
Isabella menyerah karena Alejandro terus memaksanya berada satu kamar dengan pria itu.
"Jangan cemberut begitu... kau lebih cantik jika tersenyum." Alejandro tak hentinya menggoda sang istri. "Sudah seharusnya kau ini tidur bersama ku. Aku kan suami mu." tentu ada tujuan di balik itu semua. Yang pasti Alejandro ingin terus berduaan.
Isabella mencebik. "Kau pasti berniat buruk terhadap ku." tuduhnya. Terlihat jelas sekali di wajah pria mesum itu! suaminya ini pasti akan mencari kesempatan dalam keadaan! Isabella tahu apa yang sedang di rencanakan Alejandro.
"Astaga! kau menuduh ku. Mana mungkin aku berbuat jahat pada mu." Ya memang tidak akan berbuat jahat, tapi berbuat sesuatu yang pasti sangat menyebalkan bagi Isabella.
Berdua di ruangan yang sama? oh ayolah! Alejandro ini pria yang tidak bisa menahan gairahnyaa ketika bersama Isabella. Mana mungkin berdiam diri seperti patung saat melihat tubuh molek sang istri.
"Aku tidak menuduh! wajah mu sudah terlihat ingin memangsa ku!" ucapnya begitu sinis.
Alejandro tertawa. "Kau tahu saja. Aku memang ingin menerjang mu saat ini juga kalau kau memperbolehkannya."
"Tidak akan!"
"Ya.. ya.. aku tidak akan memaksa." balasnya. "Tapi mencuri sedikit. Eh.. aku ini suaminya, dia itu milik ku. Mana ada curi mencuri!" batinnya bergumam.
"Kau sedang berpikir apa?" Isabella menyipitkan matanya, mencurigai suaminya. "Awas saja kalau kau macam-macam pada ku! aku akan memberi tahu nenek dan paman ku!"
"Astaga, sayang! aku tidak akan macam-macam!" mendengar kedua nama orang itu. Bulu kuduk Alejandro merinding. Elizabeth, wanita tua tapi sorot matanya mampu menunjukan adanya kekejaman di dalamnya. Sedangkan Edgar, pria yang mampu menghancurkannya dalam satu kali tepukan. Tak kalah kejam dari Elizabeth.
"Nona, air pemandian sudah siap." Emma datang menyela. Kebetulan pintu kamar itu tidak tertutup.
"Terimakasih Emma." balasnya. Sebelum beristirahat, Isabella ingin membersihkan tubuhnya lebih dulu agar lebih nyaman.
"Boleh aku bergabung? kita mandi bersama." senang sekali kalau ia bisa ikut serta mandi bersama Isabella. Hal menyenangkan pasti ia dapatkan.
Isabella menoleh, matanya sudah melotot galak. "Jangan harap!"
"Huft.. galak sekali!" melihat begini, tatapan Isabella sedikit mirip dengan Elizabeth. "Jangan sampai istri ku mirip seperti nenek tua itu." gerutunya dalam hati. Bisa-bisa seumur hidup dirinya akan berada dalam tekanan sang istri yang galak.
***
Malam harinya Isabella bergabung di meja makan bersama keluarga itu, tentu Nyonya Seren dan Katty ada di sana.
"Makan yang banyak, aku tidak mau kau kurus dan kekurangan gizi. Bisa di penggal suami mu ini oleh nenek Elizabeth." kata Alejandro. Pria itu begitu perhatian mengambilkan makanan ke piring Isabella.
"Ini terlalu banyak, aku bisa gendut!"
__ADS_1
"Justru bagus, itu tandanya kau terlihat lebih bahagia bersama ku."
"Kau ingin aku gendut?" tanya Isabella dan Alejandro mengangguk. "Lalu kau akan melirik wanita seksi di luar sana?"
Alejandro terkesiap. "Bukan begitu maksud ku.." ia menghela. "Aku serba salah bicara apapun.."
"Kau memang salah! semua yang kau lakukan salah!" seru Isabella. Kekesalannya pada Alejandro tidak pernah surut. Dimata Isabella, apapun yang dilakukan Alejandro tetap salah.
"Ya.. ya.. aku mengalah." ucapnya pasrah. "Lebih baik kita lanjutkan makannya."
Nyonya Seren dan Katty saling melirik. Mereka tak menyangka Alejandro begitu lemah pada Isabella. Seperti bukan Alejandro yang dulu, Arogan dan kejam.
Selesai makan malam. Antonio datang untuk menyambut kepulangan Alejandro.
"Hai bung.. akhirnya kau kembali juga."
"Kenapa? kau merindukan aku?" balas Alejandro.
"Sialan! aku masih tertarik dengan wanita!" Antonio meninju bahu Alejandro. "Aku lelah mengurus pekerjaan sendirian. Kau malah bersenang-senang dengan tunangan mu."
"Catalina bukan lagi tunangan ku."
Alejandro mengedikan bahu. Sedari awal Antonio sudah tahu tujuannya mengikat gadis itu. Bukan karena ada rasa.
"Baiklah.. aku tidak akan ikut campur mengenai hubungan asmara mu." katanya. Pria itu lalu bertepuk tangan untuk memanggil bawahannya. "Bawa masuk!" serunya.
"Kau mau apa?" tanya Alejandro penasaran.
"Aku akan memberimu hadiah. Aku pikir semenjak wanita kesayangan mu menghilang, kau tidak tangguh lagi. Aku khawatir milik mu tidak bisa berdiri lagi." ucapnya begitu santai.
"Apa maksud mu?" sedikit kesal mendengar ejekan Antonio. Dirinya itu masih sangat perkasa! mana mungkin mendadak lemah!
Antonio tersenyum lebar. Bersamaan dengan itu, empat wanita datang menghampiri kedua pria itu. Cantik dan seksi tentunya. "Bagaimana? cantik cantik kan? kau pilih salah satu untuk menemani mu malam ini."
"Kau..." kemarahan Alejandro tertahan tatkala pandangannya bertemu dengan Isabella. Gawat!
"Sayang! ini bukan aku. Antonio yang memanggilnya. Aku sama sekali tidak tahu." buru-buru Alejandro mengejar Isabella. Ia tidak mau ada kesalahpahaman.
Antonio menoleh, ia tidak tahu apapun dengan situasi sekarang. "Isabella sudah ketemu?" gumamnya.
__ADS_1
Tatapan membunuh ia berikan kepada teman laknatnya. "Bajingann! pergi kau!" umpatnya. Belum juga mereda kemarahan sang istri, ini malah ditambah lagi. Dasar Antonio sialan!
"Aku harus kabur! bisa mati aku!" Antonio bergegas pergi membawa serta wanita sewaannya.
"Sayang, aku bisa jelaskan." Alejandro terus mengekori Isabella.
"Aku tidak butuh penjelasan mu!" jawabnya ketus.
"Itu ulah Antonio. Aku tidak memanggil para wanita itu." jelasnya. "Aku bersumpah! aku tidak lagi bermain dengan wanita lain setelah kau pergi." ucapnya jujur.
"Kau pikir aku peduli? terserah kau mau berbuat apa!" lagi-lagi Isabella acuh. Tapi Alejandro tahu kalau istrinya itu marah padanya.
"Kalau kau tidak percaya, tanya saja orang yang ada di rumah ini. Aku tidak lagi bermain-main dengan wanita. Aku sudah berubah! milik ku sudah lama menganggur semenjak kau pergi. Sumpah!"
"Aku bilang tidak peduli!" seru Isabella. Wanita itu terus melangkah menuju kamar.
"Markus!" Alejandro memanggil Markus yang kebetulan sedang lewat. "Sayang kau bisa bertanya pada Markus."
Markus segera mendekat. "Ada apa tuan?"
"Markus, jawab pertanyaan ku." katanya. Markus sedikit bingung, tapi ia mengangguk saja. "Selama Isabella pergi, aku tidak pernah lagi memanggil wanita kan? jawab jujur. Katakan pada istri ku aku tidak pernah bermain dengan wanita lain."
Markus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tuan bilang aku harus jujur." ia membatin.
"Jawab jujur Markus!" sentak Alejandro.
"Emm.. tapi bukannya tuan pernah satu kali memanggil wanita? seingat ku tuan pernah menyuruh ku mencari wanita." jawabnya polos. Katanya harus jujur, ya Markus menjawabnya dengan jujur.
Alejandro mendelik. "Sialan kau!" ia menendang kaki Markus. "Aku memang menyuruh mu, tapi aku tidak jadi menidurinya! " serunya kesal. Bukannya jawab saja tidak, malah berkata yang tidak-tidak! Isabella pasti semakin marah padanya.
"Kalau itu aku tidak tahu. Tuan kan membawanya ke kamar."
Astaga Markus!
Sudah cukup Isabella mendengarnya. Wanita itu memilih pergi. Alejandro sialan!
"Sayang! itu tidak benar." Alejandro mengejar Isabella. Ia menoleh lalu menatap nyalang tangan kanannya yang tidak berguna. "Awas kau Markus! ku bunuh kau!"
"Sayang! Markus bicara asal. Kau jangan percaya pada pria botak itu!"
__ADS_1