Budak Tuan Alejandro

Budak Tuan Alejandro
Jordan yang bimbang


__ADS_3

Besok pagi adalah hari pernikahannya, malam ini Isabella tidak bisa memejamkan matanya. Wanita itu gelisah, entah memikirkan apa. Padahal sebelumnya dirinya lah yang sangat menggebu untuk menikahi Jordan. Sampai-sampai pernikahan yang seharusnya menunggu beberapa bulan lagi di percepat.


"Jordan pria terbaik untuk mu, Isabel." Isabella berulang kali meyakinkan diri jika Jordan memang pria yang tepat untuk menemaninya sampai tua nanti.


Wanita itu menghirup nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan perlahan. "Tenang, Isabel. Semua akan baik-baik saja." setelah cukup tenang, ia kembali membaringkan tubuhnya, memaksakan untuk tertidur.


***


Pagi hari saat terbangun, Jordan merasa kepalanya sangat pening. Ia memijat keningnya, mengingat-ingat apa yang telah terjadi. "Semalam aku mabuk." gumamnya. "Jam berapa ini!" ia tersentak saat mengingat pagi ini ia harus bersiap untuk menikahi Isabella. Jordan takut terlambat menghadiri acara pernikahannya.


Namun saat beranjak dari ranjang, kedua mata Jordan membeliak seketika. Tubuhnya polos, pakaian yang semalam ia kenakan berserakan di lantai. "Astaga! apa yang kulakukan." ia benar-benar lupa apa yang sudah terjadi dengan dirinya semalam, hingga berakhir dengan keadaan polos. Seingatnya, ia mabuk berat karena melanggar janjinya sendiri. Yang tadinya hanya ingin meneguk segelas wine, tetapi ia malah menghabiskan hampir dua botol wine.


Jordan mengitari pandangan sekitar, tapi tidak ada siapapun di kamarnya. Kedua pandangannya menyipit ketika mendapati bercak merah di alas tempat tidur. "Darah!" serunya.


"Jordan! apa kau sudah bersiap? ibu menunggu mu nak!" nyonya Felipe berteriak di luar kamar, membuyarkan lamunan Jordan yang sedang menerka-nerka apa yang sudah terjadi.


"Ya Bu, tunggu sebentar." balasnya. Pria itu mengusap wajahnya kasar. Noda merah itu berbau anyir, sudah pasti darah! tubuhnya tidak ada yang terluka. Jadi mungkinkah ia sudah bermalam dengan seorang gadis? tapi siapa? hati Jordan tak tenang.


Di sisi lain, Alejandro mengumpati tangan kanannya, Markus. Rencananya gagal, kamar yang sudah dipersiapkan untuk Jordan dan wanita suruhannya kosong.


"Kau membawa pria brengsek itu kemana hah! aku sudah bilang, bawa ke kamar ini." Alejandro menatap Markus yang sedang tertunduk.


"Maaf tuan, semalam saya sudah menyuruh orang kita untuk mengantar tuan Jordan ke kamar ini." ujarnya. Salahnya yang tidak memastikan, jika Jordan benar-benar telah masuk ke kamar yang sudah di persiapkan.


"Bodoh!" kesalnya. Rencana yang sudah tersusun dengan baik nyatanya tidak berjalan dengan lancar.


Wanita panggilan itu malah bermalam dengan teman Jordan. Tentu bukan rencana yang sesungguhnya.


Kini Alejandro dibuat gelisah kembali, ia tidak mau kehilangan Isabella. Sebentar lagi Isabella akan menikah dengan Jordan, ia bingung dengan cara apalagi agar bisa menggagalkan pernikahan itu.


"Ale! ada apa ini?" Edgar menghampiri, ia heran pagi-pagi Alejandro sudah memarahi Markus. "Tahan emosi mu, jangan membuat keributan. Lebih baik kau bersiap, kita akan menemani Jordan ke altar."

__ADS_1


Alejandro berusaha menenangkan diri. "Iya. Aku akan bersiap."


"Kami menunggu mu." ucapnya seraya pergi meninggalkan Alejandro dan Markus.


"Sialan kau, Markus! awas saja aku akan menghukum mu!" geramnya.


Markus hanya bisa menunduk, ia tidak berani melawan tuannya.


***


Isabella telah menggunakan gaun pengantin yang amat cantik. Sangat cantik seperti seorang putri di negri dongeng.


"Aku gugup, Hulsa." ucapnya.


"Tenang lah. Semua wanita pasti akan merasa gugup bila ada di posisi mu." Hulsa menenangkan Isabella yang sedari tadi berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Entah gugup karena terlalu bahagia menantikan pernikahannya atau gugup belum siap sepenuhnya menjadi istri Jordan.


"Kau bicara seperti itu seperti sudah berpengalaman saja."


Meski acara pernikahan di lakukan secara sederhana karena terbilang mendadak, namun tidak sedikit yang datang menghadirinya.


"Isabel, sepertinya keluarga calon suami mu sudah datang." ujar Hulsa yang melihat rombongan datang melalui jendela kamar. Gadis itu pun berlari menuju jendela agar bisa melihat jelas. "Waahhh, semuanya terlihat tampan dan cantik. Keluarga bangsawan memang selalu menawan." pekik Hulsa, seperti tidak pernah melihat orang berpakaian mewah saja, semua orang dibilang cantik dan tampan.


"Bagaimana ini.." gumam Isabella.


Hulsa menoleh pada Isabella. "Jangan bilang nona sekarang ragu dan ingin membatalkan pernikahan ini." terka Hulsa. Pasalnya, Isabella tidak sepenuhnya mencintai Jordan. Melainkan mencintai pria lain, Alejandro. Hulsa tahu itu.


"Bukan begitu... aku gugup saja." jawab Isabella.


Hulsa bernafas lega. Ia pikir Isabella memang ingin kabur dari pernikahan ini. Tentu ia yang akan repot membantu seorang pengantin kabur.


Di luar sana, Jordan melirik jendela kamar calon istrinya. Hati pria itu tidak tenang. Pria itu ingin memastikan sesuatu, apa yang terjadi semalam di kamarnya. Jika ia telah merenggut kehormatan seorang gadis, tentu sebagai pria ia Jordan harus bertanggungjawab.

__ADS_1


"Mau kemana kau Jordan." tegur nyonya Felipe.


"Ibu, aku perlu ke kamar kecil." Jordan beralasan. Ia harus bertemu dengan Isabella.


Nyonya Felipe terkekeh. "Kau gugup rupanya.. yasudah sana, tapi jangan berlama-lama. Nanti pengantin wanita mu lari di bawa pria lain."


"Iya Bu..."


***


"Markus, kau bersiap. Sepertinya aku harus membawa Isabella kabur dari pernikahan ini." Alejandro berbisik pada tangan kanannya. Pria itu tidak peduli dengan kekacauan yang bisa saja terjadi karena ulahnya. Ia hanya ingin membawa wanitanya pergi. Tidak rela laki-laki lain memiliki Isabella.


Markus terkesiap mendengar rencana dadakan tuannya. Sungguh sudah gila! bagaimana bisa membawa Isabella pergi? Isabella bukan orang sembarangan. Banyak pengawal yang pasti akan mengejarnya. Lalu bisa juga membunuhnya.


"Tapi, tuan..." Markus tak bisa berkata lagi. Menasihati pun percuma. Cinta sudah membuatkan segalanya. Alejandro sangat menginginkan Isabella.


Alejandro mendelik saat melihat keraguan Markus. "Kau mau mati? hah!"


"Tidak tuan,"


"Turuti perintah ku!"


"Baik, tuan." Markus segera undur diri untuk mempersiapkan pengawal mereka.


Sebelum Markus benar-benar pergi, Alejandro bertanya. "Dimana Catalina? aku tidak melihatnya?"


"Nona Catalina sudah pulang lebih dulu, satu pengawal menemaninya." jawab Markus.


"Oh.." Alejandro mengangguk. Ia tidak perduli apapun yang dilakukan Catalina. Itu tidak penting baginya.


Alejandro tidak sabar menunggu kabar dari Markus. "Dasar bodoh!" umpatnya. Ia ingin segera beraksi tapi Markus belum juga kembali, membawa kabar jika semuanya sudah bersiap.

__ADS_1


__ADS_2