
...Siska senang melihat Ratna yang menyebalkan itu sudah pergi. ...
...Dia tidak terpengaruh dengan apa yang baru saja diucapkan Ratna, karena Siska yang tahu lebih baik seperti apa sifat dari temannya itu....
...Begitu Siska berpaling, dia melihat Ayu yang berdiri diam. Tatapannya mengarah pada tempat yang baru ditinggalkan Ratna....
...Siska lalu menyenggol Ayu. ...
..."Yu! Apa yang masih ingin terus kau lihat? Orang yang selalu membuat kita kesal sudah pergi."...
...Siska tidak ingin Ayu merasa kasihan kepada Ratna karena sudah membuatnya keluar dari kamar....
...Setelah terbangun mendengar panggilan Siska, Ayu berkata dengan lirih dipenuhi tanda tanya....
..."Aku hanya tidak mengerti apa yang membuat Ratna begitu membenciku. Dari yang ku ingat, tidak pernah sekalipun aku menyinggung perasaannya."...
...Siska sendiri tidak banyak berpikir, langsung menjawab keraguan Ayu, "Ratna memang orang yang seperti itu. Dia hanya iri kau lebih cantik darinya. Ratna selalu ingin menjadi pusat perhatian, dia tidak suka ada orang yang lebih baik darinya."...
...Siska sudah tahu seperti apa sifat sebenarnya Ratna setelah dua tahun saling kenal....
...Ayu semakin tidak mengerti ketika mendengar Siska mengatakan alasannya. Jika memang karena hal itu, tidak seharusnya Ratna membencinya, karena diluar sana masih banyak wanita yang lebih cantik, apa Ratna akan membenci semuanya. Dia akan terlihat sangat berpikiran sempit....
...Siska tidak ambil pusing. ...
..."Sudahlah! Tidak usah terlalu dipikirkan, buang-buang waktu saja. Lain kali kau bertemu Ratna, abaikan saja dia. Jika dia mencari masalah lagi denganmu, lawan dia atau panggil saja aku, biar kita menutup mulut wanita jahat itu dengan sol sepatu." ...
...Siska lalu terkikik setelah mengatakan hal itu....
..."Siska!" tegur Ayu, menggeleng tak berdaya. ...
...Dia sendiri juga hampir tertawa, namun menutup mulutnya tepat waktu. ...
...Kedua sahabat itu dalam suasana hati yang baik. Tidak terpengaruh dengan apa yang baru saja terjadi....
...Siska tiba-tiba ingat sesuatu, kemudian dia bertanya kepada Ayu, "Kapan kau kembali?"...
...Dia tidak melihat Ayu ketika keluar tadi. Siska lalu melihat jam, sudah menunjukan pukul 12. ...
...Apa Ayu pulang bekerja semalam ini....
...Siska tidak bisa tidak mengerutkan kening, memandang Ayu. Menunggu jawabannya....
__ADS_1
...Ayu tidak tahu harus menjawab apa. Dia mengerti apa yang Siska khawatirkan, maka dari itu dia ragu untuk memberitahukan Siska....
..."Jangan bilang kau baru saja pulang dari bekerja?" tanya Siska, dia melihat Ayu yang baru keluar dari kamar mandi. Terlihat seperti baru pulang bekerja....
...Tidak mungkin bisa menyembunyikannya, Ayu menjawab dengan jujur. "Jam kerjaku memang sampai tengah malam, Sis."...
..."Apaa!!" Siska berseru kaget....
...Dia tahu Ayu akan bekerja sampai malam, tapi tidak menduga akan sampai semalam ini, apalagi temannya itu perempuan....
..."Kenapa tidak kau katakan dari awal. Kau tahu kan betapa berbahayanya bagi seorang wanita kalau harus pulang malam. Lagipula, pekerjaan apa yang baru saja kau dapatkan itu, kenapa membuat karyawannya bekerja sampai selarut ini." ...
...Berbeda dengan pertanyaan Ratna yang menuduh, Siska bertanya dengan kepedulian, takut temannya itu tertipu oleh orang yang memberi pekerjaan....
..."SPBU," jawab Ayu....
...Membuat Siska kembali berseru. "Apa! Bisa kau katakan lagi?"...
...Ayu menghembuskan nafas, tahu akan jadi begini. "Tempat kerjaku itu di SPBU, tempat pengisian bahan bakar."...
..."Tapi kenapa kau bekerja disitu, ah tidak! Maksudku, mengapa kau memilih bekerja disitu?" tanya Siska tidak mengerti. ...
..."Karena gajihnya lumayan," jawab Ayu....
...Siska tidak bisa berkata-kata, itu memang alasan yang bagus....
..."Tapi tetap saja kan Yu, tidak baik bagimu kalau harus selalu pulang malam. Bagaimana jika terjadi sesuatu nanti. Astaga! Aku bahkan tidak berani untuk terus memikirkannya." ...
...Ayu nampak tak berdaya dengan sikap Siska yang berlebihan. Dia berusaha meyakinkan, "Tidak akan terjadi apapun, lagipula SBPU itu dekat dari sini. Aku bahkan pulang berjalan kaki tadi. Lihat, sekarang aku baik-baik saja."...
..."Kenapa harus pulang berjalan kaki?! Kenapa tidak menaiki taksi atau ojek online?" Siska menanyakan hal lain....
..."Aku hanya ingin menghemat uang, Sis. Lagipula jaraknya tidak jauh." Ayu beralasan....
..."Tapi… tetap saja." Siska masih terlihat tidak setuju....
...Apa temannya begitu kekurangan uang. Apakah dia tidak tahu betapa berbahayanya bagi seorang wanita untuk berjalan pulang sendirian di malam hari. Bagaimana jika dia bertemu perampok atau bahkan pelaku pelecehan....
...Siska merasakan kepalanya berputar searah jarum jam ketika berpikir Ayu harus melalui hal seperti itu setiap hari....
...Siska sudah menganggap Ayu sebagai saudara perempuannya sendiri selain sebagai sahabat. Karena itu dia sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan Ayu. Apalagi tante sari sekarang berada di rumah sakit. Siska memiliki tanggung jawab untuk menjaga Ayu, karena Ayu tidak memiliki keluarga lain selain ibunya....
__ADS_1
..."Bagaimana jika kau berhenti saja bekerja disana?" saran Siska, yang langsung ditolak oleh Ayu....
..."Bagaimana aku bisa berhenti hanya setelah bekerja satu hari. Lagipula aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, kalau aku berhenti, dimana aku mendapatkan uang untuk biaya berobat ibuku."...
..."Bukankah kau masih ada pekerjaan lain, yang di minimarket itu!" kata Siska....
..."Jika hanya bekerja disana tidak akan cukup, Sis." Ayu mendesah....
..."Biaya rumah sakit ibuku sangatlah besar, jika hanya bekerja di minimarket saja, tentu tidak akan cukup. Maka dari itu, aku mencari pekerjaan di tempat lain. Kebetulan saat aku lewat dan mendengar sedang ada lowongan di tempat itu dan untungnya saja aku diterima. Karena upahnya yang lumayan, aku tidak berpikir untuk berhenti untuk saat ini. Maaf, Sis. Aku hanya tidak punya pilihan lain." ...
...Ayu kemudian tertunduk, merasa tidak nyaman karena menolak saran baik dari temannya....
...Siska tidak merasa tersinggung sama sekali Ayu tidak menerima saran darinya, karena dia pikir itu memang tidaklah mudah. Dia menepuk bahu Ayu, berkata, "Jalan satu-satunya adalah dengan mencarikanmu pekerjaan yang lebih baik."...
...Ayu mengangkat kepalanya, mendesah. "Tidak semudah itu mencari pekerjaan seperti yang kau katakan. Aku sekarang hanya mahasiswa dan belum mendapat ijazah, tidak mungkin mendapatkan upah tinggi dan bekerja seperti karyawan kantoran."...
...Siska pun terdiam mendengar perkataan Ayu. Memang, tidak mudah menemukan pekerjaan yang bagus sekarang ini, apalagi mereka masih mahasiswa yang belum lulus....
...Bekerja di kantor pun sekarang membutuhkan ijazah....
...Siska memandang sahabatnya dengan sungguh-sungguh. Walau bagaimanapun, dia tetap harus membantu Ayu....
..."Kau tenang saja, Yu! Aku berjanji akan menemukan pekerjaan yang cocok untukmu. Sebelum itu, kau bisa bekerja di pom bensin dulu. Tapi kau tetap harus hati-hati, jaga dirimu saat pulang nanti."...
...Ayu merasa tidak nyaman merepotkan Siska untuk mencarikannya pekerjaan....
..."Tidak usah, Sis! Aku tidak ingin kamu repot."...
..."Kau tidak pernah merepotkanku. Bukankah kita ini sahabat. Jadi biarkan aku membantumu." Siska berkata sambil tersenyum....
...Melihat Siska yang begitu bersikeras, Ayu terdiam sebentar sebelum mengangguk. Dia tidak bisa terus menolak kebaikan Siska. Namun Ayu juga tidak ingin terlalu merepotkan. ...
..."Baiklah, Sis! Kalau kau menemukannya, beritahukan saja padaku. Jika tidak, jangan terlalu memaksakan diri. Mungkin setelah beberapa lama aku akan terbiasa bekerja disana dan tidak akan terjadi apapun."...
..."Baiklah! Sudah diputuskan. Aku akan mencarikan pekerjaan untukmu," kata Siska dengan ceria....
...Adapun apakah dia menemukannya atau tidak, kita lihat saja nanti....
...Ayu tahu Siska tidak memperdulikan ucapannya untuk tidak memaksakan diri. Dia hanya bisa menghela nafas sekaligus merasa beruntung memiliki teman yang begitu baik seperti Siska....
...Setelah mereka selesai memperdebatkan soal pekerjaan dan mengobrol sebentar. Ayu dan Siska pergi ke tempat tidur mereka masing-masing. Bersiap untuk tidur....
__ADS_1