dia bahkan berharap agar ibunya segera melupakan ayahnya, agar mereka tidak lagi hidup dalam bayang-bayang ayahnya. Namun, orang yang selama ini ingin Ayu hilangkan, ternyata sangat mengharapkan kehadirannya. Ayu merasa seperti sudah menjadi anak yang durhaka....


..."Ibu… apakah masih memiliki foto ayah?" tanya Ayu tertunduk....


...Hapsari senang karena putrinya sudah mau menanyakan sesuatu tentang ayahnya, karena selama ini Ayu selalu tidak peduli jika itu tentang ayahnya. Namun Sari tidak bisa menjawabnya, saat Ayu menanyakan tentang foto ayahnya....


...Semuanya sudah habis terbakar bersama rumah mereka awalnya yang berada di desa....


..."Tidak ada yang tersisa. Semua foto ayahmu habis terbakar." Hapsari hanya bisa mengatakan dengan berat hati....


...Ayu terkejut dan tidak menyangka. "Habis terbakar, Bu! Tapi, kapan…-"...


...Ayu kemudian teringat alasan mereka pindah ke kota, bukan hanya untuk mencari ayahnya, tapi juga karena rumah tempat tinggal mereka di desa habis terbakar. Saat itu ibunya dan Ayu tidak ada dirumah, mereka tidak sempat menyelamatkan harta benda satu pun....


...Pantas Ayu tidak pernah melihat ibunya mengeluarkan foto ayahnya dan hanya memandangi cincin kawin. Ternyata hanya itu yang tersisa....


..."Ya sudah, Bu. Tidak apa-apa jika fotonya tidak ada, Ayu hanya asal menanyakan saja." Ayu tidak ingin melihat ibunya menjadi sedih dan kecewa....


...Ayu melihat jam. Sebentar lagi waktu makan siang. Ayu bertanya pada ibunya, bermaksud mengalihkan topik....


..."Bu, apa ada yang ingin ibu makan? Nanti akan Ayu belikan?"...


...Hapsari berhenti memikirkan masalah foto, menjawab putrinya yang sekarang penuh perhatian....


..."Ibu sedang tidak ingin makan apapun, kau saja yang beli untuk dirimu sendiri."...


..."Bagaimana ibu bisa tidak makan, ibu akan bertambah sakit nanti." Ayu tentu tidak setuju....


..."Nanti juga ada perawat yang mengantarkan ibu makanan, ibu akan makan itu saja."...


...Hapsari tidak ingin anaknya membuang-buang uang. Dia tahu betapa lelahnya putrinya bekerja untuk mencari uang. Belum lagi sekarang biaya rumah sakit. Meskipun dia tidak tahu berapa, tapi biayanya pasti sangat mahal. Hapsari tidak ingin terus membebani putrinya....


...Bagaimana mungkin Ayu tidak mengerti pikiran ibunya. Selama ini Ayu bekerja dan menghasilkan uang hanya untuk ibunya, agar semua kebutuhan ibunya terpenuhi. Jika makanan saja dia tidak mampu beli, untuk apa Ayu bekerja begitu keras....


..."Walaupun ibu menolaknya, Ayu akan tetap membelikan ibu makanan."...


...Ayu segera pergi keluar setelah mengatakan itu, tidak memberi waktu ibunya untuk menolak....


...Hapsari hanya merasa tidak berdaya dengan kelakuan putrinya itu, namun wajahnya dipenuhi senyum....


...Siapa yang tidak suka mempunyai anak yang berbakti....


...Ayu membeli makanan di kantin rumah sakit, karena makanan disini dikatakan enak dan juga cukup sehat. Setelah itu, Ayu pergi keluar rumah sakit sebentar untuk membeli buah dan keperluan sehari-hari ibunya. Dia kembali setelah setengah jam berbelanja....


...Ayu kemudian makan bersama dengan ibunya, mengobrol tentang kehidupan sehari-harinya dan kegiatannya di kampus. Ayu tentu hanya bercerita tentang sesuatu yang menyenangkan yang dia alami, sedangkan yang tidak menyenangkan, ibunya tidak perlu tahu....

__ADS_1


...Tidak terasa sudah sore hari. Melihat ibunya yang sudah tertidur di ranjang rumah sakit, Ayu membenarkan selimutnya sebelum beranjak pergi....


...Masih ada waktu sebelum jam kerjanya di pom bensin, Ayu bermaksud kembali ke asrama untuk mandi dan bersiap....


__ADS_2