
Alejandro sudah menceritakan semuanya, jika luka yang ia dapatkan ternyata dari tuan Thompson yang merasa dikhianati. Termasuk musibah yang menimpa Catalina, tak luput pria itu ceritakan pada istrinya.
Isabella mencerna seluruh kejadian yang terasa janggal. Catalina hamil? usia kandungan yang tidak jauh berbeda dengan peristiwa yang menimpa Jordan kala itu.
"Paman!" Isabella menemui pamannya, kebetulan siang ini Edgar dan Luke akan kembali. "Aku ingin menitipkan ini untuk Jordan." Isabella memeriksakan sebuah surat untuk Jordan.
Edgar menyipitkan pandangannya. "Kau yakin?"
Isabella mengangguk. "Ini berita penting. Aku dan Jordan berteman paman." ucapnya meyakinkan Edgar jika antara dirinya dan Jordan tidak lagi memiliki kisah. Hanya teman saja.
Edgar menerimanya. "Baiklah akan aku sampaikan."
"Paman harus segera memberikannya setelah sampai. Ini penting." di dalam surat itu, Isabella mengatakan jika kemungkinan gadis yang tengah Jordan cari adalah Catalina. Ia tidak mau Jordan terlambat mengetahuinya, karena sebentar lagi pernikahan Catalina akan berlangsung dengan pria lain. Jika Catalina benar gadis itu, Jordan harus bertanggungjawab, apalagi ada anak yang sedang di kandung Catalina.
"Ya, akan aku usahakan." balasnya.
"Tunggu dulu paman, aku membuat rajutan untuk nenek." musim dingin segera tiba. Isabella merajut pakaian dingin khusus untuk nenek Elizabeth.
"Hulsa! tolong ambilkan hadiah yang sudah aku siapkan untuk nenek ku di kamar." perintah Isabella pada Hulsa yang sedari tadi berdiri di samping Isabella.
"Baik nona." jawabnya patuh.
"Ada apa paman?" tanya Isabella yang melihat Edgar terus memperhatikan Hulsa yang berjalan menjauh.
Edgar terkesiap. "Tidak ada."
Isabella tersenyum melihat gelagat aneh dari sang paman. "Apa paman ingin membawa Hulsa? em.. maksud ku untuk bekerja di rumah nenek."
"Untuk apa? di rumah tidak kekurangan pelayan! lagipula aku tidak butuh pelayan genit dan bodoh!" jawabnya acuh.
__ADS_1
"Oh.. begitu. Kalau paman berubah pikiran bilang saja padaku. Aku akan mengirim Hulsa ke sana." ujar Isabella.
***
"Sayang! aku ingin mandi. Tubuh ku terasa lengket.." sudah dua hari Alejandro berdiam diri di tempat tidur. Kegiatannya terganggu, untung ada Antonio yang bisa diandalkan.
"Baiklah, aku akan panggilkan pelayan." ujarnya.
Alejandro menarik lengan Isabella yang hendak pergi. "Kau saja, Aku ingin kau yang memandikan ku."
"Kau ingin mengerjai ku kan?" ia menatap curiga. "Luka mu itu masih basah, jadi tidak boleh terkena air."
"Yasudah, di basuh saja."
"Biasanya juga pelayan atau tabib yang membantu mu bersih-bersih."
Isabella mencebikkan bibirnya. "Tubuh mu memang bukan rahasia lagi. Terlalu banyak yang melihatnya!"
"Kau mulai lagi." ia mendengus. "Terserah kalau kau tidak mau!" Alejandro mulai merajuk. Terlihat jelas saat memalingkan wajah.
"Iya! tunggu sebentar, aku siapkan dulu." Isabella meminta Emma untuk menyiapkan air hangat. Sedangkan Isabella memilih pakaian ganti untuk suaminya.
Pintu di tutup rapat, Isabella mulai membantu Alejandro membuka atasannya, kemudian celananya.
"Kau ini mesum sekali!" Isabella mendelik tatkala melihat milik Alejandro sudah menegak. Baru saja di buka, benda itu sudah menyembul, Huh mengagetkan saja!
Alejandro tertawa. "Dia sedang menyapa mu, sayang.."
"Tidak tahu malu!" decaknya sebal.
__ADS_1
"Kau tidak merindukannya?" Alejandro mulai menggoda Isabella. Bukan maunya, miliknya itu tanpa di pinta sudah beraksi sendiri ketika berdekatan dengan Isabella.
"Tidak!" jawabnya cepat. Padahal dalam hati ia gugup.
"Jangan lupa bersihkan dia." Alejandro menikmati sentuhan Isabella yang merayapi tubuhnya. Padahal tidak bersentuhan langsung, ada kain yang menghalanginya.
"Astaga! aku tidak kuat lagi!" dengan cepat Alejandro menarik Isabella untuk lebih dekat. Ia melummat bibir istrinya begitu menggebu.
"Ale.. luka mu.." lirih Isabella ketika ciuman itu terlepas.
"Iya,. hati-hati saja. Ini sudah lebih baik." Alejandro mendudukkan Isabella ke pangkuannya. Sebisa mungkin tidak sampai mengenai luka yang belum sembuh total.
Lucut-melucuti pakaian sudah menjadi ketrampilan Alejandro. Kini bukan hanya Alejandro saja yang tanpa busana, pakaian Isabella pun sudah luruh.
Alejandro sangat menikmati kegiatan ini. Tangannya dengan gemas meremmas bagian yang sangat ia rindukan. Tangan dan kakinya yang terluka tidak mengurangi kepandaiannya dalam memberikan sebuah kenikmatan pada wanitanya.
Isabella terus mendesah, ia pun sangat merindukan sentuhan Alejandro.
Alejandro membiarkan Isabella memimpin permainan. Untuk saat ini, Alejandro harus menahan agar tidak banyak bergerak. Membiarkan Isabella menari-nari di atasnya.
"Kau semakin pintar, aku suka." bisiknya di tengah kenikmatan yang menjalar. "Lebih cepat sayang!"
"Aku telah.." nafas Isabella terengah, wanita itu kelelahan untuk bergerak.
"Sayang! aku belum sampai!" ia tidak rela permainan terhenti disaat belum mencapai pelepasan. Jika saja ia tidak terluka, sudah bisa dipastikan permainan tidak akan cepat selesai. "Sedikit lagi.." ucapnya iba.
Isabella tertawa. "Baiklah.. wajah mu menyedihkan sekali!"
"Awas saja kalau aku sudah sembuh!"
__ADS_1