
Alejandro kembali merangkak naik, ia puas sekali melihat istrinya telah mendapat pelepasan. "Cantik.." pemandangan yang sangat indah baginya. Isabella di penuhi peluh di sekitar dahinya, nafasnya pun terengah. "Nikmat bukan?"
Isabella memalingkan wajah. Ia tidak mau mengakuinya meski yang di katakan Alejandro benar adanya, ia sangat menikmati sentuhan yang suaminya berikan.
Alejandro kembali melummat bibir istrinya. "Sekarang giliran ku." ia bersiap untuk memasuki Isabella.
Tenaga Isabella melemah, ia tak sanggup lagi memberontak untuk dilepaskan. Akhirnya hanya bisa pasrah menerima hujaman sang suami.
***
Nyatanya malam panas yang telah mereka lalui tidak membuat Isabella luluh. Wanita itu masih bersikap dingin padanya. Malah semakin menjadi. Isabella tidak mau berbicara dengan Alejandro.
"Emma, katakan pada pria mesum itu. Aku ingin memanggil pelatih baru." ucap Isabella pada Emma. Ia malas sekali berbicara pada Alejandro.
"Aku di sini, kenapa kau menyuruh Emma? aku bisa mendengar mu, Isabella.." balas Alejandro yang memang duduk tidak jauh dari Isabella.
"Emma, katakan padanya. Aku malas berbicara dengan pria pemaksa dan mesum!" lanjutnya.
Emma bingung sendiri. Kedua majikannya sedang bertengkar malah dirinya yang repot. "Baik nona."
Terdengar helaan nafas pelan dari Alejandro. "Astaga Isabel, kau marah pada ku karena malam itu?" ia pikir Isabella tidak lagi mempermasalahkannya. Karena Isabella pun ikut menikmati permainannya. Yang di tanya hanya melengos. "Kau juga menikmatinya kan? bahkan sampai menjerit!"
Isabella melotot tak terima. "Aku tidak begitu!" menikmati? cih! itu kan terpaksa!
"Justru aku ingin mencakar wajah mu!"
"CK! kau kan memang mencakar ku, tapi di punggung. Mau lihat hasil karya mu?" Alejandro berdiri, bersiap melepaskan pakaian untuk menunjukkan goresan yang tersisa. "Aku hebat kan bisa membuat mu tak berdaya.."
__ADS_1
"Jangan gila!" Isabella ikut berdiri. Ia melirik Emma yang sedari tadi mengamati mereka. "Emma, kau bisa pergi." ia tidak mau Emma mendengar pembicaraan pribadinya. Alejandro ini benar-benar konyol!
"Emma sudah terbiasa mendengar hal seperti itu. Tidak usah malu padanya." ucap Alejandro. Tanpa sadar ia sudah membangunkan singa betina yang pandai mengungkit masalalu.
Isabella melipat tangannya di depan dada. "Oh begitu? Jadi.. berapa banyak wanita yang pernah kau siapkan untuk tuan mu ini, Emma?"
"Kenapa bertanya begitu? itukan hanya masalalu." sergah Alejandro. Ia tidak mau Isabella mendengar kebenarannya.
"Saya tidak tahu nyonya." jawab Emma. Hal itu melegakan Alejandro. Emma memang pintar di ajak kerjasama tanpa berunding lebih dulu.
"Oh.. karena terlalu banyak, jadi kau lupa menghitungnya?" Isabella kembali bersuara.
"Sayang.. apa sih.. aku tidak begitu lagi."
Isabella menatap tajam Alejandro. "Aku sangat rugi mendapatkan pria bekas seperti mu! itu tidak adil bagi ku!"
"Aku menyesal tidak nakal sebelum bertemu dengan mu!"
"Bicara apa sih.." Alejandro mendekat. "Kau gadis baik-baik, tidak bagus berbicara seperti itu."
"Tapi kenapa aku sial mendapatkan pria seperti mu! harusnya aku menikahi pria yang baik. Tidak pemaksa dan mesum!"
"Ya ampun. Kau bicara sembarangan! justru kau harusnya beruntung. Aku pria berpengalaman yang bisa membuat mu mendesahh nikmat. Coba bayangkan kalau kau bersama pria culun. Yang ada setiap malam kau akan kecewa karena tidak puas. Pria mu tidak tahan lama seperti ku." ucapnya berbangga diri. Pria itu pintar sekali membalikkan keadaan. Lihatlah, Sekarang Isabella kembali diam.
"Yang jelas aku membenci mu! jangan lagi memaksa meniduri ku! aku tidak mau!" teriaknya. Bergegas Isabella pergi meninggalkan Alejandro. Berdebat dengan pria itu selalu saja kalah. Isabella hanya bisa menang kalau mengeluarkan jurus andalannya, marah dan mengabaikan Alejandro. Itu sangat ampuh membuat pria itu tidak berkutik.
"Sayang! Jangan begitu.. aku janji tidak mengulanginya lagi." janji hanya terucap dari mulut. Bukan sungguhan. Mana bisa ia mengabaikan tubuh Isabella. Kalau bisa setiap hari Alejandro ingin menggaulinyaa.
__ADS_1
***
"Katakan pada ayah, siapa yang melakukannya!" sentak tuan Thompson.
Keluarga besar Thompson dikejutkan dengan pengakuan Catalina yang tengah mengandung. Bagai tersambar petir, tuan dan nyonya Thompson begitu terpukul mendengarnya.
"Apa Ale yang melakukannya?" tanya tuan Thompson.
Catalina menggeleng. "Bukan.."
"Lalu siap? hah!" bentak tuan Thompson. Bukankah laki-laki yang dekat dengan putrinya adalah Alejandro, tunangannya?
Catalina menangis. "Aku tidak tahu..." lirihnya.
Tuan Thompson semakin geram mendengarnya. Putri yang ia banggakan nyatanya telah berbuat hal tak senonoh. "Apa aku mengajarkan mu menjadi seorang jallang?!"
"Tenang, jangan sampai kau berlaku kasar." nyonya Thompson mencegah saat suaminya hendak menampar Catalina.
"Kau lihat sendiri, dia hamil sampai tidak tahu siapa ayahnya. Lalu apa ini, jika bukan dia menjajakan diri pada banyak pria."
"Tidak ayah, aku tidak begitu..."
"Lalu siapa laki-laki yang menghamili mu!!"
"Aku.. aku tidak tahu. Seorang pria melecehkan ku... aku tidak mengenalnya." jawabnya terbata.
Tuan Thompson jatuh terduduk. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Kau di perkos*?" Catalina mengangguk.
__ADS_1
"Astaga!!"