
Isabella tidak membawa banyak barang. Pakaian pun hanya yang saat ini dikenakannya. Hanya uang dan perhiasan yang memenuhi satu kantung besar.
Pagi-pagi sekali, Isabella dan Hulsa sudah bersiap untuk kabur. Ada Catalina yang akan membantu mereka melewati pintu gerbang utama yang di jaga ketat oleh pengawal.
"Kau ini lama sekali! aku menunggu mu dari tadi." Catalina kesal menunggu Isabella yang tak kunjung datang. Hampir satu jam ia menunggu.
"Maaf, aku harus menunggu tuan Ale tertidur pulas dulu." jawabnya.
"CK! kau mau kabur tetapi masih bercinta dengan calon suami ku!" ingin marah, bahkan ingin mencakar wajah Isabella karena sudah terang-terangan memberitahu bahwa Alejandro bercinta dengannya setiap malam. Tapi Catalina tidak bisa, ini keinginan Alejandro. Ia tidak bisa melarangnya.
"Kau tahu sendiri perintah tuan Ale tidak bisa di bantah." Isabella juga tidak menginginkannya, namun jika menolak, itu akan membuat Alejandro curiga.
"Kita jadi kabur atau masih ingin bertengkar?" celetuk Hulsa. Wanita itu sudah tidak sabar kabur dari tempat ini.
"Diam kau budak! jangan berbicara pada ku." Catalina melototi Hulsa.
Sedangkan Hulsa yang di bentak hanya menggerutu dalam hati. "Wanita gila!"
"Catalina pelan kan suara mu." Isabella menegur.
Mereka harus bergegas keluar dari rumah. Baik Isabella dan Hulsa sudah mengenakan pakaian pelayan. Mereka menyamar sebagai pelayan khusus Catalina yang datang bersama wanita itu.
Cukup jauh, jarak dari halaman rumah ke pintu gerbang utama. Hingga memakan waktu lima belas menit.
Tiba di gerbang utama, Catalina berbicara pada pengawal yang berjaga. Wanita itu mengatakan jika dua pelayannya akan pergi untuk membeli beberapa barang di pasar. Tanpa rasa curiga apapun, pengawal itu percaya dengan ucapan wanita yang dikenal sebagai calon istri Alejandro.
Isabella dan Hulsa keluar dari gerbang dengan selamat. Mereka berdua bergegas pergi. Di ujung jalan, sudah ada orang yang akan mengantar mereka, orang suruhan Catalina.
"Akhirnya aku bisa menyingkirkan Isabel!" gumam Catalina.
__ADS_1
"Nona, kami sudah mengerjakan apa yang nona perintahkan.." kedua pelayannya menghadap seusai menyelesaikan tugas. Mereka berdua baru saja ke perkebunan. Meninggalkan jejak palsu agar orang orang mengira Isabella kabur menuju Hutan.
"Kerja bagus!" tak lupa Catalina memberikan upah pada mereka.
***
Pagi harinya, Alejandro belum menyadari Isabella yang sudah kabur. Pria itu pergi dengan Antonio untuk mengurus pekerjaan.
Emma yang tak kunjung melihat Isabella sudah mulai khawatir, pasalnya wanita kesayangan tuanya tidak ada di kamar. "Kemana Isabella?"
"Apa dia pergi menemui Hulsa?" terkanya. Untuk memastikan kebenaran Isabella, Emma pergi ke tempat Hulsa.
Naas, Hulsa pun tidak ada. Pengawas tengah mencari wanita bertubuh gempal itu. "Gawat! apa mereka kabur?"
Tuan Alejandro tidak ada di rumah, Emma belum bisa melaporkan hilangnya Isabella dan satu budak yang memang teman dekat Isabella. Emma yakin, Isabella dan Hulsa melarikan diri.
"Cari mereka! jangan sampai tuan pulang dan tidak menemukan Isabella. Kita bisa celaka!" Emma memerintahkan para pekerja untuk mencari keberadaan Isabella dan Hulsa.
***
"Ibu..." panggil Isabella. Ibunya sedang berbaring lemah di atas kasur lusuh.
"Kau datang nak?" Anne sampai menangis melihat putrinya. "Maafkan ibu nak.." ia merasa bersalah, putrinya bernasib malang.
Isabella menggeleng. "Tidak, jangan meminta maaf bu. Aku baik-baik saja." Isabella menggenggam erat jemari ibunya. "Ibu harus berobat." wajah Anne terlihat begitu pucat, nampak sekali jika wanita itu sedang sakit parah.
Tanpa banyak kata, Isabella segera membawa ibunya untuk berobat. Uangnya sudah banyak, ia bisa mengobati ibunya sampai sembuh.
Hulsa di tugaskan Isabella untuk membeli beberapa pakaian dan makanan. Hulsa pun sama, ia tidak membawa apapun dari rumah Alejandro. Karena wanita itu pun tidak memiliki barang berharga, baju pun sudah tidak layak pakai.
__ADS_1
Untuk beberapa hari, Isabella masih bertahan di tempat itu. Ia akan menunggu kesehatan ibunya membaik lebih dulu, baru melakukan perjalanan untuk menjauh dari kota ini.
***
Malam hari terjadi keributan di rumah besar Alejandro. Pria itu baru mengetahui jika wanita kesayangannya telah kabur.
Beberapa pengawal sudah terkena imbasnya, Alejandro menghajar mereka membabii buta.
"Kerja tidak becus! menjaga satu wanita saja tidak bisa!" Emma pun sama, ia terkenal amarah dari tuannya. "Kemana saja kau, kenapa Isabella bisa kabur! hah!" teriaknya.
"Maaf tuan.." Emma hanya bisa menunduk. Meminta maaf atas keteledorannya.
"Cari lagi sampai ketemu!" teriak Alejandro.
Rencana Catalina berhasil, mereka mengira Isabella kabur melalui hutan belantara. Bukti palsu mengarahkan ke hutan.
"Sudahlah Ale, hanya kehilangan satu budak.. kau tidak perlu marah seperti ini. Masih banyak wanita cantik di luar sana. Calon istri mu juga tak kalah cantik dari dia." nyonya Seren muak melihat anak tirinya menggemparkan seisi rumah hanya karena kehilangan satu budak.
"Diam kau!" bentaknya disertai tatapan nyalang. "Jangan mengatur ku! seharusnya kau saja yang enyah dari rumah ku!" serunya. Lebih baik kehilangan wanita seperti Seren daripada Isabella.
Nyonya Seren menggertakan giginya, ingin sekali menampar mulut lancang putra tirinya itu. Tidak ingin menambah situs semakin buruk, Nyonya Seren segera pergi.
Isabella adalah wanita kesayangannya, tidak ada Isabella, Alejandro bisa gila!
"Markus! dasar dungu! cari Isabella sampai dapat!" bentaknya pada sang tangan kanan. Pasalnya Markus masih diam di tempat. Ia malah sibuk mengurusi pengawal yang jatuh pingsan karena pukulan Alejandro.
"Baik tuan."
Pandangan Alejandro teralih pada Katty yang berdiri diam menyaksikan kemarahannya. "Pergi kau! dasar tidak berguna!" semua orang yang ada di depan matanya akan menjadi sasaran amarahnya.
__ADS_1
"Arghhhh Isabel!!!" ia mengeram frustasi. Wanitanya kabur saat pagi hari. Ia baru mengetahuinya saat malam, ketika ia pulang. Jika berhasil keluar dari hutan, sudah bisa di pastikan, wanitanya telah pergi jauh dari jangkauannya.