
Alejandro tiba ke tempat persembunyian Isabella, ketika wanitanya itu telah pergi.
"Sial!" ia kalah cepat, Isabella sudah tidak ada di tempat. "Apa benar Isabella ada di sini?" tanya Alejandro pada Markus. Pria itu meragukan informasi dari Markus.
"Benar tuan, sepertinya nona Isabella telah pergi!" Markus menunduk, ia mulai takut melihat tatapan tuannya.
"Bodoh!" umpatnya. Alejandro masuk ke dalam rumah itu untuk memastikan jika Isabella memang pernah singgah di tempat ini. "Isabel.." lirihnya saat melihat seonggok pakaian perempuan di sana.
"Markus! cari Isabel sampai dapat." teriak Alejandro. Ia berharap Isabella belum terlalu jauh dari tempat ini.
"Baik tuan." Markus meminta pengawal untuk berpencar mencari Isabella. Alejandro pun ikut turun tangan mencarinya.
***
Sebuah bangunan megah dengan pintu gerbang menjulang tinggi, Isabella dan Hulsa masuk ke pelataran yang di penuhi rerumputan hijau.
"Bagus sekali rumah ini.." gumam Isabella. Wanita itu mengagumi rumah besar yang melebihi rumah milik Alejandro.
"Ini sangat besar, Isabel. Aku yakin, pemiliknya lebih kaya daripada tuan Ale." Hulsa ikut menimpali. "Siapa keluarga Smith? kenapa ibu mu mengenal mereka?" pertanyaan yang Isabella pun tidak tahu jawabannya.
"Kita akan segera tahu." balasnya. "Hulsa, kenapa aku tiba-tiba takut." ucapnya cemas. "Aku takut ibu ku memiliki hutang pada keluarga ini. Dan mereka menuntut hutang pada ku."
Hulsa tertawa mendengarnya. "Kalau mereka ini penagih hutang, tidak mungkin memperlakukan kita begitu baik." ujarnya. Saat di perjalanan, pengawal yang bersamaan mereka sama sekali tidak menyakiti Isabella atupun Hulsa. Justru menunjukkan sikap hormat.
"Iya juga.."
"Kita sudah sampai nona." ujar salah satu pengawal.
Di depan sana, terlihat wanita tua tengah menunggunya. Isabella dan Hulsa saling pandang, ragu untuk mendekat.
__ADS_1
"Nyonya Smith menunggu anda.." lagi-lagi pengawal itu menuntun Isabella dan Hulsa untuk berjalan masuk.
"Oh.. Anne ku..." Wanita berkulit keriput itu langsung memeluk erat Isabella. Ia mengelus wajah cantik Isabella, "Kau sangat mirip sekali dengan Anne ku." rasa haru menyertai hati Nyonya Smith.
Isabella yang belum mengerti apa-apa hanya tersenyum tipis.
"Aku menyesal tidak memaksa ibu mu untuk kembali." ucapnya. "Perlu kau tahu, aku sangat menyayangi ibu mu."
"Ibu ku?" Isabella.
"Iya ibumu. Dia putri ku yang nakal." Nyonya Smith tertawa, namun tidak di pungkiri air matanya menetes tanpa di pinta. Hingga ajal menjemput sang putri, Nyonya Smith belum bisa membujuk putrinya untuk kembali ke rumah ini.
"Masuklah dulu, nanti nenek akan ceritakan semuanya." Nyonya Smith merangkul Isabella untuk masuk ke dalam. Hulsa mengikutinya dari belakang.
"Nenek?" Isabella kembali terkejut.
Nyonya Smith mengangguk. "Aku nenek mu."
Namun sayangnya, Anne tidak mencintai sang pangeran. Sebab, sang pangeran terkenal suka bermain wanita. Anne menghindar.
Hingga ia bertemu dengan Erick Loghan, pria biasa yang bekerja di rumahnya sebagai peternak domba. Erick Loghan bukan hanya tampan, tapi memiliki kepribadian baik. Anne jatuh cinta pada pria biasa itu.
Awalnya cinta Anne tidak tersambut dengan baik. Sebab, Erick sadar diri jika Anne bukanlah gadis sembarangan yang bisa ia miliki. Erick mengabaikan perasaannya yang juga mencintai Anne.
Anne tidak menyerah, ia terus mendekati Erick. Lambat laun, Erick pun tidak bisa lagi membendung perasaannya. Ia mulai mencurahkan isi hatinya pada Anne.
Cinta mereka bersatu, namun terhalang oleh restu. Adam Smith sangat tidak setuju jika putrinya menikahi seorang rendahan. Erick terusir dari rumahnya. Bahkan Adam Smith hampir membunuh laki-laki itu kalau Elizabeth tidak mencegahnya.
Anne tidak mau berpisah dengan Erick, gadis itu pun melarikan diri untuk menyusul sang pujaan hati. Anne rela hidup sederhana asalkan bisa terus bersama Erick.
__ADS_1
Isabella mengusap sudut matanya yang terasa basah. Ia haru, sedih, dan bahagia mendengar kisah cinta kedua orangtuanya.
"Putri ku yang nakal itu tergila-gila dengan Erick si peternakan domba yang tampan." jika waktu bisa di ulang, Elizabeth akan membujuk suaminya untuk menyetujui hubungan mereka. Namun sayangnya kejadian itu tidak bisa terulang kembali. "Putri ku yang malang.." wanita tua itu terbayang wajah ceria Anne, tidak menyangka Tuhan cepat sekali mengambilnya.
Elizabeth menggenggam tangan Isabella. "Sekarang nenek tidak akan melepaskan mu, membiarkan mu terlantar di luar sana."
Isabella teringat akan pesan terakhir ibunya. Ia memberikan sebuah surat pada Elizabeth. "Ibu ku menitipkan ini untuk anda."
"Panggil nenek, aku ini nenek mu."
"Baik Nek."
Elizabeth menerima surat itu, ia kembali memandang wajah Isabella yang begitu cantik. "Kau mirip ibumu. Tapi mata mu mirip sekali dengan Erick."
Isabella dan Hulsa di antar ke kamar. Mulai sekarang, Hulsa menjadi pelayan pribadi Isabella.
"Wow.. bagus sekali kamarnya." Hulsa terpekik kagum. "Aku tidak menyangka ibu mu adalah seorang bangsawan. Ah.. iya, pantas saja kau memiliki wajah yang cantik."
"Aku juga tidak menyangka."
"Kalau begitu, kita sudah aman dari kejaran tuan Ale. Tuan Ale tidak akan berani lagi menculik mu, menjadikan mu seorang budak. Aku rasa keluarga mu bahkan lebih berkuasa dari tuan Ale." ucap Hulsa panjang lebar. Gadis itu terlalu senang dengan kebebasannya. Ia tidak perlu lagi kerja paksa tanpa mendapatkan upah.
Isabella terdiam saat melihat sebuah lukisan gadis cantik yang terpajang di dinding. Gadis itu adalah ibunya. Benar kata Elizabeth, wajahnya sangat mirip saat Anne muda hanya warna matanya yang berbeda.
"Ibu.." teringat ibunya, Isabella kembali bersedih. Ia masih belum menerima kepergian ibunya yang terlalu cepat.
Hulsa mendekat, lalu memeluk Isabella. "Jangan bersedih lagi. Nyonya Anne ingin melihat mu bahagia sekarang."
Di kamar lain, Elizabeth pun sama ia menangis ketika membaca surat dari putrinya. Di saja tertulis jika Anne sangat menyayangi kedua orangtuanya meski berjauhan.
__ADS_1
"Maafkan ibu, Anne.. ibu sangat menyayangi mu." Elizabeth merengkuh kertas itu dalam pelukannya. Ia sedikit terlambat menemukan keberadaan putrinya. Seharusnya ia mencari Anne lebih awal, sebelum suaminya meninggal dunia. Sekarang, baik suami dan putrinya sudah tidak ada. Elizabeth berjanji akan menjaga Isabella dengan baik.