Budak Tuan Alejandro

Budak Tuan Alejandro
Mabuk


__ADS_3

Perjamuan pun dilangsungkan dikediaman Jordan. Pria itu mengundang beberapa temannya untuk merayakan pelepas masa lajangnya, esok pagi ia akan membawa wanita yang dicintainya ke altar dan statusnya pun akan berubah menjadi seorang suami.


"Nikmati malam ini, tapi aku tidak bisa terlalu malam menemani kalian." ujar Jordan. Ia akan undur diri sebelum perjamuan sampai larut malam. Ia harus segera tidur supaya saat bangun ia terlihat segar. "Aku juga tidak mau meminum wine, ini aku sediakan untuk kalian."


"Tidak adil, perjamuan ini untuk bersenang-senang. Kau harus meminum wine, setidaknya segelas atau dua gelas." salah satu temannya berseru. Tidak asik jika si pemilik acara tidak ikut merayakan perjamuan malam ini.


"Benar, Jordan. Segelas wine tidak masalah." Alejandro ikut bersuara. Hal inilah yang pria itu nantikan.


"Baiklah, segelas tidak akan membuat ku mabuk." untuk menghormati temannya yang rela meluangkan waktu untuk datang, Jordan mengiyakan saja.


Diam-diam seringai muncul di wajah Alejandro tanpa seorang diketahui seorang pun. Alejandro pria yang mudah berbaur, ia cepat akrab dengan orang baru.


"Bagaimana, Markus? apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" Alejandro menjauh dari perkumpulan, ia mendekati Markus untuk memastikan sesuatu.


"Sudah tuan. Tapi apa tidak apa-apa? rasanya ini tidak adil bagi tuan Jordan." Markus sebenarnya tidak setuju dengan rencana tuannya tapi ia tidak bisa berbuat banyak, Alejandro adalah tuannya, yang segala perintahnya harus dilaksanakan.


Alejandro membeliak, ia kesal! "Kau ini mendukung siapa! aku ini tuan mu!" tak segan, Alejandro menendang tulang kering Markus, hingga pria itu mengaduh kesakitan.


"Te-- tentu saja aku mendukung tuan." Markus mengelus kakinya.


"Bagus!" enak saja Markus memiliki belas kasih pada pesaingnya. Markus bekerja dengannya, tentu harus mendukungnya! "Oh iya, suruh orang mengantar Catalina, ini hampir malam. Ingat! jaga dia baik-baik, Aku tidak mau tuan Thompson marah dan menghentikan ijin perdagangan ku. Huh! pria tua semakin cerewet, aku menyesal berurusan dengannya." gerutu Alejandro.


"Baik tuan." balas Markus.


Catalina memang ikut menghadiri perjamuan tersebut. Ada beberapa teman Jordan juga membawa kekasih mereka. Catalina tidak sendirian datang menggandeng prianya.


Alejandro kembali duduk di tempat semula. Ia mengambil gelas berisi anggur merah yang siap mengguyur tenggorokannya. Saat meneguk, ekor matanya melirik Jordan yang tengah menikmati segelas wine. Senyum tipis terbit di wajah pria arogan itu.


***

__ADS_1


"Bibi, aku pamit." sebelum pulang, Catalina berpamitan pada Nyonya Felipe. Ibu dari Jordan itu menyambutnya dengan baik. Sepertinya wanita itu memang berperilaku baik pada siapapun.


"Sayang sekali, kita belum puas berbincang." ucapnya. "Dimana tunangan mu?" nyonya Felipe mencari keberadaan Alejandro.


"Aku pulang sendiri bibi. Ale masih ingin di sini." jawabnya. Catalina pun kesal karena Alejandro memintanya untuk pulang lebih dulu, padahal pria itu yang memaksanya untuk ikut.


Nyonya Felipe terkejut mendengarnya. "Sebentar lagi malam, bagaimana bisa kau pulang sendiri. Meskipun ada pengawal, tapi ini berbahaya. Seorang gadis pulang malam hari." nyonya Felipe tidak suka dengan pria yang membiarkan wanitanya pulang sendiri saat malam hari.


Sangat tidak bertanggung jawab!


"Menginap saja di sini." saran nyonya Felipe.


"Tapi bibi---"


"Menginap lah, bibi memaksa. Besok kita pergi bersama mengantar putra ku ke pernikahannya." Nyonya Felipe kekeh, ia tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Catalina. Seorang gadis harus di jaga baik-baik. "Bibi akan meminta pelayan untuk menyiapkan kamar mu."


***


"Ale, aku akan pulang. Kau masih ingin disini atau pulang bersama ku." seru Edgar. Laki-laki itu sedari tadi hanya diam mendengarkan ocehan kumpulan pria yang lebih muda darinya.


Edgar memang sulit berbaur dengan orang baru, apalagi orang itu usianya ada di bawahnya. Hanya Jordan yang cukup dekat dengan Edgar.


"Kita menginap saja, ini sudah larut. Aku yakin para bandit sudah siaga mencegah kita." ujar Alejandro.


Benar juga apa yang dikatakan Alejandro. Malam sudah larut, itu sangat berbahaya untuk perjalanan pulang. "Baiklah, lalu bagaimana dengan kekasih mu?"


"Catalina sudah pulang sedari tadi." jawabnya. Ia kesal mendengar Edgar menganggap Catalina sebagai kekasihnya. Huh!


"Kau membiarkannya pulang sendiri?" Edgar tak menyangka, Alejandro membiarkan tunangannya pulang sendirian.

__ADS_1


Alejandro menghela. "Banyak para pengawal yang menamainya, dia pulang belum terlalu malam, jalanan masih ramai."


Tidak ada sautan lagi dari Edgar. Ia tidak mau ikut campur mengenai hubungan Alejandro dengan Catalina. Edgar mengehela kasar ketika melihat Jordan sudah mabuk. "Katanya hanya meminum satu gelas!"


Alejandro tertawa mendengarnya. "Seorang pria akan lupa diri jika sudah meneguk minuman yang melenakan."


"Tidak dengan ku." balas Edgar.


"Kau pengecualian. Kau kan, pria suci, walaupun senjata mu tidak suci lagi." celetuk Alejandro.


"Kau!" Edgar mendelik tak terima.


"Tenang bung! aku hanya bercanda." sergah Alejandro. "Tapi yang ku katakan benar kan?" lanjutnya.


"Aku bukan pria brengsek yang bermain dengan wanita sembarangan."


"Aku tahu." Alejandro membenarkan. "Tapi tetap saja kesucian mu sudah hilang oleh mantan istri mu."


"Memang seharusnya begitu kan? tidak mungkin mengabaikan wanita yang sudah resmi aku nikahi." balasnya. Edgar kembali menatap remeh Alejandro. "Kau sendiri bagaimana? aku yakin, pria seperti mu sudah mencicipi banyak lubang wanita bordir." sindirnya. "Menjijikkan!"


Alejandro menggeram kesal. "Tidak! aku hanya menikmati wanita yang ku cintai." dustanya. "Setidaknya sekarang aku sudah tobat." lanjutnya dalam hati.


Edgar mendengkus. Lebih baik menyudahi pembicaraan yang tidak berguna ini. Bisa-bisanya ia meladeni ucapan Alejandro yang berbau mesum. Biasanya Edgar bisa menjaga ucapannya.


"Hei.. kau!" Edgar memanggil salah satu pengawal di rumah ini. "Bawa tuan mu ke kamarnya, di mabuk berat."


"Baik tuan." balasnya.


Alejandro memberi tatapan tersirat pada pengawal itu. Entah apa yang di rencanakan oleh pria licik nan arogan itu.

__ADS_1


__ADS_2