Bosku Ternyata Ayah Kandungku

Bosku Ternyata Ayah Kandungku
Chapter 28


__ADS_3

...Ayu menghembuskan nafas lega begitu panggilan teleponnya sudah berakhir. ...


...Entah apa yang ada dipikirannya disaat itu, menghubungi Pak Aksa tanpa tahu apa yang ingin ia katakan....


...Sepanjang perjalanannya pulang, Ayu terus-menerus mengkhawatirkan keadaannya Pak Aksa. ...


...'Apakah sudah sampai di rumah?'...


...'Adakah seseorang yang akan merawatnya, disaat kondisi Pak Aksa seperti itu?'...


...Segala macam tebakan membuatnya menjadi semakin gelisah. Dan mungkin karena hal itu, Ayu menghubunginya secara tidak sadar....


...Setelah tahu Pak Aksa sampai dirumah dengan selamat dan ada asisten rumah tangga yang akan merawatnya, Ayu bisa bernafas lega....


...Mengenai keluarganya Pak Aksa, Ayu cukup tahu diri untuk tidak bertanya karena itu adalah masalah pribadi. Tahu atasannya itu sekarang baik-baik saja sudah cukup baginya sedikit mengurangi perasaan bersalah....


...Pagi-pagi, keesokan harinya. ...


...Seisi kantor segera mengetahui tentang kondisi yang sedang dialami oleh Pak Aksa begitu melihatnya datang ke perusahaan menggunakan kruk dan sebelah kaki di gips....


...Beberapa karyawan nampak berkumpul, membahas penyebab kaki Pak Aksa bisa sampai menjadi seperti itu....


...Maklum saja, karena selain tampan, Pak Aksa juga adalah sosok yang tengah naik daun di perusahaan mereka. Segala sesuatu tentangnya selalu menjadi bahan perbincangan di kalangan para pegawai. Mulai dari kenaikan jabatannya hingga kehidupan percintaan yang pernah diisukan dekat dengan putri satu-satunya pimpinan....


...Ayu yang lewat membawa dokumen terhenti begitu mendengar pembicaraan mereka mengenai Pak Aksa. Ekspresinya menjadi sedikit rumit, kembali menuju ruang kantornya Pak Chandra untuk menyerahkan dokumen....


...Setelah mengetuk pintu kantor dan dipersilahkan masuk, Ayu menyerahkan map berisi dokumen mengenai kunjungannya bersama Pak Aksa ke pabrik semalam....


...Pak Chandra melirik map yang ada di atas meja, lalu Ayu yang sekarang berdiri di hadapannya. Bertanya-tanya, apa alasan sebenarnya dari Pak Aksa menerima wanita ini bekerja di departemen mereka, mengemban tugas penting yang seharusnya dikerjakan oleh staf senior atau seseorang yang sudah cukup berpengalaman, bukannya seorang gadis yang bahkan belum lulus sarjana. ...


...Jika bukan dia seorang kerabat, dia tidak berpikir ada alasan lain. ...


...Pak Chandra berdehem, menunjuk tumpukan map yang ada di mejanya. "Taruh saja disana, akan saya periksa nanti."...


...Ayu mengangguk. Permisi untuk pergi. Namun, Pak Chandra bertanya seolah tidak sengaja, "Saya dengar telah terjadi sesuatu dengan direktur Aksa, apa kamu tahu sesuatu?"...


...Ayu membeku. Tidak tahu harus menjawab apa....


...Haruskah ia jujur, atau berpura-pura saja tidak tahu. Karena sepertinya Pak Aksa tidak ingin memperpanjang masalah ini....


..."Em.. mengenai hal itu, Pak. Saya…–"...


...*..Drring… drrring…*...


...Dering telepon tiba-tiba, memutus perkataan Ayu....


...Dengan tampang yang sedikit kesal, Pak Chandra mengangkat telepon yang ada di atas mejanya....


..."Halo!" jawabnya bernada tinggi. Namun, segera tampangnya berubah. Menjawab dengan lebih sopan. "Ah! Baik, Pak. Segera, akan saya serahkan…"...


...Begitu panggilan telepon ditutup, Pak Chandra bangkit dari kursi. Mengambil beberapa file dan bersiap untuk pergi. Tiba-tiba ingat, masih ada orang lain di ruangannya. ...

__ADS_1


...Pak Chandra sedikit menyesal karena masih belum tahu apa kebenarannya. Hanya bisa mempersilahkan Ayu untuk pergi....


...Ayu juga langsung pamit. Menghembuskan nafas begitu pintu tertutup. Bersyukur karena tidak perlu menceritakan kejadian waktu itu....


...Ayu baru berjalan beberapa langkah ke meja kerjanya, Pak Chandra terlihat keluar dari kantornya menuju ruangan Pak Aksa. ...


...Ayu tidak bisa tidak berpikir, apakah yang baru saja menelpon tadi adalah Pak Aksa. Waktunya sungguh sangat kebetulan. Dia lalu kembali bekerja, tidak ingin terus menebak-nebak....


...Pak Chandra mengetuk pintu kantornya Pak Aksa kemudian masuk. Sementara Pak Aksa sedang menerima telepon, dia mempersilahkan Pak Chandra untuk duduk....


...Setelah melihat Pak Aksa menyelesaikan urusannya, barulah Pak Chandra berani maju....


..."Pak, inilah berkas-berkas yang tadi anda minta. Silahkan dilihat." Pak Chandra menyerahkan berkas di tangannya....


...Aksa hanya mengangguk, mengambil berkas itu, lalu memeriksanya....


..."Para karyawan sepertinya punya banyak sekali waktu luang." Aksa berkata setelah ia selesai menandatangani berkas....


..."Maksud bapak?"...


...Pak Chandra tidak begitu jelas apa maksud dari perkataannya Pak Aksa....


...Aksa mengisyaratkannya untuk melihat keluar. ...


...Dari dalam ruangan, kelihatan jelas bagaimana situasi para karyawan. Dimana diantaranya sedang asyik mengobrol berkelompok antara berdua atau bertiga. Tampak membicarakan sesuatu yang sangat menarik. Jelas bukan masalah pekerjaan.  ...


..."Para karyawan senior sepertinya tidak menganggap serius proyek yang departement kita sedang kerjakan. Berbincang-bincang di jam kerja sungguh sangat tidak profesional. Bagaimana menurut anda, Pak Chandra?"...


...Juga, sejak kapan Pak Aksa menarik tirai di ruangan nya. Kelihatan jelas apa saja yang dilakukan oleh bawahannya, membuat Pak Chandra tertunduk malu. Lantaran sebelum Pak Aksa menjabat, para karyawan senior itu memang menjadi tanggung jawabnya....


..."Maafkan saya, Pak, karena gagal mendisiplinkan para karyawan. Saya akan tegur mereka sekarang juga!"...


...Pak Chandra bersiap untuk berdiri. Namun, Aksa segera menghentikannya....


..."Tidak perlu begitu terburu-buru..."...


..."Saya mengatakan ini bukannya ingin menyalahkan bapak. Yang saya maksudkan adalah agar para karyawan berhenti membicarakan sesuatu hal yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan."...


...Pak Chandra dengan serius mendengarkan sambil mengangguk sesekali....


...Aksa berkata terus terang. "Melihat bagaimana sikap kerja para karyawan sekarang, membuat saya menjadi semakin ragu, dapatkah proyek kita berjalan sesuai rencana. Apalagi dengan keadaan saya yang sekarang…"...


...Aksa menggelengkan kepalanya perlahan, tidak ingin bicara lebih jauh....


...Pak Chandra yang tadinya diam, angkat bicara....


..."Saya tahu apa yang Pak Aksa khawatirkan. Sejujurnya, saya juga merasa kecewa dengan sikap para karyawan. Namun, tidak semua kesalahan ada pada mereka. Sebab, saya juga bertanggung jawab atas hal itu."...


...Dia lantas berdiri. Membungkuk sedalam-dalamnya kepada Pak Aksa. Berkata dengan sikap yang tegas. ...


..."Saya akan menginstruksikan para karyawan agar mereka bisa bekerja dengan lebih serius. Saya berjanji hal yang serupa tidak akan pernah terjadi lagi. Para karyawan akan mengerjakan tugas mereka dan menyelesaikannya tepat waktu. Pak Aksa tidak perlu merasa khawatir."...

__ADS_1


...Aksa memandangnya selama beberapa saat. Membuat Pak Chandra jadi gelisah. Takut Pak Aksa tidak setuju....


...Sampai Pak Aksa mengangguk dengan tenang, barulah dia bisa bernafas lega....


..."Kalau begitu saya permisi dulu." Pak Chandra langsung pamit permisi....


...Begitu dia keluar ruangan, Pak Chandra segera menghampiri karyawan yang tengah asyik mengobrol. Bahkan sampai ada yang bercanda duduk di meja kerja temannya. Membuat Pak Chandra hampir mengalami darah tinggi. ...


...Mengambil nafas dalam-dalam, Pak Chandra ingin sekali meneriaki para stafnya. Namun, sudah coba ia tahan, karena merasa kurang pantas. Yang sekarang harus ia lakukan adalah memperingatkan mereka. ...


..."Kalian semua! Apa yang sedang kalian lakukan. Sekarang, kembali bekerja!"...


...Tiba-tiba mendengar suara marahnya Pak Chandra. Karyawan yang tadinya berbincang langsung bubar seketika. Kembali ke meja kerja mereka masing-masing....


...Melihat aksi mereka itu. Pak Chandra mengangguk diam-diam. ...


...Berpikir kalau mereka masih bisa diajari....


...Pak Chandra sengaja batuk rendah, menyampaikan maksudnya....


..."Mulai sekarang, semua karyawan dilarang mengobrol di jam kerja. Kecuali berkaitan dengan pekerjaan. Jika ada dari kalian yang melanggarnya, maka bersiap-siaplah kena sanksi."...


...Mendengar hal itu, para karyawan tidak begitu tenang. Tiba-tiba saja ada peraturan baru....


... Mereka sudah sering mengobrol, tidak pernah sekalipun mendapat teguran. Kenapa sekarang jadi dilarang....


...Ada apa sebenarnya dengan Pak Chandra hari ini....


...Ayu yang meja kerjanya sedikit lebih jauh juga mendengar apa yang baru saja dikatakan Pak Chandra. Dia melirik ruangan Pak Aksa....


...Baru saja Pak Chandra pergi ke ruangan Pak Aksa. Apakah itu ada hubungannya dengan peraturan baru....


...Siapa lagi selain Pak Aksa yang dapat menginstruksikannya....


...Sekalipun Ayu yakin tidak akan melanggarnya. Entah berapa banyak peraturan yang ada. Ayu tetap merasa takut jika sampai terkena sanksi. ...


...Pekerjaan ini, dia tidak sanggup untuk kehilangan. Dengan itu, Ayu kembali fokus ke pekerjaan. Mempelajari segala sesuatunya dengan lebih serius....


...Pak Chandra selesai memberi arahan ke semua staf. Melewati meja kerja Ayu saat akan pergi ke ruangannya....


...Melihatnya begitu serius dalam bekerja, Pak Chandra mau tak membandingkannya dengan karyawan lain yang lebih lama dalam bekerja....


...Mereka sekarang kelihatan tidak terima. Tidak ada yang berinisiatif bekerja lebih keras atau menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing....


...Terkadang dia sendiri berpikir, apakah ada yang salah dengan pelatihannya terhadap para karyawan selama ini....


...Mungkin itu alasannya Pak Aksa mempekerjakan orang-orang baru....


...Karyawan yang baru direkrut tidak gampang berpuas diri. Selalu mematuhi peraturan yang ada dan jauh lebih serius dalam bekerja....


...Pak Chandra berhenti memperhatikan, lalu kembali ke ruangannya dengan wajah murung....

__ADS_1


__ADS_2