Budak Tuan Alejandro

Budak Tuan Alejandro
Teman paman Edgar


__ADS_3

Menjalani kehidupan sebagai putri bangsawan memang sangat melelahkan. Belajar dan mengikuti aturan lainnya. Dari cara berbicara, berjalan, cara makan ala bangsawan harus Isabella pelajari. Untung saja Isabella cepat tanggap, ia tidak mengalami kesulitan karena dulu Isabella pernah mengamati Catalina ketika mempelajari semua itu. Isabella hanya tinggal mempraktekkan langsung saja.


"Huftt.. aku lelah, lebih baik bekerja sebagai pelayan kalau begini.." ujarnya. Ketika menjadi pelayan, Isabella hanya mengerjakan tugasnya, yang sudah di tentukan bagian mana saja yang harus ia kerjakan. Tidak merangkap semua.


"Kau ini berbicara aneh! menjadi gadis bangsawan sangatlah menyenangkan." Hulsa menimpali. Saat hanya berdua, Hulsa bisa berbicara seperti biasanya. "Nanti juga terbiasa."


Isabella tersenyum, lalu mengamati wajah Hulsa. "Bagiamana dengan mu, apa kau sudah mendekati tuan Jack?" sebelumnya, Hulsa mengatakan jika ia tertarik dengan salah satu pengawal di rumah besar ini.


Hulsa menggeleng. "Aku harus mengurangi berat badan ku agar lebih percaya diri." berat badannya yang berlebihan menjadi penghalang Hulsa untuk mendekatkan diri pada lelaki pujaannya.


"Hei! tidak perlu begitu. Kalau hati tuan Jack baik, dia akan menerima mu apa adanya." seru Isabella.


"Setidaknya aku harus menurunkannya sedikit agar sedap di pandang hihi.."


"Terserah kau, tapi aku tidak yakin kau bisa menahan rasa lapar mu."


"Aku akan mencoba."


"Apa kau perlu bantuan ku? untuk berdekatan dengan tuan Jack?"


"Tidak, aku belum siap."


"Baiklah.." Isabella tidak memaksa, biarlah Hulsa berusaha sendiri. Jika saatnya di perlukan, Isabella dengan senang hati membantu temannya.


***


Sore hari adalah waktu luang bagi Isabella. Wanita itu terbebas dari segala tugasnya. Isabella ditemani Hulsa bersantai di taman, terdapat kolam ikan juga disana.


"Nona, mau aku ambilkan kudapan?" tanya Hulsa. Bersantai seperti ini cocok untuk menikmati secangkir teh hijau.


Isabella tertawa. "Belum lama kau ingin menurunkan berat badan, sekarang kau ingin cemilan."


Hulsa menyengir. "Ini buat nona, bukan buat ku." elaknya.


"Panggil seperti biasa saja, di sini tidak ada orang lain." katanya.


"Aku dapat teguran dari kepala pelayan. Dia meminta ku untuk sopan memanggil mu." rupanya di rumah ini banyak sekali telinga, dinding pun bisa mendengar Hulsa bersikap akrab dengan Isabella.

__ADS_1


"Oh begitu. Tapi kau tidak di hukum kan?" Isabella teringat saat berada di rumah Alejandro, salah sedikit pasti terkena hukuman.


"Tidak, aku hanya di tegur." jawabnya. "Bagaimana? mau aku ambilkan tidak?"


"Yasudah ambilkan saja."


"Tunggu sebentar." bergegas Hulsa pergi ke dapur untuk menyiapkan permintaan Isabella. Padahal Hulsa sendiri yang ingin menyantap kudapan tersebut.


Isabella memberi pakan pada ikan di kolam. Ia menikmati kegiatan ini. Saat pakan ikan di tabur, ikan ikan itu bergerumunan, saling berebut.


"Hai nona.." suara seorang pria terdengar menyapa.


"Ya? Anda butuh bantuan?" Isabella menolah, ia bertanya pada pria yang baru dilihatnya.


"Cantik sekali..." gumam si pria itu. Kecantikan Isabella menyilaukan, si pria terpukau akan senyuman tipis Isabella yang terlihat mempesona.


"Tuan bilang apa?" tanya Isabella.


"Eh, tidak." pria itu gugup. "Emm, aku baru melihat mu di rumah ini." sudah sering ia bertandang ke rumah kawannya, tapi baru kali ini ia melihat gadis cantik di rumah Edgar.


"Aku ingin menemui Edgar. Dia teman ku." jelasnya. "Oh iya nama ku Jordan." pria yang mengaku bernama Jordan mengulurkan tangannya.


"Aku Isabella, dan teman mu adalah paman ku." balasnya. "Tuan berteman dengan paman Edgar?" di lihat dari perawakannya, Edgar dan Jordan seperti bukan seumuran.


Jordan mengangguk. "Aku memang temannya, walau usia kita berbeda." jawabnya. "Jadi kau keponakan Edgar?" Isabella mengangguk. "Nama yang indah, senang berkenalan dengan mu, Isabella.."


Isabella hanya tersenyum menanggapinya. "Paman ku ada di dalam. Tuan bisa menemuinya."


"Panggil aku dengan nama saja. Aku terdengar tua di panggil tuan oleh mu." selorohnya. Kedua manik Jordan tak melepaskan wajah cantik Isabella. "Kenapa Edgar menyembunyikan keponakannya yang cantik ini.". ia merutuki temannya itu, bagaimana bisa Edgar malah menyembunyikan gadis cantik ini. Padahal tahu jelas jika temannya sedang mencari tambatan hati.


"Baiklah Jordan." Isabella menurut saja.


"Aku rasa setiap hari aku akan berkunjung ke sini. Saat itu aku akan menemani mu, mengenalkan indahnya kota ini. Kau baru datang kan di sini?" tanya Jordan. Pria itu antusias sekali mengajak Isabella berkeliling kota.


"Kau tidak perlu repot, aku lebih senang di rumah saja." ia belum mengenal Jordan, Isabella harus menjaga sikap dan jarak.


"Aku tidak merasa direpotkan, justru senang bisa mengajak mu berkeliling." ujarnya. Senyum Jordan di buat semenawan mungkin agar Isabella terkesima oleh ketampanannya.

__ADS_1


"Jordan! sedang apa kau! aku menunggu mu!" Edgar berteriak memanggil Jordan. Mereka akan berdiskusi mengenai bisnis. Jordan malah asik mengobrol dengan Isabella. Ah, Edgar tahu, pasti Jordan tengah tebar pesona pada keponakannya yang baru di temukan.


"Paman mu ini cerewet sekali!" gerutu Jordan.


Isabella tertawa kecil mendengarnya. Dan hal itu sukses membuat Jordan berbinar. "Dia memang cantik. Sepertinya aku harus meminta pada Edgar agar mendekatkan ku dengan Isabella."


"Isabella, aku temui Edgar dulu. Sampai jumpa." Jordan berpamitan.


Hulsa melihat pria tampan yang baru saja menjauhi Isabella. "Siapa dia? dia sangat tampan." gumam Hulsa.


"Ish! kau itu semua pria terlihat tampan di mata mu." Isabella mendesis.


"Dia memang tampan nona. Mata ku ini sangat jeli jika menilai ketampanan seorang pria." akunya.


"Ya..ya terserah kau." Isabella duduk di bangku yang tersedia. Ia meminum teh hijau yang di buatkan Hulsa. "Kau semakin pintar membuat teh ini, Hulsa."


"Benarkah? kepala pelayan yang mengajari ku." tidak hanya Isabella, Hulsa pun belajar banyak hal mengenai tugas pelayan. Maklum, dulunya Hulsa hanya seorang budak yang bekerja kasar. Jadi perlu belajar mengenai urusan dapur keluarga bangsawan.


"Kau banyak belajar rupanya." balasnya.


"Nona, pria tadi itu siapa?" Hulsa masih penasaran.


"Dia Jordan, teman paman Edgar." jawab Isabella.


"Tapi terlihat masih muda, tidak seperti paman mu."


"Berteman tidak harus yang seumuran kan?"


"Paman mu memang sudah tua, tapi terlihat tampan dan menggairahkann hihi.." Hulsa tertawa sembari menutup mulutnya. Ia akui Edgar memang tidak lagi muda, tapi ketampanannya tetap terlihat.


"Astaga Hulsa! kau sebenarnya suka pada siapa? tuan Jack atau siapa? semua pria kau bilang tampan! huh!" seru Isabella.


Hulsa mengerutkan bibirnya. "Memangnya kau, di mata mu hanya tuan Ale yang tampan." Hulsa mendelik, ia kelepasan bicara. Segera memukul bibirnya yang kurang ajar. "Maafkan aku nona, aku kelepasan bicara."


"Tidak apa. Tuan memang tampan, tapi tidak punya hati. Hatinya seperti iblis. Jangan lagi membicarakan dia, Hulsa."


"Iya nona." Hulsa menundukkan kepala.

__ADS_1


__ADS_2