
"Emma, berikan surat ini pada ibu ku." Isabella memberikan sebuah surat dan uang untuk ibunya. Hari ini Emma beserta dua pelayan lainnya akan keluar rumah.
"Aku akan berikan." Emma menerimanya. Kemudian wanita itu bergegas pergi, karena sore hari sudah harus kembali ke rumah ini.
Isabella memandang kepergiaan Emma. Ia berharap ibunya mengerti akan kondisinya saat ini. Dalam surat itu, Isabella menceritakan kebenarannya. Tentang Catalina yang menjualnya dan berakhir di tangan Alejandro. "Maafkan aku ibu.."
"Isabel!" Catalina menerobos masuk ke kamar Isabella. Wanita itu datang tiba-tiba lalu menampar Isabella.
Isabella tidak sempat mengelak tamparan itu. "Catalina, apa yang kau lakukan!" sentaknya.
Catalina marah, ia baru mengetahui tentang Isabella yang ternyata adalah wanita Alejandro. Seluruh pelayan sudah mengetahui fakta itu. Catalina pikir, ucapan Isabella hanyalah dusta agar ia cemburu. "Sialan! jauhi calon suami ku!"
Isabella tersenyum remeh. "Kau sudah percaya rupanya."
"Dasar jallang!"
"Ingat Catalina, kau sendiri yang menjual ku!"
Catalina memang menjual Isabella ke rumah bordil, tapi ia pikir Isabella akan mendapatkan pria yang buruk, tua dan berperut buncit! nyatanya pria tampan seperti Alejandro yang membeli Isabella. Catalina tidak rela calon suaminya dimiliki oleh Isabella. Dulu William, sekarang Alejandro! sungguh Catalina membenci Isabella.
"Tapi Ale itu calon suami ku. Kau harus pergi dari sini!"
"Kau bisa menyuruh calon suami mu itu untuk membuang ku. Maka dengan senang hati aku akan pergi.." katanya.
Catalina terdiam. Ia masih belum mendapatkan kepercayaan dan simpatik dari Alejandro. Mana mungkin Alejandro akan menuruti keinginannya. Terlebih para pelayan mengatakan jika Alejandro sangat menyayangi Isabella.
"Kau berani melawan ku?" ucapnya dengan sorot mata penuh kebencian. "Setelah aku pulang dari sini, jangan salahkan aku memberi pelajaran pada ibu mu!"
Isabella tersentak. "Jangan macam-macam, Catalina! ibu ku tidak bersalah apapun!"
"Tidak peduli! kau mengganggu ku, maka ibu mu lah yang mendapatkan balasnya."
Plak! kesabaran habis sudah, Catalina sangat keterlaluan.
"Aku tidak menyangka kau memiliki hati yang sangat busuk!"
__ADS_1
"Beraninya kau menampar ku!" Catalina membalas tamparan Isabella. Kedua wanita itu berkelahi. Untung saja Greta cepat datang dan melerai.
"Nona, hentikan." Greta menjauhkan Catalina dari Isabella. "Tuan Ale memanggil nona." ucapnya.
Catalina menahan diri, berusaha tenang sebelum menemui Alejandro. "Awas kau, Isabel!" ucapnya sebelum pergi.
***
Emma menemui Anne, ibu dari Isabella. Ia memberikan surat dari Isabella.
Emma tidak bisa berlama-lama, ia harus bergegas pergi. "Anne, Isabella menitipkan ini pada ku."
"Terimakasih, Emma. Apa Putri ku baik-baik di sana? kapan dia bisa menemui ku?"
"Secepatnya ia akan menemui mu." jawab Emma. "Anne, kau terlihat pucat? apa kau sedang sakit?"
Anne mengangguk. "Iya, akhir akhir ini kesehatan ku menurun, tapi aku baik-baik saja. Jangan katakan apapun pada Isabella."
"Baiklah. Aku harus pergi.."
Anne membaca surat dari putrinya, setelah Emma pergi. "Putri ku..." lirihnya. Air matanya berderai, menangisi nasib buruk putrinya. Ia tidak menyangka kehidupan putrinya di luar sana bertambah buruk. "Kau pasti sangat menderita."
Tidak ingin putrinya menderita selamanya, Anne harus mengikuti perintah Isabella untuk segera pergi dari keluarga Thompson. "Ibu akan menunggu mu di sana."
***
Saat malam, Emma ingin menemui Isabella. Namun wanita itu sedang bersama tuan Alejandro, Emma harus menunggu keesokan harinya untuk menyampaikan pesan dati ibunya.
Di kamar Alejandro, seperti biasa, Isabella sedang menjalankan tugas sebagai budak Alejandro yang melayani pria itu di atas ranjang.
"Tuan..." Sekalipun membenci Alejandro. Isabella manusia biasa yang memiliki hasratt normal. Ia menikmati penyatuan mereka.
"Ya, begitu Isabella.. gerakan pinggul mu." Alejandro memandu Isabella untuk bergerak liar di atas tubuhnya. "Astaga! kau sangat menggoda!" kedua tangannya terus bermain di buah dada Isabella yang ikut menari seiring gerakan Isabella di bawah sana.
Lenguhan panjang terdengar, pertanda Isabella telah mencapai pelepasan. Ia memeluk erat tubuh Alejandro.
__ADS_1
Kini giliran sang pria yang mengambil kendali. Ia membalikkan tubuh Isabella untuk memunggunginya. Lalu memulai permainan kembali. Permainan liar yang akan berlangsung lama.
"Kau selalu memuaskan, Isabel." Alejandro menarik Isabella masuk ke dalam pelukannya. Alejandro selalu puas bermain dengan wanita kesayangannya. "Terimakasih.." tidak lupa ia mengecup kening wanitanya. Jika Isabella menurut, Alejandro akan memperlakukannya dengan lembut.
Tengah malam, Isabella meninggalkan Alejandro yang sudah tertidur pulas.
"Cih! dasar jallang!" Catalina memergoki Isabella yang baru saja keluar dari kamar Alejandro. Harusnya dia yang ada di kamar itu, bukan Isabella!
"Calon suami mu sangat menggairahkann, tubuhnya begitu nyaman saat menyatu dengan ku." Isabella sengaja memanasi Catalina. Biarlah wanita itu kesal. "Dia begitu hebat di ranjang! aku sampai kewalahan.." tawa Isabella semakin membuat Catalina murka.
"Awas kau!" niat hati ingin diam-diam masuk ke kamar Alejandro untuk merayu lelaki itu, Catalina justru mendapati kenyataan pahit. Alejandro dan Isabella sedang bersama.
Isabella menghela nafas, ia harus bersikap layaknya jallang di depan Catalina.
"Emma pasti mencari ku." bergegas Isabella kembali ke kamar. "Mungkin Emma sudah tidur. Besok pagi saja aku menemuinya."
***
"Emma, kemana saja? aku mencari mu sedari tadi." hari sudah siang, Isabella baru menemukan Emma.
"Aku membantu nyonya Seren." jawabnya.
"Bagaimana ibu ku?" dia baik-baik saja kan?"
Emma terdiam, ia berfikir sejenak. Menimbang-nimbang, apa harus mengatakan yang sebenarnya jika Anne sedang sakit?
"Emma! katakan pada ku. Ibu ku baik-baik saja kan?" Isabella semakin curiga melihat Emma diam.
"Isabel, ibu mu sedang sakit. Aku melihat wajahnya pucat." lebih baik memberitahu keadaan Anne. Ia kasihan jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa Anne.
"Ibu..." lirihnya.
"Isabel, kau harus membujuk tuan Ale agar bisa keluar dari rumah ini untuk menemui ibu mu." saran Emma.
"Akan aku coba.."
__ADS_1
Ibunya sakit, Isabella ingin menemui dan merawat ibunya. Hanya dia satu-satunya yang ibunya miliki di dunia ini. "Ibu, tunggu aku.."