
...Ayu berlari menghampiri Pak Aksa yang kesakitan menyangga tubuhnya di tumpukan kayu yang tersebar....
..."Pak, apakah anda tidak apa-apa?" tanya Ayu terlihat khawatir, karena tadi dia melihat salah satu log kayu mengenai pergelangan kaki Pak Aksa....
...Aksa berusaha menahan rasa sakit yang menjalar dari kakinya, mencoba untuk mengambil langkah. Namun, upayanya itu sia-sia, hampir membuatnya terjatuh jika saja Ayu tidak memegangi lengannya....
..."P–ak, anda… silahkan duduk dulu disini. Saya akan panggilkan beberapa pekerja untuk membawa bapak ke rumah sakit terdekat."...
...Ayu kelihatan sangat gugup dan juga khawatir....
...Dia menahan Pak Aksa sambil berjalan menuju kursi kayu yang ada di dekat sana. Setelah itu, Ayu pergi memanggil beberapa pekerja untuk datang membantu....
...Para pekerja awalnya sudah mulai curiga jika terjadi sesuatu lantaran ada bunyi benda jatuh yang sangat nyaring berasal dari tempat penyimpanan log kayu....
...Saat Ayu berlari keluar dan memberitahukan para pekerja kalau log kayu yang telah mereka susun berjatuhan dan terguling mengenai direktur yang baru saja datang, para pekerja langsung merasa panik. Takut jika mereka akan dimintai pertanggung jawaban. Baru setelah Ayu meyakinkan para pekerja kalau apa yang telah terjadi bukanlah salah mereka, pekerja baru bisa tenang dan mulai membantu Pak Aksa masuk ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit....
...Di perjalanan menuju rumah sakit, pergelangan kaki Aksa sudah mulai berubah menjadi merah kebiru-biruan, membuat Ayu menjadi semakin panik. Dia mendesak pekerja pabrik untuk menyetir lebih cepat supaya mereka bisa cepat sampai di rumah sakit. Dan Pak Aksa bisa segera diobati....
...Orang yang tidak tahu akan mengira suaminya yang sedang sakit parah....
...Sesampainya di rumah sakit, Aksa langsung dibawa untuk melakukan pemeriksaan....
...Ayu dan salah seorang pekerja pabrik yang tadi menyetir diminta untuk menunggu di luar....
...Tidak tahu berapa lama, Aksa akhirnya keluar terlihat mengenakan gips dan alat bantu jalan. Ayu yang melihatnya cepat datang membantu. Lalu bertanya kepada dokter, "Bagaimana keadaan kaki atasan saya, Dok. Kenapa kakinya sampai harus digips?"...
..."Atasan anda mengalami cedera patah tulang di pergelangan kakinya. Maka dari itu kami pasangkan gips untuk melindungi area yang cedera agar tidak bertambah semakin parah."...
...Mendengar apa yang dikatakan dokter, semakin besar rasa bersalah yang kini ia rasakan karena sudah membuat Pak Aksa dalam keadaan seperti itu....
...Ayu berkata kepada Pak Aksa dengan kepala yang menunduk. "Maaf, Pak. Karena saya, anda sampai..-"...
..."Cukup! Saya tidak ingin mendengar maaf dari mulut kamu," sela Aksa....
...Kepala Ayu menggantung semakin rendah. Dia tahu, tidak mudah bagi Pak Aksa untuk mau memaafkannya....
...Aksa berterima kasih kepada dokter atas perawatannya....
..."Tidak perlu, itu sudah tugas saya," kata Dokter. "ingat, untuk tidak terlalu banyak berjalan dalam beberapa minggu kedepan. Datang lagi ke rumah sakit saat gips sudah bisa dilepas."...
..."Baik, Dok. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih," ucap Aksa....
...Dokter mengangguk, lalu beranjak pergi....
...Aksa mengalihkan pandangannya kepada Ayu yang masih terlihat menunduk diam. Aksa berkata dengan tiba-tiba, "Kamu sebaiknya pulang lebih dulu. Kamu pasti merasa sangat lelah karena harus menemani saya memeriksa semua pabrik seharian ini."...
...Ayu langsung mengangkat kepalanya mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Pak Aksa....
..."T–tidak, Pak! Bagaimana saya bisa meninggalkan anda sendirian dalam keadaan seperti ini. Apalagi kaki anda sekarang terluka itu semua gara-gara saya."...
__ADS_1
..."Saya tidak sendiri," kata Aksa. "Ada pekerja pabrik yang akan mengantar saya pulang. Dan lagi, jangan terus menyalahkan diri sendiri, semua yang terjadi itu hanya sebuah kecelakaan. Jadi, berhentilah merasa bersalah."...
...Ayu masih ingin terus berargumen, namun semua itu terputus oleh Pak Aksa yang kembali memerintahkannya untuk segera pulang....
...Betapapun tidak mau nya Ayu, dia tetap tidak bisa menolak perintah dari atasannya itu....
..."Baiklah, Pak. Saya akan kembali dulu. Anda… berhati-hatilah saat di jalan," kata Ayu, masih dengan raut muka khawatirnya....
...Aksa mengangguk dengan tenang. "Kamu juga hati-hati."...
...Ayu melangkahkan kaki keluar dari rumah sakit dengan berat hati. Dia sebenarnya masih ingin bertanya pada Pak Aksa, siapa yang akan merawatnya saat di rumah nanti. Namun, dia sadar kalau itu bukan lagi urusannya. Karena dia hanyalah bawahan, bukan anggota keluarga dari Pak Aksa....
...Sementara menunggu di halte bus, Ayu mengirim pesan kepada Siska kalau dia akan pulang lebih dulu, agar Siska tidak perlu menunggunya....
...Begitu bus datang, Ayu naik bersama para penumpang yang lain....
...Di sisi seberang jalan....
...Aksa melihat sampai Ayu menaiki bus, lalu berkata ke pekerja yang sedang mengemudikan mobilnya....
..."Jalan lagi, Pak."...
...Pekerja itu mengangguk dan kembali mengemudikan mobil. Walaupun dia kelihatan bingung, mengapa tadi Pak direktur menyuruhnya untuk menghentikan mobil tiba-tiba....
...Aksa memandang ke luar jendela mobil. Pikirannya melayang disaat dia mengajukan pertanyaan kepada Ayu di pabrik terakhir yang mereka kunjungi. ...
...Aksa pikir dia akan memperoleh sesuatu, tapi tidak menyangka yang dia dapatkan justru kecelakaan yang menimpa dirinya. Aksa hanya bisa tersenyum kecut. Berpikir, mungkin itu adalah pembalasan....
...Setengah jam kemudian....
...Mobil terparkir di basement lantai bawah apartemen. Tempat Aksa tinggal....
...Turun dari mobil, Aksa berkata kepada pekerja pabrik yang sudah mengantarnya. "Terima kasih untuk hari ini." Aksa lalu membuka dompetnya dan mengeluarkan uang. Memberikannya pada pekerja itu....
..."Ini, ambilah. Untuk ongkos bapak pulang," kata Aksa....
...Pekerja itu melambai-lambaikan tangannya, bermaksud untuk menolak. Tapi Aksa memasukkan uang itu langsung ke tangannya....
..."Terimalah. Anggap sebagai bentuk rasa terima kasih dari saya."...
...Pekerja itu terdiam melihat uang yang ada di tangannya. Lalu memilih untuk menerima. Dia mengucapkan terima kasih kepada Aksa sebelum berjalan pergi....
...Setelah Aksa memasuki apartemennya, dia langsung duduk di sofa ruang tamu. Mengistirahatkan kepalanya di sandaran sofa, menghadap lampu gantung yang ada di langit-langit ruang tamu. ...
...Perasaan hampa tiba-tiba memenuhi hatinya untuk sesaat, tatkala sendirian di ruangan tamunya yang sebagian besar didominasi warna Abu-abu putih dan juga hitam....
...Hampir akan tenggelam di dalam kesendiriannya itu, Aksa dibangunkan oleh getaran yang ada di ponselnya....
...Melihat nama si penelpon, secercah cahaya melesat di matanya yang sayu....
__ADS_1
...Menekan tombol jawab, Aksa mendengar suara manis milik seorang wanita yang mengandung kekhawatiran, melayang masuk ke telinganya....
...[H~Halo! Pak. Maaf sudah mengganggu anda. Saya hanya ingin bertanya, apa bapak sudah sampai di rumah dengan selamat?]...
...Ayu berkata dari seberang telepon, terdengar gugup dan juga khawatir....
..."Hm! Sudah sampai di rumah," jawab Aksa secara singkat....
...[Emm..itu, lalu.. Bapak di rumah sama siapa– Aah!! Tidak… maksud saya, apa yang sekarang sedang bapak lakukan?]...
...Aksa menaikkan sebelah alis ketika mendengar pertanyaan yang tak beraturan datang dari staff magangnya itu. Jari telunjuknya mengetuk lengan sofa dengan berirama....
...Aksa berkata, "Saya sedang duduk beristirahat. Adapun dengan siapa…-"...
...Aksa melirik sekeliling apartemennya yang kosong, tanpa ada seorang pun selain dirinya sendiri. Berkata tanpa mengubah ekspresi wajahnya. "Disini ada asisten rumah tangga yang sedang menyiapkan makanan di dapur."...
...[Syukurlah ada yang merawat bapak disana!]...
...Aksa mendengar suara bersemangat dari gadis itu yang sepertinya tidak sadar dengan apa yang barusan dia katakan secara langsung. ...
...Benar saja, dalam beberapa detik, Ayu kembali berbicara dengan suara yang terdengar sedikit lebih kecil. ...
...[Maaf, atas kelancangan saya tadi, Pak! S–saya, saya…]...
..."Tidak masalah," jawab Aksa. Tahu gadis itu mungkin bingung bagaimana harus mengatakannya. ...
..."Saya baik-baik saja disini dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bagaimana dengan kamu sendiri, apa sudah sampai di rumah?"...
...[Sudah, Pak. Sedari tadi.]...
..."Baguslah," jawab Aksa....
...Setelah itu keduanya terdiam, tanpa ada satupun yang bicara. ...
...Ayu di seberang sana merasakan suasana yang tidak tepat, memilih untuk mengakhiri pembicaraan....
...[Kalau begitu, selamat beristirahat, Pak. Saya akan tutup sekarang. Ah! Jangan lupa juga untuk makan lebih dulu sebelum beristirahat. Selamat malam!]...
..."Um, selamat malam," jawab Aksa....
...Telepon terdengar bunyi 'tut' setelahnya. Tanda panggilan sudah berakhir....
...Aksa terus memandangi layar ponselnya hingga berubah menjadi gelap, memantulkan senyumannya yang dangkal. ...
...Aksa lalu menyingkirkan ponselnya itu seakan tidak terjadi apapun. Dia bermaksud untuk bangun dengan bantuan tongkat jalan dan memanaskan makanan yang ditinggalkan oleh asisten rumah tangganya....
...Aksa tidak sepenuhnya berbohong mengenai asisten rumah tangganya itu. Ia memang memiliki asisten rumah tangga yang akan datang ke sini setiap pagi dan akan pulang sore harinya. Lantaran Aksa tidak terlalu suka tinggal bersama orang lain, makanya dia tidak pernah mengijinkan siapapun menginap di apartemennya, termasuk asisten rumah tangganya sendiri. Hingga mereka jarang sekali bertemu kecuali memang ada keperluan yang sangat penting....
...Sedangkan keluarganya…...
__ADS_1
...Aksa pikir, dia tidak pernah benar-benar memiliki seorang keluarga sedari awal....