
Hari berlalu, Alejandro dan Isabella kini telah merajut hari tanpa menoleh ke masalalu yang kelam. Keduanya selalu terlihat mesra setiap harinya. Para pekerja di buat iri dengan sepasang insan itu.
Luka Alejandro tempo lalu pun sudah membaik. Pria itu sudah kembali menjalani aktivitas seperti biasanya.
Seperti saat ini. Alejandro tengah memeluk istrinya yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. Tidak biasanya tuan Alejandro mau menginjakkan kakinya di area dapur. Tapi sekarang, dimana pun istrinya berada, Alejandro akan terlihat di sampingnya.
"Hentikan Ale! aku sedang membuatkan sarapan untuk mu." bukan hanya memeluk, tetapi Alejandro mengecupi lehernya.
"Kau yang berhenti. Sudah ada pelayan yang mengurus urusan dapur. Kau tidak perlu repot." ucapan istrinya tidak mempengaruhi Alejandro untuk terus mengendus aroma tubuh Isabella yang memabukkan baginya. "Kau hanya perlu mengurusi ku dan memanjakan ku." lanjutnya.
"Jangan mulai, Ale! kau tidak puas setiap malam mengganggu ku? lepaskan dulu, aku selesaikan ini." ujarnya meminta belitan tangan sang suami segera dilepaskan.
"Aku tidak pernah puas mengganggu mu."
"Iya aku tahu! bukankah kau akan pergi bersama Antonio, kau harus bekerja agar aku tidak kesusahan."
Mendengar itu, Alejandro melepaskan pelukannya. Pria itu membiarkan Isabella melanjutkan kegiatannya. Benar juga apa yang dikatakan Isabella, ia harus bekerja dengan giat agar bisa memberikan kehidupan yang layak untuk istrinya. Apalagi sekarang ia harus memberikan upah pada para budak, walaupun tidak banyak. Setidaknya pengeluarannya bertambah.
Usaha memperjual belikan senjata ilegal masih berjalan lancar, meski tidak seluas dulu dalam pengedarannya. Itu karena tuan Thompson tidak lagi memberikan akses untuknya. Tentu tanpa sepengetahuan Isabella. Untuk yang satu ini, Alejandro memilih bungkam. Bisa gawat kalau istrinya tahu.
"Baiklah.. aku menurut." Alejandro duduk di kursi meja makan sembari menunggu sajian yang sebentar lagi istrinya hidangkan.
"Katty! duduklah.. tunggu sebentar." seru Isabella yang melihat Katty datang ke dapur, tapi hendak berbalik. Mungkin masih sungkan dengan Alejandro dan Isabella.
Nyonya Seren memilih pergi dari rumah Alejandro. Wanita itu sudah mendapatkan pria baru yang bisa di tumpangi hidup. Di sana Nyonya Seren lebih berkuasa dari pada di rumah ini.
Awalnya Katty ingin ikut dengan ibunya tetapi Alejandro tidak mengijinkan Adik perempuannya itu tinggal dengan ayah tirinya. Yang Alejandro ketahui pria itu mempunyai kelakuan brengsek. Bagaimana pun juga, Katty memiliki darah yang sama dengannya. Darah tuan Spencer mengalir di kedua kakak beradik tersebut, walau berbeda ibu. Alejandro harus memberikan perlindungan pada Katty.
__ADS_1
"Aku sarapan di kamar saja." balasnya.
Tidak ingin memaksa, Isabella membiarkan Katty pergi. Mungkin membutuhkan waktu untuk Katty menerima keadaan.
"Ale, kita akan menghadiri pernikahan Catalina kan? nyonya Thompson mengundang ku." ucap Wanita itu sambil meletakkan menu sarapan pagi di hadapan suaminya.
"Aku malas bertemu dengan tuan Thompson." akunya. Ia kesal atas perlakuan tuan Thompson yang sudah mencelakainya.
"Tidak boleh begitu.. kalian hanya salah paham saja. Tidak perlu di besar-besarkan."
"Dia hampir membunuh ku, Isabel!"
Isabella mengangguk mengerti. "Saat itu seorang ayah akan marah jika putrinya diperlakukan buruk."
Alejandro memilih diam. Berdebat dengan Isabella tentu akan kalah. Sedangkan Alejandro benar-benar tidak ingin bertatap muka dengan tuan Thompson. "Aku akan memberikan hadiah terbaik untuk pernikahan Catalina."
Isabella tahu maksud dari suaminya. "Tapi aku ingin datang ke sana."
"Kenapa bilang begitu? aku hanya ingin datang di pernikahan Catalina. Dia teman ku."
"Teman yang tega menjual mu?"
"Dia sudah meminta maaf pada ku."
"Istri ku ini memang memiliki hati yang baik.." katanya. "Sayang, ambilkan aku minum. " ia memilih mengalihkan pembicaraan.
Isabella mendengus sebal. "Ya!"
__ADS_1
***
Malam hari ketika pulang, Isabella masih merajuk perihal tidak diperbolehkan untuk menghadiri pesta pernikahan Catalina.
"Sayang, jangan memunggungi ku." Alejandro melingkarkan tangan di perut sang istri.
"Aku mau tidur, Ale! jangan mengganggu ku." serunya. Tangan suaminya itu sudah tidak bisa diam, menjalar kemana-mana.
"Aku ingin." bisiknya. Tubuhnya mulai merangkak naik untuk mengungkung istrinya.
"Aku lelah.. setiap hari kau meniduri ku. Aku ingin beristirahat semalam saja. Pinggang ku seperti mau copot." wanita itu mengeluh. Setiap malam suaminya selalu meminta jatah untuk dipuaskan.
Alejandro terkekeh mendengarnya. "Kau kan hanya perlu diam dan membuka kaki saja. Aku yang bergerak."
"Ish! kau ini." Isabella memukul pelan dada kekar sang suami. "Aku sedang marah pada mu, jadi Jangan menyentuh ku." sungutnya.
"Kalau begini, kau tidak marah lagi kan?" seringainya. Alejandro hapal betul kesukaan istrinya kalau dirinya menjadi bayi besar yang pandai memberi kenikmatan. Mulutnya bekerja di bagian atas, lalu tangannya bekerja di bawah sana.
"Uuhhh..." desahann yang tak terelakkan keluar dari bibir Isabella. Wanita itu mulai terpancing oleh sentuhan Alejandro.
Siapa yang meragukan keahlian Alejandro dalam memberikan kenikmatan? pria itu benar-benar pandai sekali dalam urusan ranjang!
"Ale!!" teriak Isabella.
"Kenapa sayang? kau suka?"
"Kau licik sekali!"
__ADS_1
"Tapi kau menyukainya kan?" setelah itu, Percintaan panas terjadi kembali. Alejandro selalu memenangkan dalam bujuk membujuk istrinya yang lemah jika sudah di sentuh.
"Kita harus melakukannya setiap hari, aku ingin bayi!"