
...Ayu menaiki tangga menuju lantai tiga, tempat kamar asramanya berada. Bulir-bulir keringat membasahi dahinya yang halus dan putih....
...Kakinya seberat timah setiap kali Ayu melangkahkan kaki di setiap anak tangga....
...Saat mencapai lantai tiga, Ayu memegangi dinding menuju kamar nomor 301, kamar asramanya bersama dua orang lainnya, yaitu sahabatnya Siska dan juga.....
..."Malam sekali pulangnya! Apa kau pikir kamar asrama kita ini hotel!"...
...Tanpa menoleh, Ayu sudah tahu siapa yang berbicara kasar tadi....
...Ratna!...
...Teman sekamarnya yang lain. ...
...Ayu tahu betapa tidak sukanya Ratna terhadapnya. Namun, Ayu sendiri tidak mengerti apa alasan Ratna begitu memusuhinya. ...
...Ratna selalu saja mencari masalah dengannya. Selalu berbicara hal buruk tentangnya, dan selalu menuduhnya yang macam-macam....
...Ayu tetap menjelaskannya dengan sabar. ...
..."Aku baru pulang dari bekerja, jadi agak terlambat. Maaf jika itu mengganggumu."...
...Ayu tidak ingin menciptakan pertengkaran dengan Ratna. Ia hanya ingin segera mandi, agar rasa lelahnya sehabis bekerja menghilang. ...
...Ayu bermaksud berjalan melewati Ratna....
...Namun Ratna sepertinya tidak ingin membiarkan Ayu pergi begitu saja. Dia berjalan melewati Ayu dan menghadang jalannya....
..."Apa kau benar pulang dari bekerja? Kerja apa?" Meskipun Ratna bertanya, sorot mata Ratna tampak berprasangka....
...Ayu menghembuskan nafas kuat-kuat berusaha untuk tetap tenang. ...
...Seperti biasa, Ratna mencari masalah dengannya lagi. ...
...Tetap saja, Ayu tidak menggubrisnya. ...
...Bukan karena Ayu merasa takut ataupun lemah, tapi dia tidak ingin menambah masalah lain. Hidupnya sudah cukup banyak masalah, bertengkar dengan Ratna juga tidak akan ada habisnya....
...Ayu mencoba menjelaskan kepada Ratna dengan baik-baik. ...
..."Aku sungguh pulang dari bekerja. Tempatnya tidak jauh dari sini, di sebuah pom bensin. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja. Mungkin, dari sekarang dan seterusnya aku harus pulang malam. Jadi Ratna, aku mohon pengertian darimu."...
...Jangan selalu mencari masalah dengannya, dia sudah cukup sangat lelah....
...Ratna menyilangkan tangan di depan dada, wajahnya cukup arogan. ...
..."Jadi, besok-besok kau akan terus pulang malam seperti hari ini?!"...
...Ratna bertanya, mengabaikan pekerjaan yang baru saja Ayu sebutkan. Menurutnya, Ayu hanya berbohong agar bisa selalu pulang malam. Mungkin dia melakukan sesuatu hal yang buruk di luar sana....
...Meskipun Ratna tidak mau mengakui, perempuan muda dan cantik seperti Ayu tidak mungkin mau bekerja di pom bensin....
...Ayu sisi lain tidak tahu pikiran sebenarnya Ratna. Dia hanya mengangguk saat Ratna bertanya. Jika Ayu tidak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Ayu masih akan bekerja di pom bensin dan juga pulang terlambat setiap malam. Ayu memberitahu Ratna hanya agar dia tidak berprasangka buruk melihatnya selalu pulang malam....
__ADS_1
...Ayu hanya tidak tahu. Bahkan jika dia sudah menjelaskan, Ratna masih akan memiliki pikiran yang buruk tentang pekerjaan yang ia lakukan....
..."Apa masih ada yang ingin kau tanyakan? Kalau tidak aku akan pergi ke kamar mandi," tanya Ayu dengan sopan....
...Ratna tetap diam, dia tidak tahu alasan apalagi yang bisa dia buat untuk menjatuhkan Ayu. Dia juga belum memiliki bukti kalau Ayu melakukan pekerjaan yang tidak benar....
...Melihat Ratna yang tidak lagi mencari masalahnya, Ayu mendesah lega. ...
...Ayu berjalan kembali melewati Ratna, meletakan tasnya di atas meja dan mengambil handuk dan baju ganti lalu pergi ke kamar mandi....
...Ratna menghentakkan kakinya marah melihat Ayu yang berjalan pergi tanpa menghiraukannya....
...Lihat saja nanti! ...
...Dia akan membuktikan kepada semua orang seperti apa wajah asli Ayu sebenarnya, wanita yang hanya berpura-pura murni dan sok cantik....
...Karena letak kamar mandi yang berdekatan dengan pintu masuk, setelah Ayu selesai mandi, dia berpapasan dengan Siska yang baru datang dari luar....
...Setiap kamar asrama kampus biasanya ditempati dua sampai tiga orang mahasiswa. ...
...Ayu sangat bersyukur saat tahu Siska juga satu asrama dengannya, atau kalau tidak, Ayu tidak akan tahan hidup berdua saja dengan Ratna dalam satu kamar asrama....
...Melihat Siska kesusahan membawa galon berisi air di pelukannya, Ayu cepat- cepat membantunya menurunkan....
..."Aku pikir kau kemana, ternyata mengisi air," kata Ayu....
...Saat dia pulang tadi Ayu tidak melihat Siska....
...Tatapannya dengan sengaja mengarah kepada Ratna yang sedang mengutek kuku....
..."Apa maksudmu melihatku seperti itu! Kau menuduhku yang membuang-buang air minum?!" Ratna berhenti merawat kukunya, dan berkata tidak terima....
...Siska juga berkata balik. "Kalau bukan kamu siapa lagi! Kau selalu menggunakan air minum untuk hal yang tidak penting. Untuk campuran masker atau mencuci muka. Air minum di kamar ini untuk seseorang minum, bukan untuk keperluanmu sendiri." ...
...Wajah Ratna berubah jelek mendengar perkataan Siska. "Hal yang tidak penting katamu! Asal kau tahu, Siska! Maskerku adalah barang impor, harus dicampur dengan air mineral murni. Dan juga, kulitku ini sangat sensitif, tidak bisa dicuci begitu saja dengan air keran."...
...Siska tidak tahu apakah harus marah atau tertawa mendengar Ratna yang begitu berlebihan menyombongkan diri sendiri....
...Dia mengamati Ratna dari bawah ke atas. ...
...Sosok Ratna memang bisa dikatakan menggoda. Pinggul penuh dan dada berisi. Tapi wajahnya terlihat biasa saja, dengan riasan yang berlebihan, seolah ingin menutupi beberapa kekurangan di wajahnya. Namun justru terlihat lebih aneh....
...Siska tersenyum mengejek. "Bahkan jika wajahmu dibasuh dengan air susu, tidak akan bisa secantik temanku Ayu."...
..."Apa katamu!!!"...
...Ratna seketika marah mendengar Siska mengatakan hal itu....
...Apa yang paling dia benci adalah seseorang yang mengatakan Ayu itu lebih cantik darinya. ...
...Saat pertama kali Ratna masuk kuliah, beberapa mahasiswa laki-laki dan para senior menanyakan tentang Ayu padanya saat mereka tahu dia satu asrama dengan Ayu, tidak ada satupun dari orang-orang itu yang memperhatikannya....
...Belum lagi pacarnya yang selalu melirik Ayu setiap kali mereka berpapasan. Bagaimana dia tidak marah. Dan Siska, beraninya dia mengatakan hal itu secara terang-terangan di depan wajahnya....
__ADS_1
...Ratna yang diliputi kemarahan meraih rambut Siska dan menjambaknya. ...
...Siska tidak menyangka Ratna akan begitu marah sehingga menjambak rambutnya. Ketika Siska sadar, dia merasakan Sakit di kulit kepalanya. ...
...Siska tentu tidak tinggal diam dan melawan balik, menjambak rambut Ratna juga....
...Ayu di sisi lain sudah terpana dengan apa yang terjadi. Saat Siska dan Ratna mulai beradu mulut, dia sudah ingin melerai, tetapi tidak pernah diberi kesempatan untuk berbicara. Sekarang situasinya memburuk, Ayu menjadi semakin cemas, tidak tahu apa yang harus ia lakukan. ...
..."Kalian… berhentilah bertengkar! Bagaimana jika pengawas asrama datang. Teman-teman di kamar asrama sebelah juga akan mendengarnya!" ...
...Ayu berusaha menghentikan mereka dari berkelahi. Namun tetap tidak berhasil, Siska dan Ratna masih tarik-menarik rambut satu sama lain. ...
...Siska juga tidak ingin terus menerus seperti ini. Kepalanya sangat sakit. Namun, Siska tidak ingin menyerah begitu saja. Dia harus membiarkan Ratna melepas cengkraman pada rambutnya terlebih dulu. Siska menarik lebih kuat rambut Ratna ke belakang, kemudian memperlihatkan kuku tangannya yang panjang....
..."Lepaskan tanganmu dari rambutku! Kalau tidak, jangan salahkan aku menggaruk wajahmu yang sensitif itu!" ancam Siska....
..."Beraninya Kau!" Ratna melotot marah....
...Siska semakin mendekatkan kukunya yang tajam ke pipi Ratna, hampir membiarkannya tergores....
...Ratna tidak berani bergerak. Dia takut jika bergerak sedikit saja, Siska akan menggores wajahnya dengan kukunya yang panjang....
..."Lepaskan!" Siska memperingatkan kembali untuk melepaskan rambutnya....
..."Baiklah! Kau juga, lepaskan cakar kotormu itu dari wajahku!" kata Ratna....
..."Ok!" Siska mengangguk setuju. "Aku hitung satu sampai tiga, kita lepaskan bersama-sama."...
...Ratna mengangguk. Meskipun dia sedikit enggan, tapi tetap harus menyelamatkan wajahnya....
..."Satu..dua..tiga..."...
...Pada hitungan ketiga, Ratna dan Siska melepaskan genggaman masing-masing dan melangkah mundur....
...Ayu cepat menghampiri Siska dan memegangi lengannya, takut dia akan berkelahi lagi dengan Ratna....
...Ratna merapikan rambutnya yang berantakan. Wajahnya masih kesal ketika dia memandang Siska, melihat Ayu yang berada di samping Siska, Ratna melotot marah....
..."Ini semua karena kamu, Yu! Jangan hanya bersembunyi di balik teman. Kalau berani hadapi aku sendiri!"...
...Ayu mengerutkan kening mendengar perkataan Ratna yang tidak masuk akal. Dari awal Ratna lah yang selalu suka mencari masalah dan memulai pertengkaran. Jadi kenapa sekarang dia tiba-tiba menyalahkannya....
...Siska melangkah maju, menghalangi pandangan beracun Ratna terhadap temannya. ...
..."Tidak perlu Ayu yang menghadapimu, aku saja sudah cukup!"...
..."Siska, Sudahlah! Kita berhenti saja sampai disini." Ayu membujuk di samping....
..."Jangan pura-pura sok baik kamu Ayu! Kamu pasti senang kan ada yang membelamu!" Ratna lalu beralih menatap Siska, berkata, "Kau begitu melindunginya. Hati-hati saat dia menusukmu dari belakang! Kita akan melihat bagaimana kau menyesal saat itu."...
...Ratna pergi membanting pintu setelah mengatakan itu, dia memutuskan untuk menginap di asrama temannya. ...
...Ratna tidak tahan satu ruangan dengan dua orang yang membuatnya marah....
__ADS_1