Budak Tuan Alejandro

Budak Tuan Alejandro
Menolong Hulsa


__ADS_3

Isabella hanya bisa mengumpat dalam hati, wanita itu ingin sekali membenturkan kepala Alejandro. Pria itu benar-benar membuatnya menjadi seorang jallang. "Awas kau Alejandro!" Di sepanjang langkah, Isabella terus mencaci maki tuannya.


"Nona Isabel, tolong jaga ucapan mu." Emma menegur Isabella agar tidak berbicara buruk tentang Alejandro.


"Kau diam saja, Emma. Kau ini tidak tahu apa yang di lakukan tuan mu. Dia sangat kejam dan menjijikkan!" seru Isabella.


"Nona!" seru Emma. Isabella hanya mendengkus kesal. Lalu membungkam mulutnya. "Kau ini kalau ingin marah pada tuan Ale, marah di depannya! jangan di hadapan ku."


Mana mungkin Isabella berani memarahi Alejandro secara langsung, dia tidak ingin mati cepat sebelum bertemu ibunya.


"Emma, kapan kau pergi? aku tidak sabar mendengar kabar ibu ku."


"Sebentar lagi, ibu mu bekerja di mana?" Emma menanyakan tempat tinggal ibu Isabella agar mudah saat menemuinya.


"Di keluarga Thompson." jawab Isabella.


"Seorang walikota?" Emma pernah mendengar keluarga itu yang memiliki jabatan penting.


"Ya, kau benar."


***


Keesokan harinya, Antonio datang ke kediaman Alejandro membawa kabar buruk. Antonio merupakan sepupu Alejandro, sekaligus orang kepercayaannya untuk menjalankan bisnisnya.


"Para budak dan senjata, sebagian tersita oleh pemerintah. Kali ini kita rugi besar." Antonio memberitahu jika penjualan budak dan senjata mengalami kegagalan. "Aku hanya berhasil menyelamatkan sedikit."


Alejandro terlihat tenang, tetapi kedua tangannya terkepal kuat, menandakan jika pria itu sedang marah. "Siapa yang berani mengusik ku?"


"Itu karena kau menolak untuk membayar upeti lebih pada tuan Jakson." ucap Antonio. "Sepertinya dia memberitahu pihak pemerintah tentang peradangan itu."


"Sialan, Jakson! Dia meminta upeti hampir setengahnya."


"Ya dia sangat keterlaluan." Antonio membernarkan jika tuan Jakson sangat keterlaluan meminta upeti. Tugas pria itu hanya memberi jalan agar bisnis Ilegal milik Alejandro berjalan lancar.


"Bunuh Jakson! dia hanya tikus pengganggu." perintah Alejandro. Salah satu cara untuk menyingkirkan benalu adalah membinasakannya. Alejandro tak segan untuk membunuh orang yang menghalangi langkahnya.


"Masalahnya, sekarang ini tuan Jakson mempunyai perlindungan dari pemerintah. Dia sudah bersekutu dengan pemerintah untuk menumpaskan perdagangan Ilegal."

__ADS_1


"CK!" Alejandro berdecak. Ia harus memikirkan cara untuk menyingkirkan Jakson agar perdagangannya tidak mengalami kesulitan. Hanya mengandalkan perkebunan dan pabrik anggur, pendapatannya tidaklah besar.


"Hanya satu cara, kau bisa bebas mengendalikan pemerintahan." ujar Antonio memberi solusi.


"Apa?"


"Kau harus menjadi bagian keluarga pemerintah yang berkuasa."


"Jelaskan maksud mu!"


"Saran ku, kau nikahi saja putri walikota. Dan kau akan mendapatkan jalan lebih mudah tanpa harus membayar upeti lebih. Kau juga bisa menyingkirkan Jakson melalui tuan Thompson." jelas Antonio.


"Akan aku pikirkan." balas Alejandro. Menikah bukan perkara yang mudah bagi Alejandro yang ingin selalu menjadi pria bebas. Apalagi menikahi putri walikota, ia akan terjebak oleh hubungan dengan wanita yang tidak ia cintai.


"Jangan terlalu lama memikirkannya, banyak pria seperti mu yang ingin menikahi putri walikota. Itu akan sangat menguntungkan."


"Ya, aku mengerti."


***


Emma sedang berada dalam kamar Isabella, kedatangannya kali ini membawa sebuah gaun cantik berwarna broken white, begitu seksii dikenakan oleh Isabella.


Isabella tersenyum tipis. Gaun yang saat ini ia kenakan begitu terbuka di bagian depan dan punggungnya, dengan bawahan yang bermekaran jika tertiup angin. Meski gaun itu panjang sampai mata kaki, tapi terdapat dua belahan panjang di samping kanan dan kiri. Tentu Alejandro ingin melihatnya dan meminta dirinya menggoda layaknya jallang dengan pakaian ini.


"Rambut mu bagus kalau di gerai seperti ini, kau tinggal menambah hiasan di rambut ini." Emma menyelipkan jepitan rambut berbentuk kupu-kupu. "Ini sempurna.."


Isabella terkekeh. "Kau terlihat seperti Nyonya di rumah bordil yang mau menjual ku."


"Kau ini bicara apa, aku hanya menjalankan tugas ku."


"Ya.. ya.. aku mengerti. Jadi ini sudah selesai kan? aku harus kembali bekerja, teman-teman ku akan curiga kalau aku tidak lama terlihat."


"Ya, ini gaunnya sudah pas di tubuh mu." kata Emma.


"Tolong.. tolong aku.." teriakan seorang wanita terdengar. "Tolong!!"


Emma dan Isabella saling melirik, lalu keduanya melangkah ke jendela untuk melihat apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Hulsa!!!" teriak Isabella.


Hulsa yang sedang bekerja di peternakan, bertugas untuk memandikan kuda. Wanita itu tidak tahu jika yang sedang ia mandikan itu adalah kuda liar, yang beberapa hari lalu di bawa oleh bawahan Alejandro. Hulsa tidak sengaja melepaskan tali kekang dari tiang. Ia malah ikut terseret. Tangannya terjebak di tali pengikat.


"Kenapa mereka semua diam saja!" banyak orang yang melihat, tetapi tidak ada satupun yang berniat untuk menolong Hulsa. Hanya Sergio yang terlihat ikut mengejar Hulsa. Namun pria itu tidak bisa berbuat banyak, karena tidak bisa menunggangi kuda.


Isabella segera berlari, ia harus menolong Hulsa secepatnya, bisa mati temannya di seret kuda.


"Isabel!" seru Emma mencegah.


"Diam kau, Emma. Aku harus menolong Hulsa."


Emma hanya bisa menggelengkan kepala, ia tidak menghentikan Isabella yang hendak menolong temannya.


Tanpa alas kaki, Isabella berlari cepat menuju salah satu kuda yang memang telah siap, tidak perlu lagi mengeluarkannya dari kandang. Wanita itu tidak peduli dengan tatapan yang mencecarnya.


"Astaga, dia cantik sekali.. siapa wanita itu?"


Isabella yang memang pandai berkuda segera menghentakkan kaki serta menarik tali kekang kuda supaya berlari cepat mengejar Hulsa. Temannya itu sudah terseret jauh. "Hulsa!"


"Tolong aku! tolong!" teriak Hulsa. Tubuh gempalnya berulang kali terbentur oleh tanah yang tidak rata.


"Hulsa, lepaskan talinya!" teriak Isabella.


"Aku tidak bisa, tangan ku terikat."


Semua mata mengalihkan pandangannya pada wanita cantik dengan rambut indah yang sedang menunggangi kuda. Gaunnya yang melambai, meriapriap karena tertiup angin, menambah kecantikan wanita itu.


Tidak terkecuali dua pria tampan yang sedang berbincang di atas balkon. Mereka melihat kepiawaian Isabella dalam menunggangi kuda.


"Siapa dia?" gumam Antonio yang mengangumi seorang wanita pandai menunggangi kudanya.


"Dia hanya budak." jawab Alejandro tanpa mengalihkan tatapannya pada Isabella. "Sial! dia malah memakai gaun itu di depan banyak orang!"


"Dia sangat cantik dan seksii." ucap Antonio. "Apa benar dia hanya budak?" Antonio tidak percaya jika ada budak secantik itu.


Alejandro mengangguk tanpa bersuara. Ia sibuk mengamati Isabella yang bersusah payah menolong budak lainnya.

__ADS_1


"Aku ambil budak itu. Sepertinya dia pantas di jadikan wanita ku." gumam Antonio yang menginginkan Isabella.


Alejandro beralih menatap tajam Antonio. "Langkahi dulu mayat ku!"


__ADS_2