Budak Tuan Alejandro

Budak Tuan Alejandro
Mulai menerima


__ADS_3

Isabella panik melihat keadaan Alejandro yang terluka parah saat pulang. Wanita itu menangisi sang suami yang belum sadarkan diri.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanyanya di sertai isakan pilu. Ia memang membenci Alejandro, tapi tidak kuasa melihat pria yang masih tertanam di hatinya terluka parah. Meski membenci Alejandro, tapi sungguh! Isabella tidak ingin melihat Alejandro terluka seperti saat ini.


"Maafkan aku, aku tidak menjaganya dengan baik." salahnya Antonio yang pulang lebih awal. Jika tahu begini, Antonio akan menunggu Alejandro dan pulang bersama.


Alejandro segera mendapatkan penanganan dengan baik. Lukanya sudah terbalut, darah yang berceceran pun sudah teratasi. Isabella dengan setia menemani suaminya.


"Ale, jangan begini.. ayo bangun!" gumamnya. Wanita itu setia menunggu Alejandro sadarkan diri. Karena leleh menangis, Isabella tertidur di samping suaminya.


***


Catalina hanya bisa pasrah dengan keputusan ayahnya yang ingin menikahkan dirinya dengan tuan Jackson, bawahan dari tuan Thompson sendiri.


"Nak, bicara jujur pada ibu.. siapa sebenarnya ayah dari bayi yang kau kandung. Apa itu Ale?" nyonya Thompson masih saja mencurigai Alejandro. Sebab laki-laki itulah yang selama ini dekat dengan putrinya. Nyonya Thompson pikir karena Alejandro telah menikah dengan Isabella, putrinya terpaksa mengalah dan memilih bungkam.


"Bukan dia ibu. Ale tidak pernah menyentuh ku." jawab Catalina. "Ale memang mencintai Isabel dari dulu sebelum aku datang." Catalina pun menceritakan kesalahannya dulu, yang tega menjual Isabella. "Mungkin ini balasan untuk ku karena berlaku buruk pada Isabella." ucapnya.


Nyonya Thompson tentu terkejut mendengar penuturan putrinya. Ia sama sekali tidak menyangka Catalina sejahat itu pada Isabella hanya karena cemburu. "Kau keterlaluan, Catalina!"


"Aku tahu bu, dan sekarang aku menyesal." lirihnya.

__ADS_1


Nyonya Thompson menghela, mau marah pun percuma semuanya sudah berlalu. Jika di beri kesempatan, ia akan meminta maaf secara langsung saat bertemu dengan Isabella.


"Lalu siapa laki-laki itu? mana mungkin kau tidak tahu!" seru Nyonya Thompson. Tetapi Catalina masih saja bungkam. "Kalau kau tetap diam, ayah mu akan menikahkan mu dengan Jackson! kau terlalu berharga untuk pria sepertinya!"


Catalina diam, mana mungkin ia mengatakan yang sebenarnya. Laki-laki itu pasti tidak akan percaya dengan apa yang keluar dari mulutnya. Hanya hinaan yang kemungkinan akan ia dapatkan. Lebih baik ia menikah dengan Jackson daripada mengemis pengakuan pada lelaki itu.


***


Alejandro tersadar, pria itu merasa nyeri di sekujur tubuhnya, terutama bagian yang terluka karena tertembus peluru. Senyum di bibirnya terbit ketika melihat Isabella ada disampingnya. Tertidur dengan menggenggam tangannya.


"Isabella.." lirihnya. Perlahan ia mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut. Senang sekali melihat Isabella mulai memperdulikannya. "Sayang..." ucapnya lagi.


Isabella terbangun karena pergerakan Alejandro. "Ale, kau sudah bangun? bagaimana keadaanmu? apa ini sangat sakit?" pertanyaan yang menunjukkan kekhawatiran.


"Ale aku bertanya sungguh-sungguh. Kau malah tertawa!" kesalnya. Meskipun kesal, deraian air mata kembali mengalir di pelupuk mata.


"Aku hanya senang saja. Apa aku harus celaka seperti ini dulu, supaya mendapatkan perhatian mu?" luka yang masih basah dan terasa sangat sakit tidak di hiraukan lagi. Pria itu terlalu senang mendapatkan perhatian.


"Kau menakuti ku!" Isabella khawatir tetapi yang dikhawatirkan malah tertawa. Sungguh menyebalkan!


"Kemarilah.." Isabella tak lagi menolak, ia beringsut ke dalam pelukan sang suami. "Ini bukan pertama kalinya aku mendapatkan luka tembak. Aku pria yang tangguh. Jadi jangan khawatir."

__ADS_1


"Tetap saja aku takut! aku melihat darah banyak sekali. Aku takut kau meninggalkan ku." rengekan terdengar begitu menggemaskan di telinga Alejandro.


"Aku tidak akan meninggalkan mu." balasnya. Ia mengecup puncak kepala sang istri. "Jadi kau sudah memaafkan ku? sudah menerima ku?" kesempatan tak akan disia-siakan, Alejandro segera meminta kepastian kalau dirinya sudah termaafkan.


"Tidak! aku masih marah pada mu!" serunya. Mulutnya berkata tidak tetapi pelukannya terasa semakin erat. Menunjukan bahwa dia tidak ingin kehilangan Alejandro.


Alejandro terkekeh kembali. "Kau tidak bisa membohongi ku. Aku tahu kau itu cinta mati pada ku. Hanya saja kau terlalu gengsi mengakuinya." ia sengaja menggoda Isabella.


"Tidak! kau itu percaya diri sekali! jelas-jelas kau yang tergila-gila pada ku!" wanita itu mencibir.


"Terserah kau mau bilang apa, yang penting hari ini aku senang." ucapnya. Tangan yang tidak terluka menarik dagu Isabella untuk menatapnya. Ibu jarinya mengusap bibir Isabella. Tatapan mereka saling beradu. Perlahan Alejandro menundukkan kepalanya untuk menggapai wajah sang istri. Detik kemudian, keduanya saling memagut lembut.


"Arrggghhhh.." saking semangatnya, Alejandro lupa diri, pria itu ingin segera mengungkung istrinya tetapi terhalang luka di tubuhnya.


Isabella tertawa. "Kau itu tidak sabaran! masih terluka tetap saja mesum!"


"Ayolah.. aku sangat merindukanmu." Alejandro menggeram. "Kemari, aku ingin menjadi bayi. Kalau perlu kau saja yang bergerak.." ucapnya sembari menaik turunkan alisnya. Pria itu genit sekali. Bisa-bisanya sedang terluka malah ingin bercinta.


Isabella mendelik, "Aku tidak mau! kau ini ada ada saja!"


"Aku sudah tidak tahan. Aku terlalu merindukan mu." ucapnya memelas.

__ADS_1


"Tidak! tunggu luka mu sebuah dulu." Isabella segera menghindar, ia tidak mau menuruti kemauan suaminya. "Lebih baik kau istirahat supaya cepat sembuh. Aku panggilkan tabib dulu.."


"Sayang! aku tidak butuh tabib, yang aku butuhkan itu dirimu!" teriaknya. Namun bagai angin lalu karena Isabella sudah menghilang dari balik pintu kamar.


__ADS_2