
Kediaman keluarga Smith telah mempersiapkan segalanya, untuk menyambut tamu undangan yang akan hadir di acara pertunangan Isabella dan Jordan yang akan di selenggarakan di rumah ini.
"Jack, apa paviliun sudah di persiapkan dengan baik?" Edgar menanyakan paviliun yang ada di sayap kanan dan kiri rumah besar itu. Tamu undangan yang berasal dari kota sebrang di sediakan tempat untuk menginap. Maklum, kerabat serta teman Edgar cukup banyak yang ada di luar kota.
"Sudah tuan." jawab Jack.
"Bagus, jangan sampai membuat malu. Kita harus memberikan sambutan dengan baik." katanya.
"Tentu tuan, saya akan menjalankan tugas dengan baik." balasnya.
"Bagaimana dengan Luke? apa putra ku belajar dengan cepat?"
"Tuan muda sangat pintar, jadi cepat tanggap. Hanya saja, tuan muda masih senang menyendiri."
"Bagaimana dengan pelayan Isabella? bukannya dia dekat dengan Luke?" beberapa kali Edgar melihat kedekatan Luke dan Hulsa, itu suatu kemajuan.
"Saya belum tahu pasti. Hanya pernah melihat beberapa kali saja."
Edgar mengangguk saja, ia kembali ke ruang kerjanya. Sedangkan Jack kembali menjalankan tugasnya. Selain menjadi pengawal, pria itu di tugaskan untuk memantau perkembangan Luke, terkadang juga mengambil alih tugas pengajar yang tiba-tiba absen. Jack pegawai yang multifungsi bagi Edgar, sudah lebih dari sepuluh tahun pria itu mengabdikan diri pada Edgar dan keluarga.
***
Catalina sangat kesal sekali pada Alejandro. Pria itu ada di sampingnya tetapi serasa tidak ada. Alejandro mengabaikan Catalina selama perjalanan.
"Kita tidak perlu mencari penginapan, Ale! keluarga bangsawan itu sudah menyediakan tempat khusus bagi tamu undangan dari luar kota." gadis itu menggerutu. Alejandro tidak mau menginap di tempat yang sudah disediakan oleh sang penyelenggara acara. Ia memilih mencari penginapan di tempat lain
"Aku tidak suka dengan yang gratis!" ucapnya begitu pongah. "Kalau kau mau menginap disana, menginap saja! aku akan tetap cari penginapan." bukan tanpa sebab Alejandro memutuskan mencari penginapan di sekitar kota, yang dekat dengan pasar ataupun lingkungan ramai lainnya. Ia ingin mencari Isabella, siapa tau wanitanya itu ada di sekitar sini.
__ADS_1
"Di sini terlalu jauh, kita bisa terlambat datang ke acara." Catalina masih kekeh membujuk Alejandro.
"Tidak apa terlambat. Yang penting kita datang menghadiri undangan." perdebatan tidak akan berhenti karena mereka berdua sama kerasnya. Markus sampai bingung sendiri mendengarnya.
"Tuan, jadi bagaimana? kita lanjutkan perjalanan menuju kediaman keluarga Smith atau cari penginapan?" Markus bertanya sebelum ia menentukan arah tujuan selanjutnya.
"Kita cari penginapan!" seru Alejandro dengan cepat.
Catalina mendengus kesal, mau bagaimana lagi? Alejandro sudah menentukan, ia tidak bisa membantah lagi. Catalina pun tidak mau datang sendiri tanpa calon tunangannya. Hal itu pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan.
***
Menjelang hari pertunangan, Jordan tidak boleh menemui Isabella untuk sementara waktu. Hal itu membuat sang pria rindu berat pada calon tunangannya.
Diam-diam Jordan menyelinap, ia nekad masuk ke dalam rumah itu dengan menggunakan samaran, memakai pakaian seorang pengawal.
Jordan menyengir, "Aku merindukan mu, jadi terpaksa aku menyamar menjadi pengawal."
"Kau bisa terkena masalah kalau sampai ketahuan." Isabella panik, bisa-bisanya Jordan menyelinap masuk melalui jendela kamarnya.
"Tidak akan, semuanya aman." tidak masalah kalau sampai ketahuan, paling hanya ditegur lalu di usir.
"Apa tidak bisa menunggu sampai besok malam? kau tidak sabaran!" besok malam acara pertunangan mereka, itu hanya sebentar lagi. Jordan malah nekat menemuinya.
"Tidak bisa, sehari tidak menemui mu, rindu ku sudah menumpuk." Jordan maju mendekat. "Aku ingin memelukmu." pria itu meraih tubuh Isabella untuk di peluk. Huh! seketika rindu itu terobati.
"Jangan seperti ini, Jordan." Isabella merasa risih. Ia ingin melepaskan pelukan itu.
__ADS_1
"Tunggu sebentar." Jordan menahannya. "Kau tidak merindukan ku ya?" tebaknya. Jika dilihat-lihat, Isabella sama sekali tidak bahagia dengan kedatangannya. Jordan tertawa menyadari sesuatu. "Aku pastikan secepatnya kau akan terus merindukan ku."
"Ish! percaya diri sekali." Isabella melerai pelukan, ia tidak bisa berlama-lama.
Suara ketukan pintu terdengar, rupanya Hulsa yang datang, terdengar suara gadis gendut itu. "Nona! nona! apa nona di dalam?" teriaknya.
"Ya! tunggu sebentar." balas Isabella. Tatapannya beralih pada Jordan. "Kau harus pergi, Hulsa ada di depan pintu."
"Sayang sekali, padahal aku baru datang." ada sedikit kekecewaan dari suaranya. Tapi mau bagaimana lagi? ia memang harus pergi. Yang terpenting rasa rindu sudah sedikit terobati. "Baiklah aku akan pergi." Sebelum pergi, Jordan menyempatkan untuk mengecup kening Isabella. Sampai bertemu besok malam." katanya.
"Iya, hati-hati." balas Isabella.
Namun, Jordan tak kunjung bergerak, seakan tidak rela meninggalkan tempat itu. "Isabella.." lirihnya. Jordan perlahan mendekatkan wajahnya, tatapannya tertuju pada bibir manis Isabella.
Isabella memalingkan wajah ketika Jordan sedikit lagi menyentuh bibirnya.
Jordan tersenyum, "Maaf, aku tidak bisa menahannya."
Isabella mengangguk. "Jangan ulangi. Kau bisa mendapatkannya setelah menikahi ku."
"Hahh, aku jadi tidak sabar ingin menikahi mu."
"Nona! nona! apa yang terjadi? nona baik-baik saja di dalam?" suara Hulsa terdengar kembali.
"Kau harus pergi, Jordan."
"Baiklah.. aku pergi." kali ini Jordan benar-benar pergi, pria itu melewati jendela kamar Isabella.
__ADS_1
Isabella mengehela nafas, hampir saja ia kelepasan menyambut sentuhan Jordan. Setelah menenangkan diri, Isabella membuka pintu kamarnya.