Budak Tuan Alejandro

Budak Tuan Alejandro
Aku tidak menidurinya!


__ADS_3

Alejandro bingung harus bagaimana lagi meyakinkan Isabella jika dirinya benar-benar sudah berubah, tidak lagi bermain wanita. Tubuhnya hanya milik Isabella seorang, Alejandro bisa pastikan itu.


"Sayang, aku tidak jadi menidurinya." ucap Alejandro di sela mereka tengah menikmati sarapan pagi. Di sana tidak ada nyonya Seren dan Katty, sepertinya kedua perempuan itu malas bertemu dengan Alejandro dan Isabella.


Isabella tidak menanggapi, ia menikmati santapannya. Semalaman suaminya itu tak hentinya mengatakan kalimat yang sama. Pagi ini pun masih mengatakannya. Isabella bosan mendengarnya.


"Kau bisa bertanya pada Emma. Sungguh, aku tidak menidurinya!" walaupun Isabella bilang tidak peduli dengan apa yang dilakukannya, tapi Alejandro tidak percaya. Wanita itu makhluk yang pintar sekali bermain arti kata. Tidak berarti iya, iya berarti entah... yang jelas wanita selalu benar dan sulit di tebak kemauannya.


"Aku tidak peduli." jawabnya cepat.


Alejandro menghela. "Kau bilang begitu tapi masih mengabaikan ku. Itu artinya kau marah pada ku." katanya. Hampir semalam suntuk, Alejandro gelisah sampai tidur pun tak nyenyak.


Isabella menyudahi sarapan paginya. Ia ingin menghindari Alejandro yang selalu saja mengikutinya. "Jangan mengikuti ku! apa kau tidak ada kerjaan lain selain mengikuti ku!" serunya saat Alejandro pun beranjak berdiri hendak mengikutinya kembali.


Alejandro pasrah, karena ia pun harus pergi bekerja. Ada banyak hal yang harus di kerjakan mengingat sudah beberapa minggu ia tinggal pergi.


***


Isabella menemui Hulsa dan Sergio. Kedua temannya itu saling memperbaiki diri. Hulsa yang ingin menurunkan berat badan, sedangkan Sergio ingin menaikkan berat badannya, mengingat tubuhnya itu terlihat kurus kering.


"Sergio, kau terlihat lebih baik." ujar Isabella. Penampilan Sergio saat pertama ditemukan sangat memprihatinkan. Bukan hanya kurus tapi sangat kotor. Seperti tidak mandi berhari-hari. Sekarang ketampanan pria itu mulai terlihat lagi.


"Ya, ini berkat dirimu. Terimakasih banyak telah menolong ku, Isabel." katanya.


"Nona! kau harus terbiasa memanggil Isabella itu nona. Jangan sampai tuan Ale mendengarnya, kau pasti akan terkena masalah." seru Hulsa memperingatkan.


Sergio menyengir. "Hehe.. iya, maafkan aku nona."


"Panggil nama ku saja tidak apa, Hulsa. Kalian kan teman ku." Isabella tidak keberatan jika kedua temannya itu hanya memanggilnya nama saja.


Hulsa menggeleng. "Kami harus terbiasa, kalau tidak kita akan mendapatkan teguran." ujar Hulsa.


"Terserah kalian saja."

__ADS_1


Untuk hari ini, Hulsa dan Sergio dibebas tugaskan dari pekerjaan. Mereka akan mulai bekerja esok hari. Maka dari itu, Isabella mengajak keduanya berkeliling kebun dan peternakan.


"Aku jadi ingin berlatih menembak." ujar Isabella tiba-tiba. Sayang sekali di rumah keluarga Smith Isabella baru berlatih memanah.


"Nona tidak boleh berlatih sembarangan, harus bersama ahlinya." kata Hulsa. Berlatih menembak bukan sesuatu yang mudah, Isabella harus di temani orang yang sudah ahli.


Isabella mengangguk mengerti. "Ya, nanti aku akan mencari pelatih."


"Kenapa tidak berlatih dengan tuan Ale saja." saran Sergio. Untuk apa mencari orang lain jika suaminya sendiri sudah sangat ahli dalam menembak.


"Aku malas melihat wajahnya.."


"Tapi kenapa? bukannya..." ucapan Sergio terhenti oleh Hulsa.


"Tutup mulut mu, Sergio. Jangan mencampuri urusan tuan Ale dan nona Isabel."


"Iya maaf."


Isabella melihat para budak yang sedang bekerja. Rasa kasihan muncul di hatinya. Isabella ingin menghapus perbudakan di rumah ini. Setidaknya bukan menjadi budak yang bekerja tanpa mendapatkan upah sedikitpun.


***


Isabella yang tengah bersantai di taman bunga, menoleh ke asal suara. Alejandro terlihat baru saja pulang, entah darimana mungkin habis bekerja.


"Aku bosan mendengarnya." kata Isabella sembari memalingkan wajah.


Alejandro mendekat, ia bersimpuh dihadapan Isabella. Ia genggam erat tangan Isabella. "Jangan salah paham, sungguh aku tidak melakukannya." ia kecup punggung tangan itu.


"Ale!!" rupanya Aluna datang. Gadis itu terkejut mendengar kabar jika Alejandro telah menikah dengan wanita lain, yang bukan tunangannya.


"Jadi ini wanita yang telah menjebak mu!" tatapannya begitu sinis melihat Isabella.


"Sedang apa kau di sini, Aluna!" seru Alejandro. "Dia istri ku, tidak ada yang menjebak ku seperti yang kau katakan. Aku mencintainya." Alejandro mempertegas.

__ADS_1


Aluna tidak mengindahkan ucapan Alejandro. Ia tetap saja mencurigai wanita itu telah menggunakan cara licik untuk mendapatkan Alejandro. Merebut Alejandro dari tunangannya, Catalina.


"Walaupun kau berhasil merebut Ale dari Catalina, tapi tidak dengan ku. Aku tidak rela Ale menikahi mu!" serunya. Aluna masih menginginkan Alejandro meski kenyataannya pria itu sudah menikah.


"Aluna, cukup! dia tidak merebut ku. Lebih baik kau pergi dari sini!" Alejandro mengusir Aluna. Masalah sebelumnya belum juga terselesaikan, kedatangan Aluna akan menambah rumit saja.


Isabella berdiri, ia tersenyum sinis pada Aluna. "Kau menginginkannya?" tanyanya pada Aluna.


"Lepaskan Ale! dia tidak pantas dengan mu!"


"Ambil saja kalau kau mau. Aku juga tidak Sudi menikah dengan pria mata keranjang!" dengan santainya Isabella berkata demikian.


Hal itu semakin membuat Alejandro gelisah. "Sayang, kenapa bicara begitu. Aku bukan pria mata keranjang!" menaklukkan wanita yang sedang marah sungguh melelahkan.


"Ale!" teriak Aluna. Ia kesal lantaran Alejandro memilih menyusul Isabella daripada menemaninya.


"Kau pulang saja!" teriak Alejandro mengusir Aluna.


"Sayang, kau tega sekali membuang ku seperti itu. Apa aku tidak ada artinya lagi buat mu?" suaranya terdengar nelangsa. Isabella sungguh membuangnya? membiarkan wanita lain memilikinya?


"Emma!" Isabella memanggil Emma. Wanita yang dipanggil segera mendekat. "Tolong siapkan pemandian, aku ingin berendam."


"Baik nona."


Lagi-lagi Isabella mengabaikannya. Wanita itu sudah masuk ke dalam ruang pemandian. Pintunya pun tertutup rapat. Ia hanya bisa pasrah menunggu di luar.


Beberapa menit kemudian, Emma keluar dari ruangan itu. Ia terkejut mendapati Alejandro menunggu di depan. "Tuan.."


"Apa Isabella sudah selesai? dimana dia?"


"Nona masih berendam. Aku keluar untuk mengambil wewangian." kata Emma.


"Yasudah cepat ambil, dan berikan padaku. Biar aku saja yang membantu Isabella mandi." katanya.

__ADS_1


"Baik tuan." Emma bergegas pergi mengambil yang diperlukan.


Senyum Alejandro mengembang sempurna. Ia akan memanfaatkan situasi. Biasanya wanita yang sedang marah akan luluh jika mendapat sentuhan. Alejandro akan memberikan sentuhan pada istrinya itu. Mungkin akan ditolak awalnya, tapi Alejandro yakin bisa menjinakkan singa betinanya. Apalagi ia pandai sekali dalam hal sentuh menyentuh. Pandai dalam memberikan kepuasan. Oh.. Alejandro sangat percaya diri saat ini. Permainan akan ia menangkan.


__ADS_2