Budak Tuan Alejandro

Budak Tuan Alejandro
Serangan


__ADS_3

Jika kemarin kediamannya kedatangan tuan Thompson. Sekarang rumahnya kembali kedatangan tamu yang tak di undang. Paman dari Isabella itu berkunjung. Tentu saja untuk melakukan sidang dadakan. Melihat kehidupan Isabella layak atau tidak? bahagia atau menderita? Jika Isabella disia-siakan, maka Edgar tak segan memberi perhitungan pada Alejandro.


"Paman, aku baik-baik saja. Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku." ucap Isabella.


"Ya, syukurlah pria itu tidak melukai mu." kata Edgar. Tatapan pria itu masih saja sinis pada Alejandro. Sepertinya Edgar masih belum terima keturunan keluarga Smith mendapatkan perlakuan buruk dari Alejandro.


"Hai Luke. Kau semakin tampan saja." Isabella beralih pada Luke yang berdiri di samping ayahnya.


"Tentu, aku selalu tampan." ucapnya begitu pongah, tapi terlihat menggemaskan di usianya yang masih belia.


"Dimana suami mu?" tanya Edgar yang tidak melihat batang hidung Alejandro.


"Dia pergi bekerja pagi tadi." jawabnya. Isabella mempersilahkan Edgar dan Luke untuk beristirahat setelah berbincang beberapa saat. Perjalanan yang di tempuh cukup jauh, Luke pasti membutuhkan istirahat yang cukup.


Nyonya Seren dan Katty sudah dua hari yang lalu berpergian entah kemana. Mungkin sedang bersenang-senang di luar sana. Sehingga tidak bisa menyambut kedatangan Edgar. Untungnya Edgar tidak mempermasalahkannya.


Rencananya Edgar dan Luke akan menginap malam ini, kembali esok hari.


***


"Hulsa, kerja yang benar. Sedari tadi aku melihat mu lelet dalam bekerja!" Greta menegur Hulsa yang lambat mengerjakan tugasnya.


"Maaf.." ucapnya.


"Aku sudah bilang tidak perlu menurunkan berat badan jika kau tersiksa. Gendut atau kurus, kau sama saja terlihat jelek!" ucapan Greta sangat menyinggung perasaan Hulsa. Wanita itu selalu saja mengusiknya. Padahal Hulsa sama sekali tidak pernah mencampuri urusan Greta.


"Diam kau, jangan ikut campur! Hulsa ingin menjaga berat badannya tidak ada urusannya dengan mu. Dia tidak merugikan mu." tiba-tiba Emma datang, wanita itu berbalik memarahi Greta. "Lagipula ini waktunya beristirahat! kau malah menyuruhnya tetap bekerja."

__ADS_1


Di hadapan Emma, Greta tidak berani membantah. Emma pekerja yang sudah mengabdi di keluarga ini, tentu menjadi orang kepercayaan Alejandro setelah Markus.


"Hulsa, beristirahatlah." seru Emma.


Greta tidak lagi bersuara, wanita itu memilih pergi. Ia memang kesal dengan Hulsa yang beberapa hari ini menjadi pusat perhatian para pengawal. Tadinya mereka semua memujanya, sekarang malah berpaling pada Hulsa yang berhasil menurunkan berat badan. Tentu hal itu ada campur tangan dengan Isabella yang meminta salah satu tabib memberikan ramuan khusus penurun berat badan.


"Terimakasih Emma." Bergegas Hulsa pergi. Biasanya jam istirahat Hulsa akan menemui Sergio.


"Hulsa!" teriak Luke yang melihat Hulsa berlari kecil menuju sebuah pintu. "Kau benar Hulsa yang gendut itu kan?" ia tidak percaya, tapi di lihat wajahnya, Luke yakin sekali kalau perempuan itu adalah Hulsa, pelayan yang menyebalkan sekaligus menyenangkan di ajak berdebat.


"Tuan Luke.." cukup terkejut. Sejak kapan tuan muda itu ada di sini?


"Ya ini aku." balasnya. "Kau berhasil membuang lemak di tubuh mu?" ucapnya polos.


"Ishhh!" Hulsa mendesis kesal. "mulutnya tidak berubah." gerutunya.


"Aku lupa, ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Senang bertemu dengan mu, tuan muda Luke. Selamat tinggal..." Hulsa buru-buru meninggalkan Luke. Berdekatan dengan bocah itu akan membuatnya kesal.


Sergio menyapa dari kejauhan dengan melambaikan tangan.


"Aku mendukung mu, Sergio!" teriak Hulsa. Ia sudah duduk untuk menyaksikan latihan. Ada beberapa pelayan wanita yang ikut duduk di sana. Berdalih menyiapkan makan siang untuk para pekerja.


"Kau tidak perlu repot membantu pekerjaan kami, Hulsa." salah satu menyindir kehadiran Hulsa yang terasa menganggu.


"Aku ingin beramal." jawabnya santai. Hulsa tidak peduli dengan tatapan sinis itu. Ia asik melihat pria pujaannya.


"Kau tidak di perlukan lagi. Lebih baik kau menemui nona Isabella, dia mencari mu."

__ADS_1


"Benarkah? ada apa nona Isabel mencari ku?"


"Kamu tidak tahu."


Bergegas Hulsa pergi. Untuk hari ini ia akan absen memindai wajah tampan yang akan ia mimpikan ketika malam.


"Cih! dasar gadis genit!" suara seseorang menghentikan langkah Hulsa.


"Tuan!" Hulsa terkesiap melihat tuan Edgar ada di belakangnya.


"Rupanya kau di sini belajar jadi gadis penggoda?"


"Apa maksud tuan?" Hulsa sedikit menajamkan tatapannya. Ia tidak terima dihina sebagai penggoda.


"Selain genit, kau juga bodoh!" Edgar melenggang pergi seusai mengatakan itu.


"Cih! anak dan ayahnya sama-sama menyebalkan! mulutnya seperti racun!"


***


Saat perjalanan pulang, Alejandro di kejutkan dengan sekelompok bandit yang menyerangnya.


Alejandro kewalahan melawan, sialnya ia hanya membawa dua pengawal. Tentu kalah jumlah dengan para bandit itu. Pistol yang biasanya ia bawa pun berhasil di rebut lalu di lempar ke sembarang oleh bandit tersebut.


"Siapa kalian!" seru Alejandro. Ia berhasil menumbangkan lima orang yang kini terkapar dengan bersimpah darah.


"Kami utusan dari tuan Thompson! kau sudah berani bersiteru dengan tuan kami, jadi rasakan ini." dua peluru ia lesatkan di bahu kiri serta kaki kanan Alejandro.

__ADS_1


"Arrggghhhh.." Alejandro tidak bisa menghindar, lesatan peluru tidak bisa ia hindari. Pergerakan pria yang ada di belakang tidak bisa ia baca.


"Sudah cukup! tuan Thompson tidak ingin menghabisinya. Hanya menyuruh memberi pelajaran."


__ADS_2