
Alejandro membawa Isabella berlibur di salah satu rumahnya yang terletak di desa kecil. Siang hari mereka baru sampai.
"Tuan, dimana ini?" di sekitar rumah yang mereka tinggali penuh dengan hamparan rerumputan, Isabella juga bisa melihat sungai di bawah sana.
"Isabel, hati-hati! jangan terlalu dekat di tepi." seru Alejandro, menarik pinggul wanitanya agar menjauh dari tebing. "Ini rumah persembunyian ku. Hanya kau yang pernah aku bawa ke rumah ini." ucapnya.
Entah harus merasa senang atau tidak, Isabella menjadi orang pertama yang singgah di rumah rahasia Alejandro. "Di sini indah, udaranya pun sangat sejuk."
"Maka dari itu aku membawa mu ke tempat ini. Kau pasti senang."
"Terimakasih tuan."
"Aku lapar! kau bisa membuatkan sesuatu untuk ku?"
"Tunggu, aku akan membuat makanan untuk kita." Isabella masuk ke dalam rumah. Di dalam tidak ada persediaan makanan apapun. Hanya tersisa bekal yang sempat mereka beli di perjalanan. "Tuan istirahatlah dulu, aku akan mencari bahan makanan."
"Oke!" balasnya. "Isabel, kau tidak akan kabur dari ku kan?" Alejandro waspada, mereka kini tengah di luar kawasannya. Mudah bagi Isabella untuk kabur darinya.
"Aku hanya pergi ke rumah terdekat. Aku belum cukup mempunyai bekal untuk kabur dari mu." jelas Isabella.
"Kau berniat kabur dariku?" dari ucapan Isabella, terdengar jelas wanita itu berencana untuk kabur darinya.
Isabella mengangguk. "Cepat atau lambat, kau pasti melupakan ku jika bertemu dengan gadis baru. Saat itu aku akan pergi. Tolong bebaskan aku.." katanya.
"Isabel! kau berani membangkang lagi padaku?' Alejandro tidak suka mendengar Isabella ingin kabur darinya.
Isabella tertawa. "Aku hanya bercanda! mana mungkin aku melepaskan pria tampan seperti mu. Aku sudah terjerat pesona mu, tuan." lebih baik ia mengelak. Isabella terlalu bodoh untuk mengakui rencananya. Bisa-bisa ia terkurung dan mendapatkan perlakuan buruk lagi.
Alejandro menghela lega. "Aku pikir sungguhan! jangan pernah berpikir lari dari ku, Isabel!" seru Alejandro mempertegas. "Kau milik ku, selamanya kau tetap milik ku! ingat itu."
Isabella tertawa. "Kau berniat hidup bersama ku, tuan? Menikah dengan ku, begitu?" selorohnya. Bagaimana bisa Alejandro mengumandangkan ingin dirinya tetap di samping pria itu. Kehidupan Alejandro terus berjalan, dan mungkin akan menikah untuk mendapatkan keturunan.
"Jangan bermimpi, Isabella. Kau hanya seorang budak. Aku tidak akan menikahi seorang budak." seru Alejandro.
Isabella terkesiap, ia menghentikan tawanya. Kalimat yang keluar dari mulut Alejandro benar-benar menyakitinya. Untuk apa ia meminta tetap disisinya? jika Alejandro tidak berniat untuk menjadikannya pasangan hidup.
"Tenang saja, walaupun aku tidak menikahi mu. Kau akan terus di samping ku." ujarnya.
"Aku mengerti." Isabella berkata lirih.
"Kau akan terus berbicara, Isabel? aku sudah sangat lapar."
Isabella bergegas keluar. Pikirannya di penuhi dengan keinginan untuk melarikan diri. Tapi ia ragu. Isabella ingin kabur dengan membawa serta ibunya agar mereka berdua selamat dari ancaman Alejandro.
__ADS_1
"Kalau aku kabur sekarang, pasti ibu ku akan menjadi sasaran." gumam Isabella. Otaknya berfikir keras. Isabella semakin ingin lepas dari jeratan Alejandro. Pria itu hanya akan menganggap dirinya seorang wanita pemuass. Memanggilnya jika diperlukan dan akan diabaikan jika Alejandro bersama keluarganya, kelak. "Sebaiknya aku memindahkan ibu ku di tempat aman lebih dulu, baru aku bisa kabur dari tuan Ale."
***
"Catalina, apa kau sungguh menerima lamaran Ale?" Katty penasaran dengan gadis yang di bawa oleh Alejandro. Catalina mengaku jika Alejandro telah meminangnya.
"Kita telah bertunangan. Untuk menikah, mungkin tahun depan." jawab Catalina.
"Oh.. begitu?" Katty mengangguk mengerti.
"Dimana Ale? aku tidak melihatnya dari pagi?" Catalina awalnya menolak perjodohan orang tuanya. Namun setelah melihat ketampanan Alejandro, Catalina berubah pikiran. Lagipula pria yang ia sukai terus mengabaikannya. Bahkan William terus menghindarinya jika Catalina datang berkunjung ke rumah pria itu.
"Ale sibuk bekerja. Dia pria yang giat bekerja. Kau beruntung akan menikahi kakak ku." Katty berusaha mendekatkan diri agar Catalina ada di pihak mereka. Jika Catalina menjadi istri Alejandro, Katty dan Nyonya Seren tidak akan tersingkir.
Catalina tersenyum malu, ia merasa beruntung akan mendapatkan pria gagah seperti Alejandro. Pria dewasa, tampan, kaya dan penuh karisma.
"Alejandro yang tiba-tiba datang melamar ku. Ayah ku menyukai pria yang mapan." tentu tuan Thompson tidak menolak pinangan dari seorang Alejandro. Hidup Putrinya akan terjamin.
"Apa sebelumnya kalian sudah saling kenal?" tanya Katty.
Catalina menggeleng. "Aku sama sekali tidak mengenal Ale. Maka dari itu aku datang ke sini untuk mengenal lebih dekat dengan Alejandro." ujarnya. Keinginan Catalina tentu diijinkan oleh tuan Thompson. Catalina di temani beberapa pelayan untuk mengawasi Catalina saat di rumah Alejandro agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
"Rupanya Ale sudah mengagumi mu lebih dulu. Hanya saja dia tidak mendekati mu dan langsung meminta mu pada tuan Thompson." ucap Katty.
Catalina merasa bangga mendengar ucapan Katty. Ia senang, ternyata Alejandro sudah mengaguminya, entah dimana pria itu pernah melihatnya. "Sebenernya bukan hanya Ale saja yang diam-diam mengagumi ku." ucapnya percaya diri. "Banyak pria yang sudah meminang ku, tapi hanya pinangan Ale yang aku terima."
"Kau benar. Kami sangat cocok." ucap Catalina.
***
Isabella tidak seceria saat mereka tiba di rumah itu. Ia memikirkan betapa jahatnya Alejandro hanya menganggapnya budak. "Kau memang budak, Isabella! jangan berharap lebih pada pria seperti itu!"
Isabella merasakan pelukan hangat dari belakang yang melingkar di perutnya. Alejandro datang. "Kenapa melamun? memikirkan ku?"
Isabella mendengus. Percaya diri sekali pria itu! "Aku hanya sedang menikmati udara malam.. saat malam keindahan bukit ini menghilang, hanya ada kegelapan."
Alejandro menciumi tengkuk Isabella. "Kalau begitu kita masuk ke dalam. Udaranya sangat dingin."
Isabella menurut, ia melangkah bersama Alejandro masuk ke dalam. Perapian sudah menyala untuk menghangatkan.
"Isabel, sepertinya aku sudah kecanduan dengan tubuh mu." Alejandro terus merayapi tubuh Isabella dengan bibirnya. Tangannya bergerak menurunkan gaun yang di kenakan Isabella.
Hatinya membenci pria itu. Namun sentuhan Alejandro sulit dielakan. Isabella terhanyut oleh kenikmatan yang Alejandro berikan.
__ADS_1
"Isabella.. kau sangat cantik." Alejandro menatap lekat wajah cantik Isabella yang saat ini tepat di depannya. Pria itu melummat rakus bibir Isabella.
"Oh Isabel!" Alejandro merancau seiring pinggulnya bergerak liar di bawah sana.
"Tuan.." Isabella tidak mengerti, kenapa Alejandro terlihat begitu mengaguminya? yang hanya seorang budak? Apa hanya karena nafsuu kelelakiannya, sehingga mulut Alejandro terus memuji keindahannya?
Dasar pria! Isabella menebak jika Alejandro pun akan memuji semua wanita yang berada di kungkungan pria itu. Wanita baru akan di puji, sedangkan wanita lama akan di lupakan.
Isabella sempat termakan oleh bualan Alejandro. Hingga ia merasa di cintai dan di sayangi, tetapi ucapan Alejandro menyadarkannya jika tuannya hanya membutuhkan tubuhnya.
Alejandro mengerang saat mencapai pelepasannya. Nafas keduanya memburu. Isabella kelelahan, ia berulang kali mendapat pelepasan. Alejandro terus menghujamnya dalam waktu yang cukup lama.
"Terimakasih, sayang ku.." ucap Alejandro, mengecup kening Isabella.
Lagi-lagi Isabella di buat bingung. Ia tidak ingin terlena dengan sikap manis Alejandro.
"Aku menyukai mu. Dan tidak akan pernah melepaskan mu." Alejandro membawa Isabella masuk kedalam pelukannya.
Isabella mendongakkan kepalanya. "Apa maksud tuan?"
"Kau tetap akan di samping ku." ujarnya.
"Tuan sudah berulang kali mengatakannya. Aku memang akan bersama mu. Karena aku hanya budak yang tidak bisa lepas dari mu, tuan."
Alejandro mengangguk. "Sekalipun aku menikah dengan wanita lain. Aku pastikan, hanya kau wanita kesayangan ku."
"Tuan akan menjadikan ku wanita simpanan?" tanya Isabella.
"Apa itu sebutannya?" ia malah balik bertanya. "Aku tidak peduli apapun, yang aku inginkan adalah kau!"
Isabella tersenyum miris. Nasibnya sungguh sial! "Aku juga ingin bahagia, tuan. Memiliki suami dan seorang anak."
"Hei! apa yang kau bicarakan!" seru Alejandro kesal. Membayangkan Isabella dinikmati pria lain sungguh membuat hatinya terbakar. "Tidak ada pria lain yang boleh memiliki mu!"
"Aku akan menjadi wanita kesepian seumur hidup kalau begitu." lirih Isabella.
"Ada aku! kau tidak akan kesepian. Aku akan selalu mengingat mu."
"Tuan tidak adil padaku!"
"Ingat, Isabella.. kau budak, maka tugas mu hanya melayani tuannya."
"Tapi.."
__ADS_1
"Sudahlah.. jangan banyak bicara. Lebih baik, kita lanjutkan permainan selanjutnya. Aku ingin kau yang ambil kendali." ujar Alejandro, ia menaikan Isabella untuk duduk di pangkuannya. "Kau dan aku akan selalu indah, Isabella.."
"Oh.. Isabel! kau benar-benar nikmat!"