
Benar saja, Isabella meminta pernikahannya dipercepat. Awalnya kedua keluarga tersebut tidak menyetujuinya. Mengurus pernikahan bukanlah hal yang mudah. Mereka harus mempersiapkan acara istimewa itu dengan matang, dan sudah pasti membutuhkan waktu yang lama.
Namun, Isabella mengatakan mereka bisa melakukan pemberkatan lebih dulu. Untuk pesta perayaan bisa menyusul. Tentu Jordan senang hati menuruti permintaan Isabella. Pria mana yang menolak untuk menikah cepat-cepat dengan wanita tercintanya?
Kebahagiaan menyebar ke seluruh penghuni rumah. Tapi tidak dengan Alejandro. Pria itu merasa kesal, Isabella benar-benar melakukan apa yang pernah di ucapkan padanya, mempercepat pernikahan.
"Ale, lebih baik kita pulang. Tidak baik berlama-lama di rumah ini." ujar Catalina.
"Pulang saja sendiri, aku masih ingin di sini." ujar Alejandro. Keberadaannya di rumah keluarga Smith masih bisa ia tutupi dengan dalih kerjasama dengan Edgar.
Catalina mendengkus kesal. Ia sudah tidak betah, apalagi melihat Isabella menjadi tuan putri di rumah ini benar-benar membuatnya muak.
"Jangan terburu-buru, tunggulah sampai pernikahan Isabella selesai." Elizabeth menyela pembicaraan Alejandro dan Catalina. Wanita bangsawan itu mendengar keluhan Catalina yang ingin segera pulang. "Anggap saja seperti di rumah mu, tidak perlu sungkan." ia membelai pipi Catalina.
Alejandro semakin gelisah. Ia tidak ingin pernikahan itu terjadi. Bagaimanapun caranya, Alejandro akan menggagalkan pernikahan tersebut. Hanya dirinya lah yang pantas bersanding dengan Isabella.
Mendengar itu, Catalina tidak bisa menolak, ia harus menghargai permintaan Elizabeth, terlebih Alejandro memang masih betah di rumah ini.
Catalina sudah tidak berharap lagi pada Alejandro. Ia pasrah jika memang Alejandro tidak menginginkan dirinya. Jika di pikir, kalau ia tetap memaksakan hubungan mereka, Catalina yang akan merugi. Bagaimanapun, Catalina ingin pernikahan sekali seumur hidup, tentu dengan laki-laki yang mencintai dan menginginkan dirinya.
Di dalam kamar, Isabella tengah melakukan perawatan ditemani Hulsa.
"Nona, apa nona yakin ingin menikah dengan tuan Jordan?" Hulsa bertanya. Wanita itu yakin jika perasaan Isabella sudah tertambat pada tuan Alejandro. "Kenapa harus dipaksakan, pernikahan bukan untuk dipermainkan." ujarnya. Meski Hulsa tahu betul bagaimana perlakuan tuan Alejandro kala itu. Namun bukankah pria itu sudah berubah? tuan Alejandro sudah mengakui perasaannya jika memiliki cinta yang besar untuk Isabella.
"Jordan sangat mencintai ku, aku lebih baik hidup dengan pria yang mencintai ku. Daripada hidup dengan mencintai pria yang tidak tahu apa dia benar-benar mencintai ku atau hanya membutuhkan tubuh ku saja." ujarnya. Dicintai akan membuat hidupnya bahagia, Isabella yakin cepat atau lambat, ia akan membalas cinta Jordan.
Terdengar Hulsa menghela nafas. "Aku tidak mau ikut campur. Semoga nona bahagia dengan pilihan nona."
Isabella tersenyum, "Terimakasih Hulsa."
***
Menjelang hari pernikahan, baik Alejandro dan Jordan sulit untuk menemui Isabella. Wanita itu menutup akses pada kedua pria itu.
__ADS_1
Jika Jordan ingin bertemu karena rasa rindu yang membuncah, bahagia karena sebentar lagi akan memiliki Isabella. Sedangkan Alejandro gelisah, ingin bertemu dan membujuk Isabella untuk membatalkan pernikahan.
"Tuan, apa anda tidak lelah? berjalan mondar-mandir?" Markus yang sedari tadi menemani Alejandro di kamar di buat heran dengan tingkah tuannya.
Pria itu tidak tahu saja hati tuannya sedang kacau balau, akan di tinggal nikah oleh wanitanya. "Tuan.." Markus bersuara kembali. Pasalnya kehadiran Alejandro sudah di tunggu oleh Edgar.
"Kau bisa diam tidak!" seru Alejandro. Otaknya sedang berpikir bagaimana cara menggagalkan pernikahan Isabella.
"Tapi, tuan Edgar ---" ucapannya terhenti. Alejandro melototi dirinya.
"CK! kau mengganggu saja! aku ini sedang sibuk berpikir. Pergi sana!" usirnya.
Markus menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia masih diam, berdiri di ambang pintu kamar.
"Apa kau tuli, hah!" sentaknya. "Aku bilang keluar dari kamar ku!"
"Baik tuan." cepat-cepat Markus keluar tanpa membawa Alejandro. Ia harus berbohong lagi pada tuan Edgar.
***
Tidak bisa menemui Isabella, Jordan hanya bisa berbincang dengan Edgar. Kebetulan Alejandro ikut serta. Sejauh ini, Alejandro belum juga menemui titik terang rencana menggagalkan pernikahan Isabella.
"Kau pasti membujuk keponakan ku agar cepat-cepat menikah." ujar Edgar. "Apa kau sudah tidak sabar membujang?" ejeknya.
Jordan terkekeh mendengarnya. "Kau tahu saja, paman." Jordan membenarkan dugaan Edgar.
"Hei! jangan memanggil ku, paman. Aku geli mendengarnya." mereka cukup lama berteman. Rasanya aneh di panggil paman oleh temannya sendiri.
"Kau memang akan menjadi paman ku." balasnya. "Sebentar lagi aku kan, akan menikahi keponakan mu."
Alejandro hanya menjadi pendengar setia kedua pria itu. Ia menatap Jordan yang terlihat bahagia sekali. "Sialan!" tentu hanya bisa mengumpat dalam hati.
"Sekarang kau begitu semangat menikahi Isabel, jangan sampai mengecewakan keponakan ku nantinya." sebagai paman, ia menasehati Jordan untuk tidak menyakiti Isabella kelak.
__ADS_1
"Tenang saja, aku tidak akan mengecewakannya. Meski aku belum pernah, aku pastikan malam pengantin ku tidak akan gagal." dasar Jordan yang sudah tak sabar melepas masa lajangnya. Edgar berbicara apa, Jordan membalasnya apa! huh! pria bujangan itu sudah berpikir mesum saja!
Edgar tergelak mendengarnya. "Astaga, Jordan! otak mu sudah memikirkan hal kotor saja."
Malam pengantin? oh tidak! Alejandro tidak bisa membayangkan Isabella melewati malam panas bersama Jordan! Telinganya terasa panas mendengar kemesumann Jordan.
Alejandro semakin yakin untuk menggagalkan pernikahan itu. "Lihatlah, Isabel. Calon suami mu payah dalam hal ranjang! kau akan menyesal menikah dengannya." sempat-sempatnya Alejandro berbangga diri dengan keahliannya di atas ranjang yang lebih hot daripada Jordan, pria yang tidak berpengalaman.
Diam-diam, Alejandro tertawa mengejek pada Jordan. Kedua laki-laki di depannya itu sibuk berbincang, sedangkan Alejandro sibuk memikirkan rencananya.
Tiba-tiba, sebuah rencana lewat begitu saja di otaknya yang sangat licik. Alejandro menyeringai. Kini ia yakin bisa menggagalkan pernikahan Isabella.
"Jordan, bagaimana kalau kita membuat perjamuan terakhir untuk melepas masa lajang mu." celetuk Alejandro. Ia yang semula diam, mendadak bersuara dengan ide yang sama sekali tidak pernah terlintas dipikiran Jordan. "Itu sangat menyenangkan. Kau kan akan menikah, waktu mu untuk bersama teman-teman mu pasti akan berkurang. Kita adakan perjamuan kecil untuk malam terakhir mu melajang." bujuknya.
"Bagaimana?" tanyanya lagi.
"Aku baru mendengarnya." kata Jordan. Lalu ia menoleh pada Edgar dan bertanya pada pria itu. "Dulu kau begitu? sebelum menikah?"
Edgar menggeleng. "Aku juga tidak tahu."
"Edgar ini kan sudah lumayan dewasa, pada jamannya belum ada perjamuan seperti itu. Ini hanya kalangan muda saja." ucapnya asal.
"CK! kau mengataiku!" Edgar menggeram kesal. Tanpa sadar, Alejandro mengatainya tua.
Jordan tertawa, ia senang ada orang yang berani menggoda Edgar selain dirinya. "Kau memang sudah tua, paman."
"Sialan kau!"
"Jadi bagaimana? mau tidak? begini saja, aku yang akan mengeluarkan semua biaya untuk perjamuan itu. Kau setuju kan?" desaknya. Tidak masalah keluar uang banyak untuk meriahkan pelepasan masa lajang Jordan.
"Baiklah, bagus juga ide mu." Jordan setuju.
"Kena kau!" dalam hati Jordan bersorak ria.
__ADS_1