Budak Tuan Alejandro

Budak Tuan Alejandro
Keinginan Elizabeth


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, tak terasa Isabella sudah pergi begitu lama, tidak ada titik terang untuk menemukan wanitanya. Kehidupan Alejandro harus terus berjalan, meski harinya terasa hampa.


Alejandro mulai kembali membangun bisnis ilegalnya yang sempat terbengkalai, karena pria itu terlalu fokus mencari sang kekasih hatinya.


"Tuan, ada kabar dari tuan Thompson. Beliau menanyakan tentang keseriusan anda meminang nona Catalina." ujar Markus memberitahu jika ada orang suruhan keluarga Thompson yang meminta kejelasan atas hubungan Alejandro dengan Catalina.


"Nanti aku akan menemuinya." jawab Alejandro. Pria itu sudah menunda pernikahannya dengan Catalina. Tuan Thompson ingin pernikahan putrinya disegerakan.


"Baik tuan." balas Markus. "Wanita yang tuan inginkan sudah menunggu." ujar Markus.


Alejandro seorang pria dewasa, ia butuh pelepasan hasrattnya. Isabella sudah begitu lama hilang, ia akan mencoba wanita baru untuk memuaskannya.


"Hem.." untuk pertama kalinya, ia akan menggaulii wanita setelah Isabella pergi.


Alejandro beranjak, ia akan menuju ruangan dimana dulu, pertama kalinya ia merasakan seorang gadis perawan, Isabella.


Pintu kamar terbuka lebar, Emma yang membantu menyiapkan wanita tersebut. Setelah itu, Emma undur diri.


Alejandro melangkah mendekat. Wanita di hadapannya tersenyum menggoda. Layaknya jallang, wanita setengah tellanjang itu berjalan sembari meliukkan tubuh sintalnya.


Alejandro berdiri tegak, ia membiarkan wanita panggilan itu memulai pekerjaannya. Namun saat jemari lentik itu ingin membuka jubah yang di kenakan Alejandro, pria itu menyentaknya kasar.


"Tuan.." wanita itu terkesiap. "Bisa aku mulai?" tanyanya.


Alejandro memejamkan matanya, ia berusaha menghilangkan bayangan wajah cantik Isabella. "Hem."


Wanita jallang tersebut memulai, merabaa, meremmat dada kekar sang tuan. Target selanjutnya adalah bibir Alejandro. Wanita itu ingin sekali mengecup dan melummatnya. Baru saja mendekat, Alejandro kembali menghempas wanita itu.


"Arrggghhhh.." bahkan sampai terjungkal di lantai.


"Keluar!!!" teriaknya. Sungguh! Alejandro tidak bisa melakukannya. Wajah Isabella selalu saja memenuhi pikirannya.


"Emma!!!!" Alejandro memanggil pelayannya. Emma bergegas masuk, ia setia menunggu di depan pintu. "Bawa dia keluar!"


"Baik tuan." Emma membantu wanita itu berdiri, lalu membawanya keluar kamar.


"Isabella..." lirih Alejandro. Pria itu sangat merindukan Isabella!

__ADS_1


***


Jordan menepati janjinya, setelah sekian lama membujuk Isabella agar mau berlibur keliling kota. Pria itu tidak tahu jika Isabella enggan keluar dari kawasan rumah keluarga Smith dikarenakan wanita itu takut ditemukan oleh Alejandro.


"Akhirnya kau mau keluar juga bersama ku." Jordan tak henti menatap wajah Isabella. Semakin hari pria itu semakin menginginkan Isabella.


Isabella tersenyum, "Itu karena aku bosa kau selalu memaksa ku." ia mengerucutkan bibirnya. Hal itu malah membuat Isabella terlihat semakin menggemaskan di mata Jordan.


"Aku heran, apa yang kau takutkan? di jalan tidak ada bandit yang akan melukaimu, ada aku dan pengawal yang akan menjagamu." ujar Jordan.


"Ya aku tahu. Aku hanya tidak ingin keluar saja. Tapi sekarang aku sudah ada di luar bersama mu." ucapnya.


"Berhenti menatap ku, Jordan!" seru Isabella yang menyadari jika lelaki yang setiap harinya bisa membuatnya tertawa itu menatapnya dengan intens.


Jordan tertawa. "Dunia ku teralihkan oleh wajah cantik mu, Isabella." ia tanpa ragu mengatakan rasa kagumnya. Jordan memang pintar menggombal. Pria itu sudah terang-terangan melamar Isabella. Tetapi wanita yang ia pinang menganggapnya hanya candaan.


Isabella tersenyum. "Jangan membual pada ku. Aku tidak akan mudah terayu."


"Ya aku akui, kau memang sulit aku rayu. Aku ini kurang apa sih? aku ini memiliki wajah tampan tapi kau sama sekali tidak tertarik pada ku." Jordan mengatakan itu dengan mimik wajah yang di buat memelas.


"Bicara apa kau ini." Isabella menggelengkan kepala. "Kau sudah ku anggap teman ku." ujarnya.


Isabella terdiam, lalu membalas tatapan Jordan. "Masih banyak gadis di luar sana yang pantas bersanding dengan mu. Tetapi bukan aku." bagaimana bisa dirinya yang dulu pernah menjadi budak menikah dengan pria bangsawan yang memiliki hati baik seperti Jordan ini? Isabella merasa tidak pantas.


"Akh, kau menolak ku lagi." Jordan mendengus. "Tidak apa, aku tidak akan menyerah. Walaupun harus melamar mu berulang kali." ia tertawa untuk menutupi kekecewaannya.


"Jordan.." lirih Isabella yang merasa tak enak hati.


Jordan tertawa. "Jangan menunjukkan wajah manis mu itu. Aku semakin terpesona melihatnya."


"Ish! kau ini." Isabella menepuk dada Jordan.


"Ahh.." Jordan segera mengenggam tangan Isabella yang mendarat di dadanya, pria itu mengambil kesempatan. "Sepertinya aku sudah terpanah oleh api asmara mu." ia terkekeh saat mengatakan itu. Wajahnya begitu menyebalkan di mata Isabella. Jordan ini seperti tidak ada lelahnya terus merayu.


"Jordan, lepaskan tanganku." pinta Isabella.


"Sayang sekali, tangan ku ini bisa menggenggam mu untuk berjalan ke masa depan yang cerah dan bahagia." selorohnya sembari melepaskan tangan Isabella.

__ADS_1


"Sudah Jordan! jangan terus membual." ucapnya.


"Baiklah.."


"Jordan, aku lapar. Dari tadi belum sampai juga." Isabella cukup heran, kemana Jordan akan membawanya pergi? sedari tadi masih belum sampai juga.


"Oh.. maafkan aku. Di depan kita akan berhenti jika menemukan kedai." ujarnya. Asik memandangi wajah Isabella, Jordan menjadi lupa, pujaan hatinya itu sampai kelelahan dan merasa lapar.


***


"Edgar, bagaimana menurut mu? apa Kau setuju jika ibu menjodohkan Jordan dengan Isabella?" Elizabeth bertanya pada putranya mengenai hubungan Jordan dan Isabella.


"Aku setuju saja. Jordan pria yang baik. Tapi belum tentu Isabella mau menerimanya." sebagai seorang teman, Edgar tahu betul jika Jordan laki-laki yang baik.


"Begitu ya? ibu pikir mereka sering bersama karena sudah saling menyukai." pikir Elizabeth. Pasalnya hampir setiap hari Jordan menemui Isabella. Entah sengaja atau tidak, tapi Jordan seperti mencari kesempatan untuk menemui Isabella. Dengan alasan klise, ingin menemui Edgar misalnya.


Edgar terkekeh. "Setau ku Jordan memang menyukai Isabella. Dia sangat menginginkan Isabella. Sudah beberapa kali mengutarakan niatnya pada ku."


"Benarkah?" Elizabeth terkejut. "Kenapa tidak bilang pada ibu?"


"Biar Isabella sendiri yang memutuskan pilihannya. Aku tidak mau memaksa." ujar Edgar. Suatu perasaan tidak bisa dipaksakan. Apalagi untuk menjalin hubungan serius seperti pernikahan.


"Menurut ibu, Isabella juga menyukai Jordan. Kalau tidak, mana mau Isabella berlibur bersama Jordan." Elizabeth tersenyum, ia senang mendengar jika Jordan pun menyukai cucunya. "Aku harus berbicara dengan keluarga Felipe."


"Bu, jangan terburu buru. Tanyakan dulu pada Isabella." saran Edgar.


"Ya, nanti ibu tanyakan." Elizabeth akan menjodohkan mereka berdua. Jika belum ada cinta, masih ada waktu untuk menumbuhkannya, seiring kebersamaan Jordan dan Isabella.


"Oh iya, di mana Luke? ibu belum melihatnya seharian ini?" Elizabeth menanyakan keberadaan cucunya.


"Sedang bersama pelayan Isabella."


Elizabeth mengerutkan keningnya. "Aneh sekali, biasanya putra mu itu tidak suka berdekatan dengan orang baru." katanya. Edgar hanya mengedikan bahu.


"Edgar, kau undang keluarga Felipe untuk makan malam di rumah kita."


"Bu.." sela Edgar.

__ADS_1


"Hanya makan malam, bukan apa-apa. Jangan khawatir."


"Baiklah.."


__ADS_2