Budak Tuan Alejandro

Budak Tuan Alejandro
Budak Istimewa


__ADS_3

Isabella tidak mengerti, mengapa ia digiring oleh Emma untuk menjauh dari Alejandro. Bukankah hubungannya dengan Alejandro sudah di ketahui semua orang? tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi, yang harus menutupinya dengan selimut, lalu kenapa Emma terlihat seolah ingin menyembunyikannya lagi?


"Emma, kau terlihat aneh." ujar Isabella. Isabella curiga, tapi langkahnya tetap mengikuti Emma.


"Aku hanya menjalankan tugas, Isabel." balas Emma.


"Ada apa? kenapa aku tidak boleh melewati pintu utama? bukannya Nyonya Seren sudah mengetahui diri ku?"


"Jangan banyak bertanya, kau istirahat saja." Emma tidak mau memberitahu alasannya yang membawa Isabella menjauh, ini bukan wewenangnya.


"Emma.." Isabella menuntut jawaban.


Emma menghela nafas, "Nanti kau tanyakan saja pada tuan Ale."


"Baiklah.." Isabella pasrah, ia tidak mau mendesak Emma lagi.


"Isabel, lusa aku akan pergi. Kau mau menitip sesuatu untuk ibu mu?" tanya Emma. Wanita itu mempunyai waktu untuk keluar rumah, ia akan menemani kepala pelayan untuk membeli kebutuhan dapur.


Wajah Isabella berbinar. "Iya, aku akan menitipkan surat untuk ibu ku. Dan aku meminta tolong padamu, belikan obat-obatan untuk ibu ku." menjadi wanita kesayangan tuan Alejandro, Isabella mendapatkan kemewahan. Pakaian bagus, perhiasan bagus, serta uang yang banyak. Isabella selama ini mengumpulkan uang itu untuk persiapan kabur dari rumah ini.


***


"Ale.." Catalina menyambut gembira kepulangan Alejandro. Ia memperlihatkan senyum terindahnya untuk sang tunangan. "Kau baru pulang, apa pekerjaan mu begitu banyak? aku kesepian di sini, Ale." adunya. Catalina menunjukkan kedekatannya pada Aluna. Padahal Alejandro dan Catalina belum sedekat itu.


"Kenapa bisa kesepian? di rumah ini cukup ramai." balas Alejandro dengan wajah datarnya. Ia risih dengan Catalina yang bergelayut manja di lengannya.


Aluna tertawa. "Dia hanya membual Ale, dia gadis yang pintar merayu." Aluna tak mau kalah. Ia pun mendekati Alejandro, lalu ikut merangkul lengan Alejandro disisi lain.


"Aluna, sejak kapan kau disini?" tanya Alejandro.


"Belum lama aku datang." jawabnya cepat. "Aku datang kesini untuk meminta penjelasan pada mu. Kenapa kau tiba-tiba bertunangan dengan gadis lain? kita sudah di jodohkan sejak kecil, Ale.. kau tidak bisa mencampakkan ku begitu saja." Aluna menatap sinis Catalina.


"Kau sudah ku anggap sebagai adik ku." balas Alejandro. Ia melepaskan kedua tangan gadis itu. Lalu menggenggam tangan Catalina. "Catalina adalah tunangan ku. Kau harus menerima keputusan ku, Aluna." mungkin dengan cara ini, Alejandro bisa menyingkirkan harapan Aluna yang sangat menginginkan dirinya. Selain ada tujuan lain tentunya.


Catalina tersenyum puas. Ia tidak perlu bersusah payah untuk menyingkirkan Aluna. Karena, Alejandro sendiri yang sudah menolak gadis itu. "Kau dengar, Aluna. Ale memilih ku."


Aluna kesal, "Kau tidak bisa menyingkirkan ku, Ale!" ia menghentakkan satu kakinya. "Aku tidak terima!"


Alejandro menghela, "Kau itu adik ku. Aku tidak pernah memandang mu sebagai seorang wanita." Alejandro berkata jujur.

__ADS_1


Aluna menangis tersedu. Ia dipermalukan Alejandro di depan saingannya. "Kau jahat!" serunya. Aluna pergi dari rumah Alejandro. Ia akan kembali lagi bersama kedua orangtuanya untuk menuntut Alejandro.


"Ale, aku ingin berbincang dengan mu." Catalina berbicara sangat manis. Ia ingin menghabiskan waktu bersama calon suaminya.


Alejandro melepaskan genggamannya. "Aku lelah.."


"Tapi.."


"Kita bisa berbicara lain kali. Aku sungguh lelah, ingin beristirahat." ujarnya. Tanpa menunggu persetujuan dari Catalina, Alejandro pergi meninggalkan gadis itu.


Catalina memakluminya, mungkin Alejandro memang lelah karena baru saja melakukan perjalanan jauh. Ia akan membiarkan Alejandro beristirahat.


***


Alejandro menerima semua laporan yang terjadi ketika ia pergi dari Emma dan juga Markus. Selain laporan perkebunan dan peternakan, Emma memberitahu kejahatan Rossi yang hampir saja merenggut nyawa Isabella.


Tanpa banyak kata, Alejandro membuang Rossi dari rumahnya. Menempatkan gadis itu ke rumah bordil yang kumuh. Rumah bordil yang dikhususkan untuk melayani para pekerja kasar.


Sebelum makan malam, Alejandro menemui Isabella di kamarnya.


"Kau tidak apa-apa? apa yang Rossi lakukan pada mu?" ia khawatir, tidak bisa dibayangkan jika tidak ada orang yang memergoki kejahatan Rossi. Alejandro mungkin sudah kehilangan wanita kesayangannya.


Alejandro mengecup kening Isabella. "Kau pasti sangat kesulitan saat itu."


"Semua sudah terlewati.. sekarang aku sudah baik baik saja."


Alejandro mengangguk. "Ya, jika sesuatu terjadi pada mu, aku pasti sudah gila.." hembusan nafas Alejandro begitu hangat menerpa kulit wajah Isabella.


Isabella tersenyum, mengelus rahang tegas tuannya. "Jangan berlebihan, aku hanya seorang budak, tuan."


"Tapi kau budak ku yang istimewa." Alejandro tidak tahan untuk tidak melummat bibir manis itu. Ciuman itu begitu lembut dan menghanyutkan.


"Kita makan malam bersama. Kau bersiaplah.." kata Alejandro setelah melepaskan pagutannya.


"Boleh aku makan malam di kamar saja? aku lelah.."


"Kau sakit?"


"Aku hanya lelah tuan, liburan kita sungguh membuat ku lelah. Tuan tidak membiarkan ku Istirahat, setiap saat selalu mengerjai ku." Isabella tersipu malu saat mengatakannya.

__ADS_1


Alejandro tertawa. "Baiklah, itu salah ku yang tidak bisa melepaskan tubuh mu. Untuk malam ini, aku tidak akan mengganggu mu. Beristirahatlah.."


Alejandro memberikan sebuah kalung bertahtakan berlian. "Ini sangat indah jika kau yang memakainya." ucapnya sembari memasangkan kalung itu di leher Isabella.


"Apa ini sangat mahal? berapa jika aku menjualnya?" Isabella terpekik, ia tidak bisa mengontrol mulutnya. Pikirannya dipenuhi oleh uang, mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk kabur dari Alejandro.


"Hei! jangan berani menjualnya! akan ku patah kan leher mu!" seru Alejandro.


"Tuan kejam sekali pada ku!"


"Kau yang memancing ku, Isabella.." kata Alejandro. "Kalung ini aku buatkan khusus untuk mu. Tidak ada yang mempunyainya. Hanya satu di dunia ini."


"Benarkah? tuan sendiri yang membuatnya?" Isabella tidak percaya.


Alejandro mengangguk. "Maka dari itu, kau jangan pernah menghilangkannya, apalagi menjualnya!"


"Baiklah.. terimakasih tuan."


"Berikan aku kecupan."


Isabella dengan malu mengecup singkat bibir Alejandro.


"Astaga! kau manis sekali." Alejandro menyambar bibir Isabella hingga tubuhnya ambruk ke ranjang.


"Tuan sudah berjanji akan membebaskan ku malam ini." Isabella menahan Alejandro, jika di teruskan, kegiatan panas akan terjadi.


"Aku lupa." Alejandro beranjak. "Sebaiknya aku harus segera keluar, aku tidak tahan jika bersama mu."


Karena Isabella tidak ikut makan malam bersama, Alejandro memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Meminta Markus untuk membawa makan malamnya.


Alejandro terkejut mendapati Catalina yang datang.


"Dimana Emma dan Markus?" seharusnya dua orang itu yang membawa makan malamnya.


"Ada di luar, aku sendiri yang ingin melayani mu." Catalina meminta dua pelayan untuk meletakkan makanan di meja.


Alejandro mengerutkan keningnya saat pelayan itu pergi, namun Catalina masih berdiri di tempatnya.


"Mau apa kau?" tanya Alejandro.

__ADS_1


"Aku akan menemani mu.."


__ADS_2