
Isabella dan Jordan batal menikah, tetapi pernikahan tetap berlangsung dengan mempelai pria digantikan oleh Alejandro, hari itu juga.
Senyum lebar menghiasi wajah yang penuh lebam Alejandro. Ia melupakan rasa perih dan sakit di sekujur tubuhnya. Ini adalah hari bahagianya. Alejandro sama sekali tidak menyesal karena sudah berterus terang atas tindakannya yang sudah memperlakukan seorang putri keluarga Smith seperti budak. Karena memang sebelumnya ia tidak tahu identitas asli Isabella. Jadi bukan sepenuhnya kesalahan Alejandro. Lagipula keluarga Smith sendiri memiliki banyak budak di kediamannya. Yah meski mereka diperlakukan lebih baik daripada budak yang tinggal di rumah Alejandro.
Alejandro mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Apapun akan ia lakukan untuk menebus kesalahannya terhadap Isabella. Termasuk memberikan sebagian hartanya.
Awalnya Edgar akan menggunakan kesempatan itu, mengambil sebagian harta Alejandro. Sekalian membuat perhitungan pada laki-laki brengsek itu. Namun Elizabeth mencegahnya. Wanita tua itu melihat kesungguhan Alejandro dan terlihat jelas binar cinta untuk cucunya.
"Aku percaya padamu. Jika kau melanggar kepercayaan ku dan menyakiti Isabella kembali. Bukan semua harta mu yang aku ambil. Aku tak segan menghabisi nyawa mu." ancaman yang cukup kejam keluar dari mulut Elizabeth.
Alejandro berjanji akan membahagiakan Isabella. Wanita tercintanya akan hidup bahagia nan sejahtera, Alejandro yakin itu.
Keluarga Felipe tentu marah karena merasa di tipu. Isabella memang putri bangsawan, tetapi jika mempunyai masalalu yang kelam, tentu semua itu sangat sulit untuk diterima.
Tapi mereka hanya bisa marah dalam diam. Siapa yang berani mengusik keluarga Smith? itu sama saja mencari masalah besar. Untung saja pernikahan Isabella dengan putranya gagal. Itu sangat melegakan. Dendam pun sedikit dikesampingkan. Terlebih Jordan mengatakan yang sebenarnya jika ia telah membuat kesalahan. Bukan hanya Isabella saja yang tidak suci lagi, Jordan pun telah kehilangan keperjakaannya. Semua sepadan. Tuan dan Nyonya Felipe mulai memaklumi keadaan.
***
"Istriku..." berulang kali Alejandro memanggil Isabella dengan sebutan yang luar biasa menurutnya. "Istriku.." Ia tidak benar-benar memanggil karena butuh, hanya senang karena sudah memiliki Isabella. Statusnya sudah berganti, menjadi lebih dekat dan tak terpisahkan.
"Diamlah! aku bosan mendengarnya." balas Isabella ketus.
"Kau semakin cantik jika sedang marah begitu.. cinta ku semakin bertambah saja." mulutnya tak henti membual. Tatapannya pun tak teralihkan pada wajah cantik Isabella.
Isabella jengah mendengarnya. "Simpan rayuan mu, aku tidak akan terbuai!"
"Aku tidak akan bosan merayu mu." Alejandro mendekat, ia ingin sekali memeluk istri barunya.
"Jangan mendekat!" serunya. "Walaupun kita sudah menikah, tetapi jangan harap bisa menyentuh ku. Aku masih ingat perlakuan buruk mu terhadap ku." Isabella memperingati suaminya itu. Rasa sakit hatinya belum juga terobati.
Alejandro menghela, ia akan bersabar menunggu Isabella memaafkannya. "Aku akan sabar menunggunya." untuk saat ini Alejandro akan menuruti Isabella. Memaksa akan semakin membuat Isabella membencinya.
Tak ada malam pengantin yang mereka lewati dengan indah seperti pengantin baru pada umumnya. Isabella masih menjaga jarak dari Alejandro.
Oh Alejandro yang malang, padahal pria itu sudah mengkhayal hal hal yang indah bersama Isabella malam ini. Jangankan malam indah, tidur pun ia harus terpisah.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Alejandro membawa Isabella untuk pulang ke rumahnya. Baik Elizabeth dan Edgar mau tidak mau harus merelakan Isabella bersama Alejandro.
Disepanjang perjalanan, Isabella memilih berbincang dengan Hulsa, mengabaikan Alejandro.
"Nona, aku lapar." Hulsa berbisik pada Isabella. Ia sungkan berbicara pada Alejandro.
"Kita berhenti sebentar."
Rombongan mereka berhenti di sebuah kedai makan.
"Sayang, kau tidak bosan mendiami ku?" mereka hanya duduk berdua. Hulsa beserta pengawal lainnya berbeda tempat.
"Melihat mu saja aku enggan." balasnya acuh.
"Tapi kau sedari tadi mencuri pandang pada ku." Alejandro tersenyum, ia tahu jika Isabella sesekali meliriknya. "Kau merindukan ku kan?"
"Jangan terlalu percaya diri! wajah mu itu terlihat menyedihkan. Aku kasihan pada mu, pria yang malang.." memang benar Isabella sesekali melirik Alejandro saat di perjalanan. Tetapi bukan rasa kagum karena ketampanan pria itu. Melainkan Isabella masih belum percaya jika ia benar-benar sudah menikah dengan Alejandro. Pria yang dulu menolak untuk menikahinya, pria yang dulu sering menyiksanya setiap malam. Nyatanya sekarang pria itu sudah berstatus sebagai suaminya.
"Ini hanya sebentar, nanti juga ketampanan ku kembali lagi."
Tengah menyantap makanan, Hulsa tiba-tiba datang mendekat dengan wajah yang panik. "Nona!"
"Ada apa, Hulsa?" Isabella mengentikan kegiatan makannya. Ia menoleh pada pelayannya yang sudah duduk di sampingnya sembari berbisik.
"Kau yakin melihatnya?" tanya Isabella. Hulsa mengangguk cepat
Alejandro mengamati keduanya. Sepertinya ada sesuatu yang menarik bagi keduanya. "Ada apa?" pertanyaan diabaikan begitu saja. Isabella dan Hulsa memilih pergi.
"Benarkan yang ku katakan. Dia Sergio..." rupanya Hulsa melihat temannya, sesama budak di kediaman Alejandro dulu.
Isabella mengangguk. Cukup prihatin dengan keadaan Sergio saat ini. Pemiliknya sangat tega membiarkan Sergio mengangkat beban berlebih. Tubuhnya terlihat kurus, seperti tinggal tulang. "Kasihan sekali dia." gumam Isabella.
Tidak tega melihatnya, Isabella berlari mendekat. "Tuan, tunggu!"
__ADS_1
"Ada apa?"
"Apa kau menjual budak ini? aku akan membelinya." kata Isabella. Ia ingin membawa Sergio kembali, untuk bekerja dengannya.
Sergio cukup terkejut melihat Isabella dan Hulsa. "Kalian..."
"Sergio... kita bertemu lagi."
"Kau berani bayar berapa? ini budak ku yang istimewa." melihat dari pakaian di penawaran, pemilik Sergio sedikit meninggikan harga.
"Berapa yang kau mau?" Isabella balik bertanya. Berapa pun itu, Isabella akan membayarnya. Demi menyelamatkan Sergio, temannya.
"Ada apa ini?" Alejandro menyusul.
"Tuan Ale.." rupanya si pemilik Sergio mengenali Alejandro. Ia menunduk hormat pada laki-laki arogan itu.
"Ale, aku ingin menyelamatkan pria ini." ucap Isabella sedikit memohon.
Alejandro hanya tersenyum, lalu ia bernegosiasi dengan si pemilik sampai mendapatkan kesepakatan harga yang saling mengingatkan.
"Terimakasih.." senyum tipis Isabella berikan. Itu sebuah senyuman tanpa paksaan. Ia senang Sergio bisa kembali lagi berkumpul dengannya.
"Asal kau senang, aku pun senang." ia berbisik di telinga Isabella. Bisikan yang disertai tiupan lembut, seperti sedang merayu.
"Sergio.. kita berkumpul lagi." bukan hanya Isabella, Hulsa pun senang bisa berkumpul dengan Sergio kembali.
"Terimakasih tuan Ale.." tak lupa Sergio mengucapkan terimakasih pada Alejandro. Dalam hati ia bertanya-tanya bagaimana bisa keadaan Isabella dan Hulsa terlihat lebih baik. Apa hubungan antara Alejandro dan Isabella sudah sangat maju?
Alejandro menyipitkan pandangannya, mengingat ingat seperti pernah melihat pria yang baru saja ia beli. Ia pikir Isabella memilih acak budak yang diselamatkan karena kasihan. Rupanya mereka sudah saling mengenal. Dan pria itu adalah salah satu budaknya.
Melihat Isabella, Hulsa, lalu pria itu bercengkrama, kemudian sesekali menatapnya sinis. Terutama Isabella.
"Apa mereka sedang membicarakan ku?" Alejandro membatin.
"Sayang.. kalian tidak sedang bersekongkol untuk membalas ku kan?"
__ADS_1