
Antonio tertawa mendengar ancaman Alejandro. "Apa dia adalah wanita mu?" tidak heran jika wanita cantik itu merupakan wanita kesayangan Alejandro.
Alejandro menghiraukan ucapan sepupunya itu, pandangannya fokus pada Isabella yang mencoba melepaskan tali agar temannya selamat.
"Sial!" umpat Alejandro saat Isabella malah mengejar kuda itu ke dalam hutan.
"Hei! kau mau kemana?" seru Antonio.
Alejandro bergegas menyusul Isabella dengan kuda lainnya. Isabella begitu konyol mengejar kuda yang belum jinak, itu akan membahayakannya.
Hulsa yang sudah terbebas dari jerat tali kini tengah di tolong oleh Sergio. Wanita itu tidak sadarkan diri dan banyak luka di sekujur tubuh Hulsa akibat goresan tanah dan batu keras.
Alejandro menarik tali kekang dan menghentakkan kakinya, kuda yang ditungganginya berlari cepat. "Isabel!" teriaknya.
Isabella hanya menoleh saat mendengar namanya dipanggil, tapi wanita itu tidak mau berhenti.
"Isabella! berhenti! kau sudah masuk jauh ke dalam hutan." seru Alejandro.
"Sial! merepotkan saja!" Alejandro kesal, ucapannya tidak di dengar. Pria itu terpaksa mengejar Isabella, menarik tali kekang agar kudanya berlari semakin cepat.
"Isabel, berhenti!"
"Aku harus mendapatkan kuda itu!" balas Isabella. Alejandro kini sudah berada tidak jauh darinya.
"Itu kuda liar, tidak mudah untuk menjinakkannya."
"Kau akan membunuh teman ku jika kuda itu hilang." balasnya. Hulsa sempat mengatakan, Isabella harus mendapatkan kuda itu kembali, karena nyawanya akan terancam. Menghilangkan seekor kuda, Hulsa akan mendapatkan hukuman, bisa juga kehilangan nyawanya.
"Berhenti! aku janji tidak akan menghukum teman mu."
"Kau bohong!" mana mungkin pria kejam seperti Alejandro akan memaafkan kesalahan seorang budak. Isabella masih teringat jelas ketika Alejandro memberi hukuman padanya, dan itu hampir merenggut nyawanya.
"Berhenti, Isabella! di dalam hutan sangat berbahaya, banyak binatang buas." Alejandro berusaha menghentikan Isabella agar tidak pergi semakin jauh.
Isabella baru menyadari sekeliling, ia sudah berada di tengah hutan. Pohon besar serta rumput liar yang tinggi menandakan jika hutan ini jarang di sentuh manusia.
Alejandro menghela lega. "Kau terus saja membangkang!"
"Kau berkata benar, tidak akan menghukum teman ku?" Isabella masih mencemaskan keselamatan Hulsa.
Alejandro mengangguk. "Ayo, cepat pergi dari sini."
"Baiklah.." nafas Isabella memburu, wanita itu kelelahan.
Diperjalanan mereka saling melirik, keduanya menunggangi kuda masing-masing, jalan beriringan.
"Kau hanya budak, lalu kenapa bisa berkuda?" Alejandro penasaran bagaimana bisa Isabella menunggangi kuda dengan sangat baik.
"Apa budak tidak boleh melakukan apapun? hanya diperbolehkan bekerja kasar?" sindirnya. Isabella berlatih kuda bersama Catalina sewaktu kecil hingga remaja, sebelum perilaku Catalina berubah padanya.
"Jawab saja pertanyaan ku. Tidak perlu banyak bicara dan menyindir!"
__ADS_1
"Aku beruntung memiliki tuan baik hati, dulu! tidak seperti sekarang, tuan ku sangat kejam!" Isabella melengos sinis.
Perjalanan cukup jauh untuk kembali ke rumah. Di pertengahan, kuda yang di tunggangi Isabella berhenti sendiri. Alejandro melihat bagian kaki kuda kesayangannya terluka, mungkin tergores ranting.
"Isabel! kau berani sekali menunggangi kuda ku!" Alejandro baru tersadar, Isabella menunggangi kuda kesayangannya.
Isabella terkesiap, "Aku tidak tahu ini kuda mu!"
"CK! dia terluka." Alejandro turun dari kuda. Ia meneliti luka itu. Cukup parah. "Turun!" perintah Alejandro.
Isabella merasa kasihan pada kuda itu. Ia mengelus kepala kuda dan berkata. "Maafkan aku."
Cuaca mendung, awan pun sudah menggelap. Sedangkan perjalanan ke rumah masih terlalu jauh, terlebih kuda satunya tidak bisa berlari cepat karena sedang terluka.
"Kita berhenti dulu, di dekat sini ada rumah kayu." ujar Alejandro. Ia harus beristirahat dan berlindung dari hujan yang sebentar lagi pasti turun. Tidak jauh dari mereka berada, ada sebuah rumah kayu yang biasanya di singgahinya saat berburu.
Alejandro naik kembali ke kuda, "Naik!" seru Alejandro sembari mengulurkan tangannya pada Isabella. Dengan ragu Isabella menerima uluran tangan itu.
Tiba di rumah kayu, hujan turun deras. Untung mereka sampai tepat waktu.
"Tangan mu terluka?" Alejandro melihat lengan Isabella yang membiru dan tergores.
"Oh.. aku tidak tahu, mungkin terluka saat menolong Hulsa." ucapnya sembari melihat luka di lengannya.
"Kau itu bodoh! menolong orang dan melukai dirimu sendiri."
"Dia teman ku, aku memang harus menolongnya." balas Isabella. "Aku bukan kau yang tidak berperasaan!"
Bisakah Isabella mendengar dan menurut saja?
Alejandro pergi menyalakan perapian agar mereka tidak kedinginan. Isabella hanya mengamati pergerakan Alejandro.
"Kemarilah!" perintah Alejandro.
Isabella mendekat, ia duduk di samping Alejandro.
"Tuan, tolong jangan hukum teman ku. Kau sudah berjanji dan tidak boleh mengingkarinya." Isabella berkata lagi, ia takut jika Alejandro berubah pikiran saat tiba di rumah.
"Kehilangan satu kuda tidak akan membuat ku melarat." balas Alejandro.
"Kehilangan satu teman akan membuat ku menderita." Isabella membalas cepat.
Alejandro tidak ingin membahasnya berulang kali. "Apa Emma sudah menemui ibu mu?" tanyanya.
Isabella tersentak. "Kenapa kau bisa tahu?"
"Emma bekerja dengan ku."
Isabella menggeram kesal. "Sialan kau, Emma!"
"Itu memang sudah tugas Emma, jangan marah padanya." ucap Alejandro yang bisa menebak kekesalan Isabella. "Aku mengijinkannya.."
__ADS_1
"Jangan sakiti ibu ku." sela Isabella.
"Kau sudah sedikit menurut pada ku. Aku tidak akan mengusik keluarga mu." jelasnya.
Dalam hati, Isabella bersyukur. Alejandro tidak akan mengusik kehidupan ibunya. Tapi tetap, Isabella enggan mengucapkan terimakasih pada pria kejam ini.
Alejandro memandangi wajah Isabella, ia mengelus pipi halus itu. "Kenapa kau selalu menggoda ku?" gumamnya. Kecantikan Isabella sungguh membuat Alejandro selalu menginginkannya.
Isabella membalas tatapan Alejandro. Ia menyelami manik coklat Alejandro, seakan terhipnotis, Isabella membiarkan Alejandro menyatukan bibir mereka. Kali ini, tanpa di pinta, Isabella membalas ciuman itu.
Cuaca yang dingin, serta hangat dari perapian membuat gairah keduanya terbakar.
"Apa aku sudah pernah bilang, kalau kau cantik?" ucap Alejandro saat melepas pagutan itu.
"Tapi aku hanya budak."
"Ya, aku tahu. Kau budak ku." Alejandro kembali menyatakan bibir mereka. Tangannya menggeser turun gaun dari pundak Isabella.
Ciuman Alejandro turun ke leher, lalu turun lagi ke bagian bawah. Isabella sungguh menikmati sentuhan itu. Jemarinya merematt kuat punggung Alejandro.
"Tuan.." Isabella mendessah nikmat.
Keduanya kembali larut dalam gelombang kenikmatan yang dahsyat. Alejandro melakukannya dengan lembut.
Isabella memandangi wajah Alejandro yang ada di atasnya. Sedangkan di bawah sana, Alejandro bergerak pelan.
"Kau sangat cantik, Isabel!" ucapnya. "Kau milik ku, hanya milik ku!"
"Tuan.." Isabella kembali mendessah tatkala gerakan Alejandro semakin cepat dan liar untuk mengejar kenikmatan.
Hujan mulai reda. Alejandro dan Isabella bergegas pulang ke rumah sebelum hari mulai malam.
Keduanya menaiki satu kuda. Sementara kuda satunya di tinggal, biar orang suruhan Alejandro yang akan mengurusnya.
"Kau lelah?" tanya Alejandro. Isabella mengangguk pelan. Ia bersandar pada dada Alejandro. Kedua tangan Alejandro berada di perut Isabella untuk mengendalikan tali kekang.
"Kau bisa istirahat setelah sampai." ucapnya. Isabella bisa merasakan, Alejandro memberikan kecupan di kepalanya.
Kedatangan Alejandro dari kejauhan sudah terlihat. Emma dan pelayan lainnya sudah siap menyambut kedatangannya.
Alejandro turun terlebih dahulu, kemudian ia membantu Isabella turun.
Emma bergegas menyelimuti Isabella. Pakaiannya cukup terbuka dan memperlihatkan tanda kecupan cinta di sekitar dada Isabella. Para pelayan yang terlanjur melihat hanya bisa mengulum senyum. Namun wanita yang mempunyai tanda itu tidak menyadarinya.
"Emma, bawa Isabel ke kamarnya." perintah Alejandro.
"Baik tuan."
"Kamar yang baru, Emma!" seru Alejandro ketika ia melihat Emma melangkah menuju kamar lama Isabella.
"Baik tuan."
__ADS_1