
Isabella tidak menyangka, ia akan kembali ke rumah yang banyak sekali menorehkan kenangan buruk. Masih teringat jelas di memori ingatannya, saat pertama kali datang dan diminta untuk melayani seorang laki-laki berkuasa nan arogan. Itu sangat menyakitkan hati serta fisiknya.
Isabella terdiam, langkahnya berat sekali untuk masuk ke dalam rumah pria yang sekarang sudah berstatus sebagai suaminya.
Seolah tahu apa yang Isabella pikirkan, Alejandro mendekat lalu menggenggam tangan Isabella. "Semua sudah berlalu, maafkan aku. Aku janji akan membahagiakan mu dan tidak akan lagi menyakiti mu. Hanya ada senyuman di wajah mu untuk saat ini dan seterusnya." Alejandro berjanji tidak akan memperlakukan Isabella dengan buruk seperti masalalu. Ia tidak akan membiarkan Isabella meneteskan air mata karena kesedihan.
"Aku kembali ke kandang monster..." ucapnya tanpa menoleh apalagi membalas tatapan lembut dari Alejandro.
Alejandro menghela, tidak mudah untuk meluluhkan hati sang wanitanya. Tapi ia akan berusaha sampai Isabella kembali tersenyum manis padanya.
"Tuan.. Isabella..." Emma menyambut kedatangan majikannya. Wanita itu terkejut mendapati Isabella. Rupanya sang tuan berhasil menemukan wanita kesayangannya, pikir Emma.
"Sayang, ayo kita masuk." Alejandro menggiring Isabella untuk masuk. Kali ini Isabella menurut.
Seluruh penghuni rumah besar itu di kumpulkan. Alejandro akan mengumumkan pernikahannya dengan Isabella.
"Aku telah menikahi putri dari keluarga Smith." kata Alejandro. Semua menyimak kalimat yang keluar dari mulut tuannya. Sebagian besar tahu siapa itu keluarga Smith. Keluarga bangsawan yang satu tingkat lebih rendah dari keluarga kerajaan.
Alejandro mengulurkan tangannya untuk menggenggam Isabella. "Dia Isabella Smith. Dialah istri ku." lanjutnya.
Nyonya Seren dan Katty tentu terkejut mendengarnya. Bukankah Alejandro akan menikahi putri keluarga Thompson? lalu bagaimana bisa ia menikahi putri keluarga Smith. Dan apa ini? kenapa Isabella? banyak pertanyaan yang bersarang di otak kedua perempuan itu.
__ADS_1
"Isabella Smith adalah putri dari Anne Smith." ucapnya.
Pengumuman itu memberitahu secara tidak langsung, bahwa Isabella pemilik kedua rumah besar ini. Orang kedua yang harus mereka hormati dan berkuasa setelah tuan Alejandro.
"Bagaimana bisa? dia hanya seorang budak!" seru Nyonya Seren. Rupanya wanita itu tidak percaya begitu saja. Jelas-jelas wanita yang sedang di bicarakan sebagai nona keluarga Smith hanyalah budak yang pernah tinggal di rumah ini.
"Jaga bicaramu! kau bisa di penggal oleh pengawal keluarga Smith karena sudah menghina keturunannya." tatapan nyalang mampu membungkam mulut nyonya Seren. "Justru di sini kau yang hanya seorang budak. "
"Ale! dia ibu ku!" Katty tidak terima ibunya dihina di depan banyak orang.
"Aku tahu, kau pun keturunan budak. Darah bangsawan hanya setengah yang mengalir di tubuh mu. Kau harus bersyukur." sebenarnya Alejandro tidak membenci adik perempuannya. Bagaimanapun juga mereka satu ayah. Tapi Nyonya Seren selalu saja menanamkan kebencian diantara mereka berdua.
"Ale, dia adik mu." Isabella memperingati. Ucapan Alejandro sudah keterlaluan pada adik perempuannya.
"Lebih baik kita istirahat. Kau pasti lelah." kata Alejandro.
Emma mengantar Isabella ke kamarnya. Dan Isabella mengikuti langkah Emma yang sudah memandunya menuju kamar.
"Emma, mau kau bawa kemana istri ku!" seru Alejandro.
Emma berbalik, lalu menunduk hormat. "Aku akan mengantar nona Isabella ke kamarnya." bukannya sudah menjadi tugasnya untuk melayani wanita tuan Alejandro? tentu Emma masih mengingat dimana letak kamar Isabella.
__ADS_1
Alejandro berdecak sebal. "Dia istri ku! sudah seharusnya berada di kamar ku!" semburnya.
Emma terkesiap, ia pun baru menyadarinya. "Maaf tuan."
"Aku tidak mau satu kamar dengan mu!" seru Isabella. "Emma, bawa aku ke kamar yang dulu."
"Sayang, kamar mu itu bersama ku. Kita ini suami dan istri. Harus satu kamar!"
"Aku tidak mau!"
"Harus mau!"
Emma bingung sendiri, dua majikannya itu malah asik bertengkar soal menempati sebuah kamar. Bukannya mereka butuh istirahat? apa tidak lelah bertengkar karena hal sepele?
***
Hulsa dan Sergio tidak lagi di tempatkan di bagian para budak. Mereka berdua memiliki kamar yang lebih layak dari sebelumnya.
"Ini kamar mu." ucap Markus yang mengantar Sergio ke kamar yang dikhususkan untuk pengawal dan pekerja pria.
"Terimakasih tuan." balasnya. Bertemu dengan Isabella nyatanya sebuah keberuntungan baginya. Kali ini hidup Sergio akan jauh lebih baik. Isabella yang mengatakan itu saat di perjalanan pulang. Setidaknya ia tidak lagi menjadi budak yang bekerja tanpa mendapatkan upah.
__ADS_1
Bukan hanya Sergio, Hulsa pun sama. Ia akan bekerja sebagai pelayan di rumah ini. Gadis itu tidak lagi merasa takut ketika menginjakkan kakinya di rumah ini lagi. Ada Isabella yang akan melindunginya. Beruntung memiliki teman yang baik seperti Isabella.