
Isabella belum di temukan, Alejandro sudah mencari di setiap sudut kota. Orang suruhannya tidak bisa menemukan keberadaan Isabella. Setiap harinya Alejandro hanya bisa melampiaskan amarahnya pada pegawainya yang tidak becus.
"Ini sudah tiga hari Markus! kalian masih belum menemukan Isabel!" geram Alejandro. Alejandro pun ikut turun tangan mencari wanitanya. Namun tidak ada tanda-tanda tempat yang Isabella singgahi.
"Maaf tuan, selama ini belum ada orang yang bisa meloloskan diri dari hutan belantara. Jalan satu-satunya keluar hutan pasti akan melalui pintu yang sudah di jaga ketat." ujar Markus.
"Maksud mu?" Alejandro meminta penjelasan lebih dari perkataan Markus.
"Kemungkinan besar hewan buas---" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Alejandro lebih dulu mengumpati ucapan Markus. Ia tidak suka mendengarnya. Isabella masih hidup dan ia akan segera menemukannya.
"Jaga mulut mu! Isabella akan segera ku temukan!" ia mengamuk, melempar sebuah guci besar yang ada di sampingnya.
Markus menghela. Untuk pertama kalinya, sejarah terjadi pada tuannya. seorang Alejandro meributkan masalah budak yang hilang. Mengabaikan perdagangan senjata ilegal miliknya yang sedang bermasalah.
***
Keadaan Anne belum juga membaik. Isabella mulai cemas keberadaannya akan di temukan oleh Alejandro. Wanita itu tidak ingin kembali lagi ke rumah terkutuk itu.
"Ibu.. ibu harus minum obat. Sebelum itu, ibu harus makan dulu." Isabella membantu ibunya untuk duduk bersandar.
"Isabel," Anne memegang lengan putrinya. Anne mengambil sebuah surat yang sudah ia persiapkan untuk Isabella. "Pergilah, jangan hiraukan ibu. Mungkin ibu sudah waktunya untuk menyusul ayah mu." ucapnya.
"Tidak ibu, ibu jangan berbicara seperti itu. Ibu akan segera sembuh." Isabella menangis, ibunya terlihat begitu pucat. "Aku menyayangimu Bu." ia memeluk ibunya erat.
Hulsa ikut meneteskan air matanya. Ia ikut bersedih. Isabella terlihat begitu menyayangi sang ibu.
"Nak, maafkan ibu karena belum sempat membahagiakan mu." wanita ringkih itu mengelus kepala sang putri.
"Ibu.." lirih Isabella sembari terisak.
"Temui lah keluarga Smith, berikan surat ini pada Elizabeth Smith. Hidup mu akan aman di sana nak, kau bisa terlepas dari pria itu." Anne berbicara terbata, nafasnya mulai tersengal. Ia harus memberi perlindungan pada putrinya sebelum meninggalkan dunia ini.
Isabella menerima surat itu, ia memandangi ibunya yang tersenyum hangat. Tangisan Isabella semakin pecah ketika Anne menutup matanya untuk terakhir kalinya.
"Ibuuuuuu..." teriak Isabella.
__ADS_1
Hulsa mendekat, ia memeluk temannya, memberikan ketenangan. "Tenang Isabel..."
***
Seminggu berlalu, setiap harinya Alejandro melampiaskan kesepiannya dengan bermabuk- mabukan. Ia merindukan Isabella, wanitanya. Senyum manis yang mampu menggetarkan jiwanya, hanya sosok Isabella yang bisa memenuhi pikiran Alejandro.
Di saat seperti ini, Catalina mencoba mendekat. Ia ingin menghibur calon suaminya.
"Ale..." Catalina datang ke kamar pria itu. "Kau terlihat sedih, aku akan menemani mu." ucapnya.
Alejandro menoleh, ia melihat wanita yang menggunakan pakaian berwarna merah muda. Dalam penglihatannya, wajah Catalina menyerupai Isabella.
"Isabella.." Alejandro bangkit dari duduknya. Ia menerjang tubuh Catalina, memeluknya erat. "Isabel, kau kembali?" betapa bahagianya Alejandro, wanitanya telah kembali. "Jangan pergi. Aku bisa gila di tinggal oleh mu." ungkapnya.
Kedua jemarinya merengkuh wajah Catalina yang ia pikir Isabella. "Jangan tinggalkan aku. Kau ingin menikah dengan ku kan?" ucapnya. "Aku akan menikahi mu, tapi tolong jangan tinggalkan aku." Alejandro kembali memeluk erat wanitanya.
Catalina terkesiap, rupanya Alejandro menyangka dirinya adalah Isabella. "Kau lancang, Isabel! berani-beraninya meminta dinikahi oleh calon suamiku!"
"Isabel, kenapa kau diam?" Alejandro kembali menatap nanar wajah wanitanya, "Aku tidak berbohong, aku akan menikahi mu. Sungguh, aku tidak mau kehilangan mu." belum genap satu bulan di tinggal oleh Isabella, Alejandro sudah sedikit kehilangan kewarasannya.
Meskipun bau alkohol menguar, Catalina diam saja, malah seolah menikmati ciuman Alejandro.
Catalina menjawab. "Ya, tentu kau akan menikah dengan ku, Ale.."
Alejandro tersenyum, lalu kembali melummat bibir kekasihnya. Ia merindukan sentuhan hangat dari Isabella.
Catalina justru membiarkan kesempatan ini terjadi, biarlah Alejandro menyentuhnya dengan mengira dirinya adalah Isabella. Dengan begitu, Catalina bisa menjerat Alejandro untuk segera menikahinya.
Belum sempat Alejandro membuka pakaian Catalina. Markus tiba-tiba datang ke kamar tanpa mengetuk pintu lebih dulu. "Maaf.." pria itu menundukkan pandangan sembari meminta maaf.
"CK!" Catalina berdecak kesal. Kesenangannya terganggu!
Alejandro melihat Markus, ia ingin marah karena telah mengganggu kebersamaannya dengan Isabella.
"Tuan, kami sudah menemukan jejak keberadaan nona Isabella."
__ADS_1
Alejandro melotot, kesadarannya segera kembali. Tanpa banyak bertanya, Alejandro segera pergi dengan Markus.
"Sial! aku mabuk! hampir saja."
***
Atas bujukan Hulsa, Isabella yang masih terpuruk karena kepergian ibunya, akhirnya mau meninggalkan tempat tersebut. Melanjutkan perjalanan untuk menemui keluarga Smith.
"Aku tahu kau masih bersedih, tapi kita harus segera pergi. Kau tidak mau kan, tuan Ale menemukan kita?"
Isabella mengangguk. "Iya Hulsa. Kita pergi sekarang."
"Baiklah.. aku sudah memesan kendaraan untuk ke tempat keluarga Smith. Tapi maaf, uang mu terkuras, karena perjalanan kita kali ini ke luar kota." ujar Hulsa.
"Tidak masalah.."
Isabella dan Hulsa baru saja keluar dari rumah, dikejutkan dengan segerombolan pengawal. Hulsa dan Isabella saling berpegangan kuat.
"Matilah kita, Isabel! tuan Ale sudah menemukan kita."
Isabella menghela nafas, lalu berbisik. "Kita lari saja. Kalau aku tertangkap, kau cepatlah lari.. uang ku bisa membantu mu melanjutkan hidup."
Hulsa menatap Isabella penuh haru. Isabella benar-benar tulus padanya. "Tidak Isabel, kita pergi bersama, tertangkap pun harus bersama." ujarnya.
Salah satu pria berbadan besar melangkah maju, lalu membungkukkan badan. "Nona, kami di utus Nyonya Smith untuk menjemput anda."
Isabella dan Hulsa saling pandang. Smith? bukankah nama keluarga itu yang hendak mereka temui?
Isabella masih belum percaya, terlihat dari sikap waspada wanita itu.
"Nona aman bersama kami. Kami datang atas permintaan Nyonya Anne Smith."
"Dia menyebut nama ibu mu, Isabel." bisik Hulsa.
"Ibu ku Anne Loghan. Bukan Anne Smith."
__ADS_1
"Kita ikut saja, lagipula kita memang akan ke rumah keluarga Smith kan?" Hulsa menunggu persetujuan Isabella. "Sebelum tuan Ale datang, kita harus pergi."
Isabella terkesiap mendengar nama Alejandro. Hulsa benar, lebih baik ia ikut bersama mereka dari pada jatuh kembali ke tempat terkutuk itu.