
"Isabel, aku ingin bicara dengan mu." Jordan menemui Isabella, ia ingin menceritakan hal yang meresahkan hatinya. "Ini penting.." lanjutnya ketika melihat keraguan di wajah Isabella.
"Baiklah, aku juga ingin berbicara hal penting pada mu." balasnya. Isabella melirik Hulsa, meminta gadis itu untuk memberikan ruang untuk mereka berdua.
Sebelum pernikahan terjadi, Isabella ingin mengatakan jika laki-laki yang dulu pernah merenggut paksa kehidupannya ada di sekitar mereka. Jordan harus dengar dari mulutnya sendiri sebelum orang lain mengatakannya.
"Kau juga ingin bicara penting dengan ku? apa itu?" rupanya bukan dirinya saja yang ingin membicarakan hal penting.
Isabella terdiam, ia ragu mengatakannya. "Sebaiknya kau dulu ya bicara."
Jordan menggeleng, "Kau saja. Aku akan berbicara setelah kau." ada ketakutan menyelimuti, ia takut mengecewakan Isabella karena perbuatan buruknya. "Katakan Isabel.."
Isabella mengesah kasar, "Jordan.. kau ingat kan, aku pernah mengatakan sebelum jika aku pernah menjadi budak?" Jordan mengangguk. Pria itu sudah pernah bilang, ia sama sekali tidak mempermasalahkan masalalu Isabella.
"Pria itu ada di sini.. kau mengenalnya." Isabella menatap lekat manik Jordan yang terlihat membeliak, tentu laki-laki itu terkejut saat mendengarnya.
"Si-siapa?" mulutnya terasa kaku untuk berucap. Lelaki pemilik Isabella sebelumnya, ada di sini? dan dirinya sangat mengenalnya? Jordan penasaran sekaligus tidak ingin mendengarnya. Ia takut hatinya akan patah apabila mengetahui siapa laki-laki itu.
Hatinya berharap semoga bukan salah satu dari teman dekatnya, jika iya itu akan membuatnya sulit. Walaupun Jordan menerima masalalu kelam Isabella tapi tetap saja jika lelaki itu orang dekat akan membuatnya terbayang-bayang hal gila yang pernah dilalui Isabella bersama lelaki tersebut. Jordan berharap ia sama sekali tidak mengenal dekat! Namun takdir sepertinya tidak berpihak padanya.
Isabella tertunduk. "Alejandro..." jawabnya lirih. Wanita itu sama sekali tidak berani bertatap muka dengan Jordan. Malu sekali, terlebih Isabella sudah menyembunyikan hal ini dari Jordan.
Terdengar helaan nafas kasar, "Dia rupanya.." Jordan tersenyum kecut. Pantas saja sikap Alejandro berbeda dari pertama kali bertemu. Dari yang ramah, terlihat sangat bersahabat jika sedang berbicara, berubah menjadi sinis dan ucapannya sering terdengar meremehkan. Jordan pikir itu adalah gaya bicara Alejandro, namun ternyata pria itu merupakan saingannya.
__ADS_1
"Maafkan aku baru mengatakan ini padamu." ucap Isabella menyesal. "Sebenarnya aku ingin mengubur masalalu ku, tapi tiba-tiba dia datang." Isabella menarik nafasnya perlahan sebelum berbicara kembali. "Aku tidak mau kau mendengar hubungan ku dan Ale dari mulut orang lain. Jadi aku putuskan untuk berbicara jujur pada mu." sedikit lega saat mengatakan hal yang selama ini ia tahan. Isabella terima jika Jordan marah padanya dan membatalkan pernikahan ini.
"Ya aku mengerti. Kau juga pasti sulit untuk mengatakan semua ini." Jordan mengelus pundak Isabella. Ia tersenyum memandang wajah calon istrinya. "Astaga, aku sampai lupa." pekiknya.
"Lupa apa?"
Senyuman Jordan semakin lebar. "Aku lupa belum memuji kecantikan mu hari ini.." jemarinya membeli pipi Isabella. "Kau sangat cantik."
Isabella tertawa. "Aku pikir apa! kau masih saja sempat membual!" tengah berbicara serius, bisa-bisanya Jordan menggodanya.
"Jordan, kau tadi mau bilang apa? sampai masuk ke kamar ku, sepertinya sangat penting." Isabella mengingat kedatangan Jordan ke kamarnya yang ingin membicarakan hal penting.
Senyum Jordan perlahan menyurut. Ia teringat kembali dengan masalah yang tengah mengganggu pikirannya. Sial! kenapa harus terjadi! membuat hatinya tak tenang untuk melanjutkan pernikahan ini. Kenapa juga ia menerima ajakan Alejandro untuk membuat perjamuan pelepasan masa bujangnya? Oh.. kini Jordan mengerti, jangan-jangan ini semua memang rencana licik pria itu untuk membuatnya gagal menikahi Isabella.
"Jordan, kenapa melamun?"
Isabella terkesiap mendengar pengakuan Jordan. Meniduri seorang gadis? di malam menjelang pernikahan mereka? Isabella masih diam, ia ingin mendengar lebih lanjut pengakuan Jordan.
Pria itu menggenggam tangan calon istrinya. "Aku tidak sengaja melakukannya, aku mabuk. Bahkan aku tidak tahu siapa gadis yang telah aku tiduri."
"Maafkan aku, Isabella." ia berharap Isabella bisa memaafkannya. "Aku tidak tenang memikirkan kejadian semalam." Jordan tertunduk. Ia menyesal kenapa menurut begitu saja tentang permintaan Alejandro untuk mengadakan perjamuan.
"Jordan, kau yakin telah meniduri seorang gadis?" tanya Isabella. Suaranya terdengar begitu tenang. Wanita itu memang kecewa, tapi ia tidak mungkin marah pada Jordan. Bagaimanapun dirinya lebih-lebih kotor daripada Jordan.
__ADS_1
Jordan mengangguk. "Aku mendapati bercak darah. Tapi sungguh aku tidak ingat sama sekali siapa gadis itu. Aku merasa sangat bersalah." bukan pada gadis yang ditidurinya saja, ia pun merasa bersalah pada Isabella karena sudah mengecewakan.
"Kau harus bertanggungjawab, Jordan." ucap Isabella. Ia tahu bagaimana hancurnya saat kehormatannya di ambil paksa.
Jordan mengerutkan keningnya. Bertanggungjawab? bertanggungjawab seperti apa? bukankah mereka akan menikah? lagipula dia tidak tahu siapa gadis itu.
"Apa maksud mu?"
"Cari gadis itu, dan bertanggung jawablah.." Isabella tersenyum, ia akan mendukung Jordan untuk menjadi laki-laki yang bertanggungjawab.
"Lalu kita?"
"Sepertinya kita hanya cocok berteman. Kau teman yang baik untuk ku, Jordan." Isabella menepuk pundak lelaki itu. Ia memberikan semangat pada Jordan. "Jangan khawatirkan aku. Aku tidak akan patah hati karena ini."
Jordan menghela. "Tapi kau yang mematahkan hati ku, Isabel." Isabella tersentak, ia tidak tahu kalau mulutnya salah bicara. "Kau memang belum mencintai ku. Huh! menyebalkan!" ia melengos.
"Maafkan aku.." Isabella tertunduk. Ia jadi serba salah.
"Hei! jangan bersedih, aku hanya bercanda!" dari sorot mata, Jordan tahu jika cinta itu terpancar untuk Alejandro. Meski kadang tatapan benci pun muncul. Tapi itu hanya pengalihan rasa untuk menyangkal cinta yang ada.
Keduanya saling tertawa dan berpelukan. Mereka sepakat untuk membatalkan pernikahan ini. Jordan akan mencari gadis yang telah ia nodai.
"Ayo, kita hadapi keluarga besar bersama." Jordan menggandeng tangan Isabella. Mereka akan berbicara dan meminta maaf.
__ADS_1
Langkah mereka semakin dekat menuju tempat pemberkatan. Namun tiba-tiba keduanya terhenti dan terbelalak.
Edgar, pamannya sedang memukuli Alejandro yang sudah terkapar. "Sialan kau!"