Bukan Dilan 1990

Bukan Dilan 1990
10. Wolf


__ADS_3

Happy reading")


"Lo, lo harus tanggung jawab sama kelakuan lo! Pokoknya harus tanggung jawab!!" Bentak gadis itu banjir air mata. Ia menangis dengan suara keras.


"Iya, aku bakal kerja buat kamu dan anak kita. Kamu jangan nangis lagi ya."


"***** banget lo Guanlin! Cowo brengsek! Titisan setan! Pedofil!" Tangis Karin makin menjadi jadi. Guanlin jadi agak merasa bersalah. Gadis ini kenapa bodoh sekali? Dia tak sadar kalau pakaiannya masih utuh? Lagian tidak mungkin ia sebrengsek itu. Maksudnya, Guanlin memang brengsek tapi untuk merusak anak orang, ya tidaklah. Ia masih punya harga diri.


"Lo bodoh beneran apa bodoh alami sih?"


Bedanya apaan coba?


"Maksud lo apaan hah?! Maksud lo gue bodoh gitu?!"


"Lo percaya gue gituin lo?"


Jderrrr....


Karin tak bergeming. Otak kecilnya mulai mencerna semua keadaan. Lama kemudian gadis itu tersenyum bak iblis.


"CARII MATI LO GUANLINNNNN!!"


***


Saat ini Karin sedang berpangku tangan sambil melihat Guanlin yang tengah sibuk menyiapkan makanan diatas meja. Semua ini bermula ketika Guanlin menyuruh dirinya memasak sesuatu karena ia merasa begitu lapar. Karin pada akhirnya menurut. Karena dipaksa tentu saja. Namun, Guanlin mulai curiga ketika tak ada satu suara pun yang berasal dari dapur setelah gadis itu memutuskan memasak. Ia ingin tahu, dan kemudian mendapati Karin yang tengah sibuk melamun sambil memegang sendok goreng. Menatap benda benda disana dengan bingung.


Dari gerak geriknya, tentu saja Guanlin tahu kalau gadis itu tak tahu memasak. Saat ditanya ia bisa memasak apa saja, jawabannya air dan mie instan. Sungguh epic.


"Udah tepos, malas mandi, mageran, gabisa masak lagi. Niat jadi cewe ga sih?" Sewot Guanlin setelah menata masakannya diatas meja makan. Raut laki laki itu terlihat sebal. Karin balas menyorot kesal, terlebih dia dikatai demikian.


"Heh! Gini gini gue itu cewe tulen!"


"Idih! Cewe tulen apaan deh."


"Iyala. Gue kan gabisa bawa motor. Di zaman gini mana ada lagi cewe yang gabisa bawa motor. Itu artinya gue itu langka. So, harus dilindungi."


Guanlin memasang wajah heran, "Hah? Hubungannya apaan deh?"


"Pikirin aja sendiri! Eh buruan dong. Perut gue udah keroncongan nih."


"Idih! Udah nyuruh, maksa lagi. Lagian ingat dong, lo tuh lagi di rumah siapa."


"Lo lagi ngusir gue?!" Gadis itu kembali sensi. Guanlin menghela nafas kasar.


"Lo tuh lagi PMS apa ketempelan setan sih? Dari pagi lo asyik marah marah aja sama gue."


"Muka lo tuh nyebelin. Pengen nabok tapi gue takut lo tabok balik."


"Nih tabok." Guanlin mendekat padanya dan menyerahkan pipi kanannya. Gadis itu gemas ingin menabok sungguhan.


"Gajadi! Lo bau keringet." Tolaknya. Tak apalah, laki laki itu sudah menolongnya tadi.


"Kenapa? Ga tega kan lo nabok orang ganteng kaya gue."


"Eh onta! Buruan deh lo masaknya. Gausah banyakin bacot."


"Kenapa gue harus masak buat lo?"


"Heii! Ga sadar diri ya lo! Ini tuh bagian dari permintaan maaf lo ke gue!"

__ADS_1


"Sejak kapan gue minta maaf sama lo?"


"Oh, mau gue tambah cubitan gue?"


"Eh, ngga ngga. Maaf deh." Guanlin bergidik ngeri membayangkan betapa sadisnya perempuan itu mencubitnya tadi karena berbohong. Ia kembali fokus memasak.


***


Karin berusaha menahan kantuk ketika dirinya masih asyik memandangi televisi. Ia ingin pulang, tapi masalahnya Guanlin tak memperbolehkannya. Karin tahu ia bisa melarikan diri. Toh, Guan sama sekali tidak mengunci pintu. Namun akan sangat tidak lucu kalau dirinya harus bertemu dengan preman preman pasar di malam hari begini dan berakhir dengan hal yang sungguh membuatnya bergidik ngeri. Kenapa juga dia harus ketiduran tadi!


Sementara, Guanlin sok sibuk di ruang musiknya. Remaja laki laki itu asyik memetik gitar dan menyanyikan beberapa lagu. Karin lama lama tertarik mendengar laki laki itu bernyanyi. Gadis itu mengintip di balik pintu. Tak berniat mengganggu. Ia tak tahu mengapa saat ini dirinya tersenyum. Jangan berpikir aneh, dia hanya suka mendengar petikan gitar.


"Asssh." Senyum Karin memudar ketika Guanlin berhenti bernyanyi dan memegangi lengannya. Karin mengernyit, kemudian menyadari sesuatu. Ia pergi darisana.


---


"Mau ngapain lo?"


"Masih nanya?"


Karin membuka kotak P3K yang dia bawa tadi dan mencari obat merah. Ia menarik tangan Guanlin ke arahnya dan mengoleskan salep pada tangan dengan bekas cubitan itu. Dia bahkan tak tahu sekuat apa dia memberikan Guanlin cubitan beberapa jam lalu. Pastinya terlukis luka ditangan bekas cubitan itu.


"Lo cantik kalo lagi serius."


Diam.


"Iyalah. Gue emang udah cantik sejak lahir." Balas Karin berucap PD untuk menghilangkan gugupnya. Jantung sialan! Kenapa harus berdebar sekencang ini, sih?


***


Dengan langkah semangat Karin menuju kelasnya. Senyumnya semakin mengembang ketika mendapati Airish yang tengah menyalin PR. Meletakkan tasnya, Karin duduk di kursi samping Airish masih dengan senyuman yang sama membuat teman sebangkunya itu mulai ngeri.


"*****, berasa duduk deket nenek lampir gue." Cicitnya namun masih terjangkau telinga. Karin dengar tapi dia tak peduli. Airish kembali fokus mengerjakan PR.


Murid murid mulai datang satu per satu. Namun Karin tak melihat sosok Daniel sedari tadi. Oh iya! Ingatkan Karin untuk meninju perut laki laki itu atas perbuatannya kemarin.


"Eh, Ujin! Daniel kemana?" Jihyo saat ini seakan mewakili Karin untuk bertanya. Karin menguping.


"Gatau. Dia ga ngasih kabar sejak kemarin." Balasnya dengan raut kesal, "Disamperin ke rumahnya juga ga ada tuh anak."


Jihyo mengerucutkan bibirnya. Wajah gadis itu berubah sedih. Damn! Karin makin yakin kalau sebenarnya Jihyo menyukai Kang Daniel.


"Guan, ini makanan buat lo." Jennie dengan senyum manis memberikan kotak makanan bewarna biru pada Guanlin. Laki laki itu hanya memandang benda biru itu datar.


"Makasih, noona." Kali ini Jihoon dengan semangat mengambil kotak makanan itu. Jennie menepis tangan Jihoon kasar, membuat laki laki itu mengaduh sakit namun tak juga melepaskan kotak biru itu.


"Eh, kunyuk! Itu bukan buat lo!"


"Bodo amat. Makasih ya Jen."


"Eh, Airish. Boleh dong gue duduk di kursi lo." Guanlin bersuara membuat Jennie mengalihkan mata dari Jihoon.


Airish menoleh sebentar dan kemudian menghela nafas kesal. Namun gadis itu tetap berpindah, dan kemudian menghuni kursi di belakangnya.


"Ngerepotin terus." Komennya.


Karin memandang datar pada Guanlin yang juga tengah melihat dirinya.


"Apaan lo liat liat? Pengen gue colok itu mata?"

__ADS_1


"***** galak bener jadi cewe."


"Lagi PMS kali." Woojin menimpali.


Pada akhirnya, Karin lebih memilih menyelesaikan tugasnya daripada meladeni cowo cowo bobrok di sekitarnya. Ruangan kelas nampak ribut karena guru tak kunjung datang. Padahal bel sudah berbunyi 10 menit lalu. Choi Soobin, si ketua kelas jangkung datang dan menyuarakan kalau hari ini free class. Hal itu membuat yang lain bersorak ria.


Hei, apa yang lebih indah di sekolah dibandingkan free class ? Jihoon pernah berkata dengan kalimat puitis kalau free class lebih menyenangkan dibanding hari libur. Dan pernyataan itu diiyakan semua anggota kelas.


Ruangan kelas dikunci dari dalam. Banyak kaum ciwi ciwi yang lebih memilih bergosip ria tentang boyband yang lagi tenar saat ini. Sebagian memilih bermain ponsel, terutama laki laki. Dan yang lebih menambah kegaduhan adalah Ong dan seorang gadis campuran Tionghoa yang saat ini tengah didandani seperti pasangan yang akan menikah. Woojin tentu saja adalah dalang dibalik itu semua.


"Kok lo cantik sih?"


"Hah? Lo ngomong apa?" Sungguh, Karin sama sekali tak dengar Guanlin bicara apa. Guanlin tak menjawab. Laki laki itu lebih memilih menelungkupkan kepalanya di atas meja dan berusaha tidur di tengah ramainya kelas saat ini.


Karin tak peduli ia tetap lanjut membaca novel.


***


Dengan langkah berat, Kim Karin keluar dari perpustakaan. Sungguh kepalanya terasa sangat pusing hari ini. Perkataan guru matematikanya yang mengatakan ia terancam terkena surat panggilan orangtua terus terngiang-ngiang di kepalanya. Apalagi penyebabnya kalau bukan nilai yang buruk. Kenapa matematika jahat banget sih? Udah diperjuangin, malah berkhianat. Dasar mapel gatau diri!


Ia kembali memandangi kertas putih yang memampangkan nilai ulangan matematika yang diadakan 3 hari lalu. 52. Walaupun nilainya meningkat dari ulangan lalu, bukankah ini tetap buruk?


"Ingat Karin, saat ini kamu bisa bertahan di sekolah ini karena saya sudah mendaftarkan kamu untuk mendapat beasiswa. Sungguh itu prosesnya sangat sulit mengingat kalau orangtua kamu dulu orang yang berkecukupan. Kalau nilai kamu drop begini, bagaimana pihak sekolah terus terusan mempertahankan kamu? Bisa saja kamu di keluarkan dari sekolah."


"*****, ini gue bisa nangis ga sih?"


"Hm, 52 ya?"


Degg...


"Guanlin! Nga, ngapain lo disini?" Karin terkejut mengetahui Guanlin berdiri di belakangnya bagai Slender man.


"Nyariin lo lah. Lo sendiri ngapain disini? Bolos ya lo?"


"Ya ngga lah. Yakali gue kaya lo."


Guanlin kepo akan sebuah kertas lain yang berada di tangan Karin. Secepat kilat, Guanlin mengambilnya membuat gadis itu panik.


"*****, balikin ga?" Paksanya marah. Guanlin mengangkat tangannya tinggi sehingga Karin tak dapat menjangkaunya. Tentu saja tidak bisa. Guanlin itu tingginya 183 cm, terlebih lagi ia mengangkat tangannya. Sudah pasti tingginya 2 meter kurang lebih. Karin yang bagai partikel tak tumbuh tentu tak dapat menjangkaunya.


"Balikin *****! Lo nakal banget sih!"


"Eh, mulut cewe itu gaboleh ngomong kasar. Lagian ini kertas apaan? Surat dokter kalo lo lagi ngandung anak gue?"


Karin merasa pipinya panas. Guanlin ini blak blakan sekali ya. Untung ganteng. Guanlin kemudian melipat kertas itu dan kemudian memasukkannya ke saku belakang celananya.


"Nah, ayo ambil." Ledek laki laki itu kemudian. Karin memasang wajh super kesal. Ingin sekali ia menggampar wajah mulus Guanlin saat ini.


"Berani ga? Kalo lo berani sih, gue bakal teriak kalau ada orang yang mau ***** ***** gue."


Hah? ***** *****? ***** banget ga tuh?


Malas meladeni, Karin akhirnya memutuskan pergi darisana secepat mungkin. Guanlin tertawa ketika ia melihat Karin menghentak-hentakkan kakinya ke lantai ketika berjalan.


"Kim Karin, kapan kita belanja susu kehamilan?"


Guanlin tersenyum simpul beberapa saat setelah Kim Karin menghilang di belokan sekolah. Oke, fix. Hoby barunya terbilang beberapa minggu lalu adalah mengusili Karin. Entah kenapa rasanya ia sangat betah berada di sekolah akhir akhir ini. Tidak seperti dulu.


Teringat sesuatu, Gualin mengeluarkan kertas yang ia rebut dari Karin tadi. Tak lama laki laki itu menampilkan raut terkejut.

__ADS_1


"Beasiswa?"


TBC")


__ADS_2