
Catalina menatap sinis Isabella, mereka kini tengah berada di ruang makan. Bagi Catalina, tidak akan merubah apapun mengenai Isabella yang merupakan putri bangsawan. Ia masih saja membenci Isabella karena semua pria yang ia sukai malah menaruh hati pada Isabella.
"Aku berharap kalian bisa lebih lama tinggal disini." ucap Elizabeth pada Catalina. Ia memperbolehkan Catalina dan Alejandro yang menetap lebih lama dari para tamu lainnya. Elizabeth mengenal tuan Thompson. Dan ia ingin sekali mengucapkan banyak terimakasih kepada tuan Thompson karena telah memberikan tempat tinggal untuk putrinya, Anne.
Isabella pun mengerti sekarang, sikap tuan dan nyonya Thompson begitu baik padanya dulu. Membiarkan dirinya yang hanya seorang anak pelayan bermain bersama putri mereka. Bahkan ibunya tidak di perbolehkan bekerja terlalu berat. Rupanya mereka saling mengenal, dan menyembunyikan keberadaan Anne dari keluarganya.
"Tentu, dengan senang hati kami akan menetap lebih lama. Lagipula, aku dan tuan Edgar akan melakukannya kerjasama." sela Alejandro. Pria itu begitu senang sekali mendapatkan ijin untuk menetap lebih lama. Hal itu akan membuatnya semakin dekat dengan Isabella.
Isabella dan Catalina menatap Alejandro dengan tatapan tidak suka. Catalina jelas tahu dirinya kini sedang dimanfaatkan oleh Alejandro agar pria itu bisa leluasa bertemu dengan Isabella.
"Nenek, bukannya tidak baik menampung orang asing di rumah ini? mereka kaya, pasti memiliki banyak uang untuk menyewa penginapan." Isabella tidak peduli dengan Alejandro yang marah mendengar ucapannya.
Elizabeth tertawa. "Kau benar, tapi aku sangat mengenal ayah Catalina. Kau pun juga saling dekat dengan Catalina kan?"
Isabella menghela, jika saja Elizabeth tahu mengenai kejahatan Catalina dan Alejandro padanya, pasti neneknya itu akan memberikan perhitungan, bukan malah menerima mereka dengan senang hati.
"Kami tidak akan lama di sini, kau tenang saja Isabel." ucap Catalina. Ia mengabaikan tatapan Alejandro yang tidak setuju dengan keputusannya.
Makanan telah selesai di hidangkan, mereka semua mulai menutup mulut. Saat makan, tidak diperbolehkan untuk berbicara.
***
Menjelang sore, Jordan datang menemui Isabella. Ia merindukan tunangannya itu. Kedatangan Jordan tentu di sambut baik oleh Isabella.
"Aku pikir kau tidak datang." ucap Isabella. Biasanya Jordan akan mengunjunginya saat pagi hari sebelum memulai bekerja.
"Tadi pagi aku tidak sempat menemui mu, jadi aku menyelesaikan pekerjaan ku dulu supaya bisa bisa menemui mu sebelum malam." jelasnya. "Kita jadi berkuda kan?" mereka telah berjanji akan berkuda bersama.
"Ya, aku bersiap dulu." katanya.
Selagi menunggu Isabella bersiap, Jordan dihampiri Alejandro.
"Kau masih di sini?" tanya Jordan yang terkejut melihat Alejandro masih ada di rumah keluarga Smith.
Alejandro mengangguk. "Aku akan menginap beberapa hari di sini. Aku dan tuan Edgar memiliki kerjasama." Alejandro menelisik pria di hadapannya ini dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Aku lebih tampan darinya."
__ADS_1
Jordan mengerutkan keningnya, tatapan Alejandro berbeda dari sebelumnya. Tatapan tidak bersahabat. "Ada apa kau melihat ku seperti itu?"
Alejandro tersenyum remeh. "Tidak, hanya saja kau terlihat tua dengan pakaian seperti itu." celetuknya.
Jordan terkesiap. Alejandro ini aneh sekali, pertama kali bertemu dia memuji ketampanan dan kemapanannya, lalu saat ini pria itu terdengar seperti menghinaanya. "Aku belum sempat berganti pakaian, aku harus datang tepat waktu untuk mengajak Isabella berkuda."
Belum sempat Alejandro menimpali ucapan Jordan, Isabella terlihat menghampiri. Senyum di wajah Isabella menyurut tatkala melihat Alejandro sedang berbincang dengan Jordan.
"Kau sudah siap?" tanya Jordan. Isabella mengangguk. "Aku lupa membawa pakaian ganti." ucapnya. Pakaiannya saat bekerja tentu tidak akan nyaman digunakan untuk berkuda.
"Tidak apa, aku suka melihat mu memakai pakaian seperti itu." sengaja, Isabella mengatakan itu di depan Alejandro.
"Terimakasih, sayang ku.." Jordan mencubit gemas dagu Isabella. Jika saja tidak ada Alejandro, mungkin sebuah kecupan sudah ia berikan di pipi tunangannya.
Alejandro melotot melihat kedekatan dua insan itu. "Ehemm.." ia berdehem. "Boleh aku ikut bergabung?"
Jordan menoleh, "Tentu, kau juga bisa mengajak tunangan mu."
Sebenarnya Isabella ingin menolak, tetapi Jordan lebih dulu mengiyakan.
"Oh begitu.."
Ketiganya berjalan menuju halaman belakang rumah mewah itu. Hamparan rumput terlihat sangat luas.
"Jordan, kau kan kesulitan jika menunggangi kuda karena memakai pakaian itu. Bagaimana kalau aku saja yang menemani Isabella?" Alejandro tiba-tiba berinisiatif untuk ngambil alih posisi Jordan. Pria itu tidak akan merelakan Isabella berdekatan dengan Jordan.
Jordan tampak ragu untuk menyetujuinya. Ia pun tidak rela Isabella berdekatan dengan pria lain.
"Kau bisa berkuda, tuan Ale?" tanya Isabella.
Alejandro tersenyum tatkala wanitanya itu sudah mau berbicara padanya. "Tentu, aku bisa berkuda. Aku bahkan hebat dalam segala hal."
Isabella mengangguk. "Kebetulan aku tidak bisa memanah dengan baik, apa kau mau melatih ku?"
"Sayang, aku juga bisa melatih mu memanah." sela Jordan. Ia tidak rela Isabella mengacuhkannya.
__ADS_1
Isabella tersenyum lebar, lalu mengelus pipi Jordan. Di perlakukan manis seperti itu, hati Jordan melembut. Sedangkan Alejandro semakin kesal melihatnya.
"Aku hanya ingin tahu, apa tuan sombong ini lebih hebat dari mu atau hanya membual saja." ucapnya meyakinkan Jordan. "Kau bisa mendampingi ku kalau kau memang khawatir."
"Baiklah..." Jordan membiarkannya.
Alejandro tersenyum, ia merasa menang karena Isabella lebih memilih berlatih dengannya.
Saat melatih Isabella memanah, Alejandro mencuri kesempatan untuk berdekatan. Pria itu tidak takut ada Jordan di sekitarnya. Diam-diam ia mencuri kecupan di pipi Isabella.
"Kau harus sering berlatih lagi. Aku siap membantu mu kapan pun." ujar Alejandro.
"Ya aku akan sering berlatih." balasnya.
"Kita sudahi latihan ini, kau terlihat kelelahan." Jordan ingin menyudahinya. Rasa cemburu melihat kedekatan Isabella dan Alejandro.
"Tunggu dulu, aku belum puas." katanya. "Aku ingin memanah sembari berkuda." Isabella menyeringai. Lalu menoleh pada Alejandro. "Tuan Ale masih mau melatih ku kan?"
"Tentu saja!" dengan semangat ia menjawab.
"Baiklah, aku akan memanah seperti pemburu di hutan. Tapi karena di sini tidak ada hewan yang aku buru, bagaimana kalau tuan Ale yang menggantikannya."
Alejandro terkesiap. "Apa maksud mu?"
"Tuan Ale sendiri yang bilang pada ku kalau anda sangat pandai dalam segala hal. Jadi aku yakin tuan Ale bisa berlari cepat untuk menghindari anak panah ku kan?" katanya.
"Isabella, ini berbahaya." sela Jordan.
"Kau takut, tuan Ale?" Isabella segera menunggangi kuda. Lalu mempersiapkan busur panahnya untuk berburu. "Tuan, kenapa diam? kau tidak mau langsung terkena busur panah ku kan?"
Alejandro dan Jordan masih mematung. Jordan tidak mengerti keinginan Isabella yang terlihat aneh. Tapi tidak bagi Alejandro, ia seperti mengingat sesuatu.
"Tuan, cepatlah! jangan khawatir, aku tidak pandai memanah. Bidikan ku akan meleset." seru Isabella.
"Aku siap berburu, tuan Ale!" Isabella mulai menghentakkan kakinya, menarik tali kekang. Mulai memacu kuda untuk memburu Alejandro.
__ADS_1
"Astaga! dia membalas ku!"