
Pesta telah usai, Alejandro memutuskan untuk tetap tinggal di kediaman Smith. Ia menempati paviliun yang telah di sediakan untuk tamu undangan.
Pria itu berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Hatinya panas, gelisah melihat kedekatan Isabella dengan Jordan. Ingin rasanya menghajar pria yang telah berani menyentuh miliknya, namun situasi akan bertambah buruk. Ia tidak mau terusir dan tidak bisa menemui Isabella kembali.
Untung saja tadi ada Markus, yang menahannya. Jika tidak, sudah bisa di pastikan Alejandro telah menghajar Jordan saat di taman.
"Kenapa dia cepat sekali melupakan ku?" Alejandro berpikir keras, bukankah Isabella mencintainya? lalu kenapa cepat berpaling pada pria lain? "Tidak! Isabel pasti masih mencintai ku." ia yakin, cinta di hati Isabella masih tersimpan rapat untuknya.
"CK! kenapa juga harus Jordan! pria itu terlalu jelek untuk jadi saingan ku." gerutunya. Seperti biasa, Alejandro selalu menganggap dirinya paling segalanya dibandingkan yang lain.
"Aku ingin menemui Isabella.." ia bertekad malam ini akan menemui Isabella bagaimanapun caranya.
Alejandro keluar kamar, ia memindai sekitar. Tidak banyak pengawal yang berjaga. Ia bisa leluasa mencari Isabella di rumah ini.
"Tuan, anda membutuhkan sesuatu?" seorang pelayan menegurnya, ketika melihat Alejandro berjalan tak tentu arah di sekitar rumah utama.
"Aku ingin menemui Isabella, dimana kamarnya?" tanya Alejandro. "Emm, aku lupa belum memberikan hadiah atas pertunangannya. Kami berteman." cepat-cepat ia memberi alasan yang masuk akal agar pelayan itu tidak curiga.
"Mari saya antar." katanya. Seringai terbit di wajah Alejandro, begitu mudah untuk mengelabui.
Pelayan itu mengetuk sebuah pintu kamar, beberapa kali ketukan tidak mendapat jawaban dari dalam sana. "Tuan, sepertinya nona Isabella sudah beristirahat." ucapnya. "Tuan bisa menemui nona besok saja, aku takut menganggu nona."
Alejandro mengangguk. "Ya, sepertinya dia sudah istirahat." setelah itu, Alejandro pergi. Ia tersenyum puas, akhirnya bisa menemukan kamar Isabella.
"Tidak bisa melalui pintu, jendela pun bisa aku lewati." gumamanya.
Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh malam. Ini belum terlalu malam, sekitar rumah masih ramai, para pelayan masih sibuk membersihkan sisa acara pesta di aula. Alejandro harus sedikit bersabar menunggu waktu yang tepat untuk menemui Isabella.
Di lain sisi, Isabella masih mengatur degup jantungnya, ia terkejut dengan kemunculan Alejandro di rumah ini. Isabella sama sekali tidak pernah membayangkan jika pesta besar ini akan membawa Alejandro padanya.
__ADS_1
"Lupakan dia Isabel!" ia meyakinkan diri sendiri agar melupakan hal yang telah terjadi antara dirinya dan Alejandro. Kehidupannya kini telah berubah, Isabella bukan lagi seorang budak yang bisa ditindas sesuka hati. "Tenang Isabel, dia sudah pergi. Dan tidak bisa masuk ke dalam rumah ini. Kau aman dengan perlindungan keluarga Smith." gumamnya.
Duduk termenung di tepi ranjang, Isabella menyadari cincin yang sudah tersemat di jarinya. Menandakan jika ia sudah terikat dengan Jordan. Pria yang bisa membuatnya selalu tersenyum.
"Hufft.." ia mengehela, bertemu Alejandro membuatnya ketakutan kembali. Meski dalam lubuk terdalam ada secuil rindu untuk pria itu. "Jordan pilihan terbaik, dia pira baik."
Isabella harus melupakan segalanya. Esok hari semuanya akan kembali seperti biasa. "Sebaiknya aku tidur."
Nyatanya, pria yang mampu menghantuinya kini tengah berbuat nekad, mengendap-endap masuk ke kamarnya ketika rumah sudah sepi. Jendela kamar mudah sekali di buka. Isabella belum sempat meminta jendela itu untuk diperbaiki, setelah beberapa waktu lalu di jebol paksa oleh Jordan.
"Keberuntungan selalu berpihak pada ku." kecerobohan Jordan sangat menguntungkan bagi Alejandro. Pria itu tidak perlu susah payah layaknya maling yang menerobos masuk.
Senyum lebar menghiasi wajah tampan Alejandro. Ia mendapati Isabella tengah tertidur pulas. "Isabella..." rindu yang teramat sangat kini terobati. Isabella ada di depannya, bisa ia pandangi dan ia peluk.
Tidak membuang waktu, Alejandro menghujani wajah Isabella dengan kecupan. Pelukannya pun begitu erat seakan tidak rela untuk terlepas.
Tentu saja perbuatan Alejandro mengusik tidur nyenyak Isabella. Wanita itu mengerjap-ngerjap, ada sesuatu yang basah hinggap di pipinya.
"Aku merindukan mu, Isabel." Alejandro memandangi wajah Isabella begitu lekat. "Aku gila saat kau pergi."
Isabella mendorong tubuh Alejandro agar menjauh. "Pergi! jangan menyentuh ku!"
Alejandro terkesiap. "Kau tidak merindukan ku? bagaimana bisa kau meninggalkan ku, Isabel. Aku nyaris gila kau tinggal pergi."
"Aku tidak mau hidup dengan pria seperti mu! menjauh dari ku!" seru Isabella. Sorot matanya begitu tajam.
"Isabella, maafkan aku. Aku janji tidak akan berbuat kasar pada mu. Tapi tolong jangan tinggalkan aku. Mari kita menikah.. aku ingin menikahi mu." Alejandro tulus mengatakannya. Ia benar-benar tidak bisa hidup tanpa Isabella. Alejandro menyesal telah mengabaikan permintaan Isabella, yang ingin dinikahinya.
Isabella tersenyum miris. "Kenapa tuan berubah pikiran? apa karena aku bukan seorang budak? tuan ingin menikahi ku?"
__ADS_1
Alejandro menggeleng cepat. "Tidak! bukan seperti itu. Siapapun dirimu, aku ingin menikahi mu. Aku mencintaimu, Isabella."
"Aku tidak percaya." Isabella beranjak dari ranjang, ia tidak mau berdekatan dengan Alejandro.
"Isabella, sungguh aku mencintaimu."
"Kalimat itu sudah tidak aku butuhkan. Aku telah mendapatkannya dari pria lain yang tulus mencintai ku." balasnya.
Alejandro memeluk Isabella dari belakang. "Jangan katakan itu. Aku sakit melihat mu bersama pria lain."
Isabella mencoba melepaskan belitan tangan kekar Alejandro dari perutnya, namun semakin ia ingin lepas, semakin erat pula Alejandro memeluknya.
"Maafkan aku, Isabella. Jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu." ucapnya sangat tulus.
"Tapi aku tidak mencintai mu. Aku mencintai pria lain."
"Tidak! kau mencintaiku. Selamanya harus mencintai ku!"
"Tuan masih saja memaksa." balasnya. "Pergilah, atau aku akan memanggil pengawal untuk mengusir mu!"
"Isabella.."
"Pergi!"
Bukannya pergi, Alejandro malah menerjang Isabella. Ia melabuhkan ciuman pada wanitanya. Ia merindukan Isabella. Pria Arogan itu tidak peduli jika nantinya diseret paksa keluar dari rumah ini. Meski ciuman itu mendapat penolakan dari Isabella, Alejandro tetap meneguk manisnya bibir Isabella. Sampai Isabella menyerah untuk memberontak.
"Kau akan tetap menjadi milik ku, Isabella. Tidak akan ku biarkan pria manapun memiliki mu." ucapnya selepas pagutan terlepas.
"Tuan tidak berhak mengatur ku." seru Isabella, ia mengusap sisa saliva di bibirnya.
__ADS_1
Alejandro tidak mengindahkan kemarahan Isabella. "Jangan membiarkan pria itu menyentuh mu!" Alejandro mengusap pipi Isabella. Ia ingat, Jordan telah menyentuh di sana. Untuk menghapus jejak Jordan, Alejandro mengecupinya. "Aku mencintaimu.." bisiknya sebelum ia pergi. Alejandro harus bersabar menghadapi Isabella. Ia tidak akan mudah menyerah merebut Isabella kembali.