Bosku Ternyata Ayah Kandungku

Bosku Ternyata Ayah Kandungku
Chapter 18


__ADS_3

..."Jadi, mulai senin depan kau akan bekerja di perusahaan besar itu bersama Siska?" tanya Hapsari. Setelah sekitar lima menitan Ayu menjelaskan kepada ibunya....


..."Benar, Bu," kata Ayu menggenggam tangan ibunya. "Ibu senang kan, Ayu bekerja di perusahaan besar. Dengan begitu, kita tidak perlu khawatir lagi soal biaya pengobatannya ibu."...


...Hapsari hanya bisa terdiam. ...


...Mendengar putrinya sedemikian berjuang mencari pekerjaan agar bisa membayar biaya berobatnya. Yang Hapsari rasakan sekarang hanyalah perasaan pedih dan juga pilu. ...


...Dia merasa sangat tidak berguna sebagai seorang ibu. Membiarkan anaknya berjuang sendirian, sedangkan dirinya sendiri hanya bisa menjadi beban. ...


...Dada Sari terasa sesak begitu memikirkan nasib putrinya kedepannya. Harus terus-menerus merawat ibunya yang penyakitan ini....


...Apa begini nasib rumah tangga tanpa pilar pendukung. Tanpa kehadiran seorang pria di dalam keluarga....


...Hapsari kembali mengingat suaminya....


...Mas Aji....


...Dimana kamu, Mas? ...


...Kami membutuhkanmu. Putri kita sekarang membutuhkanmu....


..."Bu! Ibu kenapa?!" Ayu berseru panik begitu melihat ibunya berkeringat dan juga pucat. Nafasnya terlihat tidak lancar....


...Siska juga langsung berdiri, mencoba mengusap punggung tante Sari....


..."Ma..maafkan ibu, Nak." Hapsari berkata dengan tersengal-sengal. "karena ibu, kau jadi harus bekerja sangat keras. Ibu hanya menjadi bebanmu. Maafkan ibumu ini, Nak."...


..."Ibu bicara apa! Ayu tidak pernah berpikir ibu adalah beban." Ayu mengatakannya dengan serius. Bersiap-siap untuk membawa ibunya kembali ke dalam....


...Ayu tidak mengerti mengapa ibunya menjadi seperti ini....


...Hapsari meremas tangan putrinya yang sedang ia topang. Lalu berkata dengan kepahitan yang mendalam. "Andai.. ayahmu ada disini. Andai ayahmu ditemukan dan dapat berkumpul bersama kita."...


...Ayu semakin cemas melihat ibunya yang seperti ini. Dia langsung ingin menangis....


..."Sudahlah, Bu. Jangan membicarakan masalah itu dulu. Biar Ayu dan Siska bantu ibu kembali ke ruang rawat. Agar ibu bisa segera diperiksa oleh dokter."...


...Ayu memanggil Siska yang kelihatannya sedang lengah. "Sis! Ayo" ...


..."A..ah! Iya, baiklah, Ayo." ...


...Siska yang langsung tersadar cepat-cepat membantu Ayu mendorong kursi roda. Namun, perkataan yang baru dilontarkan tante Sari tadi belum hilang dari pikirannya....

__ADS_1


...'Apa maksud tante Sari tadi mengatakan kalau ayah Ayu belum diketemukan. Bukankah ayah Ayu sudah meninggal'...


...Meskipun Siska sangat penasaran, dia tahu kalau sekarang bukan saatnya untuk bertanya....


...Mereka harus segera mengecek keadaannya tante Sari....


...Di lorong rumah sakit arah sisi lainnya, Arga Wijaya yang bermaksud pergi ke ruangan dokter, menghentikan langkahnya, menoleh ke arah lain....


..."Ada apa, Pak?" tanya asisten yang mengikutinya dari belakang. Melihat atasannya itu tiba-tiba berhenti....


...Arga mengerutkan kening. Perasaan tidak nyaman tiba-tiba melanda hatinya. Entah apa yang sebenarnya terjadi. ...


...Mendengar pertanyaan dari asistennya, Arga sementara mengesampingkan emosi-emosi itu dan terus berjalan. "Tidak ada. Ayo pergi."...


...Asisten mengangguk, berjalan mengikuti bosnya....


...Ibu Ayu tengah diperiksa oleh dokter. Sementara Ayu dan Siska menunggu dengan cemas dari samping....


...Ayu bertanya begitu melihat dokter selesai memeriksa ibunya. "Bagaimana, Dok. Keadaan ibu saya?"...


...Dokter menyimpan stetoskopnya, berkata, "Ibumu hanya mengalami syok ringan. Bukan masalah besar. Katakan padanya untuk jangan berpikir terlalu berat dan kurangi stres."...


..."Baik, Dok."...


...Ayu mengangguk dan berterima kasih. Melihat dokter yang sudah pergi. Ayu memandangi tampilan lemah ibunya sehabis disuntik, ibunya kembali menjadi tenang....


..."Maafkan ibu ya, Nak. Ibu kembali membuatmu khawatir," ucap Hapsari lemah....


...Dia tidak menyangka keadaannya akan tiba-tiba menjadi seperti ini. Sehingga membuat putrinya dan juga teman putrinya khawatir....


...Ayu berkata, "Tidak apa-apa, Bu. Yang penting ibu selalu sehat. Ibu dengar kan kata dokter tadi, jangan terlalu berpikiran macam-macam."...


...Ayu kemudian bertanya, "Bagaimana perasaan ibu sekarang. Apa masih ada perasaan yang tidak nyaman?"...


..."Tidak ada rasa tidak nyaman. Ibu sekarang hanya merasa sedikit haus."...


..."Uumm.."...


...Ayu melihat gelas yang sudah kosong, berniat mengisinya kembali. Namun, Ayu tiba-tiba berubah pikiran. Memandang ibunya, bertanya, "Ibu mau jus buah, biar Ayu belikan. Karena kata dokter, jus buah bagus untuk kesehatan ibu."...


...Hapsari awalnya ingin menolak. Karena menurutnya itu hanya akan membuang-buang uang. Tetapi langsung setuju begitu mendengar minuman itu dapat menyehatkan tubuh...


..."Baiklah, Nak. Setelah itu cepatlah kembali," kata Hapsari berpesan. ...

__ADS_1


..."Iya, Bu."...


..."Jangan lupa aku juga ya, Yu. Jus buah," kata Siska....


..."Tentu saja. Bagaimana aku bisa melupakanmu," kata Ayu tersenyum. Setelah itu dia keluar dari ruangan. ...


...Tinggal Siska menemani ibu Ayu. Dia duduk di kursi dekat samping tempat tidur. Memperhatikan ibu Ayu yang tengah berbaring....


...Hatinya bergumul, apakah akan menanyakannya atau tidak yang dimaksud dari perkataan tante Sari tadi di taman....


..."Ada apa? Kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu." Hapsari bertanya ketika melihat ekspresi Siska yang kusut....


...Siska terbangun mendengar pertanyaan tante Sari. Dengan kikuk dia menjawab, "Em… Tante, di taman tadi..-"...


..."Kamu ingin bertanya mengenai ayah Ayu? " Hapsari menebaknya. ...


...Siska mengangguk dengan tidak nyaman. ...


...Apakah terlihat tidak sopan menanyakan hal itu. Lagipula, itu masalah pribadi orang lain.  Tapi..  Ayu bukalah orang lain, dia masih sahabatnya. ...


...Di tengah kegundahannya, Siska mendengar tante Sari berkata, "Sebenarnya, tidak ada yang perlu di rahasiakan."...


...Siska cepat memusatkan perhatiannya mendengarkan....


...Hapsari melanjutkan, "Mobil yang dikemudikan ayah Ayu saat itu memang masuk jurang. Saat polisi menemukannya, mobil itu sudah rusak dan habis terbakar. Tetapi mereka tidak menemukan mayat atau orang yang terluka di dekatnya. Polisi beranggapan kalau ayah Ayu sudah meninggal dimakan binatang buas karena area tempat kecelakaan itu terjadi berada di dekat hutan. Namun, tante tidak percaya. Sebelum tante melihatnya sendiri mayat Mas Aji, tante tidak akan pernah percaya dia sudah meninggal."...


...Mata Sari berubah merah begitu dia mengingat kembali kejadian hari itu. Kejadian yang sudah merenggut semua kebahagiaannya....


...Siska begitu terpana dengan apa yang baru saja dikatakan tante Sari. Siska hanya tahu kalau ayahnya Ayu meninggal dalam kecelakaan mobil, tetapi dia baru tahu kalau masih ada cerita dibaliknya....


...Melihat tante Sari yang kembali diliputi oleh kesedihan, membuat Siska menjadi sangat bersalah. "Maaf, Tante. Karena keingintahuan Siska, tante jadi harus mengingat lagi kejadian saat itu."...


...Hapsari menggelengkan kepala perlahan, menghapus air mata dari sudut matanya....


..."Tidak, itu bukan salahmu," kata Hapsari. "Tante yang ingin mengatakannya. Tante hanya ingin kau tahu kalau Ayu bukanlah anak tanpa seorang ayah. Tante tidak ingin temannya satu-satunya menganggapnya lemah dan patut untuk dikasihani."...


..."Tidak, tante salah," kata Siska, menyangkal. "Siska tidak pernah berpikir Ayu orang yang lemah. Justru sebaliknya, Siska tidak pernah bertemu perempuan yang sekuat Ayu. Dia belajar, bekerja. Juga harus menghadapi banyak permasalahan di hidupnya. Memang, Siska kadang kasihan dengan Ayu. Tetapi Siska juga tahu, Ayu tidak pernah ingin dikasihani. Dia tidak mungkin mau hidup dari rasa kasihan dari orang lain."...


...Siska berkata sampai disitu, melihat dengan sungguh-sungguh ke mata tante Sari. "Tante harusnya tahu sekuat apa Ayu. Tante pasti akan sangat bangga memiliki putri seperti dirinya. Karena Siska merasa bangga berteman dengan putri tante."...


...Hapsari mengangguk dengan haru, menepuk-nepuk tangan yang digenggam Siska yang tidak tahu kapan. Hapsari menjawab, "Tante bangga, tante sangat bersyukur Ayu menjadi anak tante dan memiliki teman sepertimu yang selalu mendukungnya. Yang tante bisa katakan sekarang hanyalah terima kasih."...


..."Tante tidak perlu berterima kasih," kata Siska. "Tante hanya perlu kembali sehat dan memasak makanan yang enak untuk Siska nanti, seperti yang biasa tante buat."...

__ADS_1


...Siska tersenyum ceria setelah mengatakan itu, membuat Hapsari juga tersenyum....


__ADS_2