Budak Tuan Alejandro

Budak Tuan Alejandro
Mencuri kecupan


__ADS_3

Jordan tidak sabaran menantikan hari pertunangannya dengan Isabella. Pria itu terlihat bersemangat sekali membantu ibunya untuk mempersiapkan acara.


"Jordan, percayakan semuanya pada ibu. Kau tidak perlu repot-repot menggurui ku." ucap Nyonya Felipe. Putranya itu sangat menganggu. Mengatur ini dan itu yang seharusnya menjadi tugas para wanita.


"Aku ingin yang terbaik bu, ini untuk Isabella." Jordan menginginkan semuanya terlihat sempurna. Untuk wanita yang spesial, Jordan ingin memberi acara yang semeriah mungkin.


"Ibu juga tahu, nyonya Smith juga menginginkan pesta yang meriah dan mewah. Ini untuk cucu perempuannya." kata Nyonya Felipe. "Lebih baik kau pergi, temui Isabella. Ajak dia melihat gaun ke penjahit. Sudah selesai atau belum gaun pesanan untuk pertunangan kalian."


"Aku hampir lupa." seru Jordan. Dengan senang hati ia menemui Isabella di kediamannya.


***


"Luke, kau tidak boleh bicara seperti itu pada Hulsa. Minta maaf padanya..." Isabella menasehati Luke yang sudah berlaku tidak sopan pada Hulsa.


Luke menggeleng. "Aku tidak salah padanya, untuk apa meminta maaf." bocah kecil itu kekeh dalam pendiriannya.


Isabella menghela, ia menurunkan tubuhnya untuk berjongkok menyamai tinggi Luke. "Hulsa lebih tua dari mu, kau harus berbicara yang sopan."


"Kata ayah ku, kalau tidak salah, tidak perlu meminta maaf. Hulsa itu memang gendut dan genit. Lihat saja, matanya selalu tertuju pada Jack, lalu dia tersenyum-senyum sendiri, seperti tidak waras." Luke mengatakan dengan pongahnya.


"Astaga! mulut anak ini!" pekik Hulsa yang kesal mendengar ucapan Luke. Ingin sekali meremass mulut lancang itu, tetapi mana bisa! Luke, putra dari pemilik rumah ini. Hulsa tidak mau mendapat masalah lalu terusir.


"Luke!" Isabella memperingati kembali.


Terdengar helaan nafas dari Luke. "Aku tidak akan meminta maaf karena aku tidak bersalah. Tapi aku janji tidak akan mengatakan itu lagi."

__ADS_1


"Sudahlah, yang penting jangan ulangi lagi." Isabella tidak memaksa agar Luke meminta maaf. Benar juga apa yang dikatakan Luke. Hulsa terlalu menunjukkan kekagumannya pada tuan Jack. "Sekarang kau lanjutkan lagi belajarnya."


"Baik.." balasnya. "Hulsa temani aku." seru Luke.


Hulsa mencibir. Tadi menghinanya, sekarang meminta untuk ditemani? huh menyebalkan bocah satu ini! "Baik tuan muda."


Hulsa mengekori Luke menuju tempatnya belajar. "Tuan muda, kau terlihat membenci ku tapi masih ingin ditemani oleh ku." kata Hulsa.


Luke menoleh sebentar. "Aku juga tidak tahu." jawabnya. Hulsa berbeda dengan pelayan lainnya. Hulsa berani menegur atau mengajak Luke berbincang, tidak seperti yang lain, yang selalu diam seperti patung.


***


"Calon istri ku.." Jordan menyapa Isabella dengan bersemangat. Pria itu selalu saja bisa membangun suasana diantara mereka menjadi lebih berwarna. Terutama bagi Isabella, wanita itu sering tertawa jika bersama Jordan.


"Aku akan mengajakmu pergi ke penjahit. Kau memiliki waktu luang kan?" tanyanya. genggaman tangannya belum terlepas. Ia suka sekali menautkan jemarinya dengan milik Isabella.


"Lepaskan tangan ku, Jordan. Banyak orang yang melihatnya."


"Memangnya kenapa? kau kan calon istri ku." balasnya. Hanya sekedar berpegang tangan bukan masalah besar. Apalagi semua orang juga pasti sudah tahu tentang pertunangan mereka yang sebentar lagi akan di selenggarakan.


"Iya tapi aku malu." katanya.


Jordan terkekeh. "Baiklah.." ia pun melepaskan tautannya.


"Aku bersiap dulu, tunggu sebentar." Isabella hendak pamit untuk bersiap sebelum pergi. Namun baru maju satu langkah, Jordan dengan gesit mencuri kecupan di pipi Isabella. "Jordan!"

__ADS_1


Jordan hanya menyengir. "Aku gemas melihat mu."


"Ish! jangan ulangi lagi. Aku malu menjadi bahan pembicaraan para pelayan, kau ini tidak malu apa dilihat mereka."


"Biarkan saja, jangan perdulikan apa kata orang."


Isabella tidak mau mendengar ucapan Jordan lebih lama. Pria itu selalu menang darinya.


***


"Markus, kau temani Catalina. Aku tidak berminat untuk pergi." Alejandro meminta tangan kanannya untuk mendampingi Catalina menghadiri undangan pesta pertunangan tersebut.


"Tuan sudah berjanji dengan tuan Thompson, akan bermasalah jika taun mengingkarinya. Terlebih nona Catalina menjadi tanggung jawab anda." balas Markus. Ia mengingatkan tuannya, bahwa dalam perjalanan ini, Alejandro akan membawa nama keluarga besar Thompson. Jika sampai mempermalukan, bisa gawat! bisnis Alejandro akan terancam.


"Tapi aku malas pergi bersama gadis itu." ucapnya. Catalina wanita cerewet dan banyak maunya. Alejandro tidak suka berada di dekat gadis itu.


"Tuan akan menghadiri pesta besar, sudah pasti akan banyak para bangsawan yang datang. Ini kesempatan tuan untuk memperluas bisnis anda." Markus kembali mengingatkan hal yang mungkin akan menguntungkan bagi Alejandro. Menurutnya pertemuan itu justru akan memperkenalkan Alejandro dengan orang baru, tentu yang memiliki pengaruh besar. Hal itu akan semakin memperlancar bisnisnya.


"Tuan juga bisa mencari nona Isabella. Kita belum sempat mencarinya di luar kota." lanjutnya.


"Kau benar juga!" serunya. Mendengar nama Isabella, Alejandro mendadak bersemangat. "Aku akan pergi!" akhirnya ia setuju.


Markus menghela, nama Isabella benar-benar cukup berpengaruh bagi tuannya. "Saya akan mempersiapkan perjalanan anda, tuan." setelah itu, Markus pamit undur diri.


"Isabella.." lirihnya. Ia teramat merindukan wanitanya. Hampir setiap malam Alejandro selalu memimpikan wanita itu. Bertemu dalam mimpi saja sudah bisa membuat Alejandro bahagia. Ia berharap bisa menemukan Isabella kembali.

__ADS_1


__ADS_2