
"Mau apa kalian?!!!" Isabella meneriaki dua laki-laki yang sedang mengikat tangan dan kakinya. "Lapas!"
Dua laki-laki itu tidak memperdulikan Isabella yang memberontak. Ia harus menyelesaikan tugasnya. Menerima imbalan lalu pergi.
"Kalian bisa pergi!" Rossi masuk, wanita itu masih mengacungkan belati di tangannya. "Nanti aku akan memanggil kalian kembali untuk membuang mayatnya."
"Baik nona." kedua laki-laki itu tersenyum ketika mendapatkan setengah imbalan, sisanya akan di berikan nanti setelah berhasil membuang mayat wanita yang mereka sekap.
"Apa nona yakin, menyuruh kami pergi?" salah satu pria itu bertanya.
"Aku bisa mengurusnya. Bergegaslah sebelum ada yang curiga kalian tidak ada di tempat."
"Baik." keduanya pergi dari gudang penyimpanan. Tidak lupa menutup kembali pintu dengan rapat.
"Kau memang gila! lepaskan aku!" sebelumnya Isabella tidak percaya jika Rossi memiliki sifat yang buruk, sampai tega membunuh orang demi kepuasan hati. Nyatanya ucapan Emma dan nona Katty benar adanya.
"Aku akan melepaskan mu setelah kau jadi mayat." seringainya. Rossi menggores kulit Isabella dengan belati. "Bagaimana rasanya? sakit kan?"
"Ssshhhh..." Isabella meringis. Lengannya beberapa kali disayat, darah mengucur menodai gaun yang dikenakan Isabella.
"Sepertinya wajah mu perlu ku ukir agar terlihat semakin menarik."
Isabella menggeleng. "Jangan!" kaki dan tangannya terikat, Isabella tidak bisa melawannya.
"Rasakan ini!" seru Rossi.
Bugghhhhhh...
"Arghhhh.."
"Hulsa!" Isabella memekik, Hulsa datang menyelamatkannya.
Rossi terjatuh pingsan, kepalanya berdarah karena Hulsa memukulnya dengan batu.
"Isabel, kau baik-baik saja?" Hulsa bergegas melepaskan tali yang mengikat Isabella. Beruntungnya wanita itu berkeliaran di sekitar peternakan dan tidak sengaja melihat gerak-gerik aneh di dekat gudang penyimpanan.
"Terimakasih Hulsa." beruntung Hulsa datang tepat waktu, jika tidak nyawanya mungkin sudah melayang di tangan Rossi. "Untung kau cepat datang."
"Aku baru saja dari kamar Sergio dan Anna untuk membagi makanan yang kau bawa siang tadi." ucapnya.
Hulsa dan Isabella segera pergi dari gudang, membiarkan Rossi tergeletak bersimpah darah.
"Aku harus memberitahu Emma. Rossi butuh pertolongan." Isabella tak sampai hati membiarkan Rossi.
"Biarkan saja Isabel, dia hampir membunuh mu." kata Hulsa. Isabella masih berbaik hati pada Rossi. Padahal wanita itu berniat untuk membunuhnya.
"Tidak bisa, aku pasti akan jadi tersangka jika sesuatu terjadi pada Rossi. Kesalahan akan berbalik pada ku, Hulsa." jelas Isabella. Isabella hanya mengantisipasi sesuatu yang buruk menimpanya, karena dirinya menjadi orang yang terakhir bersama dengan Rossi, jika wanita itu tewas.
"Kau benar juga." Hulsa setuju. "Kau pergilah.. aku akan memanggil kepala pengawas." mereka berbagi tugas. Isabella memanggil Emma, sedangkan Hulsa memanggil kepala pengawas.
Rossi yang terluka segera di tangani setelah Emma dan kepala pengawas datang.
__ADS_1
"Kau juga harus di obati, lengan mu terluka." Emma melihat beberapa sayatan di bagian lengan Isabella.
"Iya.." Isabella mengikuti Emma untuk mendapatkan pengobatan.
"Aku sudah bilang, kau harus berhati-hati pada Rossi. Dia wanita yang ambisius." ujar Emma. "Bagiamana bisa kau ceroboh sekali, tidak mengunci rapat pintu kamar." berulang kali Emma mengingatkan Isabella untuk berhati-hati, namun Isabella mengabaikannya.
"Maafkan aku, Emma."
"Sudahlah.. yang penting kau baik-baik saja. Jika terjadi sesuatu pada mu, aku dan Markus pasti akan mendapat hukuman dari tuan Ale."
"Maaf."
***
Rossi yang masih terluka di kurung di kamar. Hukuman akan ia dapatkan jika tuan Alejandro sudah kembali. Sebelumnya Rossi akan terbebas dari hukuman itu, karena wanita itu pintar sekali memutar balikkan fakta. Entah Alejandro yang mudah tertipu, atau karena Alejandro sendiri tidak peduli Rossi telah melenyapkan saingannya. Wanita yang dilenyapkan Rossi tidak cukup berarti bagi Alejandro. Tapi kali ini berbeda, Isabella.. wanita kesayangan Alejandro, yang setiap malamnya terus menemani Alejandro, yang Rossi lukai.
"Emma, kapan tuan Ale akan pulang?" sudah hampir satu bulan Alejandro pergi. Isabella diam-diam merindukan pria yang awalnya kejam tapi akhirnya bisa menunjukkan senyumnya pada Isabella. Bersikap manis meski mulutnya tetap tajam.
Emma tersenyum mendengarnya. "Kau merindukan tuan Ale? sudah jatuh cinta pada tuan Ale?" Emma menggoda Isabella.
"Kau itu bicara apa!" elaknya. Entah perasaan apa yang Isabella miliki untuk tuan Alejandro. Yang pasti saat ini, ia merindukan Alejandro.
"Kalau rindu bilang saja rindu! Kalau cinta bilang saja cinta! Jangan malu begitu.. seperti anak muda saja."
"Tidak, Emma. Tujuan ku tetap sama. Aku ingin keluar dari rumah ini dan hidup bersama ibu ku." ujar Isabella.
"Kau yakin, tidak memiliki perasaan apapun pada tuan Ale? kau sudah sering bersama.."
"Kau berharap tuan Ale menikahi mu?" tebak Emma.
Isabella menggeleng. "Kami berbeda jauh, tidak akan bisa bersatu."
"Ku rasa tidak ada yang tidak mungkin, Jika tuan Ale mencintai mu, tuan pasti akan menikahi mu." ujar Emma. Selama ia bekerja dengan Alejandro, baru kali ini Alejandro menunjukkan kasih sayang yang berlebihan pada seorang wanita. Emma yakin, Alejandro memiliki rasa cinta yang begitu besar pada Isabella.
Isabella tertawa. "Tuan Ale terlalu angkuh untuk mengakui ku. Seterusnya, tuan Ale akan menganggap ku sebagai budak."
"Aku tidak mengerti. Aku hanya berharap kalian akan terus bersama." kata Emma.
***
Tidak ada satupun orang yang tahu mengenai kepulangan Alejandro. Pria itu beserta rombongannya tiba saat malam, menjelang pagi, ketika rumahnya sudah sepi.
Alejandro melangkah menuju kamar Isabella. Pria itu sangat merindukan wanitanya. "Ceroboh.." lagi-lagi Isabella lupa mengunci rapat pintu kamar.
Alejandro mengecupi kedua pipi wanitanya. "Isabel, aku datang."
Isabella merasa terganggu, kecupan basah terasa di wajahnya. "Tuan.." masih dalam keadaan setengah sadar, Isabella memandangi wajah tuannya yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Isabella.." Alejandro tersenyum, mengelus pipi Isabella.
Isabella terkejut. "Tuan!" ia terbangun.
__ADS_1
Alejandro terkekeh melihat wajah menggemaskan wanitanya. "Ya ini aku. Apa kau merindukan ku? Hem?"
Isabella dengan reflek memeluk pria itu. Ia memang sangat merindukan Alejandro.
"Ah.. rupanya kau merindukan ku." Alejandro membalas erat pelukan sang kekasih.
"Kenapa lama sekali." lirih Isabella.
"Aku sudah pulang dan sekarang ada di hadapan mu." rasa lelah karena perjalanan jauh seketika hilang saat mendapat pelukan hangat dari Isabella. Sebuah pelukan hangat penuh kerinduan.
"Isabella.."
"Apa?"
"Mau ikut dengan ku?"
"Kemana?"
"Kita akan berlibur bersama beberapa hari, mau?" Isabella mengangguk. "Ayo, bersiaplah." katanya.
Isabella terdiam, "Bukannya ini masih terlalu gelap untuk berpergian?"
"Justru itu, kita akan melihat matahari terbit, kau pasti suka karena langit terlihat sangat indah."
"Baiklah.." Isabella menurut, ia bersiap untuk pergi. "Tuan baru saja pulang, apa tuan tidak lelah?"
"Kau meragukan ku, Isabel?"
Isabella tersipu malu. Ah kenapa ia meragukan Alejandro yang kuat dan perkasa. Pria itu tentu saja memiliki stamina yang kuat untuk melakukan perjalanan kembali.
***
Pagi pun tiba, keberadaan Alejandro dicari oleh pelayan dan pegawai lainnya. Mereka tidak bisa menemukan keberadaan tuannya yang hilang tiba-tiba.
"Markus! kau yakin.. Ale juga ikut pulang ke rumah ini?" nyonya Seren yang tidak melihat Alejandro pulang menanyakan keberadaan anak tirinya itu.
Markus mengangguk. "Tuan sudah pulang Nyonya, rombongan tiba menjelang pagi."
"Lalu kemana dia sekarang?" seru Nyonya Seren.
Markus terdiam. Ia pun tidak tahu kemana tuannya pergi. "Saya akan mencarinya."
"Cari sampai ketemu! bisa bisanya pergi begitu saja." dengus nyonya Seren. "Dimana gadis itu? cari Ale sampai ketemu sebelum gadis itu tahu Ale menghilang!"
"Baik Nyonya." balas Markus patuh.
"Ibu.. ternyata Ale membawa pulang gadis cantik Bu." Katty menghampiri ibunya dengan seorang gadis yang ikut berjalan di belakangnya.
Nyonya Seren tersenyum. "Selamat datang di rumah ini." sambut Nyonya Seren.
"Dimana Ale Bu? Catalina ingin bertemu dengannya?"
__ADS_1
"Lebih baik kita sarapan pagi bersama. Nanti Ale akan menyusul, dia mempunyai pekerjaan yang harus diurus."