Budak Tuan Alejandro

Budak Tuan Alejandro
Edward Spencer- End


__ADS_3

"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Alejandro. Satu tahun pernikahan, mereka baru mendapatkan kabar gembira jika Isabella mengandung. Hal yang sudah lama di nantikan pasangan suami-istri tersebut.


Kedua insan tersebut menikmati keseharian menjadi calon ibu dan ayah. Alejandro mencurahkan kasih sayang pada istri dan anak yang masih dalam kandungannya. Pria itu pun mengurangi kegiatan di luar rumah. Lebih betah di rumah.


"Aku lemas.." balasnya. Sejak pagi tadi, Isabella merasa lelah dan malas melakukan apapun.


Alejandro membantu sang istri yang kembali berbaring di ranjang. Pria itu mengelus perut sang istri yang sudah membuncit. "Mau aku pijat?"


Isabella menggeleng. "Peluk aku saja." ucapnya manja.


"Dengan senang hati." Alejandro ikut berbaring dan memeluk istrinya. Rasa nyaman dan hangat seketika melegakan bagi Isabella. "Maafkan anak ku yang membuat mu kelelahan." ujarnya.


Isabella tertawa. "Dia juga anak ku. Walau aku kelelahan begini, tapi aku suka." terangnya. Memang beginilah menjadi seorang ibu. Harus merasakan indah dan susahnya saat mengandung sang buah hati. Tetapi percayalah, dalam hati seorang ibu, mereka tulus melewati masa-masa sulit itu.


"Terimakasih.." Alejandro mengecup puncak kepala Isabella. "Sebenarnya aku ingin punya anak banyak dari mu. Kau tidak keberatan kan?"


"Tentu tidak, tapi tidak dalam waktu dekat. Setidaknya menunggu anak pertama kita berusia 2 tahun." ujarnya.


Alejandro bernafas lega. Ketakutannya akan Isabella tidak lagi ingin mengandung menguar sudah. "Syukurlah, aku ikut saja apa mau mu."


***


"Emma, ambilkan buah-buahan untuk istriku." seru Alejandro yang saat ini menemani Isabella di taman bunga, bersantai di sore hari.


"Baik tuan." balas Emma. Wanita itu sudah di khususkan untuk menjaga Isabella selama hamil. selalu berada di dekat Isabella kemanapun sang majikan pergi.


"Sayang.." panggil Isabella begitu mesra. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami. "Aku ingin berkunjung ke rumah nenek."


"Tidak sekarang sayang. Kondisi mu tidak memungkinkan, aku tidak mau terjadi hal buruk pada anak ku." ucapnya lembut. Usia kehamilan sang istri tinggal menunggu hari persalinan. Alejandro tidak akan mengijinkan istrinya berpergian jauh. "Nanti aku bicara pada paman mu untuk membawa nenek ke sini."


"Katakan pada paman Edgar untuk membawa Hulsa juga." ujarnya. Niat Isabella mengirim Hulsa ke rumah keluarga Smith tercapai sekitar enam bulan yang lalu.


"Iya.." jawabnya menuruti kemauan sang istri. Isabella itu aneh sekali, mengirim Hulsa ke sana tetapi selalu saja rindu pada temannya itu.

__ADS_1


Emma datang membawa buah-buahan yang sudah siap di makan sesuai perintah sang majikan.


"Emma, aku lupa bertanya pada mu." tiba-tiba saja Isabella teringat sesuatu. Emma mengangguk, mengijinkan Isabella untuk bertanya.


"Emm, apa kau dan Markus memiliki hubungan?" tanyanya. Kapan hari ia pernah memergoki Markus keluar dari kamar Emma. "Kalau iya, cepatlah menikah."


Emma tersentak mendengarnya. "Nyonya..." lirihnya.


Bukan hanya Emma yang terkejut. Alejandro pun sama. Pria itu sama sekali tidak tahu menahu jika tangan kanannya memiliki hubungan spesial dengan Emma. "Kau bicara apa sayang? mereka ini sudah tua, mana mungkin menjalin kasih."


"Sudah tua bukan berarti tidak memiliki rasa cinta." Isabella menimpali. "Apa jika kau tua cinta mu akan hilang pada ku?"


"Tidak! maksud ku.. Markus? Emma? sejak kapan?" tanya Alejandro yang sedikit tidak percaya. Selama Markus ada di dekatnya, pria itu tidak terlihat tanda-tanda jika sedang merajut kasih dengan Emma.


Apa Markus terlalu pintar menyembunyikannya? Atau Alejandro yang tidak peka dengan sekitar?


Emma terlihat gugup mendengar tuan dan nyonya nya mengetahui hubungan dirinya dengan Markus.


"Sudah Emma. Kau boleh pergi. Nanti aku ingin bicara dengan kau dan Markus."


***


Tengah malam, Isabella terbangun dari tidurnya. Wanita itu merasa mulas yang tiba-tiba muncul dan menghilang.


"Sayang!" Isabella mengguncang bahu Alejandro, membangunkan suaminya.


Alejandro yang memang sudah siap siaga semenjak istrinya hamil tua segera terjaga. "Ada apa?" jawabnya panik.


"Perut ku sakit." keluhannya.


"Aku panggil tabib!" bergegas Alejandro keluar kamar dan menyuruh pengawal memanggilkan tabib wanita.


Alejandro mengelus punggung istrinya, "Bersabarlah.. tabib akan segera datang." ucapnya.

__ADS_1


"Aku akan melahirkan." tanda-tanda yang ia rasakan sama persis dengan ucapan tabib saat terakhir kali dirinya melakukan pemeriksaan.


Tidak lama tabib perempuan yang khusus menangani wanita melahirkan datang. Sebelumnya Alejandro telah mempersiapkan segalanya, meminta tabib tersebut menginap di kediamannya selama penantian hari persalinan Isabella.


Alejandro setia menemani sang istri selama proses persalinan. Pria itu terus menggenggam tangan sang istri dan membisikan semangat untuk Isabella.


Hingga beberapa jam kemudian, bayi mungil berjenis kelamin laki-laki lahir ke dunia ini.


"Terimakasih, sayang." kecupan bertubi-tubi ia berikan pada Isabella yang telah berhasil memberikannya keturunan.


Ibu dan anak selamat, namun Isabella yang kelelahan langsung tertidur setelah melihat putranya sebentar.


Kebahagiaan di rasakan semua penghuni rumah. Tak lupa Alejandro memberikan kabar gembira ini pada keluarga Smith. Berharap Elizabeth dan Edgar datang berkunjung.


"Selamat tuan.." Emma, Markus dan pelayan lainnya memberikan ucapan selamat pada majikannya.


***


Sehari setelah melahirkan, Elizabeth dan Edgar datang berkunjung. Wanita tua itu dengan gembira menyambut kedatangan cicit pertamanya.


"Cicit ku.." Elizabeth menciumi gemas bayi mungil tersebut.


Isabella dan Alejandro duduk berdampingan, saling menautkan jemari.


"Kalian sudah menemukan nama yang bagus untuk cicit ku?" tanya Elizabeth kepada ibu dan ayah baru, sambil mengembalikan cicitnya kepangkuan Isabella. Usianya sudah sangat tua, tidak bisa berlama-lama menahan beban.


Isabella menoleh pada suaminya. Untuk nama, Isabella membiarkan Alejandro yang memberikan nama pada putranya.


"Edward Spencer.." nama yang ia pilih merupakan nama kakak laki-lakinya yang telah wafat ketika masih dalam kandungan sang ibu. Untuk mengenangnya, Alejandro memberikan nama itu pada putranya. Kebetulan mendiang sang ibu yang memilih nama tersebut.


"Nama yang bagus." Elizabeth.


Isabella pun mengangguk. "Iya, nama yang bagus.. Edward.."

__ADS_1


Alejandro mengecup kening putranya, lalu berpindah pada istrinya. "Terimakasih, aku sangat mencintaimu.."


- TAMAT -


__ADS_2