
Happy reading")
From: Khong Guan
Keluar bentar. Gw mau ngomong.
Dengan gercep Karin melompat dari tempat tidur menuju jendela kamarnya. Dan benar saja. Laki laki dengan nama kontak 'Khong Guan' itu tengah berdiri didekat motornya. Karin bingung mau apa dia sore sore begini. Segera Karin turun menuju lantai satu untuk menghampiri laki laki itu. Ia tak peduli dengan dirinya yang hanya mengenakan atasan crop dan hotpants saat ini. Terlebih lagi wajahnya yang masih dekil dan rambutnya yang acak acakan. Jelas sudah kan, maksud Guanlin mengatainya 'Niat jadi cewe ga sih?'
"Hai, Kim Karin." Sapa Guanlin tersenyum seraya membungkukkan badannya. Karin tak membalas. Mendadak mata Guanlin jelalatan memandangi tubuh Karin membuat gadis itu menutupi dadanya.
"Eh mau gue colok itu mata?!" Ucap Karin ngegas. Ini termasuk pelecehan lohh!
"Ngapain lo pake pakaian kurang bahan begitu? Bayangin kalo cowo cowo abnormal diluar sana ngeliat lo, habis kan lo?"
"Eh, yang ada lo tuh yang abnormal!"
"Gue normal kok. Buruan ganti tuh baju. Ga sopan banget."
"Langsung to the point aja deh Guan."
"Baju lo bikin salfok, astaga ngeyel bener kalo dibilangin."
"Gabut bener ya lo. Ngapain coba lo datang sore sore gini?"
"Ada yang mau ngomongin."
"Astaga. Ini tuh udah zaman modern Guan, bukan zaman prasejarah lagi. Pliss deh, lo kan punya ponsel!"
"Gue maunya langsung gimana dong."
"Bodo amat. Gue gaada waktu!" Menyelesaikan kalimatnya, Karin berbalik bergegas masuk kembali ke rumahnya hingga suara Guanlin menginterupsi.
"Tentang nilai lo."
Kalimat yang mampu membuat Karin berhenti seketika. Gadis itu berdiri mematung kemudian berbalik menatap laki laki itu dengan pandangan sulit diartikan.
Tanpa menjawab, Karin langsung menuju taman di belakang rumahnya dan duduk di salah satu kursi disana. Guanlin menyusul dan melakukan hal sama. Karin sabar menunggu apa yang akan dikatakan Guanlin berikutnya. Ia terlalu mager hanya untuk bicara.
Guanlin mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku hoodie yang ia kenakan dan menyerahkannya pada Karin. Tanpa basa basi gadis itu membuka amplop kemudian netra kelamnya membaca satu per satu kalimat yang tertulis disana. Mendadak dadanya berdebar kencang. Gadis itu merasa kesal, malu dan ingin menangis disaat yang bersamaan. Tentu saja ia malu pada laki laki di depannya. Lagian ia baru ingat kalau surat dari guru matematika tadi siang berada di tangan Guanlin.
"Itu surat dari pihak sekolah."
Astaga, gue tau woii! Ga mungkin banget kan dari penjara.
"Hm, berarti ini serius banget ya." Ucap laki laki itu memecah keheningan yang tercipta. Karin bahkan tak berani untuk melihat ke arah laki laki di depannya. Ia tetap menundukkan kepala.
"Gausah nangis. Gue bakal ngajarin lo kok." Ledek Guanlin menyebalkan.
"Ga. Gaperlu. Mending sekarang lo pulang. Gue ca—"
"Kim Karin. Lo bisa nurut ga?"
"Lai Guanlin, gue bener bener ga butuh bantuan lo. Oke?" Sarkasnya kemudian berdiri berniat kembali ke rumah. Gadis itu butuh tidur. Hari ini terasa amat sangat melelahkan.
"Coba bayangin, nilai buruk lo bakal berefek kemana aja?"
Gadis itu berhenti. Otaknya memutar kilas balik wajah sang mama yang tengah terbaring di rumah sakit mendadak terlintas di pikirannya.
"Kamu harus belajar yang rajin, Rin. Mama berharap banyak sama kamu. Ingat ya, hanya kamu satu satunya yang mama punya."
Kalau saja dia di D.O sekolah karena nilainya yang kian anjlok, apa yang bisa ia lakukan? Mama akan kecewa kemudian akan semakin drop. Bagaimana lagi dengan masa depannya? Ahk, sial. Kenapa Karin harus dihadapkan dengan masalah seberat ini?!
***
"Rish, gue ke loker bentar ya." Pamit Karin kemudian berbelok ke kiri setelah gadis bermarga Jung itu mengangguk. Ia berniat mengambil beberapa buku referensi biologi karena jam pertama adalah kelas biologi, sebelum kemudian matanya melihat secarik kertas post it kuning tertempel di pintu lokernya. Karin meraih kertas tersebut dan membaca hangeul yang tertulis disana.
"Sampai ketemu di perpus, Kim Karin."
"Note dari siapa?" Pertanyaan tersebut mengejutkan Karin. Dengan sigap tangannya menyembunyikan kertas itu dan melihat Jennie berserta teman temannya berdiri di hadapannya. Aneh. Kenapa bertemu dengan Jennie bisa semengejutkan ini?
__ADS_1
"Ngga kok." Balasnya kemudian. Karin menyadari perubahan raut Jennie. Entah kenapa, sejak awal gadis dengan paras manis itu sudah mengibarkan bendera perang padanya. Salahnya dimana sih?
"Kalian ngapain kesini? Ngikutin gue ya?" Tebak Karin berusaha membuat dirinya terlihat akrab dengan Jennie. Jennie hanya memasang wajah datar tak menjawab. Karin jadi merasa sangat awkard seakan tengah diinterogasi.
"Lo mau ketemuan sama Guan ya?"
Karin gugup, "Bukan tuh. Siapa bilang?" Elaknya.
Jennie memicing curiga.
"Terserah deh. Yuk, cabut."
Karin bernafas lega sejak 3 sekawan itu tak ia lihat lagi. Jennie pasti menyukai Guanlin. Duh, Karin sih ga heran. Sangat tidak aneh kalau laki laki seperti Guanlin disukai banyak perempuan. Err, itu bahkan terdengar sangat biasa saja.
***
"Rin, mau bareng ga?"
"Ga deh, Rish. Kapan kapan aja ya. Gue masih banyak urusan nih."
"Sok sibuk banget, telaso."
"Iyalah, calon pacarnya Chanyeol nih." Balas gadis itu ngawur.
"Idih, gue yang masdepnya Seokjin aja ga sebangga lu, Rin!"
Percekcokan itu terhenti ketika supir Airish menelfon. Gadis itu pamit kemudian, menyisakan Karin dengan perasaan malas untuk bertemu Guanlin. Serius, kalau bukan menyangkutpautkan sekolah, mana rela Karin berdua-duaan dengan si khongguan di perpustakaan sekolah.
"Akhirnya lo dateng juga. Kirain lo emang bener bener ga butuh bantuan gue loh, Kim Karin." Ledek Guanlin begitu melihat Karin muncul di pintu perpustakaan. Karin tak membalas. Ia sibuk mengeluarkan buku dan alat tulisnya dan menaruhnya diatas meja. Tak acuh. Lama lama Guanlin kesal karena perempuan di depannya itu tak merespon dirinya sedikit pun.
"Eh Karin, lo bisa liat gue ga?"
"Ngga lah. Lo kan mahluk halus bertekstur kasar."
"Iya makasih udah muji gue ganteng. Lo juga ganteng kok."
"Mulut cewe itu gabaik ngomong kasar. Lo mau nan—"
"Lo mau ngajarin gue atau mau ceramah sih, Guan?" Tanya Karin dengan nada lembut. Bodoh, kenapa Guanlin sangat menyukai nada lembut gadis itu.
"Lo jadi keliatan kaya manusia kalau ngomong lembut gitu."
"Parah! Jadi selama ini gue apa dong?"
"Ran Mouri."
"Gaje."
"Iya, dan gue Shinichi nya."
"Apasih gue ga ngerti."
"Ya panteslah. Lo kan kpopers."
"Daripada lu wibu! Ga cinta sama produk negeri sendiri!"
"Nah tau darimana gue wibu? Stalk ya? Cieee!!!"
"Gue nge stalk lo? Itu tuh terdengar wtf banget ga sih?"
"Lagian gue tuh ga suka nengo orang orang yang terlalu putih. Geli *****."
"*****, jadi maksud lo, lo itu warna apa dong? Pink gitu?"
"Ya ngga dong Karin sayang. Yang pink itu mah ****."
"11 12 banget sama lo."
"Jahat lo ya! Gini gini gue idaman banyak cewe."
__ADS_1
"Duh, gue ga peduli gimana dong?"
Guanlin memasang wajah datar, kemudian mengatur nafas, "Oke, terserah lo Kim Karin. Lo emang pro dalam debat. Gue hands up." Final Guanlin sambil mengangkat tangan tanda menyerah. Karin tersenyum penuh kebanggaan sebelum kata kata Guanlin berikutnya membuatnya kelewat unmood.
"Kecuali di matematika."
Kalian ada yang jual senapan atau alat lain yang mematikan tidak? Karin butuh cepat. Bisa ular derik juga tak masalah.
***
"Eh, yang make tas abu abu! Berhenti lo!"
Karin otomatis berhenti melangkah karena merasa dipanggil. Ya wajar saja dia merasa, soalnya tas nya kan abu abu. Ia berbalik dan mendapati seorang gadis berok ketat bagai cabe-cabean sekolah tengah menatapnya garang. Karin tidak tahu nama mereka, namun Karin tahu mereka anggota kelas 12 IIS 2.
"Gue?" Tanya nya memastikan.
"Iyalah *****. Malah nanya!" Jawab seorang yang lain. Karin mendengus kesal. Empat orang cabe pasti akan melakukan hal hal diluar batas kemanusiaan. Karin sudah sangat biasa dengan situasi ini. Eh, btw untuk cabe bagusan biji apa orang nih? Karin menyempatkan melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Damn! 15 menit lagi jam pelajaran Astronomi akan dimulai. Gawat!!
"Ada apa nih?"
"Lo yang namanya Karin?"
Karin mengangguk dengan wajah santai meski panik sudah menguasai dirinya. Bukan, ini bukan panik karena takut dengan sekawan di depannya. Namun jampel astronomi yang akan dimulai dengan waktu yang kurang dari 15 menit.
"Oh. Pangkat banget ya! Masih murid baru juga!"
"Maaf nih ya. To the point aja. Kelas gue mulai 15 menit lagi nih."
Tiba tiba salah seorang komplotan itu menarik paksa tangan Karin menuju bagian belakang sekolah. Karin panik tentu saja. Entah kenapa otaknya terlalu buffering hanya untuk berteriak minta tolong.
"Lepasin gue, eh. Kurang ajar banget lo satu satu!"
"Diem lo, cabe!"
Cabe teriak cabe nih ceritanya?
Bruggg...
Karin meringis begitu pantatnya menyapa lantai yang kotornya supell. Oke, selamat datang di lorong slender man. Karin pernah dengar tentang lorong yang amat sangat jarang dilewati orang orang ini dari Airish. Tempatnya berseberangan dengan laboratorium biologi. Disini para kakel sering nge bully kaum adik kelas. Disebut slender man mungkin karena lorong ini begitu panjang. Entah apa tujuan sekolah membangun lorong unfaedah ini. Karin merinding.
"Dengar dengar lo masih baru kan di sekolah ini?"
Karin mengangguk tanpa memasang wajah takut. Ya walau sebenarnya dirinya takut. Lagian bukannya sebelumnya mereka sudah mengatakan hal itu tadi? Cepat benar lupanya.
"Lo kenal ga siapa gue?"
Karin menggeleng, "Lagian ga penting banget kali gue tau siapa lo."
Plakkk...
Panas. Karin merasakan pipinya panas menyatu dengan rasa sakit yang mulai menjalar. Tak sampai disitu, mereka juga menjambak rambut Karin hingga rasanya rambutnya akan tercabut dari kepalanya.
"Lo benar benar cari mati ya?"
"Mau lo semua apasih? Gue ga kenal sama lo semua ya *****! Seenaknya lo nampar gue! Perasaan gue ga punya masalah sama lo pada!" Karin ngegas. Sungguh kalau tangannya tidak diikat, ia pasti akan balas menjambak satu per satu rambut cabe di depannya ini.
"Gausah teriak teriak ya lo! Gue ga budeg anjing! Lagian lo mau tau apa salah lo?"
"Lo itu, udah berani deket deket sama Guanlin! Lo juga sok nempel banget sama dia! Dasar lacur!"
Hah? Wtf banget ga nih? Jadi mereka marah hanya karena cowo? Duh, tolong yaa ini jangan ditiru. Ga punya harga diri banget *****.
Karin tak membalas. Dalam diam ia tersenyum meremehkan membuat 4 orang itu makin tersulut emosi. Salah seorang gadis berambut kecoklatan mengambil gunting dari tasnya.
"Mati lo, Kim Kar—"
"Berhenti lo anjing!"
TBC")
__ADS_1