
2014, September
Aku mempercepat langkahku sesegera mungkin karena tak ingin terlambat untuk hari pertamaku disekolah ini. Oke, ini salah pak Ryan yang tak terlebih dulu memeriksa mobil sebelum bepergian. Dan seperti yang dapat kau tebak, mobil yang seharusnya mengantarku mogok sebelum aku benar benar sampai di sekolah.
Tak masalah kalau ini hari adalah hari hari biasa. Tapi ini hari pertamaku di sekolahku yang baru dan katanya hebat ini. Pada akhirnya aku memutuskan berlari menuju kantor kepala sekolah dengan denah sekolah yang aku peroleh di hari lampau.
"Kalo kamu udah nyampe, langsung ke kantor kepala sekolah. Mama udah urus semua keperluan kamu disana. Oke?"
Itu Mama yang pesan. Tadi pagi, mama bersikeras untuk mengantarku tapi kutolak dengan alasan ingin mandiri. Wajar kan? Aku sudah SMA. Sudah 17 tahun.
"Setelah pertigaan, belok kiri." Gumamku sambil sesekali menatap denah ditanganku. Sekolah ini luas sekali. Aku jadi mirip orang linglung hanya karena mencari kantor kepala sekolah. Hampir saja aku bersumpah serapah saking lelahnya, hingga suara seorang wanita memanggilku. Heran, kenapa dari tadi aku tak menemui seorangpun siswa?
"Kamu Karin kan? Yang murid baru?" Sapa seorang wanita setengah baya yang adalah guru itu dengan lembut. Aku tersenyum juga sambil menunduk dengan hormat.
"Iya, bu."
"Sebentar ya. 5 menit lagi wali ke-"
"Maaf, saya terlambat."
Wanita dengan balutan seragam itu menghentikan ucapannya kemudian beralih menatap asal suara. Kemudian beliau menatapku lagi dengan senyuman.
"Ini bu Yeonjung. Wali kelas kamu. Kamu bisa ikut dia untuk menunjukkan kelasmu. Mengerti?"
"Oh, iya, bu. Terimakasih. Maaf ngerepotin." Balasku merasa tak enak.
"Sudah sudah. Tak usah canggung begitu. Mari bu Yeon, silahkan."
Bu Yeon tersenyum sebelum kemudian menuntunku menuju kelas. Bu Yeon termasuk guru muda. Parasnya cantik dengan tubuh yang termasuk body goals. Hal menarik lain dari bu Yeon adalah rambut hitam panjangnya dan wajahnya yang manis. Kalau ini di sekolahku yang dulu, aku yakin banyak siswa laki laki yang menyukainya.
"Yang tadi itu kepala sekolah disini. Dia itu orangnya ramah. Baik. Kamu suka kan?" Tanya bu Yeon memecah keheningan. Aku tersenyum dan mengangguk setuju.
"Dia itu punya anak yang juga sekolah disini juga. Ganteng orangnya." Lanjut Bu Yeon sambil mengerlingkan sebelah matanya. Aku terkekeh. Darisini aku yakin kalau bu Yeon termasuk guru yang gampang akrab dengan siswa.
"Ada ada aja ibu tuh."
"Iya. Saya yakin, pas kamu ngeliat orangnya, pasti kamu langsung suka. Oh, iya, kamu bisa manggil saya 'miss'. Emang muka saya keliatan tua banget ya makanya kamu panggil ibu?"
"Eh, ngga gitu miss." Sewotku. Miss Yeon tersenyum kecil. "Udah, saya bercanda kok. Kamu disini dulu. Nanti masuk kalau sudah saya panggil." Titahnya kemudian. Aku mengangguk dan baru sadar kalau aku telah berada di depan sebuah kelas.
Detik berikutnya, pendengaranku dipenuhi suara sapaan miss Yeon pada siswa di kelas, emm... sebentar aku lihat, oh, oke, 12 IPA 2. Hingga akhirnya miss Yeon memanggil namaku dan menyuruhku masuk. Aku merapikan dasiku sekilas sebelum kemudian masuk kedalam kelas 12 IPA 2.
__ADS_1
"Nah, anak anak. Hari ini kita kedatangan siswa baru. Ayo, perkenalkan diri kamu." Suara miss Yeon. Aku tersenyum, lalu kemudian menatap mereka satu persatu yang balas menatapku dengan macam macam ekspresi. Hingga...
Degg...
Hingga tatapanku berhenti pada satu orang yang duduk di meja belakang nomor dua. Pada laki laki yang juga tengah memandangku dengan wajah datar. Oke. Aku yakin aku salah lihat. Lupakan.
"Halo, semua. Perkenalkan nama saya Kim Karin, biasa dipanggil Karin. Saya pindahan dari Gangnam SHS. Karena saya disini baru, saya harap kerjasamanya, terimakasih." Ucapku memperkenalkan diri. Setelahnya, anak laki laki di kelas ini, asyik menanyakan statusku hingga nomorku. Oke, jujur. Aku sangat amat risih namun aku berusaha menjaga image ku sebagai siswa baru di depan mereka dengan tetap ramah. Kan sangat tidak lucu apabila aku langsung galak galak.
"Oke, Karin. Karena kebetulan ada kursi kosong, kamu duduk disana." Titahnya kemudian menunjuk kursi yang berada dibelakang seorang siswa dengan rambut kecokelatan. Kali ini aku mendapat bangku paling belakang. Hal yang sangat tidak kusuka.
Buggg...
Seorang siswa laki laki tanpa mengenakan rompi sekolah layaknya siswa lain, yang mejanya berada di depan meja yang dihunjuk miss Yeon untukku, tiba tiba berdiri dari duduknya sambil memukul meja dengan pelan. Namun tetap saja suaranya ribut. Kemudian, tanpa berucap atau bahkan minta maaf anak laki laki itu pindah menuju meja milikku. Aku diam dengan banyak pertanyaan yang terkubur rapat rapat. Dia, familiar.
"Emm, baik, kamu tempati kursi yang kosong ya, Karin." Pinta miss Yeon kemudian. Aku menurut kemudian melangkah menuju mejaku. Satu hal lagi hal yang membuatku bingung. Miss Yeon bahkan tak gubris barang sedikit pun padanya.
"Baik anak anak, kita lanjutkan pembelajaran, buka buku kalian halaman 154!"
◐◐◐
"Eh, Karin!!"
"Iya, elo." Serunya lagi.
Ini jam istirahat. Dan aku sedang menuju kantin, walau aku pun tak berniat makan, tapi aku sungguh tak nyaman berada di kelas dengan orang orang baru. Ini nampak tak nyaman namun aku berharap agar aku dapat beradaptasi.
"Iya?" Jawabku.
"Lo masih inget gue kan? Yang duduk disamping kursi lo."
Oke, aku tak terlalu mengingat namanya saat dia memperkenalkan diri di kelas tadi. Tapi aku ingat wajahnya. Dia adalah gadis yang duduk di sebelah kanan kursiku seperti yang dia katakan. Aku baru ingat namanya. Dia Jung Airish, yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai cewe blasteran Jepang-Korea dengan alasan agar aku mudah ingat.
"Hm, iya. Ingat kok."
"Ngantin? Barengan yuk." Tawarnya. Aku mengangguk setuju kemudian mengikuti langkahnya menuju salah satu stand makanan.
◐◐◐
Author POV
Lai Guanlin. Namun panggil saja Guan agar simple bahkan Linlin kalau minat. Laki laki itu mencoret hasil kerjanya di selembar kertas milimeter abu abu untuk kesekian kalinya sambil mengacak rambutnya kesal. Kemudian menghembuskan nafas kasar. Entah sudah berapa kali dia gagal fokus hanya karena sesuatu yang mengganggu pikirannya sedari tadi.
__ADS_1
Dia cukup terkejut, melihat orang itu disini. Orang itu pun sama. Dia dapat melihat dengan jelas keterkejutan di wajahnya. Satu hal lagi, entah hal bodoh apa yang dia pikirkan ketika dia memutuskan pindah ke meja belakang tadi. Bodoh, bodoh, bodoh.
"Ngantin kuy!" Ajak Jihoon menawarkan namun yang diajak malah asyik melamunkan sesuatu. Jihoon berdecak, "Woi, kampret! Bengong bengong bae lo!" Omelnya ngegas dan sontak saja Guanlin terkejut. Dia baru ngeh akan kehadiran Jihoon di depannya.
"Sejak kapan lo disitu?" Tanyanya santai.
"Jauh sebelum dinosaurus lahir, bro." Balasnya kesal. Guanlin tertawa simple.
"Ketawa aja lo. Ngantin kuy."
Guanlin yang awalnya tak ada sedikit niatpun untuk keluar kelas, akhirnya berhasil pergi dengan sedikit paksaan oleh Jihoon. Come on, bukan Jihoon namanya kalau tidak keras kepala. Dua akrab itu berjalan dengan gaya cool menuju kantin hingga matanya beradu dengan mata seorang siswa perempuan yang paling tak mau dia temui lagi. Guanlin nampak salah tingkah. Yang membuatnya makin kesal, telinganya yang akan memerah bila menahan malu.
"Kenapa lo? Kok telinga lo kaya kepiting rebus gitu." Komentar Jihoon menyadari perubahan ekspresi Guanlin.
"Gapapa." Balasnya singkat.
"Karin ya?" Tanya Jihoon tanpa menatap pada Guanlin. Laki laki dengan rambut kecoklatan itu justru melihat kebelakang dimana baru saja Karin lewat dengan Airish. Guanlin berhenti melangkah hingga Jihoon berbuat sama. Dia menatap sahabatnya dengan wajah melongo.
"Wait, wait. Jadi dia beneran si...."
Guanlin mengacak rambutnya kasar melihat Jihoon mengangguk. Artinya dugaannya selama beberapa jam lalu tak salah. Gadis itu disini. Di sekolah ini. Di kelas yang sama dengannya.
◐◐◐
"Bagaimana sejarah tentang konflik Asia timur dapat kalian lihat langsung di buku. Oh, satu info lagi. Minggu depan saya akan mengadakan ulangan. Jadi tolong persiapannya. Selamat siang!!"
"Siang, pak."
Sosok pak Hangyul bersama buku buku tebal di tangannya hilang ditikungan menuju kantor guru, bersama dengan teriakan bahagia karena adanya rapat hari ini. Siapa juga yang tak senang bila guru rapat dan siswa diperbolehkan pulang? Karin bergegas memasukkan semua bukunya ke tas dan beranjak pergi.
"Rin, lo pulang sama siapa? Bareng yuk." Ajak Airisih menyusulnya. Karin tersenyum singkat. "Supir keluarga gue bakalan jemput kok."
"Oh, yaudah deh kalo gitu. Gue duluan ya. Kapan kapan kita main bareng ke mall. Oke?" Gadis dengan rambut panjang digerai itu tersenyum ceria. Karin jadi ikut senang melihat ada gadis yang baru dikenalnya seceria ini.
"Oke, seep."
Karin meraih ponselnya dan mendial nomer pak Ryan yang menjabat sebagai supir keluarganya. Dua kali, tiga kali, bahkan sampai lima kali. Tetap saja tak ada jawaban dari orang yang dia tuju. Karin mulai kesal. Bagaimana tidak? Tadi pagi dia telat karena pak Ryan yang tidak teliti. Sekarang dia tak tahu bagaimana caranya pulang kalau pak Ryan tidak menjemputnya karena sedikit pun dia tak tahu tentang seluk beluk kota Seoul ini.
"Woi, murid baru! Ayo naik."
Tbc")
__ADS_1